10 episodes

Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba Allah dengan cara-cara yang benar.

Radio Rodja 756 AM Radio Rodja 756AM

    • Islam

Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba Allah dengan cara-cara yang benar.

    Wajibnya Mentaati Dan Meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Wajibnya Mentaati Dan Meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Wajibnya Mentaati Dan Meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 18 Dzulhijjah 1441 H / 08 Agustus 2020 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Wajibnya Mentaati Dan Meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Kita wajib mentaati Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah Rasul (utusan) Allah. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mentaati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya…” (QS. An-Nisaa’ [4]: 59)

    Kemudian juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 80:

    مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ﴿٨٠﴾

    “Barangsiapa yang mentaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa berpaling dari ketaatan, maka ketahuilah Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 80)

    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan barangsiapa taat kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berarti dia taat kepada Allah. Artinya wajib taat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ketaatan yang mutlak.

    Dengan taat kepada Rasulullah, Allah akan memberikan rahmat kepada kita. Allah berfirman dalam surat An-Nur:

    وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    “Dan taatlah kepada Rasulullah agar kamu diberikan rahmat.” (An-Nur[24]: 56)

    Artinya dengan taat kepada Rasulullah, maka Allah akan memberikan rahmat. Dan Allah juga akan memberikan hidayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

    “Dan seandainya kalian mentaatinya (mentaati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), maka Allah akan memberikan petunjuk.” (An-Nur[24]: 54)

    Jadi taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah memberikan rahmat, Allah akan memberikan hidayah dan Allah akan mencitai orang yang mentaatinya.

    Dan Allah mengancam orang yang mendurhakai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfriman:

    فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapatkan cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nur[24]: 63)

    Artinya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah atau siksa pedih di dunia, baik berupa pembunuhan, hukuman had, pemenjaraan atau siksa-siksa lain yang disegerakan. Allah telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan atas dosa-dosanya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ketaatan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai petunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan.

    Biografi Singkat Imam At-Tirmidzi

    Biografi Singkat Imam At-Tirmidzi

    Biografi Singkat Imam At-Tirmidzi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Faidah-Faidah Sejarah Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 17 Dzulhijjah 1441 H / 07 Agustus 2020 M.



    Download juga kajian sebelumnya: Biografi Singkat Imam Abu Dawud

    Mukaddimah Kajian Tentang Biografi Singkat Imam At-Tirmidzi

    Kita akan mulai dari nama beliau, tempat dan tahun lahir beliau, kemudian kita akan berbicara sekilas tentang perjuangan beliau dalam menuntut ilmu, guru-guru dan murid-murid beliau, karya-karya beliau, dan juga mengenal sekilas tentang kitab Jami’ At-Tirmidzi atau disebut juga Sunan Tirmidzi.

    Untuk biografi beliau ini, kita tidak membahas dari kitab-kitab ulama yang sifatnya sudah tersusun sesuai dengan susunan tadi. Tapi kita akan ambil mukaddimah dari Sunan Tirmidzi yang ditulis oleh Ahmad Syakir yang beliau mentahqiq kitab ini.

    Biografi Imam At-Tirmidzi

    Kunyah beliau adalah Abu ‘Isa, namanya Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin Dhahhak As-Sulami Al-Bughi at-Tirmidzi adh-Dharir. Atau ada juga yang menyebutkan nasab beliau yang lain, yaitu Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Syadad. Dan garis yang lain menyebutkan nama beliau Muhammad bin ‘Isa bin Yazid bin Saurah bin Sakn.

    Boleh jadi memang semua itu adalah garis keturunan beliau, tapi sebagian ulama mengambil garis yang masyhur saja. Tapi untuk nama Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, ini disepakati oleh para penulis biografi beliau.

    Beliau lahir pada tahun 209 Hijriyah dan wafat pada 279 Hijriyah. Imam Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa umur beliau adalah 70 tahun.

    Ulama-ulama yang menyebutkan biografi beliau adalah Mulla Ali Al-Qari dalam Syarh Asy-Syamail At-Tirmidzi, kemudian juga Imam Adz-Dzahabi dalam kitab beliau Mizanul I’tidal, dan selainnya.

    Kenapa penting tahun lahir dan tahun wafatnya untuk dikenal? Yaitu agar mengetahui guru-gurunya, pada umur berapa beliau menuntut ilmu, umur berapa beliau berjumpa dengan para ulama yang beliau menuntut ilmu dari mereka.

    Ada yang menyebutkan bahwa beliau lahir dalam keadaan buta. Tetapi hal ini tidak benar berdasarkan bukti-bukti dari penjelasan ulama yang lain.

    “As-Sulami” adalah nisbat kepada Bani Sulaim, nama sebuah kabilah. “Bughi” adalah nama salah satu desa dari Kota Tirmidzi. Maka ini nisbah kepada kampung beliau.

    Download MP3 Kajian



    Untuk mp3 kajian  yang lain silahkan kunjungi mp3.radiorodja.com

    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Biografi Singkat Imam At-Tirmidzi” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

    Islam Adalah Agama Yang Allah Ridhai

    Islam Adalah Agama Yang Allah Ridhai

    Islam Adalah Agama Yang Allah Ridhai adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Syarah Aqidah Thahawiyah karya Imam Ath-Thahawi Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 17 Dzulhijjah 1441 H / 07 Agustus 2020 M.



    Download kajian sebelumnya: Perintah Untuk Berjamaah dan Larangan Dari Berpecah-Belah

    Kajian Tentang Islam Adalah Agama Yang Allah Ridhai

    Agama Islam satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, agama yang telah disempurnakan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam segala aspek kehidupan, baik dalam masalah aqidah, atau masalah ibadah, muamalah, akhlak dan seluruh perkara yang berkaitan dengan Dinul Islam, semuanya telah sempurna, tidak ada yang baru, tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah. Pengurangan merupakan perkara yang dilarang, begitu juga menambah merupakan perkara bid’ah yang tercela.

    Agama Islam yang kita cintai ini, agama Islam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan kita dengan mengenalnya, mengetahuinya, mencintainya dan melaksanakan syariat yang telah Allah turunkan dalam Al-Qur’an dan disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang shahih, hendaknya senantiasa kita pelajari, kita selalu mendalami hukum-hukum yang terkait dengan agama yang mulia ini, terutama masalah aqidah, keimanan. Perkara aqidah merupakan landasan, perkara keimanan merupakan pondasi, kekeliruan dalam masalah aqidah adalah hal yang sangat berbahaya yang akan menggiring seorang kepada kebinasaan, yang akan menggiring seseorang pada jurang kesesatan.

    Oleh karena itu sudah selayaknya kita semua bersungguh-sungguh untuk mengenal aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, terutama di zaman fitnah pemikiran atau pemahaman sempalan yang menisbatkan kepada Islam, baik masalah aqidah kepada Allah, aqidah kepada Rasul, dalam masalah ibadah, atau masalah hal-hal yang lain yang berkaitan dengan agama Islam.

    Di zaman sekarang ini orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengerahkan seluruh potensi mereka untuk menyebarkan kebatilan, menebarkan pemahaman yang sesat, mempertahankan tradisi dari budaya mereka, dan mereka juga menyebarkan berbagai tuduhan keji dan juga kedustaan yang dikemas dengan kemasan yang mungkin ilmiah dalam pandangan sebagian atau dengan istilah-istilah yang menipu. Semua hal itu dilakukan untuk membendung penyebaran kebaikan, membendung menyebarnya ilmu yang shahih, sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, membendung manusia dari tauhid, membendung manusia dari sunnah, membendung manusia dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

    Hal ini adalah sunnatullah, suatu ketetapan yang pasti terjadi. Karena perseteruan antara al-haq yang tegak di atas kebenaran Al-Qur’an dan sunnah, yang tegak di atas wahyu dan antara kebatilan yang dibangun di atas pemikiran, akal semata, logika yang nyeleneh dan juga perasaan, tradisi, budaya, hawa nafsu, semua hal itu dijadikan sebagai landasan oleh orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tentunya dengan membajak istilah-istilah agama untuk mel...

    Hukum Perceraian Sebelum Wanita Digauli

    Hukum Perceraian Sebelum Wanita Digauli

    Hukum Perceraian Sebelum Wanita Digauli adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 16 Dzulhijjah 1441 H / 06 Agustus 2020 M.

    Kajian sebelumnya: Jenis-Jenis Perceraian Ditinjau Dari Sisi Mahar

    Ceramah Agama Islam Tentang Hukum Perceraian Sebelum Wanita Digauli

    Pada kesempatan yang mulia ini kita akan membahas ayat ke-236 dari surat Al-Baqarah, yakni masih berbicara tentang hukum perceraian sebelum wanita digauli dan tentang masalah mut’ah, yaitu pemberian dari suami yang menceraikan istri yang belum digauli.

    Dalam surat Al-Baqarah ayat 236, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    لَّا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ ﴿٢٣٦﴾

    “Tidak ada dosa atas kalian apabila kalian menceraikan istri-istri kalian yang belum kalian sentuh atau belum kalian tentukan maharnya. Bagi yang mampu hendaknya kalian memberikan mut’ah (sesuatu yang diberikan oleh suami kepada istri yang diceraikan sebagai penghibur selain nafkah. Bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu juga menurut kesanggupannya sebagai pemberian dengan cara ma’ruf. Yang demikian itu merupakan kewajiban atas orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 236)

    Ada beberapa faidah atau pelajaran yang bisa dikatakan lebih bermanfaat dan lebih berharga dari mutiara, hukum-hukum yang bisa kita ambil dari ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini.

    Bolehnya seorang menceraikan istrinya sebelum dia sentuh/gauli/jima’

    Dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    لَّا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ…

    Tetapi perhatikan kalimat لَّا جُنَاحَ ini memberikan rasa kepada kita bahwa yang lebih utama adalah tidak melakukannya. Melakukan talaq sebelum disentuh dan sudah dia khitbah tentunya, ada sesuatu pada diri wanita tersebut.

    Jadi harus diperhatikan dan kemudian tidak tergesa-gesa melakukan perceraian. Ini yang disebut oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah. Karena masalah perceraian ini adalah masalah yang paling belakang. Kalau misalnya perkaranya tidak baik kecuali dengan perceraian, maka syariat Islam membolehkan. Tapi yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh terburu-buru, tidak boleh tergesa-gesa.

    Boleh bagi seseorang menikahi wanita dengan tanpa menyebutkan maharnya

    Perlu diketahui bahwa harus dibedakan antara “menyebutkan mahar” dengan “tanpa mahar sama sekali”, ini hukumnya berbeda. Yang sedang dibahas sekarang adalah boleh bagi seseorang menikahi seorang wanita dengan tanpa menyebutkan mahar.

    Oleh karena itu ketika akad, tidak mesti disebutkan mahar. Karena ada yang mengatakan: “Tidak sah kalau tidak disebutkan mahar”, ini salah.

    Jadi boleh bagi seseorang menikahi wanita dengan tidak menyebutkan maharnya. Dengan dasar firamn Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً

    Pembawa Wahyu Adalah Hamba Allah Yang Paling Mulia

    Pembawa Wahyu Adalah Hamba Allah Yang Paling Mulia

    Pembawa Wahyu Adalah Hamba Allah Yang Paling Mulia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 16 Dzulhijjah 1441 H / 06 Juli 2020 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Pembawa Wahyu Adalah Hamba Allah Yang Paling Mulia

    Saat ini kita masuk segi keutamaan ilmu ke-51, pembahasan halaman 82 pada kitab العلم : فضله وشرفه.

    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa sesungguhnya seutama-utama kedudukan manusia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kedudukan sebagai Rasul dan sebagai Nabi.

    Inilah tingkatan yang paling tinggi di antara semua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih di antara para Malaikat dan di antara manusia Rasul-Rasul yang menjadi utusanNya. Para Malaikat adalah utusan Allah untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan.

    …جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ…

    “…Allah, Dialah yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan…” (QS. Fatir[35]: 1)

    Makanya Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia dan para Nabi dan para Rasul dikalangan manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia.

    Bagaimana mungkin mereka tidak menjadi seutama-seutama hamba Allah di sisi-Nya? Mereka Allah jadikan sebagai perantara antara diriNya dengan hamba-hambaNya, yaitu perntara dalam menyampaikan petunjuk Allah, memperkenalkan kepada hamba-hambaNya nama-nama Allah yang Maha Indah, perbuatan-perbuatanNya yang Maha Terpuji, sifat-sifatNya yang Maha Tinggi, memperkenalkan kepada mereka hukum-hukumNya, sebab-sebab keridhaanNya, hal-hal yang mendatangkan kemurkaanNya, pahala dan adzabNya.

    Jelas bahwa mereka ini adalah benar-benar yang mengenalkan kepada manusia sebab-sebab yang mendatangkan keridhaan Allah yang menyelamatkan dari kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dan Allah istimewakan mereka membawa wahyu. Wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah nikmat terbesar yang Allah turunkan kepada manusia. Oleh karena itu pembawa wahyu adalah hamba Allah yang paling mulia. Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam karena tugasnya menurunkan wahyu kepada para Nabi dan para Rasul maka dia menjadi pimpinan para Malaikat. Demikian pula para Nabi dan para Rasul karena tugasnya menyampaikan wahyu kepada umat manusia maka mereka menjadi manusia yang paling utama dan paling mulia.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan mereka dengan pemuliaan disisiNya. Allah meridhai mereka untuk membawa risalah/petunjukNya kepada hamba-hambaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan mereka sebagai makhluk yang paling bersih jiwanya, yang paling mulia akhlaknya, yang paling sempurna dalam ilmu dan dalam pengamalannya, yang paling indah bentuk fisik mereka, serta yang paling dicintai dan diterima di hati manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling dikagumi dan paling dicintai dikalangan manusia. Inilah para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam.

    Jika Barang Yang Dirampas Sudah Dicampur dengan Barang Milik Perampas

    Jika Barang Yang Dirampas Sudah Dicampur dengan Barang Milik Perampas

    Jika Barang Yang Dirampas Sudah Dicampur dengan Barang Milik Perampas merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 16 Dzulhijjah 1441 H / 06 Agustus 2020 M.

    Download kajian sebelumnya: Jika Barang Yang Dirampas Sudah Menjadi Benda Yang Lain



    Kajian Islam Ilmiah Tentang Jika Barang Yang Dirampas Sudah Dicampur dengan Barang Milik Perampas

    Masih dalam bab Al-Ghashab, dan kita sampai pada perkataan Mualif:

    وإن خلطه بما لا يتميز كزيت أو حنطة بمثلهما أو صبغ الثوب أو لت سويقا بدهن أو عكس ولم تنقص القيمة ولم تزد فهما شريكان بقدر ملكيهما فيه وإن نقصت القيمة ضمنها

    Dan apabila barang rampasan dicampur dengan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, seperti minyak atau gandum dengan yang keduanya, atau dicelupkan mengganti warna pakaian, atau dia campurkan roti dengan lemak atau sebaliknya. Dan ini semuanya tidak menyebabkan berkurangnya nilai dan tidak juga menambah nilai barang rampasan, maka keduanya berserikat dengan nilai yang ada pada barang rampasan tersebut. Dan apabila berkurang nilai rampasannya, maka dia menjaminnya.

    Di sini Mualif menjelaskan bila barang yang dirampas dicampur oleh yang merampasnya dengan harta milik dia, bisa jadi dicampurkan dengan barang yang sama dan tidak bisa dipisahkan mana barang yang dirampas dna mana harta milik si perampas tadi.

    Contohnya seseorang merampas minyak zaitun ya kemudian di rumahnya ada sedikit minyak zaitun lalu dia campurkan jadi satu. Atau seseorang merampas gandum kemudian dia juga punya gandum kemudian dia gabung menjadi satu karung. Atau misalnya juga seseorang merampas beras lalu digabung dengan beras yang lain, tentu ini tidak bisa dipisahkan mana beras yang dirampas dan mana beras milik perampas. Atau dirampasnya baju lalu dicelupkannya warna lain sehingga berubah warnanya, tentu tidak bisa dipisahkan antara celupan milik perampas dengan baju milik orang yang dirampas. Atau seseorang merampas roti kemudian dicampurnya dengan minyak lemak hewan, tentu tidak bisa dipisahkan antara harta perampas dengan roti tersebut karema sudah menyatu.

    Jika harga tidak menjadi berkurang dan tidak bertambah, maka keduanya berserikat dengan seukuran harta keduanya dalam hal tersebut. Misalnya seseorang merampas 10 liter minyak virgin (minyak zaitun perasan pertama) kualitas bagus milik tetangganya yang harganya Rp 10.000.000. Sedangkan minyak Si Perampas hanya 5 liter dan harganya hanya Rp. 2.000.000. Berarti perbandingannya 2/12 atau 1/6. Bila kemudian orang yang dirampas mengajukan ke Mahkamah dan dia minta hartanya kemudian dijual minyak campuran tadi, berapapun terjual milik dia adalah 5/6 sedangkan milik perampok adalah 1/6.

    Jika dengan dicampurkan maka harga barang yang dirampok tadi menjadi turun, maka selisihnya dibayar oleh perampok. Misalnya sebelum dirampok harga minyak virgin tadi umpamanya Rp 10.000.000/10 liter atau Rp 1.000.000/1 liter. Ketika dicampur dengan minyak zaitun yang kualitasnya dibawah itu, mungkin perasan ke-4 atau ke-5 sehingga harga minyak virgin tadi turun dari Rp 1.000.000/1 liter menjadi Rp 800.000/1 liter, berarti kerugiannya 20%. Maka atas kerugian ini si perampas wajib menggantinya.

    Adapun jika harganya naik, misalnya yang dirampas adalah minyak kelas rendah lalu digabungkan oleh si perampas dengan minyaknya yang kelas bagus, otomatis harganya menjadi naik, maka tetap itu milik pemiliknya dan milik si perampas tidak ada.

    Bagaimana penjelasan lengkapnya?

Listeners Also Subscribed To