12 episodes

Pesan-pesan Keislaman agar menjadi mukmin yang lebih baik

Pesan Kebaikan Khadim Majlis Sirah Shahabat

    • Islam

Pesan-pesan Keislaman agar menjadi mukmin yang lebih baik

    Khilafah Dalam Timbangan Syariah Dan Sejarah

    Khilafah Dalam Timbangan Syariah Dan Sejarah

    FILM dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Film ini didasarkan pada sebuah riset ilmiah yang cukup panjang. Sebagaimana judulnya, film ini mengungkap jejak Khilafah di Nusantara dari sisi sejarah.
    Adanya jejak Khilafah di Nusantara antara lain terungkap dalam sambutan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI, 9 Februari 2015, di Yogyakarta. Saat itu beliau tegas mengungkapkan bahwa Raden Patah dikukuhkan oleh utusan Sultan Turki Utsmani sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawi (Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa).

    Disertasi Dr. Kasori di UIN Sunan Kalijaga yang berjudul Di Bawah Panji Estergon: Hubungan Kekhalifahan Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak Pada Abad XV-XVI M (2020) makin menguatkan pernyataan Sri Sultan HB X tersebut. Dalam penelitiannya Kasori antara lain menyatakan, para raja atau sultan di Demak memerlukan gelar sultan dari Turki untuk menguatkan kedudukannya.
    Adanya hubungan Khilafah dengan Nusantara, khususnya kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara, juga ditegaskan oleh Sejarahwan UIN Bandung, Dr. Moeflich Hasbullah. Ia mengatakan bahwa Khilafah waktu itu adalah negeri adidaya yang sangat besar. Jadi sangat logis jika Nusantara mempunyai hubungan dengan Khilafah (Mediaumat.news, 24/8/20).

    Pengaruh Khilafah Turki Utsmani juga telah diungkap Ermy Azziaty Rozali dalam disertasinya di Universitas Malaya Malaysia dan diterbitkan dengan judul Turki Uthmaniah: Persepsi dan Pengaruh Dalam Masyarakat Melayu (2016) (Hidayatullah.com, 23/8/20).

    Jelas, keberadaan Khilafah Islam adalah fakta sejarah. Tak bisa dibantah. Khilafah Islam pernah eksis selama tidak kurang dari 13 abad. Menguasai tidak kurang dari 2/3 wilayah dunia. Jejak Khilafah ini begitu jelas dalam lintasan sejarah di dunia. Termasuk di Nusantara

    • 9 min
    JANGAN LECEHKAN AJARAN ISLAM

    JANGAN LECEHKAN AJARAN ISLAM

    Syariah Islam Sempurna, Lengkap dan Adil

    Syariah Islam hadir dengan lengkap, sempurna, universal, adil dan jauh dari kezaliman. Karena itu syariah Islam pasti mendatangkan rahmat untuk seluruh umat manusia dan alam semesta (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Tidak ada satu pun aturan atau perundang-undangan di dunia ini yang menyamai syariah Islam yang Allah SWT turunkan. Allah SWT berfirman:

    وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا , لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ , وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
    Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Quran) sebagai syariah yang benar dan adil. Tidak ada satu pihak pun yang mampu mengubah kalimat-kalimat (syariah)-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (TQS al-An’am [6]: 115).

    Syariah Islam itu lengkap dan rinci. Mencakup seluruh aspek kehidupan. Mulai dari urusan thaharah (bersuci), muamalah hingga urusan Imamah/Khilafah (pemerintahan atau kenegaraan). Tak pantas bila umat Islam mencari hukum lain selain syariah Islam. Allah SWT berfirman:

    أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا
    Patutkah aku mencari hakim selain Allah? Padahal Dialah Yang telah menurunkan kepada kalian al-Kitab (al-Quran) dengan rinci? (TQS al-An’am [6]: 114).

    Oleh karena itu umat Islam tidak membutuhkan lagi aturan lain untuk mengatur seluruh aspek kehidupan mereka. Baik yang bersumber dari paham Komunisme maupun Kapitalisme. Cukup hanya syariah Islam yang mereka butuhkan.

    Jangan Lecehkan Ajaran Islam

    Saudaraku, pada setiap masa selalu saja ada pihak-pihak yang menghina dan melecehkan ajaran Islam. Yang gemar melakukan demikian umumnya adalah kaum kafir dan munafik. Mereka menghina Allah SWT dan Rasul saw., juga syariah-Nya. Mereka terus mengobarkan permusuhan terhadap kaum Mukmin yang menaati syariah-Nya.

    وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ . اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
    Jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Jika mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, “Sungguh kami sependirian dengan kalian. Kami hanya berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka (TQS al-Baqarah [2]: 14-15).

    Di tengah kehidupan yang sekularistik seperti saat ini, banyak orang mulai berani untuk melecehkan ajaran Islam. Mengapa hal ini terjadi? Karena dalam paham sekularisme, Islam harus disingkirkan dari pengaturan kehidupan. Islam hanya boleh mengatur urusan pribadi dan hubungan manusia dengan Allah SWT semisal shalat, puasa, zakat, haji. Oleh karena itu dalam kehidupan sekular, syariah Islam tidak boleh hadir untuk mengatur negara dan urusan publik lainnya.

    • 11 min
    ISLAM AJARAN MULIA

    ISLAM AJARAN MULIA

    Kemenag secara resmi akan menghapus konten ‘radikal’ dalam 155 buku pelajaran. Penghapusan konten ‘radikal’ tersebut adalah bagian dari program Kemenag tentang penguatan moderasi beragama.

    Menag Fakhrul Razi mengatakan, ajaran ‘radikal’ tersebut ditemukan pada 5 (lima) mata pelajaran yakni: Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, al-Quran dan Hadits serta Bahasa Arab.

    Islam Sebagai Tertuduh?

    Prihatin menyaksikan di negeri mayoritas Muslim justru Islam dijadikan tertuduh. Islam dideskreditkan secara sistematis oleh umat Muslim sendiri, terutama oleh Negara. Kemenag sejak tahun lalu berulang menyatakan akan merevisi buku-buku pelajaran yang mengandung muatan ‘radikalisme’ seperti jihad dan khilafah. Berulang pula aparat melakukan penyitaan buku-buku keislaman yang dianggap mengandung muatan jihad dan khilafah.

    Pada awal tahun 2020, Kemenag juga berencana melakukan sertifikasi penceramah dalam rangka menangkal radikalisme. Karena banyak ditentang, akhirnya program sertifikasi mubalig ini dibatalkan dan diubah menjadi sertifikasi bimbingan teknis mubalig.

    Perang melawan radikalisme juga merembet ke soal cara berpakaian dan penampilan. Sejumlah instansi Pemerintah dan kampus melarang pegawai pria berjenggot dan bercelana cingkrang serta melarang Muslimah bercadar.

    Beragam narasi perang melawan radikalisme juga digencarkan melalui hasil survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey. Misalnya dengan menyebutkan prosentase ASN, guru dan dosen, mahasiswa dan pelajar SMA yang terpapar radikalisme, membela Muslim Suriah atau mendukung khilafah.

    Opini ‘Islam radikal’ jelas subyektif dan berbahaya. Subyektif karena bersumber dari pandangan negatif Barat terhadap Islam. Istilah ‘Islam radikal’ ditujukan kepada kelompok-kelompok Islam yang tidak mau sejalan dengan kebijakan Barat.

    Islam Ajaran Mulia

    Menaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya adalah konsekuensi keimanan seorang Muslim. Keimanannya akan menuntun dirinya untuk senantiasa taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Tidak membangkang sedikitpun terhadap aturan-Nya. Allah SWT berfirman:

    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
    Tidak patut bagi Mukmin dan Mukminat, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat secara nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36)

    Islam membimbing kaum Muslim dengan ajaran yang mulia. Islam pun memberikan perlindungan kepada segenap umat manusia. Kalangan non-Muslim malah diberi kesempatan melangsungkan ibadah, pernikahan dan makan-minum sesuai agama mereka.

    Sejarah Islam sejak masa Rasulullah saw. hingga Kekhilafahan banyak berisi kemuliaan terhadap umat manusia. Tak pernah terjadi pemaksaan agama Islam kepada non-Muslim. Apalagi aksi genosida terhadap kalangan di luar Islam. Sejarah menyaksikan Khilafah sepanjang sejarahnya justru menjadi payung kebersamaan untuk berbagai agama.

    • 13 min
    ANTI KHILAFAH: DULU DAN KINI

    ANTI KHILAFAH: DULU DAN KINI

    Di Tanah Air, Khilafah terus diperbincangkan. Padahal pengusung utamanya, HTI, telah dibubarkan. Sepertinya, dalam jangka panjang, isu Khilafah—juga HTI—masih tetap akan dimainkan. Setidaknya untuk terus digoreng, dijadikan kambing hitam, atau sekadar untuk pengalih perhatian dari ragam persoalan yang gagal diatasi oleh rezim saat ini. Khilafah bahkan selalu dituding sebagai ancaman.

    Padahal jelas, ancaman itu datang dari bahaya laten Komunisme, juga dari bahaya nyata Kapitalisme-liberal yang sejatinya menjadi sumber utama krisis di negeri ini.

    Membebek Penjajah?

    Sikap anti-Khilafah bukanlah barang baru. Sudah lama disuarakan oleh kaum penjajah. Dulu pada masa penjajahan atas Nusantara, Belanda menentang setidaknya tiga ajaran Islam: haji, jihad dan Khilafah. Ketiganya saling berkaitan. Dituding sebagai pemicu “pemberontakan” kaum pribumi terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Banyak warga pribumi yang pulang berhaji dari Makkah—yang notabene saat itu berada di bawah perwalian Khilafah Utsmani—dituduh menginspirasi perlawananan (baca: jihad) terhadap penjajah Belanda (Lihat: “Haji, Jihad, Kekhalifahan: Nasihat Hurgronje Bagi Kolonial,” Republika.co.id, 13/08/2019).

    Khilafah Utsmani memang tak main-main dalam mendukung Nusantara. Khilafah pernah mengirimkan perwakilannya ke Batavia. Konsulat Khilafah Turki menyokong gerakan-gerakan pribumi Islam. Sumatera Post memberitahukan bahwa Khilafah Turki Utsmani mengirim misi rahasia untuk mendukung kaum Muslim di Nusantara. "Konsul Belanda di Konstantinopel (Istanbul) telah memperingatkan Pemerintah Belanda bahwa utusan rahasia Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia untuk memotivasi orang-orang Islam agar memberontak kepada penjajah." (Deliar Noer, Bendera Islam, Jakarta, 22 Januari 1925).

    Karena itu wajar jika penjajah Belanda sangat anti Khilafah. Sikap anti Khilafah ini sekaligus mewakili ideologi Kapitalisme Barat yang memang anti Islam. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh kalangan yang berhaluan komunis. Komunisme sebetulnya rival utama Kapitalisme. Hanya saja, keduanya sama-sama memusuhi Islam. Karena itu wajar jika kalangan komunis pun bersikap anti Islam dan tentu anti Khilafah. Mereka takut dengan gerakan Khilafah. Itulah yang juga ditunjukkan pada masa lalu oleh Lenin, pemimpin negara komunis, Uni Sovyet, terhadap gerakan Khilafah (F. Zamzami, “Lenin juga Takut Khilafah,” Republika.co.id, 17/08/2019).

    Karena itu pula, tidak lama setelah keruntuhan Khilafah, ketika sejumlah tokoh Muslim di Nusantara terlibat dalam upaya-upaya internasional untuk mengembalikan Khilafah, kalangan komunis di Nusantara sangat tidak suka. Mereka lalu membahas soal penghapusan ini dengan nada sinis. Sejarahwan muda Indonesia, Septian AW, mengungkap adanya sebuah artikel di Surat Kabar Medan Moeslimin, yang dikelola Haji Misbach (seorang tokoh berhaluan komunis), pada 15 April 1924. Artikel tersebut antara lain menyatakan, “Adalah ilusi mengharapkan Khalifah membawa persatuan umat Islam, membawa kebahagian dan kebebasan karena hanya komunis yang akan mampu mewujudkannya. (Medan Moeslimin, 15/04/1924).

    • 14 min
    UMAT HANYA BUTUH ISLAM!

    UMAT HANYA BUTUH ISLAM!

    Sosialisme-komunisme-marxisme jelas bertentangan dengan Islam. Sosialisme-komunisme-marxisme bertumpu pada materialisme. Materialisme adalah paham yang memandang kehidupan, manusia dan alam semesta merupakan materi yang mengalami evolusi internal. Materi ini tidak diciptakan. Ia ada dengan sendirinya. Karena itu tidak ada Pencipta (Tuhan) dan yang dicipta (makhluk). Dengan demikian dasar ideologi ini hakikatnya adalah ateisme.

    Feuerbach, salah satu tokoh ateisme sekaligus Sosialisme-komunisme dengan lancang menyatakan: bukan Tuhan yang menciptakan manusia, melainkan manusialah yang menciptakan Tuhan. Tuhan hanyalah imajinasi dan angan-angan manusia.

    Karl Marx, pencetus Marxisme, juga mengatakan bahwa hanya orang-orang irasional (tak berakal) yang mempercayai adanya Tuhan.

    Ini bertentangan dengan realita kerumitan dan kompleksnya alam semesta, manusia dan kehidupan yang tak mungkin ada tanpa ada yang menciptakan. Dialah Allah SWT (Lihat: QS al-Insan [76]: 2; QS al-Mu’minun [23]: 14).

    Komunisme mengambil jalan kekerasan untuk perubahan masyarakat. Marx mengatakan, “Kekerasan adalah ‘bidan’ untuk setiap masyarakat lama yang ‘hamil tua’ dengan masyarakat baru.”

    Tak aneh pemerintahan komunis senantiasa banjir darah. Lenin membantai 500 ribu rakyat Rusia sepanjang 1917-1923. Stalin membantai 46 juta rakyat Rusia, termasuk di dalamnya 6 juta petani “kulak” sepanjang 1925-1953.  Mao Tsetung menjagal 50 juta penduduk RRC dalam kurun 1947-1976. Pol Pot membunuh 2,5 juta rakyat Kamboja. Najibullah mencabut nyawa 1,5 juta rakyat Afganistan sepanjang 1978-1987. Rezim komunis yang dibantu Rusia Sovyet menjagal 1 juta rakyat di berbagai Negara Eropa Timur, 150 ribu di Amerika Latin dan 1,7 juta rakyat di berbagai Negara Afrika. Di Tanah Air, sejarah PKI juga berlumuran darah, khususnya umat Islam.

    Namun, Sosialisme-komunisme bukan satu-satunya ancaman terhadap kaum Muslim. Masih ada Sekularisme-kapitalisme. Faktanya, pada hari ini justru hampir seluruh negeri Muslim di dunia, termasuk negeri ini, menerapkan ideologi dan sistem Sekularisme-kapitalisme. Padahal Sekularisme-kapitalisme juga bertentangan dengan ajaran Islam. Sayangnya, hal ini tidak banyak disadari oleh kaum Muslim.

    Ideologi Sekularisme-kapitalisme bertentangan dengan Islam karena mengharuskan pemisahan agama dari kehidupan dan negara (fashl ad-din ‘an al-hayah wa ad-dawlah). Ideologi Sekularisme-kapitalisme menolak syariah Islam dijadikan undang-undang dalam kehidupan. Padahal Allah SWT telah berfirman:

    أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
    Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi kaum yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50).

    Dalam Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir antara lain dinyatakan: ”Berhukum pada selain hukum Allah berarti beralih pada hukum selain-Nya, seperti pada pendapat, hawa nafsu dan konsep-konsep yang disusun oleh para tokoh tanpa bersandar pada syariah Allah. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Jahiliah.” (Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir, 1/525).

    Bahaya lain dari ideologi Sekularisme-kapitalisme adalah memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada manusia: kebebasan beragama, kebebasan kepribadian/perilaku, kebebasan kepemilikan dan kebebasan berpendapat. Dengan payung hukum HAM dan demokrasi, warga negara berhak mendapat jaminan kebebasan. Negara berkewajiban memberikan jaminan kebebasan tersebut.

    • 14 min
    SEKULARISME-RADIKAL HANYA MENGHASILKAN ‘NEW ABNORMAL’

    SEKULARISME-RADIKAL HANYA MENGHASILKAN ‘NEW ABNORMAL’

    Bagi kaum Muslim, kehidupan yang normal tentu adalah kehidupan yang diatur dengan syariah Islam. Sebabnya, Islam bukan sekadar agama spiritual dan moral belaka. Islam pun tak melulu berurusan dengan persoalan-persoalan transendental (keakhiratan) saja. Islam sekaligus merupakan ideologi/sistem kehidupan. Artinya, Islam mengatur pula urusan keduniaan (ekonomi, sosial, politik, pemerintahan, hukum, pendidikan, dsb).

    Penerapan hukum-hukum Barat sekular atas kaum Muslim di seluruh dunia—yang menggantikan syariah Islam—tentu  adalah kecelakaan sejarah. Setidaknya ada dua faktor penyebabnya. Pertama: Faktor internal, yakni kemunduran Khilafah Utsmaniyah hingga berakhir dengan keruntuhannya. Kedua: Faktor eksternal, yakni kebangkitan Barat—dengan Kapitalisme-sekularnya—yang dibarengi dengan nafsu penjajahannya atas dunia, khususnya Dunia Islam. Penjajahan Barat tak hanya bermotif ekonomi (menguras kekayaan negara-negara jajahan). Penjajahan Barat juga bertujuan politik, yakni penyebaran dan penerapan akidah sekularisme—dengan kapitalisme dan demokrasinya—atas dunia, khususnya Dunia Islam. Selebihnya, penjahahan Barat juga dimanfaatkan untuk memuluskan misi kristenisasi di negara-negara terjajah, khususnya di Dunia Islam. Karena itulah penjajahan Barat identik dengan gold, glory dan gospel.

    Sayang, ketidaknormalan (abnormalitas) kehidupan kaum Muslim yang telah berlangsung nyaris satu abad ini tak banyak disadari oleh umat Islam sendiri. Seolah-olah hidup di bawah naungan Kapitalisme global saat ini adalah normal. Seolah-olah kehidupan sekular—yang menihilkan peran agama (Islam) dalam mengatur kehidupan—bagi kaum Muslim saat ini adalah wajar. Seolah-olah kehidupan yang tidak diatur oleh syariah Islam saat ini bukan sesuatu yang abnormal.

    Padahal jelas, bagi kaum Muslim, kehidupan sekular saat ini—yang tidak diatur oleh syariah Islam secara kaffah—adalah kehidupan yang tidak normal. Karena itu jika pasca karantina, bahkan pasca Corona, kaum Muslim tetap berkutat dengan sekularisme—yakni tetap menerapkan sistem kapitalisme-demokrasi—maka mereka sesungguhnya sedang menuju ‘new-abnormal’ (ketidaknormalan baru). Pasalnya, kehidupan sekular pasca Corona akan jauh lebih buruk. Sebabnya, Kapitalisme global telah gagal. AS—sebagai kampiun negara kapitalis—adalah contoh terbaik dalam hal ini.

    • 14 min

Top Podcasts In Islam