20 episodes

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan tuntunan-Nya untuk hidup kita. A daily devotional containing a brief teaching along with the applications, read by Dr. Erastus Sabdono. The messages will equip you and bring you to better understand God, His kingdom, His will, and His guidance in our lives.

Truth Daily Enlightenment Erastus Sabdono

    • Christianity

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan tuntunan-Nya untuk hidup kita. A daily devotional containing a brief teaching along with the applications, read by Dr. Erastus Sabdono. The messages will equip you and bring you to better understand God, His kingdom, His will, and His guidance in our lives.

    MENGHIDUPKAN ALKITAB

    MENGHIDUPKAN ALKITAB

    Kita melakukan kehendak Allah Bapa, bukan karena mau mendapatkan upah,melainkan karena didorong oleh kerinduan yang kuat untuk menyukakan hati Allah Bapa. Jadi, kita melakukan kehendak Allah bukan karena mengharapkan berkat dari Allah,melainkan kita mau “memberkati Allah.” Terkait dengan hal ini, kita dapat mengagumi ketaatan Abraham kepada Elohim Yahweh. Ketika Abraham keluar dari Ur-Kasdim, iatidak pernah tahu alamat yang ditujunya. Ia berganti nama walaupun belum mempunyai anak, sementara istrinya sudah uzur dan dirinya juga sudah sangat tua. Di hari tuanya, satu-satunya anak yang dimilikinya harus dia sembelih. Abraham melakukan kehendak Allah dengan segenap hati meskipun tanpa jaminan.

    Percaya yang benar itu tidak ada jaminannya. Allah itu harus dipercayai tanpa jaminan. Kita tidak melihat wajah-Nya secara visible, tidak mendengar suara-Nya secara audible, bahkan berdoa berjam-jam pun, Dia sering seperti tidak muncul sama sekali. Sudah lelah berdoa, malam atau dini hari, Dia pun seakan-akan tidak ada. Namun, kita tetap menghormati Dia dengan tidak memaksa Dia berbicara kepada kita. Kita tidak memaksa Dia menyatakan diri kepada kita. Kita belajar untuk memercayai Dia tanpa jaminan, tanpa garansi, dan tanpa iming-iming. Dia layak dipercayai,bahkan pada saat kita diperlakukan tidak adil dan sepertinya tidak ada pembelaan dari Allah. Ketika kita dalam kebutuhan dan Tuhan tidak memenuhinya, kita tetap memercayai Dia, tanpa keraguan sedikitpun. Semua itu merupakan latihan bagaimana kita memercayai kehadiran Allah tanpa jaminan. Dalam hal ini, kita sesungguhnya belajar menghadirkan pemerintahan Allah yang tidak kelihatan.

    Jadi, apakah Dia menjadi seperti hidup atau mati bagi Anda, semuanya tergantung kepada masing-masing individu, bagaimana masing-masing individu merespons Dia. Walaupun Dia seperti tidak ada, kita tetap memercayai Dia. Ini merupakan proses panjang, seperti menghidupkan Allah dalam hidup Kita. Untuk orang-orang yang tidak memercayai Allah sedemikian tersebut, Allah menjadi seakan-akan mati atau tidak ada. Namun, bagiorang-orang yang memercayai Allah seperti yang dijelaskan diatas, Allah menjadi seakan-akan hidup atau nyata.

    Setiap orang percaya masuk ke dalam perjuangan sikap defensif hingga ofensif. Orang percaya harus benar-benar mempersoalkan apa yang Allah Bapa kehendaki untuk dilakukan terkait dengan hukum-hukum-Nya dalam tataran secara moral umum (sikap defensif). Selanjutnya, orang percaya harus benar-benar ekstrem berjuang untuk mengerti kehendak Allah dalam segala hal terkait dengan rencana-rencana-Nya dalam kehidupan individu dan dunia ini, untuk dilakukan (sikap ofensif). Hendaknya kita tidak merasa puas hanya beragama Kristen dan pergi ke gereja. Bahkan, tidak cukup menjadi aktivis gereja dan pendeta. Kita harus benar-benar mengalami Allah secara proporsional, yaitu dengan melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya.Kita tidak cukup hanya mampuberbicara tentang Allah dan berteologi.Yang penting adalah memiliki kualitas hidup seperti Yesus sebagai bukti telah benar-benar menemukan Allah dan hidup dalam pemerintahan kerajaan Allah.

    Kita harus mencari Dia dengan secara terus–menerus menghayati kehadiran-Nya, termasuk di dalamnya, kita harus bergaul dengan Alkitab.Hanya ketika kita bergaul dengan Alkitab secara benar, membaca Alkitab bolak-balik dengan tulus, kisah Alkitab itu seperti baru terjadi kemarin atau sedang berlangsung sekarang. Allah pun akan menjadi nyata hidup dalam sejarah hidup manusia bukan hanya dahulu,melainkan juga sekarang, dalam sejarah hidup kita masing-masing. Tidak heran, ketika kita membaca Alkitab, kita bisa menangis seakan-akan kita ada dalam kancah pergumulan para tokoh-tokoh yang sedang kita baca. Kita bisa merasakan bagaimana Allah mengasihi manusia atau umat-Nya pada masa-masa tertentu juga pada zaman kita hidup hari ini. Seperti misalnya, saat membaca kis

    TERBIASA DALAM PEMERINTAHAN ALLAH

    TERBIASA DALAM PEMERINTAHAN ALLAH

    Ketika Tuhan Yesus berkatadalam Yohanes 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku …,” itu mungkin merupakan level defensif maupun level ofensif. Namun, “… Dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” itu sudah pasti sangat jelas level ofensif. Orang yang melewati dua level di atas adalah orang-orang yang sudah meninggalkan sikap antroposentris (berpusat pada manusia) dan egoisnya dan beralih pada teosentris (berpusat pada Allah). Banyak orang Kristen masih bersikap antroposentris, sehingga masih sangategosentris (mementingkan diri sendiri). Orang yang masih bersikap antroposentris sehingga bersikapegois adalah orang-orang yang tidak berjuanguntuk menyukakan hati-Bapadan melihatpekerjaan-Nya yang harus ditunaikan. Mereka tidak mengetahui rencana Bapa yang harus merekapenuhi. Biasanya, orang-orang seperti itu melakukan segala sesuatu demi memperoleh keuntungan, sekecil apapun keuntungan tersebut.

    Menjaga perasaan Bapa untuk menyukakan hati-Nya tidak cukup hanya berbelaskasihan kepada orang yang sedang dalam kesulitan, menolong orang miskin, membuat rumah yatim piatu, membantu orang susah, dan lain sebagainya. Semua itujuga dilakukan oleh orang-orang beragamalainnya. Itu merupakanbahasa orang beragama secara umum. Sebagai anak-anak Allah, kita harus melihat perasaan Bapa dan rencana-Nya: apa yang Dia kehendaki untuk kita lakukan. Betapa istimewanya orang yang dipercayai oleh Allah untuk mengerti apa yang direncanakan Bapa untuk hidup masing-masing individu, dan menunaikan atau memenuhinya. Betapa berharga dan bernilainya orang-orang seperti ini!

    Pada zaman sekarang ini, hampir tidak ditemukan orang yang hidup hanya untuk kesukaan hati Bapa sampai level ofensif. Manusia rata-rata masih bersifat egosentris. Hal ini sudah dikemukakan oleh Yesus,“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”(Mat. 24:12).  Ironisnya, tidak sedikit pendeta yang “melayani” Allah dengan aktif di gereja bukan karena melihat perasaan Allah, melainkan karena banyak kepentingan di dalam dirinya, yang tentu tidak terbaca dengan mudah oleh jemaat. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapa pun. Dari fakta lapangan, kesalahan dan kegagalan dapatlah ditemukandenganmudah dan jelas.

    Kita harus mengerti betapa berharganya hidup ini. Mengapa kita tidak mempersoalkan hal itu? Itu disebabkan karena kita sendiri belum bersentuhan dan belum menghayati keberadaan Pribadi Agung, Allah semesta alam ini. Banyak orang beragama bersentuhan dengan liturgi, hanya berupa Allah yang dinyanyikan, dikhotbahkan, dibicarakan, diseminarkan, dan didiskusikan, tetapi tidak bersentuhan langsung dengan pribadi-Nya. Para teolog, sarjana teologi, magister teologi, dan doktor teologi telah berbicara tentang Allah dengan sangat cakap, tetapi perilaku sebagian mereka tidak menunjukkan bahwa mereka mengenal Allah dan benar-benar bersentuhan dengan Dia. Sikap tidak hormat kepada Allah itu terlihat, ketika mereka berbicara dengan tidak menjaga perasaan orang lain; materialistis ketika bertemu orang berduit, berebut kedudukan, tampak sekali ambisi untuk bisa memperoleh sesuatu demi kesenangan dan kepentingannya sendiri. Kebanggaan mereka adalah capaian prestasi dalam dunia akademis, padahal mereka tidak sungguh-sungguh telah menyukakan hati Allah.

    Kita harus menghayati bahwa ada mata yang melihat dirikitasetiap saat, yaitu ada Tuan Rumah yang memerintah kehidupan ini yaitu Allah Bapa. Dia selalu bersama dengan kita. Dia mengontrol dan memonitor kita. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar berhati-hati dengan segala sesuatu yang kita lakukan. Allah memang seakan-akan tidak terganggu ketika kita hidup tidak benar. Namun sebenarnya, Allah berduka ketika kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Demikian pula, Allah seakan-akan tidak merespons ketika kita belajar hidup sesuci-sucinya. Padahal

    DEFENSIF DAN OFENSIF

    DEFENSIF DAN OFENSIF

    Yang paling berharga—tetapi juga paling sukar—dalam hidup ini adalah menyukakan hati Bapa. Ini merupakan hal yang paling berharga. Kalau sampai hati Bapa bisa kita sukakan, itu tidak ternilai harganya. Disukakannya hati Bapa tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Sebanyak apa pun harta seseorang, sesukses apapun karier seseorang, setinggi apa pun gelar atau kedudukan atau kekuasaan seseorang, atau segala kesenangan apa pun, tidak ada artinya dibandingkan dengan bisa menyukakan hati Bapa. Namun, ini merupakan hal yang paling sukar dilakukan dalam hidup ini. Saat ada dalam pergumulan, kita bisa merasa bahwa hal itu tidak mungkin dicapai. Kita bisa merasa putus asa dan lemah seakan-akan kita tidak mungkin bisa mencapainya. Namun, sesuai dengan Firman Allah, Allah mendidik kita supaya kita serupa dengan Yesus untuk dapat menyukakan hati Bapa.Melalui didikan-Nya tersebut, Bapa bisa memberi pernyataan,“Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Kerinduan kita adalah Bapa juga memberikan pernyataan tersebut kepada kita sebagai “sertifikat abadi.”

    Kalau seseorang berpikir, “Yang penting, saya tidak berbuat dosa” dan itu sudah cukup menyenangkan hati Allah, orang tersebut masih pada taraf defensif. Ini orang itu baru ada dalam taraf tidak melakukan kesalahan secara umum berdasarkan hukum moral secara umum. Mereka sudah merasa cukup puas dengan keadaan tersebut. Memang pada waktu masih baru menjadi orang Kristen, taraf defensif harus dilalui terlebih dahulu. Setelah belajar terus, seseorang harusnaik ke level ofensif. Dalam taraf ini, seseorang bukan saja tidak melakukan pelanggaran moral umum, tetapi sudah berusaha untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Dalam taraf ini, seseorang sudah belajar untuk dapat melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sebenarnya, inilah yang dimaksud dengan “hidup tidak bercacat dan tidak bercela.” Tidak boleh ada kesalahan yang kita lakukan.

    Namun fakta ironisnya, untuk taraf defensif saja, banyak orang Kristen masih sering gagal. Seseorang tidak akan sampai pada level ofensif kalau level defensif saja masih gagal. Kita pasti akan selalu mendapatkan kesempatan berbuat dosa dan menyenangkan diri sendiri. Namun, kita harus melawannya dan terus melawannya sampai kita menang.  Di level defensif, kita bertarung dengan diri kita sendiri karena kita masih ada dalam kodrat dosa di daging kita ini; jiwa kita juga sudah cemar selama belasan bahkan puluhan tahun. Untuk hidup dalam ketatan yaitu menundukkan diri secara penuh kepada kesucian Tuhan, tidak berbuat kesalahan, itu tidaklah mudah. Dalam pergumulan defensif saja, kita kadang-kadang putus asa. Namun, kalau kita berani melangkah dan berani berjuang, kita akan melihat keniscayaannya, yaitu kemungkinan untuk bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela; masuk perjuangan level ofensif.

    Kita harus meneliti setiap kejadian. Tiap kejadian menjadi kesempatan yang tersedia untuk melakukan kesalahan. Kesempatan itu sebenarnya bisa membuat kita melukai Allah, atau sebaliknya, kita bisa menjadikan kesempatan berbuat dosa tersebut menjadi momentum untuk dapat menyenangkan hati Bapa, yaitu dengan menolak untukberbuat dosa. Namun, ini sering masih ada dalam level defensif. Untuk pergumulan di level defensif saja, kita sudah harus berjuang keras, apalagi di level ofensif. Dalam Ibrani 12:1-3, Allah mengajar kita agar kita memandang Yesus yang tekun menanggung bantahan yang hebat. Dalam pergumulan kita melawan dosa, kita belum sampai mencucurkan darah. Artinya, kita belum allout untuk melawan dosa dan belum sehebat yang dialami Yesus yang berdarah-darah.

    Kalau kita memandang bahwa menyukakan hati Bapa itu bukan sesuatu yang paling berharga dalam hidup, kita tidak akan allout. “Menyukakan hati Bapa” semestinya bukan hanya merupakan hal yang paling berharga, melainkan satu-satu

    A.S.A.P (AKU SEGERA AKAN PULANG)

    A.S.A.P (AKU SEGERA AKAN PULANG)

    Kalau ada yang merasa paling susah dan paling malang hidupnya, dia justru adalah orang yang beruntung hari ini. Mengapa demikian? Hal ini akan membuka mata kita untuk menghayati betapa tragisnya hidup ini, sehingga orientasi dan fokus kita tertuju kepada kehidupan yang akan datang. Betapa sulitnya menyadarkan seseorang untuk bisa menghayati hal tersebut jika hidup dalam kenyamanan. Karena itu,kitatidak perlu menyesali keadaan tersebut. Anda jangan merasa kurang bernilai karena miskin, karena tidak mempunyai pasangan, karenatidak mempunyai keturunan, atau karena tidak mempunyai kedudukan, dan lain sebagainya. Hidup ini tidaklah lama.

    Kita harus membulatkan tekad kita untuk hanya mempunyai satu agenda dalam hidup ini, yaitu menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus agar dilayakkan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan dan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam kekekalan. Menjadi anak-anak Allah berarti berkeberadaan seperti Yesus. Kalau seseorang tidak mengikuti Kebenaran Tuhan ini, dia pasti akan sangat menyesal. Kita hendaknya tidak menilai sesuatu yang lain sebagai masalah yang besar, selain masalah kekekalan ini. Ketika seseorang menjadikan suatu masalah sebagai masalah yang besar sehingga fokus kepada kekekalan terganggu, ituberarti masalah tersebut sudah menjadi “berhala.” Kalaupun masalah tersebut akibat kesalahan, kita dapat menyerahkan diri kepada-Nya dan bersikap seperti Daud ketika ia harus menuai akibat kesalahannya. Ketika ia ada di dalam keadaan krisis dan kritis dia berkata kepada Tuhan, “Kalaupun aku hancur, aku hancur di tangan-Mu, Allah” (Mzm. 39:11).

    Kalau kita menghayati pemerintahan Allah, di satu sisi kita tidak akan mudah berbuat dosa; di sisi yang lain, kita akan kokoh menghadapi segala keadaan. Kalau seseorang masih dibelenggu oleh banyak kekhawatiran, itu karena dia masih mempunyai banyak agenda pribadi. Kalau agenda kita adalah bagaimana menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus, Bapa pasti melindungi kita secara khusus. “Percaya” itu berarti berani bertindak walaupun kita tidak melihat. Kalau kita membaca Alkitab Perjanjian Lama, tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama itu memiliki keberanian yang luar biasa. Mereka begitu berani menghadapi hidup dengan segala kesulitannya. Kita sekarangmemiliki Roh Kudus. Kita mestinya lebih berani daripada mereka.

    Jadi, agenda kita ini bisa rusak karena keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan bisa rusak juga karena tidak percaya. Jadi, kalau seseorang masih memiliki banyak keinginan, iapasti akan gugur.Artinya,iatidak akanpernah menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus. Kita harus menanggalkan semua keinginan, kecuali keinginan menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus. Dengan demikian, barulah bisa mengikuti apa yang dikatakan Yesus, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat. 8:20).

    Orang yang merasa berhak memiliki keinginan adalah orang yang sombong. Kalau dia itu adalah anak dunia seperti bangsa Israel, kita bisa memakluminya. Kalau di Perjanjian Baru, kita telah dibeli dan sepenuhnya telah menjadi milik Tuhan.Semua keinginan kitaharus ditanggalkan. Segala keinginan dan hasrat kitaharus hanya diarahkan kepada satu agenda, yaitu menjadi anak-anak Allah. Banyak orang Kristen salah kaprah karena menyamakan dirinya dengan bangsa Israel. Bangsa Israel ini orientasinya masih pada perkara dunia. Orang percaya tidak boleh menyamakan diri dengan bangsa Israel. Panggilan orang percaya adalah bagaimana menerjemahkan hidup Yesus dua ribu tahun lalu ke dalam hidup kita hari ini.

    Jadi, yang mengganggu agenda tunggal kita itu, pertama adalah keinginan-keinginan dan perasaan  tidak cukup. Sekarang tantangannya adalah apakah kita ingin mempunyai rasa cukup dan mematikan keinginan-keinginan, kecuali keinginan serupa deng

    MENGUBAH DIRI UNTUK MENGUBAH ORANG LAIN

    MENGUBAH DIRI UNTUK MENGUBAH ORANG LAIN

    Bangsa Israel di Perjanjian Lama hanya dididik untuk menjadi orang bermoral baik, bermartabat baik, berhukum, dan santun sesuai dengan Dasa Titah. Itu adalah standar mereka. Hal itu memang tidak salah. Jadi, kalau hari ini kita melihat orang beragama dan yang yang fanatik terhadap agamanya, kita seperti melihat orang Yahudi pada zaman Yesus. Bagi orang Yahudi, hukum agama itu adalah hukum negara, hukum negara itu hukumnya Allah sehingga mereka sangat mematuhinya. Namun, orientasi berpikir mereka adalah dunia ini; yaitu, pemenuhan kebutuhan jasmani. Namun, ketika Anak Allah, Yesus datang, Dia adalah Pemilik manusia dan dunia ini. Masalahnya sekarang, apakah orang mau menerima Dia atau tidak? Yohanes 1:12menegaskan, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”Menerima Yesus, Sang Logos berarti menerima Dia sebagai Pemilik, sebagai Majikan, dan sebagai Tuan. Itu mengharuskan kita untuk tunduk dibawahi atau disubordinasi oleh pemerintahan Allah.

    Faktanya, banyak orang tidak serius hidup dalam pemerintahan Allah karena sudah terbiasa hidup dalam pengaturan agama dan selebihnya hidup dalam pemerintahan diri sendiri. Hal ini mengakibatkan banyak orang menjadi sembarangan hidup, tidak menjaga perasaan Allah. Karena tidak terbiasa menghayati pemerintahan Allah secara penuh, maka mereka sembarangan dalam berbicara, bertindak, dan segala sesuatu yang dilakukan. Tidak sedikit, orang-orang Kristen yang merasa dirinya kuat, sehingga berbicara sembarangan dan menindas orang lain. Mereka berani menyimpang dan kurang sungguh-sungguh hidup suci karena tidak mengakui keberadaan Allah Bapa yang Mahahadir, yang melingkupi seluruh jagad raya ini.

    Anak-anak Allah yang benar itu seperti Yesus. Untuk menjadi anak-anak Allah, tidaklah otomatis. Namun orang percaya diberi hak atau eksousia(Yun.) supaya menjadi anak-anak Allah. Untukitu, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala kejadian harus terus diberitakan. Roh Kudus menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah. Injil Kerajaan Allah adalah Injil kebenaran yang berkuasa mengubah cara berpikir. Tiada henti Allah menuntun orang percaya menjadi anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, agenda hidup ini harus hanya satu, yaitu bagaimana menjadi anak-anak Allah berstandar Kristus. Kita tidak boleh mempunyai agenda lain. Kalau memiliki agenda lain, kita tidak akan menjadi anak-anak Allah. Melalui setiap kejadian Tuhan membentuk kita untuk bisa berubah.

    Untuk sementara waktu ketika masih menjadi Kristen baru, banyak orang dibiarkan oleh Tuhan masih berkeadaan dualisme. Secara hukum (de jure) sebenarnya mereka sudah menjadi anak-anak Allah karena penebusan oleh Yesus, tetapi di lain pihak juga masih berkeadaan (de facto) seperti anak dunia. Keadaan ini tidak boleh berlangsung terus. Allah menuntut ketegasan.Orang Kristen harus mengambil pilihan dan keputusan dipihak siapa mereka berdiri. Kalau seseorang masih bisa dibahagiakan oleh harta dunia, berarti ia sedang diadopsi oleh dunia, sehingga menjadi anak dunia. Mereka berarti masih di pihak dunia. Jika tidak segera bertobat, selera jiwanya juga semakin rusak.  Orang percaya harus berjuang untuk keluar dari keadaan dimana dirinya masih disandera oleh dunia ini. Kalau kita berani meninggalkan dunia (tidak terikat kesenangan dunia), kehadiran Allah akan makin bisa dirasakan, pemerintahan Allah dapat tergelar dalam hidup kita masing-masing. Oleh sebab itu, kita harus memiliki hanya satu agenda saja, yaitu berjuang untuk menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus.

    Kita semua, apalagi para pembicara-pembicara di mimbar, harus berubah. Para pembicara tidak bisa mengubah orang kalau dirinya sendiri tidak berubah. Perubahan yang tajam, radikal, signifikan, dan absolut (mutlak) harus terjadi dalam hidup seorang pembicara. Seorang pembicara yang memberi diri diu

    “NYAMBUNG” DENGAN ALLAH BAPA

    “NYAMBUNG” DENGAN ALLAH BAPA

    Allah mendidik orang percaya sebagai anak-anak-Nya agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Proyeksi ini sama artinyadengan menjadi seperti Yesus. Kalau kita menjadi seperti Yesus, kita baru bisa “nyambung” dengan Allah Bapa, bersekutu secara benar sesuai dengan standar yang Allah kehendaki. Kalau tidak, kita pun tidak akan “nyambung.” Jadi, kalau Yesus dikatakan “jalan, dan kebenaran, dan kehidupan” (Yoh. 14:6), itu bukan hanya berarti bahwa Yesus mengampuni dosa kita, membawa kita kepada Bapa, membenarkan atau menganggap benar, melainkan Dia juga menaruh Roh Kudus dan mengajarkan kebenaran (Yun. alithenon) di dalam diri kita agar kita bisa sampai kepada Bapa. Roh Kudus inilah yang menggarap kita supaya menjadi anak-anak Allah atau berkeberadaan sebagai anak-anak Allah, agar bisa “nyambung” dengan Bapa atau bisa memiliki frekuensi yang sama dengan Bapa.

    Seorang anak yang diadopsi menjadi anak seorang bangsawan, statusnya menjadi bangsawan. Namun, anak itu harus berubah sikap dan perilakunya. Perubahan itu terjadi tidak secara otomatis. Setelah menjadi anak bangsawan, ia harus berjuang denganbelajar untuk dapat bersikap dan berperilaku sebagai bangsawan. Hal ini dimaksudkan agar bangsawan yang mengangkatnya sebagai anak dapat “nyambung” dengan dia.” Inilah yang dikehendaki dan dilakukan oleh Allah Bapa kepada kita. Kita tidak cukup sekadarmenjadi orang Kristen yang dibenarkan, tetapi harus mengalami perubahan agar dapat “nyambung” dengan Allah Bapa. Banyak orang Kristen yang sudah cukup puas dengan statusnya sebagai anak-anak Allah dan merasa sudah dibenarkan. Mereka tidak melakukan perjuangan untuk mengalami perubahan. Banyak orang Kristen yang sibuk sendiri dengan hal-hal duniawi; yang tidak membawa dirinya kepada perubahan. Bahkan tidak jarang,banyak orangyang sangat sibuk pelayanan tetapi tidak mengalami proses perubahan untuk menjadi seperti Yesus.

    Bapa itu sabar sekali mendidik kita.Walaupun kita sering menolak didikan-Nya, Dia masih memberi kitakesempatan, selama pintu anugerah belum tertutup. Banyak orang tidak takut akan Allah karena tidak menghayati ada pemerintahan Allah yang tidak kelihatan ini. Mereka terus-menerus menolak didikan Bapa. Kalaupun tidak melakukan kesalahan, itu bukan karena takut dan hormat kepada Allah. Orang percaya seharusnyatidak berbuat dosa bukan karena takut sesamanya atau alasan lain, tetapi karena harus hidup dalam pemerintahan Allah yang Mahakudus. Banyak orang lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Kalau seseorang menghayati bahwa ada Tuan Rumah atau Penguasa atas dunia ini yaitu Allah, dan ia hormat dan takut akan Allah, dampak atau impaknyapastiluar biasa. Orang itu akan memahami apa arti hidup tidak bercacat dan tidak bercelaitu.

    Masalah hari ini dalam kehidupan jemaat gerejaadalahbahwabanyak orang Kristen sering tidak konsisten. Waktu berdoa di gereja, mereka begitu yakin akan kehadiran Allah; mereka yakin akan adanya pemerintahan Allah yang harus dihormati. Namun, pada saat sudah di luar gereja, saat sudah sendirian dan tidak ada mata memandang, apalagi kepepet, mereka menjadi permisif. Akibatnya, merekamelakukan kesalahan terus-menerus dan tidak pernah benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Ini yang membuat mereka tidak dapat ”nyambung” dengan Allah.

    Terkait dengan hal tersebut, pertanyaan penting yang harus dikemukakan adalah:  Bagaimana kita bisa konsisten menghayati adanya Tuan Rumah ini? Bagaimana kita bisa memiliki keyakinan yang kuat dan kokoh bahwa ada Tuan Rumah? Kita harus hanya memiliki satu agenda. Agenda hidup kita hanya satu, yaitu menjadi anak-anak Allah yang berkeberadaan seperti Yesus. Firman Tuhan mengatakan,“Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu

Top Podcasts In Christianity

Listeners Also Subscribed To