20 episodes

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan tuntunan-Nya untuk hidup kita. A daily devotional containing a brief teaching along with the applications, read by Dr. Erastus Sabdono. The messages will equip you and bring you to better understand God, His kingdom, His will, and His guidance in our lives.

Truth Daily Enlightenment Erastus Sabdono

    • Christianity
    • 5.0 • 61 Ratings

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan tuntunan-Nya untuk hidup kita. A daily devotional containing a brief teaching along with the applications, read by Dr. Erastus Sabdono. The messages will equip you and bring you to better understand God, His kingdom, His will, and His guidance in our lives.

    Terhilang Dalam Gereja

    Terhilang Dalam Gereja

    Di dalam Injil Lukas 15, kita bisa membaca kisah mengenai anak yang terhilang. Tentu kita sudah belajar bahwa anak yang terhilang itu bukan hanya satu, melainkan sejatinya, yang terhilang adalah kedua. Yang satu, hilang dari rumah bapaknya. Dia pergi menghambur-hamburkan uang. Dan yang kedua, kakaknya, hilang di dalam rumah. Ketika si Bungsu pulang dan ayahnya menyambut si Bungsu dengan mengadakan pesta, si Sulung tidak mau masuk rumah. Sampai perumpamaan itu diakhiri oleh Yesus, tidak ada penjelasan apakah si Sulung akhirnya masuk rumah atau tidak. Sang Bapak pergi menemui si Sulung untuk memberikan pengertian kepada si Sulung yang sedang marah. Ia tidak mengerti mengapa adiknya yang sudah memberontak itu masih diterima pulang, bahkan Sang Ayah mengadakan pesta menyambut kepulangannya.

    Dari pernyataan tersebut, jelas si Sulung tidak memiliki hati yang seirama dengan ayahnya. Dengan sikapnya yang tidak mau masuk rumah, sebenarnya ia mempermalukan ayahnya. Ia “menampar” muka ayahnya di depan tamu-tamu undangan, di depan para hamba ayahnya. Jadi, si Sulung ini menyakitkan hati sang Bapak. Bahkan, akhirnya si Sulung lebih menyakitkan hati ayahnya dibanding adiknya yang pernah terhilang dan sudah kembali. Jadi, ada yang hilang di luar rumah tetapi kembali, dan ada yang hilang di dalam rumah dan mungkin tidak pernah kembali.

    Dari kisah ini kita belajar, jangan karena kita merasa kita sudah menjadi orang Kristen yang rajin ke gereja, berarti kita tidak terhilang. Jangan karena kita merasa sebagai aktivis gereja, majelis, kita bukan orang terhilang. Bahkan, tidak jaminan seorang pendeta  tidak terhilang, walaupun ia memiliki jabatan rohani dan disebut rohaniwan. Apa yang menjadi ciri dari orang terhilang itu? Untuk ini, kita tidak boleh memahaminya secara dangkal. Kalau seseorang tidak pernah ke gereja, mabuk-mabukan, pergi ke tempat pelacuran atau melakukan pembunuhan atau perjudian, berarti mereka adalah orang yang terhilang, benar. Tapi jangan naif. Kalau yang dikategorikan sebagai orang terhilang hanya sebatas itu, maka kita ada dalam bahaya. Kita bisa tidak sadar kalau kita sendiri adalah orang terhilang.

    Ketika seseorang tidak menangkap pikiran, perasaan Allah, tidak tahu apa kehendak Allah dalam hidupnya, ia terhilang. Seperti si Sulung, ia ada di dalam rumah tapi tidak tahu apa yang diingini ayahnya. Orang Kristen, aktivis, bahkan pendeta sekalipun, kalau tidak tahu apa yang diingini Allah Bapa dalam hidupnya, dia terhilang. Memang mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagaimana si Sulung melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Dia membantu orangtuanya dengan baik. Makanya si Sulung berkata bahwa dia sudah membantu orangtuanya, tetapi seekor anak kambing pun tidak diberikan, padahal yang dimiliki ayah juga merupakan milik dia. Sang Ayah berkata bahwa apa ia (sang Ayah) miliki adalah milikinya (si Sulung) juga. Namun, si Sulung rupanya tidak seirama dengan ayahnya, dia terhilang di dalam rumah.

    Ini merupakan gambaran dari orang-orang Kristen yang ada di dalam gereja, tetapi tidak seirama dengan Allah Bapa. Pekerjaan gereja dilakukan, tetapi banyak motivasi terselubung di balik kegiatan pelayanan tersebut. Bukan tidak mungkin itu semua hanya sebuah kamuflase atau sarana untuk mendapatkan keuntungan materi atau harga diri atau sanjungan, dan lain-lain. Ciri orang yang terhilang adalah tidak makin seperti Yesus, tidak memiliki perasaan Yesus. Pikiran, perasaan Kristus adalah mengasihani musuh, ditempeleng pipi kanan beri pipi kiri, mengerti orang lain, memaafkan, rela berkorban, berkorban tanpa batas. Yang begini sudah jarang kita temukan di gereja. Dari pemantauan penulis sejak lebih dari 40 tahun melayani pekerjaan Tuhan, penulis melihat pertikaian di dalam gereja, saling menyingkirkan, saling mengata-ngatai, saling memburuk-burukkan di belakang, sampai fitnah, menikam dari belakang, mengkhianati. Bahkan, di dalam lingk

    Menjebak Diri Sendiri

    Menjebak Diri Sendiri

    Kita harus berani menjebak diri kita sendiri atau menyulitkan diri kita sendiri demi keselamatan kekal. Maksudnya adalah kita harus berani berkomitmen untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kita harus berani berkomitmen meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya; kita harus berani berkomitmen untuk menyerahkan seluruh hidup kita tanpa batas untuk kepentingan Kerajaan Surga, yang itu semua dirangkum dengan kalimat: tidak minta apa pun dari Tuhan kecuali berkenan pada-Nya. Sebenarnya, ada kerinduan itu dalam hati kita. Hanya, sering kali tidak kita kobarkan sehingga tenggelam dengan berbagai kesenangan, keinginan, hasrat yang hilir mudik dalam pikiran kita, dan kadang-kadang tersangkut sehingga akhirnya kita bisa terjebak pada keinginan-keinginan dunia atau bahkan dosa-dosa.

    Supaya kita tidak terjebak dengan dosa-dosa dan keinginan-keinginan dunia tersebut, kita menjebak diri kita dengan komitmen. Kita harus berani berkomitmen. Memang kita harus berhati-hati kalau mengucapkan nazar. Ini bukan sesuatu yang murahan, ini prinsip. Misalnya kalau kita bernazar, “Kalau nanti aku selesai kuliah, aku mau menjadi pendeta,” atau “Nanti kalau bisnis ini berhasil, aku persembahkan sekian persen untuk gereja.” Sebaiknya, kita tidak usah bernazar seperti begitu. Nazar kita bukan begitu. Dalam hal ini, kita akan menggunakan kata “komitmen, janji.” Kita membuat perjanjian dengan Allah bahwa aku mau hidup tidak bercacat, tidak bercela, walaupun sebenarnya kita berkeadaan belum mampu melakukannya. Tapi Tuhan akan memberikan kemampuan. Yang kedua, aku memindahkan hati ke langit baru bumi baru, aku tinggalkan percintaan dunia. Yang ketiga, aku mau sungguh-sungguh hidup untuk kepentingan Tuhan.

    Dengan komitmen ini, kita baru bisa memindahkan hati kita ke Kerajaan Surga, dan ini standar karena Yesus sendiri berkata bahwa kita tidak berasal dari dunia ini. Kesediaan kita menjebak diri kita sendiri sebenarnya seperti seorang yang membawa diri ke satu mezbah untuk dikurbankan. Seperti domba yang dibawa ke sebuah mezbah kurban, dipotong-potong, dibakar habis seluruhnya, harus berani. Saya kira orang-orang yang memberi diri menjadi relawan ke Suriah, menjadi tentara atau milisi ISIS itu ada juga yang ragu-ragu, tetapi dia menguatkan hatinya, dia meneguhkan hatinya, lalu dia mau tidak mau harus pergi. Ketika dia sampai di Suriah, dia harus berani mempertaruhkan semuanya.

    Untuk indoktrinasi seperti itu, orang bisa nekat. Saya tidak katakan itu salah atau benar, itu bukan urusan saya untuk menilai. Tapi yang saya lihat, komitmennya—bukan tidak mungkin—sempat mengalami keraguan. Tetapi ketika dia terus menguatkan komitmennya, jadilah langkah itu. Demikian pula kita. Mungkin ada keraguan, tetapi pilihan ini adalah pilihan luar biasa. Tidak akan pernah disesali karena ini menyangkut kekekalan.

    Seorang hamba Tuhan berdoa suatu hari, “aku berjanji tidak minta apa-apa selain menjadi anak kesukaan-Mu.” Ketika dia mengatakan itu, ada keraguan, tetapi tidak ada pilihan lain. Ini adalah pilihan yang sangat menguntungkan untuk hidup kekal dan harta surgawi yang tiada tara. Ketika hamba Tuhan itu menetapkan hatinya demikian, dia menjebak dirinya, dia menjerumuskan dirinya pada wilayah komitmen yang berat. Hidup ini hanya sekali. Mengapa kita tidak berani berkomitmen untuk nilai-nilai kekekalan.

    Jangan seperti orang kaya di Lukas 19 yang ketika mendengar syarat mengikuti Yesus adalah menjual segala miliknya dan membagikannya ke orang miskin, dia pergi dengan sedih, sebab kata firman Tuhan, hartanya banyak. Ingat, bukan sebab dia tidak ditentukan selamat, melainkan hartanya banyak. Dia memilih untuk mencintai hartanya. Itu masalahnya. Beda dengan Zakheus. Dia menyambut Yesus datang ke rumahnya, dia memberi separuh hartanya pada orang miskin, dan jika ada orang yang pernah dia peras, dia kembalikan 4 kali lipat. Yesus berkata, “keselamat

    Menembus Batas

    Menembus Batas

    Fokus pelayanan gereja haruslah sungguh-sungguh mempersiapkan jemaat menjadi mempelai yang layak bagi Kristus, artinya menjadi orang-orang yang hidup tidak bercacat, tidak bercela atau kalimat lain, melakukan kehendak Bapa. Untuk melakukan kehendak Bapa, orang percaya harus memiliki kepekaaan terhadap apa yang menjadi selera Bapa. Maka untuk itu, ia harus belajar kebenaran. Jadi, kebenaran-kebenaran itu bukan hanya membuat pikiran menjadi pintar berteologi, melainkan membuat seseorang memiliki kecerdasan rohani, sehingga bisa mengerti kehendak Allah; apa yang baik, berkenan, dan sempurna. Maka, kebenaran tidak boleh kurang, harus selalu disampaikan terus-menerus. Belajar kebenaran itu mutlak; semutlak makan. Orang tidak makan dan tidak minum, mati. Orang yang tidak belajar kebenaran, mati rohaninya.

    Gereja—dalam hal ini para pelayan jemaat, para pendeta—harus memiliki perasaan krisis terhadap kenyataan dunia kita yang sekarang ini sudah semakin jahat. Banyak jemaat yang telah tertarik, terpikat, dan terhanyut oleh dunia ini. Sehingga mereka tidak fokus terhadap kehendak Allah, mereka tidak peduli akan kehendak Allah, mereka hanya peduli apa yang menjadi keinginan mereka. Mereka hanya peduli materi dengan fasilitas dunia, dengan kesenangan dunia dan segala hiburan, sehingga jemaat tidak dipersiapkan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Gereja sendiri—tentu tidak semua gereja—berfokus pada masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Ciri gereja seperti itu adalah pemutusan kutuk-kutuk kemiskinan, kutuk sakit-penyakit, dan berbagai kutuk yang orientasinya pada berkat jasmani. Maka, tanpa disadari, fokus jemaat pun tertuju pada dunia ini. Seperti halnya Doa Yabes, yang mana orientasinya masih alam berpikir umat Perjanjian Lama, dan fokusnya masih pada berkat jasmani di bumi ini. “Berkat yang berlimpah” adalah berkat jasmani, sedangkan “yang diperluas” adalah tanah di bumi ini. Kemudian, mereka berdalih bahwa berkat yang dimaksud adalah berkat rohani, dan tanah yang diperluas adalah hal perluasan Kerajaan Allah. Jelas hal itu dipaksakan. Maka, kita tidak boleh mengambil Doa Yabes sebagai doa wajib umat Perjanjian Baru.

    Ayat-ayat dalam Perjanjian Baru sudah cukup berlimpah. Doa Yabes diangkat ke permukaan, dinyanyikan, menjadi sebuah doa wajib pada akhir kebaktian yang mana mengarahkan jemaat pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau kita memang mau berlimpah secara materi, maka kita harus kerja keras. Bukan salah memiliki berkat jasmani yang berlimpah, tetapi harus dari hasil kerja keras, bukan karena Allah memberikan kemudahan. Allah kita tidak akan melanggar hukum-Nya; hukum yang ditetapkan-Nya adalah apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Kita sekarang harus mulai mengerti bahwa fokus orang percaya adalah batin yang diubah terus untuk menjadi serupa dengan Yesus. Kalau kita mengalami proses perubahan itu dengan benar; mengalami proses keselamatan dengan benar, kita akan menjadi orang yang layak didudukkan sebagai mempelai bagi Kristus dan layak masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan, sehingga kita pasti memiliki kerinduan yang kuat terhadap langit baru bumi baru; kita memiliki kerinduan yang kuat untuk pulang ke surga. Sekarang ini, hampir kita tidak menemukan orang yang betul-betul rindu ke surga.

    Jika seseorang benar-benar telah mengalami proses pertumbuhan rohani dengan melakukan kehendak Bapa, hal itu merupakan sesuatu yang menembus batas. Bukan hanya menjadi orang baik, bukan hanya dipandang sebagai orang yang melakukan hukum secara santun, melainkan bisa berpikir seperti Allah berpikir sesuai Firman Tuhan; memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Orang-orang seperti ini baru bisa menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, dan pasti tidak akan terikat lagi dengan keindahan dunia. Orang-orang seperti ini baru bisa memiliki kerinduan pulang ke surga. Seperti anak di bawah 10 tahun atau di b

    Akhirnya, Ditolak!

    Akhirnya, Ditolak!

    Satu hal yang sungguh-sungguh menyedihkan adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang sebenarnya masih ada di bawah bayang-bayang maut kebinasaan dan tertolak dari hadapan Tuhan, tetapi mereka tidak menyadari keadaan itu. Mereka merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, sudah merasa sebagai anak-anak Allah, lalu sudah merasa sebagai orang Kristen yang memenuhi standar hak masuk Kerajaan Surga. Mereka memandang surga itu murahan, seakan-akan surga itu bisa dimasuki oleh orang-orang dengan kualitas mental anak-anak dunia. Pada dasarnya, mereka memiliki kualitas hidup yang juga tidak jauh dari anak-anak dunia, bahkan tidak jarang lebih buruk.

    Mereka mengandalkan prinsip sola gratia; hanya oleh anugerah. Mereka juga memandang semua orang di luar Kristen dengan mudahnya masuk neraka, sedangkan dirinya pasti masuk surga. Padahal, bukan tidak mungkin kalau orang di luar Kristen—jika berbuat baik karena memang bukan umat pilihan, sehingga tidak dituntut sempurna, dan mereka dihakimi oleh perbuatan serta mengasihi sesama seperti diri sendiri—masuk ke dalam surga sebagai anggota masyarakat. Sedangkan orang-orang Kristen seperti ini, jangankan masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan, jadi anggota masyarakat saja tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita jumpai orang-orang Kristen yang jahat, bengis, duduk di kursi pemerintahan lalu korupsi. Menjadi aparat, tetapi tidak memenuhi tanggung jawabnya dengan baik pada bangsa dan negara. Tetapi yang lebih menyedihkan adalah orang-orang Kristen di lingkungan gereja yang saling menikam, konflik, saling membenci, merusak nama baik orang, memfitnah; mereka ada di lingkungan gereja, di lingkungan pelayanan, bahkan di lingkungan para pendeta, dan teolog yang bergelar.

    Berbekal argumentasi dalam nalar, mereka yakin akan masuk surga. Padahal, sebenarnya sederhana saja ukurannya, yaitu apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa atau tidak. Kita jangan merasa yakin masuk surga hanya karena kita adalah orang baik, sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jangan kita tertipu oleh diri kita sendiri karena kita sudah mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, menjadi aktivis gereja, majelis, atau bahkan pendeta. Jabatan aktivis gereja, majelis, dan pendeta itu tidak otomatis membuat orang masuk surga. Sama sekali tidak menjamin seseorang masuk surga. Tetapi yang menjamin masuk surga adalah kurban Yesus di kayu salib yang direspons dengan benar, yaitu dengan melakukan kehendak Bapa.

    Kalau tidak melakukan kehendak Bapa, seesorang tidak akan masuk surga atau masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Firman Tuhan jelas mengatakan: “Keluarlah kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan” (2Kor. 6:17-18). Firman Tuhan tersebut menetapkan bahwa ada syarat. Dalam konteks ayat ini, syarat yang dimaksud adalah respons kita. Artinya, respons kita harus memenuhi standar respons yang benar, yaitu melakukan kehendak Bapa. Firman Tuhan juga mengatakan bahwa kita dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, siapa yang menolak ini menolak Allah. Di bagian lain, firman Tuhan dalam 1 Petrus 1:16 mengatakan: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus, sebab kalau kamu memanggil Allah itu Bapa yang menghakimi orang tanpa memkitang muka artinya perbuatanmu, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Kalimat yang lain mengatakan: “hendaklah kamu hidup dalam kekudusan, hanya orang-orang kudus yang melihat Allah,” itu firman Tuhan jelas.

    Banyak orang Kristen tidak mengerti hal ini atau tidak mau mengerti oleh karena ajaran yang keliru yang mengesankan masuk surga itu mudah. Ini yang menjadi masalah. Mereka berpikir masuk surga itu gampang, sehingga yang terjadi adalah tidak ada usaha untuk menjadi anak-anak Allah yang memenuhi standar hidup sebagai anak-anak Allah, yaitu Yesus sebagai

    Kualitas Iman Abraham

    Kualitas Iman Abraham

    Pada umumnya, sebagai orang Kristen pasti kita mengaku sebagai anak-anak Abraham. Bukan berdasarkan darah daging, melainkan berdasarkan iman. Kalau orang Israel adalah keturunan Abraham berdasarkan darah daging, tetapi anak-anak Abraham secara iman adalah orang percaya yang kualitas percayanya seperti Abraham. Jika demikian, sebenarnya banyak orang Kristen yang belum menjadi anak-anak Abraham karena tidak memiliki tindakan iman seperti tindakan iman Abraham. Lagipula, iman yang dimiliki orang-orang Kristen itu belumlah iman yang menyelamatkan, sebab iman yang menyelamatkan adalah tindakan seperti yang Abraham lakukan; bertindak melakukan apa yang Allah kehendaki.

    Banyak orang Kristen yang sejatinya masih menjadi anak-anak dunia. Mereka tidak bertindak seperti apa yang Allah kehendaki, tapi bertindak sesuai dengan apa yang mereka ingini—dan yang diingininya adalah hasil “suntikan” dari pengaruh dunia. Apa yang mereka lihat di dunia, diikuti. “Aku mau buat ini, aku mau buat itu; aku mau punya ini, aku mau punya itu; senanglah kalau aku pergi ke sana; senanglah aku kalau mencapai kedudukan itu; senanglah aku kalau dipuji orang,” dan seterusnya. Ini adalah gaya hidup anak-anak dunia. Sebagai anak-anak Abraham, kita harus mengikuti teladan iman Abraham yang taat sepenuhnya pada Allah Bapa, bahkan melakukan hal yang pasti bertentangan dengan keinginannya sendiri; mempersembahkan anaknya, Ishak. Sekarang di dalam kehidupan orang percaya, kita mengenal sosok Tuhan Yesus, yang prinsip-Nya adalah melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yesus adalah potret atau profil dari Anak Allah. Maka kalau kita mau menjadi anak Allah, profil kita juga harus seperti Yesus.

    Jadi, bukan karena kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat lalu kita menjadi anak-anak Allah. Bukan! Itu adalah pembodohan dan sesat. Kita menjadi anak-anak Allah karena kita percaya kepada Yesus, dan percayanya itu seperti percayanya Abraham; menaati apa pun yang Allah perintahkan. Masalahnya, kita sudah menaati apa yang Allah kehendaki, belum? Seperti Yesus melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, maka kalau kita mau menjadi anak-anak Allah, kita pun harus taat seperti Yesus taat. Keselamatan memang bukan hanya karena perbuatan baik. Sebaik apa pun perbuatan seseorang, tidak akan menyelamatkan. Keselamatan terjadi karena kurban Yesus di kayu salib. Kalau kita percaya dengan kurban itu, maka kita harus memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus. Sebaliknya, kalau kita tidak menjalani hidup seperti yang dijalani oleh Yesus, berarti kita tidak percaya kepada-Nya.

    Yang menyesatkan banyak orang Kristen hari ini adalah pengajar, pembicara, teolog, yang mengajarkan: “Pokoknya, asalkan Saudara sudah percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, Saudara sudah menjadi anak-anak Allah.” Itu salah! Kalau Alkitab berkata: “Yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,” yang diterima itu bukan hanya sosok Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melainkan kebenaran yang diajarkan Yesus. Ingat, pada mulanya adalah Firman. Firman yang berkuasa menciptakan langit dan bumi, Firman itu adalah kebenaran. Jadi kalau kita menerima Yesus, berarti kita juga menerima logos, menerima kebenaran. Kalau kita tidak menerima kebenaran, maka kita tidak memiliki hak sebagai anak-anak Allah. Ingat, kuasa itu hak. Jadi, kalau kita menerima kebenaran dan hidup kita diubah oleh kebenaran itu, barulah kita memiliki hak sebagai anak-anak Allah.

    Jadi, masuk surga itu bukan tidak bersyarat. Syarat yang utama—yang tidak bisa dibayar oleh siapa pun—adalah kurban Yesus di kayu salib yang membenarkan orang percaya. Itu anugerah. Kalau orang menerima anugerah itu—yaitu dengan mengikuti jejak Yesus—maka barulah dia bisa masuk surga. Maka, tidak heran kalau Yesus berkata “orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak dikenal-Nya

    Berkat Abraham, Berkat Kekal

    Berkat Abraham, Berkat Kekal

    Berkat Abraham yang dikatakan dalam firman Tuhan bahwa semua bangsa akan diberkati (Kej. 12:1-3), bukan berbicara tentang berkat jasmani, melainkan berkat keselamatan dalam Yesus Kristus; yaitu kembalinya manusia ke rancangan Allah semula. Maka, kita jangan mengartikannya secara duniawi. Tidak sedikit gereja yang bicara mengenai berkat Abraham menunjuk pada berkat materi, ini menyesatkan. Berkat Abraham adalah berkat kekal; yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Jadi, kita tidak boleh menjadi picik, naif, dan dangkal serta miskin dalam pengertian mengenai berkat Abraham. Sekali lagi, asumsinya jangan pada berkat jasmani. Kalau kita melihat keturunan Abraham secara jasmani—secara darah daging, yaitu bangsa Israel—mereka sendiri tidak mengalami kemakmuran secara jasmani seperti bangsa-bangsa lain.

    Bangsa-bangsa lain bisa menduduki tanah airnya selama ribuan tahun dan mengalami kejayaan secara materi, sedangkan bangsa Israel tidak. Tahun 1400 SM mereka sampai ke tanah Kanaan—dimana mereka berangkat dari Mesir pada tahun 1440 SM. 700 tahun kemudian, Asyur sudah menaklukkan Israel Utara. Jadi mereka punya waktu 700 tahun. Selama 700 tahun pun tidak mengalami keadaan yang makmur, berkali-kali terjadi perang, dikuasai oleh bangsa lain atau ditekan oleh bangsa lain. Kemudian sekitar 1200 tahun kemudian, Israel bagian selatan juga dihancurkan oleh Babel. Jadi, mereka sebenarnya tidak lama menikmati negeri mereka; hanya sekitar 700 tahun sampai 900 tahun. Sebab pada tahun 586 SM, Babel menjatuhkan Yehuda. Dan yang paling tragis adalah pada tahun 70 SM ketika Jendral Titus datang dari Roma menghancurkan Yerusalem, sampai Bait Suci yang dibangun ulang pun dihancurkan.

    Sejak itu bangsa Israel tidak memiliki tanah air atau negara. Jadi, sekitar 2500 tahun bangsa Israel tidak memiliki tanah air, mereka tercerai-berai—atau istilahnya diaspora—ke seluruh dunia. Baru kemudian tanggal 14 Mei 1948, negara Israel modern berdiri. Bangsa Israel ini merupakan bangsa yang luar biasa penderitaannya. Bahkan sebelum negara Israel berdiri—tahun 1939-1945 Perang Dunia ke-2 meletus— enam juta orang Yahudi dibantai, yang dalam sejarah dikenal sebagai peristiwa holocaust. Lalu berkat Abrahamnya—jika hal materi—di mana? Tidak ada atau sedikit sekali. Kalau dibandingkan dengan negeri China, ribuan tahun mereka memiliki negerinya sendiri. Hanya beberapa tahun saja Jepang pernah datang dan menguasai sebagian kecil wilayah dari China. Oleh sebab itu, kalau kita pergi ke China, ada begitu banyak peninggalan sejarah bangsa itu. Sedangkan kalau kita ke Israel, tidak banyak peninggalan sejarah bangsa itu. Negeri itu hanya penuh dengan tapak tilas dari Yesus dan tokoh-tokoh iman sehingga menarik. Namun, secara budaya kalah jauh dibandingkan dengan China, yang mana bisa menjadi objek wisata yang sangat menarik.

    Jadi, bicara mengenai berkat Abraham, jangan diasumsikan sebagai berkat jasmani. Berkat Abraham adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus, berkat kekal. Bagaimana kita bisa memiliki berkat Abraham? Kita harus hidup seperti Abraham, artinya kita harus memiliki iman seperti Abraham. Abraham hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Ibrani 11:8 mengatakan: “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” Luar biasa! Walaupun ia tidak tahu negeri itu di mana, ia taat saja dan apa pun yang diperintahkan oleh Elohim Yahweh, Allah Israel, dia lakukan tanpa berbantah. Pertanyaannya bagi kita, apakah kita memiliki kehidupan seperti ini, taat kepada Tuhan apa pun yang diperintahkan? Jangankan taat, jangan-jangan kita tahu saja belum, apa yang Tuhan mau.

    Kita jangan berpikir bahwa sebagai orang Kristen, kita cukup menjadi orang baik secara hukum moral umum. Kalau hanya begitu, tidak usah kita menjadi Kristen. Agam

Customer Reviews

5.0 out of 5
61 Ratings

61 Ratings

Samuel Purba ,

Sangat memberkati

Trimakasih pak Erastus.. Podcast yang sangat memberkati

..amboy.. ,

Try by urself

This podcast really open my heart and strengthen my soul everyday. It makes my whole mind relax and always want to kno about Him.

Indrib ,

Enlighted Me

This podcast enlights me in starting to be a true Christian.

Top Podcasts In Christianity

Listeners Also Subscribed To