20 episodes

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan tuntunan-Nya untuk hidup kita. A daily devotional containing a brief teaching along with the applications, read by Dr. Erastus Sabdono. The messages will equip you and bring you to better understand God, His kingdom, His will, and His guidance in our lives.

Truth Daily Enlightenment Erastus Sabdono

    • Christianity

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan tuntunan-Nya untuk hidup kita. A daily devotional containing a brief teaching along with the applications, read by Dr. Erastus Sabdono. The messages will equip you and bring you to better understand God, His kingdom, His will, and His guidance in our lives.

    MASUK PENJARA ALLAH

    MASUK PENJARA ALLAH

    Dahulu kita berpikir, kalau sudah menjadi orang Kristen berarti kita sudah merdeka atau sudah dibebaskan dari semua. Karenanya itu ada lagu-lagu yang syairnya memuat kalimat yang menunjukkan atau mengesankan bahwa semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Yesus sudah bebas dari segala belenggu. Itulah sebabnya mereka merayakannya setiap Minggu. Apakah ini benar? Untuk mendapat jawaban yang tepat mengenai hal ini, kita harus memahami terlebih dahulu tentang pengertian “kebebasan” tersebut. Kita harus melihat adanya dua jenis kebebasan: yang pertama, pembebasan secara pasif.Yang kedua, pembebasan secara aktif.  Sebenarnya, hal ini juga paralel dengan “pengudusan.” Ada 2 jenispengudusan, yaitu pengudusan secara aktif dan pengudusan secara pasif.

    Pengudusan secara pasif maksudnya adalah bahwa semua akibat dosa yang kita lakukan telah dipikul Yesus di kayu salib tanpa peran kita sama sekali. Hal itu terjadi bukan karena perbuatan baik kita. Jadi, semua akibat perbuatan dosa kita sudah selesai di kayu salib. Sebelum kita yang hidup di zaman anugerah ini, Yesus sudah mati bagi kita dua ribu tahun yang lalu. Secara pasif kita telah menerima pengudusan-Nya. Itulah sebabnya dengan yakin kita mengakui bahwa semua dosa kita sejak kita lahir sampai mati telah dipikul oleh Yesus di kayu salib. Sudah selesai!Namun, yang belum selesai adalah kodrat dosa di dalam diri kita. Hal ini harus melalui pengudusan secara aktif. Pengudusan secara pasif tidak melibatkan peran kita sama sekali, tetapi pengudusan secara aktif melibatkan peran aktif kita.

    Adapun pengudusan secara aktif berbicara mengenai proses kodrat dosa yang diubah menjadi kodrat ilahi dalam kehidupan orang percaya melalui perjuangan setiap individu. Pengudusan ini terjadi oleh kuasa Firman Allah dalam pimpinan Roh Kudus. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa Firman Allah itu menguduskan, seperti dalam kalimat doa TuhanYesus, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17). Jadi, kita dikuduskan oleh darah Allah Yesus,  dan juga dikuduskan oleh Firman. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan.Ini berarti bahwa melalui kebenaran Injil, seseorang mengalami perubahan. Pengudusan oleh darah Allah Yesus dan Firman itu berlangsung paralel dan tidak terpisahkan, seperti sekeping mata uang dengan dua sisi.

    Pembebasan secara pasif berarti bahwa dengan kematian Yesus di kayu salib, kita telah dimerdekakan sama sekali dari perbudakan kuasa gelap dan dosa. Maksudnya, kita bisa berpeluang untuk keluar dari ikatan dosa. Peluang itu bukan sesuatu yang dapat terjadi secara otomatis. Karena itu, ada pembebasan secara aktif. Itu berarti bahwa kita harus berjuang sampai kodrat dosa tidak menguasai kehidupan kita lagi. Ini merupakansebuah transisi, dari penjara dosa atau penjara setan. Kita harus masuk ke dalam “penjara Allah.” Kalau di “penjara” dunia, orang masih bisa berbuat baik dan juga bisa berbuat jahat. Namun, orang biasanya menjadi jahat. Bagi orang percaya, Allah tidak menghendaki manusia untuk hanya menjadi baik, tetapi harus menjadi sempurna. Karena itu, kita harus keluar dari “penjara” dunia dan masuk ke “penjara Allah.” Dalam penjara Allah, kita mengalami proses dimerdekakan dari kodrat dosa, untuk dapat mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah.

    Memang agama bisa membebaskan orang dari karakter dan kebiasaan jahat, dan membangun karakter yang baik, santun, dan beradab. Agama bisa juga membuat orang menjadi baik dalam ukuran secara umum. Oleh sebab itu, kalau hanya mau menjadi orang baik, seseorangcukup memeluk suatu agama. Namun, panggilan untuk orang percaya adalah masuk ke “penjara” Allah untuk menjadi sempurna, tanpa harus menjadi orang Kristen. Panggilan orang percaya adalah untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela, dan dalam kesucian itu untuk tida

    MENARUH ALLAH DI DEPAN MATA

    MENARUH ALLAH DI DEPAN MATA

    Kita harus menyadari dan sungguh-sungguh menerima bahwa manusia hidup dalam pemerintahan Allah. Wilayah hidup yang dijalani manusia adalah wilayah yang “tidak netral.” Wilayah hidup manusia bukan daerah yang tidak bertuan. Wilayah kehidupan manusia adalah wilayah yang “bertuan,” dan tuannya adalah Tuhan semesta alam, yaitu Allah yang Esa. Dengan demikian, manusia bukanlah makhluk gratis yang boleh hidup sesuka-sukanya sendiri. Manusia harus hidup dalam pemerintahan Allah.Khususnya bagi orang percaya yang adalah anak-anak Allah, kita harus hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, orang percaya tidak boleh hidup sesuka-sukanya sendiri, tetapi harus hidup sesuka-sukanya Tuhan.

    Ada satu langkah penting untuk hidup di hadapan Allah atau hidup didaerah yang tidak netralini. Langkah itu adalah selalu menghayati dan benar-benar berpikir bahwa mata Allah ada di depan kita. Pernyataan ini sekilas tampak kekanak-kanakan, tetapi sesungguhnya hal ini harus dilakukan dan dilatih terus-menerus sehingga seluruh syaraf, inderaperasa kita, pikiran dan perasaan kita selalu dalam kesadaran penuh bahwa Allah hadir dan mengawasi seluruh perilaku kita, termasuk gerak pikiran dan perasaan kita. Pembiasaan ini akan melahirkan keyakinan terhadap Allah yang hidup dan Mahahadir. Tanpa pembiasaan ini, seseorang tidak akan pernah menghayati kenyataan Allah yang hidup dan Mahahadir itu.

    Hal tersebut di atas sekilas tampak sederhana, padahal sebenarnya suatu hal yang sulit untuk dilakukan, sebab manusia sudah terbiasa terpancang kepada hal-hal yang kelihatan. Allah tidak kelihatan, dan karenaitu, orang biasanya tidak serius berurusan dengan Allah. Akibatnya, mereka tidak mampu menghayati Tuhan dalam setiap tindakannya. Ini berarti mereka juga tidak mempertimbangkan perasaan Allah dalam setiap pilihan dan keputusannya. Inilah yang disebut sebagai kecerobohan yang bisa berdampak kekal. Oleh sebab itu,kita harus membiasakan diri untuk melatih penghayatan akan kehadiran atau keberadaan Allah dalam hidup ini, dan selalu mempertimbangkan perasaan-Nya ketika kita mau mengambil pilihan dan keputusan. Oleh sebab itu, betapa pentingnya melatih diri untuk membiasakan diri menaruh Tuhan di depan mata.

    Latihan untuk hal ini dimulai sejak pagi hari. Kita harus selalu mengevaluasi seberapa konstan penghayatan itu berlangsung. Pada awal-awal memulai latihan, kitasering tidak bisa bertahan lama. Perjuangan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Selanjutnya, kalau kita tekun,kitabisa bertahan sampai setengah hari, bahkan sampai satu hari penuh. Bila satu hari sudah berhasil, proses latihan harus dilanjutkan di hari berikutnya. Pembiasaan hidup menaruh Allah di depan mata kita merupakan proses. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, menaruh Allah di depan mata itu akan menjadi gaya hidup yang permenan. Menaruh Allah didepan mata berarti selalu mengingat, menghayati, dan menyakini bahwa Allah yang Mahahadir itu sedang berurusan dengan diri kita setiap saat. Tidak ada wilayah atau tempat dan waktu dimana Allah tidak hadir. Dalam segala hal, Allah yang Mahahadir harus selalu dipertimbangkan sebagai Majikan atau Tuan yang berkuasa atas hidup kita.

    Allah memang ada dan Mahahadir.Namun faktanya, tidak banyak orang yang benar-benar mengalami kehadiran-Nya, sehingga sebagian besar manusia sebenarnya tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Allah ituada dan Mahahadir. Hal ini tampak dari perilaku mereka. Perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa mereka mengakui bahwa Allah ituada. Hal ini ternyata juga terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen. Mereka mengakui keberadaan Allah bahkan mengucapkan Doa Bapa Kami yang di antaranya kalimatnya berbunyi, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilahkehendak-Mu di bumiseperti di sorga” (Mat. 6:10). Hal ini seharusnya menunjukkan kesediaan untuk menghadirkan pemerintahan Allah dalam kehidupan mereka. Namun faktany

    TIDAK CEROBOH

    TIDAK CEROBOH

    Suatu saat, Allah pasti mengizinkan kita mengalami keadaan yang benar-benar sulit. Kita seperti ada di lembah kekelaman yang benar-benar gelap. Keadaan kita benar-benar menyakitkan. Kita menjadi bingung, putus asa, dan sangat frustrasi. Penting untuk diperhatikan: Dalam keadaan seperti itu, kita hendaknya tidak tergoda untuk buru-buru mengambil keputusan.Kita hendaknya tidak ceroboh dengan berusaha untuk keluar dari keadaan tersebut tanpa memerhatikan suara Tuhan. Usaha-usaha seperti itu adalah usaha mengubah nasib, arah hidup, atau keadaan. Kita harus tetap tekun menantikan kehendak Bapa dalam hidup kita. Pada waktu situasi hidup memburuk, kita tergoda untuk mengambil keputusan demi dapat segera keluar dari keadaan tersebut dengan berbagai alasan yang kita bisa bangun. Padahal, kita harus lebih memerhatikan perasaan Bapa,apa yang Bapa kehendaki untuk kita lakukan. Bapa pasti berbicara dan memberi petunjuk kepada kita. Dalam hal ini, kita membutuhkan kesabaran untuk menantikan suara Tuhan.

    Ketika kita serius melihat perasaan-Nya, kegentaran bisa timbul dalam hati kita untuk tidak mengambil keputusan sembrono. Timbulnya kegentaran dalam batin kita terhadap Allah membuatkita menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan.Itu berarti bahwa nurani kita masih bisa dilatih untuk mengerti kehendak Allah secara akurat. Kalau sampai tidak ada kegentaran, berarti kitatidak memiliki nurani yang bisa didewasakan untuk mengerti kehendak Allah secara tepat.

    “Lembah kekelaman”ternyata diizinkan Allah terjadi dalam hidup kita, sebabitu merupakan bagian dari proses untuk menghayati kehadiran Allah. Dari pengalaman kehadiran Allah tersebut, ada yang hendak digarap atau diubahdi dalam diri kita. Kehadiran Allah dalam hidup kita melalui berbagai kejadian pasti memiliki maksud-maksud yang bernilai kekal. Inibukan hanya sekadar mendapat jodoh untuk kesenangan sendiri, mendapat pekerjaan dengan gaji besar, mendapat kenaikkan pangkat atau jabatan, mengalami pemulihan ekonomi, mendapat kesembuhan, dan lain sebagainya. Lawatan Tuhan untuk hal-hal tersebut terjadi atas orang-orang Kristen baru yang belum dewasa. Lawatan Tuhan untuk hal-hal tersebut tidak mendewasakan. Namun, untuk mereka yang sudah dianggap bisa didewasakan, lawatan Tuhan melalui berbagai masalah pasti mendewasakan demi maksud diberikannya keselamatan.

    Kita sendiri sebenarnya tidak tahu bagaimana mengubah diri kita. Hanya Allah yang tahu bagaimana mengubah diri kita melalui keadaan yang sulit dan membingungkan yang harus kita hadapi. Kita harus tetap tenang dan diam. Kita harus lebih memerhatikan maksud Allah dalam hidup kita melalui masalah-masalah yang sedang kita hadapi tersebut. Kadang-kadang, ketika kita bertanya mengapa Allah izinkan kejadian seperti itu terjadi dalam hidup kita, Allah tidak segera menjawab. Namun kemudian, melalui kehadiran-Nya secara senyap atau secara teresembunyi, kita menangkap jawabannya. Jawaban diberikan secara senyap sampai kita sendiri tidak menyadari bahwa itu merupakan jawaban Allah. Hal itu dilakukan agar kita tidak menggampangkan Allah dan menganggap Dia remeh dan murahan. Dia adalah Allah yang Mahaagung. Keagungan-Nya akan tampil melalui atau di dalam kebijaksanaan dan kecerdasan-Nya bertindak dalam hidup kita.

    Kita harussabar menghadapi keadaan yang sulit. Kita harus tetap teduh menantikan Tuhan bertindak. Misalnya, ketika kita mempunyai masalah ekonomi, biasanya kita ingin Allah segera menyelesaikannya. Ternyata, cara Allah menolong kitatidaklah demikian. Keadaan bisa berubah secara senyap, tetapi tahap demi tahap, bahkan seakan-akan kebetulan. Banyak orang tidak menangkap bahwa semua kejadian bertahap tersebut sebetulnya merupakan tindakan Allah. Namun, kalau kita sudah belajar, kita akan tahu bahwa Allahlah yang sesungguhnya bertindak. Memang banyak kejadian yang seakan-akan terjadi secara kebetulan, padahal seb

    PERJUANGAN UNTUK SETIA

    PERJUANGAN UNTUK SETIA

    Teladan kita adalah Yesus. Kita harus seperti Dia. Kurang dari itu, kita tidak mengalami keselamatan yang sesungguhnya yang Allah berikan. Oleh sebab itu, kita harus berjuang untuk bisa bersikap defensif dan ofensif.  Keduanya harus berjalan paralel. Kalau kita makin suci, Allah pasti memercayakan kepada kita hal-hal besar untukkita lakukan. Jika kita makin suci, Allah akan menambahkan kepercayaan-Nya kepada kita. Kita harus berjuang sampai hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita diharapkan untuk terus berjuang, sehingga tidak ada masalah dosa lagi. Dosa sangat melelahkan dan sangat mengganggu pertumbuhan kesempurnaan kita menjadi anak-anak Allahyang berstandar Yesus.

    Kalau kita bisa melewati tahapan-tahapan defensif dan masuk ke tahapan ofensif, masalah kita bukan lagi masalah-masalah yang menyangkut kesenangan kita pribadi dan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Kita tidak lagi mempersoalkan kesenangan-kesenangan hidup seperti yang dipersoalkan oleh anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran. Kita tidak lagi disibukkan dengan masalah-masalah dunia fana.Namun, masalah-masalah yang kita hadapi adalah hal-hal yang harus kita tunaikan terkait dengan pekerjaan Allah.  Kalau kita mengerti hal ini, dunia tidak akan menarik lagi bagi Kita. Kita tidak hidup untuk dunia lagi; kita hidup hanya untuk Allah. Semakin sucihidupkita, Allah akan semakin memercayakan hal-hal yang harus kita tunaikan; pekerjaan Allah yang diberikan kepada kita.

    Untukitu dibutuhkan perjuangan berat, sebab untuk perjuangan defensif saja, kadang-kadang orang masih bermental blok, apalagi untukmasuk perjuangan ofensif. Namun, kita harus terus berjuang untuk mencapai tingkat kedewasaan seperti yang Tuhan kehendaki. Inilah sesungguhnya bekal pelayanan penting yang harusdimiliki mereka yang mau melayani pekerjaan Tuhan. Oleh sebab itu, pelayanan sebenarnya tidak dimulai dari sekolah Alkitab dan tidak dimulai dari pendeta yang disahkan oleh sinode. Pelayanan itu dimulai dari kesucian hidup, yaitu melayani perasaan Allah. Itu barulah benar-benar pelayanan yang menyukakan hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Kalau pelayanan dimulai dari sekolah Alkitab, banyak orang akan memanipulasinya. Kalau pelayanan dimulai dari sinode dengan disahkan seseorang sebagai pendeta, ada banyak intrik, vested interest, dan segala motivasi lainnya. Pelayanan harus dimulai dari menyenangkan perasaan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Jadi, kesucian standar yang dikehendaki oleh Allah adalah keniscayaan sesuatu yang sangat mungkin bisa dicapai. Kita harus bersemangat untuk mencapai kesucian itu demi pelayanan pekerjaan-Nya juga.

    Sewaktu kita berjuang untuk menjadi kesukaan Bapa, ada beberapa pengalaman perasaan yang kita alami: Pertama, kita akan melewati saat-saat kesepian hebat. Kita melihat orang di sekitar kita tidak mempersoalkan hal ini. Mereka hidup secara wajar. Mereka bukan hanya orang-orang non-Kristen awam, tetapi mungkinjuga aktivis gereja dan para pendeta. Sebagian mereka ternyata masih hidup dalam kewajaran seperti manusia pada umumnya. Kewajaran hidup adalah musuh terselubung yang membahayakan. Mereka memang tidak berbuat jahat, tetappergi ke gereja, mengambil bagian dalam pelayanan, bahkan menjadi pendeta. Mereka semua hidup dalam kewajaran. Kita akan kesepian hebat. Orang lain tidak berbuat demikian, mengapa kita harus hidupekstrem.

    Yang kedua, kita akan merasakan kadang-kadang Allah seperti meninggalkan kita. Kita seperti benar-benar ditinggalkan. Memang, tidak ada mukjizat; tidak ada kehadiran-Nya. Kita mempunyai masalah, tetapi kita tidak ditolong; kita susah, tetapi Allah seperti tidak menghibur; kita stres, tetapi Allah tidak berbisik yang membuat kita terhibur. Allah tidak memberi mimpi yang menguatkan. Tidak ada semua itu. Kita akan mengalami saat-saat seperti ini. Kadang-kadang Allah membiarkan kita ditindas, dan Allah seakan-akan tid

    BERSAMA MEMIKUL BEBAN

    BERSAMA MEMIKUL BEBAN

    Kalau mengikut TuhanYesus, kita harus hidup seperti Dia hidup. Ini merupakan suatu kemutlakan yang tidak bisa ditawar. Pada umumnya, banyak orang masih egois dan duniawi, yaitu masih mau menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia menikmati dunia ini. Banyak orang merasa bahwa apa yang dimilikinya adalah milik mereka sendiri. Padahal, setelah kita menerima penebusan dari Tuhan Yesus, berarti kita telah menyerahkan seluruh milik kita. Dia yang menebus kita berhak sepenuhnya atas diri kita. Kita tidak lagi memiliki diri kitasendiri. Jadi, kalau seseorang sudah memberi diri ditebus, kebahagiaannya harus tidak lagi dunia ini. Jika masih menjadikan dunia sebagai kebahagiaannya, kitaakan gagal menerima keselamatan yang Tuhan sediakan dan berikan.

    Orang Kristen yang tidak menyadari dan tidak menerima bahwa seluruh miliknya adalah milik Tuhan, maka ia pasti menggunakan semua harta kekayaannya secara semena-mena tanpa memedulikan kehendak dan rencana Allah. Hal ini juga berarti bahwamereka tidak memerhatikan perasan Allah Bapa. Biasanya orang-orang seperti ini merasa bahwa kesempatan hidup hanya satu kali di bumi ini.Setelah hidup di dunia ini, tidak adakejelasan atau kepastian adanya kehidupan lain. Ini pikiran fasik yang sangat berpotensi membinasakan manusia, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen. Orang-orang seperti ini akan sangat menyesal ketika ternyata kehidupan yang sesungguhnya yang dirancang kembali oleh Allah adalah kelakdi langit yang baru dan bumi yang baru.

    Suatu saat nanti banyak orang Kristen akan sangat menyesal, sebab ternyata sebenarnya mereka memiliki Allah yang juga adalah Bapa yang tidak terbatas yang memiliki segala kemuliaan, kerajaan, dan kuasa yang tidak terbatas. Allah Bapa telah menyediakan suatu Kerajaan untuk dinikmati setelah perjalanan perjuangan menjadi utusan Kristus. Yesus berkata,“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”(Luk. 12:32). Selama masih hidup di bumi, iniadalah kesempatan untuk melayani Bapa, meneruskan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus. Segala pengurbanan yang kita lakukan untuk meneruskan karya keselamatan tersebut diperhitungkan kekal oleh Bapa. Sebenarnya, apa pun yang kita lakukan untuk Dia, tidak sebanding dengan apa yang telahDia lakukan untuk kita.

    Allah semesta alam yang Mahamulia sebenarnya tidak membutuhkan apa-apa. Diasebenarnya juga tidak membutuhkan kita sama sekali. Namun, kalau Allah Bapa berkenan melibatkan kita dalam rencana-rencana-Nya—seperti Bapa melibatkan Putra Tunggal-Nya—adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Di sini, kita menemukan kehormatan sebagai anak-anak Allah untuk bisa menanggung beban bersama Putra Tunggal-Nya. Oleh sebab itu, sudah saatnya bukan kita yang menuntut Allah untuk memberkati dengan berkat-berkat jasmani dan memuaskan kita dengan segala kesenangan versi kita sendiri. Kita mestinyatidak lagi memberi persembahan dengan catatan demi memperoleh balik berlipat kali ganda. Sudah saatnya gereja tidak lagi sibuk dengan persembahan perpuluhan, persembahan buah sulung, janji iman berupa uang dan sejenisnya. Sekaranglah saatnya, gereja mengarahkan jemaat dan para pelayan Tuhan untuk menjadi dewasa, yaitu memikul salib bersama-sama dengan Yesus.

    Menjadi Kristen itu berarti harus menjadi seperti Kristus, yaitu menjadi anak-anak Allah yang mengerti kehendak Bapa untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk diselesaikan. Dari hal ini, seseorang dapat mengerti dan memahami bagaimana menghayati kehadiran Allah secara tepat. Dalam kehidupan yang menghayati kehadiran Allah melalui mempelajari Alkitab, melalui perjumpaan dengan Allah setiap hari dalam doa, dan melalui pengalaman hidup, Allah mendewasakan kita. Kita pasti memiliki kecerdasan rohani. Kecerdasan rohani adalah ketepatan bertindak untuk melalukan apa yang menyukakan hati Allah. Kita pasti tidak akan melukai orang la

    MENGHIDUPKAN ALKITAB

    MENGHIDUPKAN ALKITAB

    Kita melakukan kehendak Allah Bapa, bukan karena mau mendapatkan upah,melainkan karena didorong oleh kerinduan yang kuat untuk menyukakan hati Allah Bapa. Jadi, kita melakukan kehendak Allah bukan karena mengharapkan berkat dari Allah,melainkan kita mau “memberkati Allah.” Terkait dengan hal ini, kita dapat mengagumi ketaatan Abraham kepada Elohim Yahweh. Ketika Abraham keluar dari Ur-Kasdim, iatidak pernah tahu alamat yang ditujunya. Ia berganti nama walaupun belum mempunyai anak, sementara istrinya sudah uzur dan dirinya juga sudah sangat tua. Di hari tuanya, satu-satunya anak yang dimilikinya harus dia sembelih. Abraham melakukan kehendak Allah dengan segenap hati meskipun tanpa jaminan.

    Percaya yang benar itu tidak ada jaminannya. Allah itu harus dipercayai tanpa jaminan. Kita tidak melihat wajah-Nya secara visible, tidak mendengar suara-Nya secara audible, bahkan berdoa berjam-jam pun, Dia sering seperti tidak muncul sama sekali. Sudah lelah berdoa, malam atau dini hari, Dia pun seakan-akan tidak ada. Namun, kita tetap menghormati Dia dengan tidak memaksa Dia berbicara kepada kita. Kita tidak memaksa Dia menyatakan diri kepada kita. Kita belajar untuk memercayai Dia tanpa jaminan, tanpa garansi, dan tanpa iming-iming. Dia layak dipercayai,bahkan pada saat kita diperlakukan tidak adil dan sepertinya tidak ada pembelaan dari Allah. Ketika kita dalam kebutuhan dan Tuhan tidak memenuhinya, kita tetap memercayai Dia, tanpa keraguan sedikitpun. Semua itu merupakan latihan bagaimana kita memercayai kehadiran Allah tanpa jaminan. Dalam hal ini, kita sesungguhnya belajar menghadirkan pemerintahan Allah yang tidak kelihatan.

    Jadi, apakah Dia menjadi seperti hidup atau mati bagi Anda, semuanya tergantung kepada masing-masing individu, bagaimana masing-masing individu merespons Dia. Walaupun Dia seperti tidak ada, kita tetap memercayai Dia. Ini merupakan proses panjang, seperti menghidupkan Allah dalam hidup Kita. Untuk orang-orang yang tidak memercayai Allah sedemikian tersebut, Allah menjadi seakan-akan mati atau tidak ada. Namun, bagiorang-orang yang memercayai Allah seperti yang dijelaskan diatas, Allah menjadi seakan-akan hidup atau nyata.

    Setiap orang percaya masuk ke dalam perjuangan sikap defensif hingga ofensif. Orang percaya harus benar-benar mempersoalkan apa yang Allah Bapa kehendaki untuk dilakukan terkait dengan hukum-hukum-Nya dalam tataran secara moral umum (sikap defensif). Selanjutnya, orang percaya harus benar-benar ekstrem berjuang untuk mengerti kehendak Allah dalam segala hal terkait dengan rencana-rencana-Nya dalam kehidupan individu dan dunia ini, untuk dilakukan (sikap ofensif). Hendaknya kita tidak merasa puas hanya beragama Kristen dan pergi ke gereja. Bahkan, tidak cukup menjadi aktivis gereja dan pendeta. Kita harus benar-benar mengalami Allah secara proporsional, yaitu dengan melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya.Kita tidak cukup hanya mampuberbicara tentang Allah dan berteologi.Yang penting adalah memiliki kualitas hidup seperti Yesus sebagai bukti telah benar-benar menemukan Allah dan hidup dalam pemerintahan kerajaan Allah.

    Kita harus mencari Dia dengan secara terus–menerus menghayati kehadiran-Nya, termasuk di dalamnya, kita harus bergaul dengan Alkitab.Hanya ketika kita bergaul dengan Alkitab secara benar, membaca Alkitab bolak-balik dengan tulus, kisah Alkitab itu seperti baru terjadi kemarin atau sedang berlangsung sekarang. Allah pun akan menjadi nyata hidup dalam sejarah hidup manusia bukan hanya dahulu,melainkan juga sekarang, dalam sejarah hidup kita masing-masing. Tidak heran, ketika kita membaca Alkitab, kita bisa menangis seakan-akan kita ada dalam kancah pergumulan para tokoh-tokoh yang sedang kita baca. Kita bisa merasakan bagaimana Allah mengasihi manusia atau umat-Nya pada masa-masa tertentu juga pada zaman kita hidup hari ini. Seperti misalnya, saat membaca kis

Customer Reviews

Indrib ,

Enlighted Me

This podcast enlights me in starting to be a true Christian.

Erwin_Owl ,

My Daily Bread

This podcast really helps me in studying and contemplating God's truth every day in the midst of my crazy and busy activity. I'm so blessed, thank you!

Top Podcasts In Christianity

Listeners Also Subscribed To