99 episodes

Homili Katolik Digital

Homili Katolik Aquinas Center

    • Religion & Spirituality

Homili Katolik Digital

    Lebih Mencintai Yesus

    Lebih Mencintai Yesus

    (28 Juni 2020)

    Romo Adrian Adiredjo, OP

    [Bacaan Injil : Yohanes 21 : 15 - 19

    (Hari Minggu Biasa ke-13)]

    Jika Yesus meminta murid-murid-Nya untuk mengasihi Dia lebih dari orang lain, termasuk orang tuanya sudah seharusnya, karena perintah untuk mengasihi Allah adalah perintah yang tertinggi. Kita tahu sendiri bahwa Yesus adalah Allah, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bisa mengasihi Dia lebih daripada mengasihi orang tua kita. Dalam hal ini kita harus mampu mengasihi pribadi yang dapat menghadirkan Yesus dalam hidup kita. Hubungan antara anak dengan orang tua yang mendalam akan menjadi salah satu bentuk kasih yang mendalam. Inilah ajaran Yesus yang mendasar untuk bisa mengasihi Yesus lebih dari segala sesuatu. Yesus meminta kita untuk bisa mengasihi Dia lebih daripada orangtua kita, bukan berarti ajaran Yesus salah. Melainkan, semakin kita mengasihi Yesus, maka kita akan memperoleh hidup dan tentunya akan menjadi sarana kita untuk bisa mengasihi sesama. Ini menandakan bahwa kita harus bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk terus bisa mengasihi sesama. Tentunya ini bukan suatu hal yang mudah. Dalam inijil mengatakan bahwa ketika mau mengikuti Yesus harus memikul salib-Nya. Memikul salib Yesus tidaklah mudah, apakah kita mampu untuk memikul salib-Nya? Maka hal yang perlu dulakukan adalah hidup dalam kasih Yesus. Percayalah bahwa ketika kita mau berusaha untuk hidup dalam kasih-Nya, maka Yesus akan memampukan kita semua. Diperlukan latihan-latihan sederhana atau dalam hal-hal kecil untuk bisa mewujudkan kasih itu. Setiap kali kita melakukan kebaikan untuk mengasihi, kita telah menerima upah dari Yesus. Ketika hal ini dilakukan secara terus menerus, maka kita akan semakin bertumbuh dalam kasih Allah, sehingga pada akhirnya dapat mengasihi Allah lebih dari orang tua kita. Yesus mengajak kita semua untuk mencintai Dia lebih dalam, disinilah kita akan dimampukan untuk bisa mengasihi sesama, sehingga kita menjadi pribadi yang terbaik untuk mencintai Allah lebih dari segala sesuatu.


    ---

    Send in a voice message: https://anchor.fm/aquinas-center/message

    • 18 min
    Yesus atau Tidak Sama Sekali

    Yesus atau Tidak Sama Sekali

    (28 Juni 2020)

    Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    [Bacaan Injil : Yohanes 21 : 15 - 19

    (Hari Minggu Biasa ke-13)]

    Menghargai orang tua merupakan salah satu nilai tertinggi bagi bangsa Yahudi. Hal yang luar biasa adalah bahwa mereka tidak menghormati orang tua mereka karena itu adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan, tetapi karena itu adalah perintah Ilahi. Kembali ke Sepuluh Perintah Allah, untuk menghormati ibu dan ayah kita sebenarnya adalah perintah keempat, tertinggi di antara perintah-perintah yang mengatur komunitas manusia. Bahkan kata Ibrani yang digunakan adalah “kabad”, yang dapat berarti “untuk menghormati” tetapi bisa juga berarti “memuliakan”. Karena itu, Tuhan memerintahkan baik orang Israel dan maupun umat Kristiani untuk tidak hanya menghormati tetapi juga untuk memuliakan orang tua kita. Namun, Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus menuntut bahkan sesuatu yang tidak terpikirkan, bahwa jika kita mengasihi orang tua kita lebih daripada Yesus, kita tidak layak bagi-Nya. Petrus, Andreas, dan Yohanes serta murid-murid lainnya telah meninggalkan pekerjaan mereka yang stabil dan kenyamanan rumah mereka untuk mengikuti Yesus, tetapi Yesus bahkan menetapkan persyaratan yang lebih radikal. Untuk mengikuti-Nya tidak hanya secara fisik hadir bersama-Nya, tetapi para murid harus memberikan kasih total mereka kepada Yesus di atas semua orang. Siapakah Yesus ini sehingga Dia patut menerima kasih para pengikut-Nya lebih dari orang tua kita? Jawabannya tidak terlalu rumit. Yesus pantas mendapatkan semua cinta dan kesetiaan yang kita miliki hanya karena Dia adalah Allah. Dalam Kitab Ulangan [6:4-5], Musa menginstruksikan orang Israel cara untuk mengasihi dan menghormati Allah, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Hanya Allah yang layak menerima segalanya dari kita. Bagaimana Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya mengasihi Dia lebih dari yang lain, dan bukan hanya sekedar kata-kata saja? Sebagai bukti kasih mereka, Yesus meminta mereka untuk menunjukkan ini: “Pikullah salibmu dan ikuti aku!” Pada zaman Yesus, salib adalah metode penyiksaan dan eksekusi yang paling mengerikan, dan dirancang untuk memperpanjang penderitaan. Intinya, Yesus memberi tahu para murid-Nya jika mereka benar-benar mencintai-Nya di atas segalanya, mereka harus siap untuk menanggung penderitaan yang berkepanjangan dan bahkan mati bagi-Nya. Ketika kita menghadapi Yesus, pilihannya adalah: semua untuk Yesus atau tidak sama sekali. Apakah itu berarti kita akan berhenti mencintai orang tua dan anak-anak kita? Apakah itu berarti kita tidak lagi melakukan pekerjaan baik untuk orang lain dan hanya berdoa selama yang kita bisa? Tentu saja tidak. Mengasihi Tuhan di atas hal-hal lain menempatkan kita dalam perspektif yang benar dan mengarahkan kita ke tujuan yang benar. Sekarang kita dapat mengasihi orang lain termasuk keluarga kita sebagai bentuk kasih kita  bagi Tuhan. Ini berarti bahwa ketika kita mencintai mereka, kita membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Sekarang kita dapat melakukan pekerjaan dan pelayanan kita untuk Tuhan, bukan demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ketika kita bekerja keras dan kita diberkati dengan kesuksesan, hal pertama yang kita ingat adalah untuk memuji Tuhan. Dan, jika kita menghadapi hambatan dalam hidup kita atau jika kita perlu menanggung penderitaan, kita tidak kehilangan harapan karena ini juga merupakan kesempatan untuk lebih mengasihi sesama dan Tuhan lebih dalam.


    ---

    Send in a voice message: https://anchor.fm/aquinas-center/message

    • 16 min
    Katekese Katolik : Doa-Doa Para Kudus

    Katekese Katolik : Doa-Doa Para Kudus

    Sering kali kita bertanya mengapa kita berdoa kepada orang-orang kudus? Kenapa kita tidak langsung berdoa kepada Tuhan? Apakah ini tidak cukup? Jika kita berdoa kepada Santo-Santa, apakah artinya mereka menyaingi Tuhan? Apakah Santo-Santa ini seperti dewa-dewi kecil? Dalam kesempatan ini, Romo Bayu, OP akan menjawab semua pertanyaan di atas.


    ---

    Send in a voice message: https://anchor.fm/aquinas-center/message

    • 9 min
    Tuhan Sang Pemelihara

    Tuhan Sang Pemelihara

    (21 Juni 2020)

    Romo Adrian Adiredjo, OP

    [Bacaan Injil : Matius 10 : 26 - 33

    (Hari Minggu Biasa ke-12)]

    Dalam hidup setiap orang mempunyai tugas atau misi sebagai pemenuhan akan hidupnya, tentu kita harus menjalankannya dengan setia. Injil hari ini mengatakan bahwa apa yang kamu dengar beritakanlah itu dari atas rumah. Ini memiliki arti bahwa kita harus bisa mewartakan apa yang telah Tuhan bisikan ke telingan kita. Ada berbagai macam cara orang untuk mewartakan sabda Tuhan, bisa melalui perkataan atau lewat kesaksian hidupnya, tentunya ini merupakan misi yang harus dijalankan oleh setiap orang. Ketika seseorang menjalankan tugas atau misinya dengan sebaik mungkin, maka orang tersebut akan dikenang oleh banyak orang dan menjadi inspirasi bagi setiap orang yang mengenalnya. Ini menandakan bahwa betapa pentingnya tugas dalam hidup ketika dijalankan dengan sebaik mungkin akan berbuah manis bagi orang-orang disekitar. Melalui kehadirannya akan menjadi berkat baik bagi keluarga, teman, maupun orang-orang sekitar. Misi ini akan menjadi lebih mulia, ketika seseorang mampu mengantarkan sesama kepada Tuhan berkat pengorbanannya. Inilah misi yang harus kita jalankan bersama, hingga sampai saat ini apakah kita sudah mengetahui misi kita masing-masing? Tentunya, dalam menjalankan setiap tugas tidaklah mudah akan ada banyak tantangan yang datang. Tantangan yang muncul bisa dari dalam atau luar, tetapi dalam injil mengatakan bahwa jangan takut akan segala tantangan hidup yang dijalani. Kita harus takut bukan apa yang menghancurkan fisik kita, melainkan apa yang merusak jiwa kita, yaitu dosa. Maka dari itu, diperlukan untuk bisa berlatih untuk mengambil keputusan yang baik agar bisa membadakan mana yang lebih esensial bagi hidup kita. ketika seseorang mampu mengambil keputusan dengan baik, maka tantangan yang muncul ini dijadikan sebagai kesempatan untuk bisa bertumbuh, terutama bersama Tuhan. Kita akan diberikan kekuatan jika mau bertumbuh dan berjuang bersama Tuhan. Jika burung pipit Tuhan pelihara, apalagi kita anak Tuhan yang diundang untuk masuk dalam hubungan kasih bersama Tuhan. kita harus percaya bahwa tangan Tuhan akan selalu menyertai hidup kita semua. Tuhan memiliki rencana dalam hidup kita, seberat apapun tantangan atau perjuangan yang kita hadapi, tangan Tuhan yang akan mengatur dan menyertai kita semua. Jangan pernah takut karena burung pipit dipelihara-Nya, apalagi kita anak-anak-Nya.


    ---

    Send in a voice message: https://anchor.fm/aquinas-center/message

    • 20 min
    Jangan Takut

    Jangan Takut

    (21 Juni 2020)

    Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    [Bacaan Injil : Matius 10 :  26 - 33

    (Hari Minggu Biasa ke-12)]

    Yesus tidak pernah berjanji bahwa murid-murid-Nya akan memiliki kehidupan yang mudah dan makmur. Yesus menuntut yang sebaliknya. Setelah dipilih, kedua belas murid diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, namun mereka tidak akan pergi seperti utusan kerajaan duniawi dengan pengawalan voorijder. Tidak! Mereka akan pergi sebagai orang sederhana yang berjalan kaki dan membawa persediaan ala kadarnya. Mereka akan mengandalkan kemurahan hati tuan rumah mereka, dan bagian terburuknya adalah mereka akan menghadapi penolakan. Secara alami, mereka akan merasa takut. Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa misi ini hanya semacam “magang” karena mereka akan menjalani sesuatu yang bahkan lebih sulit di masa depan. Sungguh terjadi, setelah Pentekosta, mereka akan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka menghadapi penolakan yang keras, penganiayaan yang mengerikan, dan bahkan kematian yang keji. Seperti yang Yesus ajarkan kepada mereka, “para murid tidak lebih besar dari gurunya.” Jika Yesus, guru mereka, ditolak, dihina, dan dihukum mati, para murid akan mengikuti jalan yang sama. Petrus disalibkan terbalik, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya, dan Yakobus anak Alfeus, dilempari batu sampai mati. Yesus memahami ketakutan manusiawi mereka, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka jangan takut. Mengapa? Jawaban Yesus sederhana. Mengapa kita harus takut mati jika kita toh akan mati juga akhirnya? Pilihannya adalah apakah kita mati sebagai saksi Kristus atau mati lari dari Kristus? Lebih jauh, Yesus mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita tidak perlu takut: kita memiliki Allah, yang adalah Bapa yang pengasih dan peduli. Yesus memberikan penjelasan yang cerdas namun sederhana: bagaimana Tuhan memperlakukan seekor burung pipit yang kecil. Pipit adalah jenis burung  yang tidak berharga di mata kita, tetapi bagi Tuhan, burung kecil ini adalah ciptaan-Nya, dan ketika Dia menciptakan sesuatu, Dia memiliki rencana yang baik untuknya, dan Dia memastikan bahwa rencana ini akan mencapai kepenuhannya.  Jika Tuhan peduli dan mencintai burung pipit, akankah Dia tidak peduli dan mengasihi kita? Sekali lagi, Yesus menunjukkan kebenaran yang indah: Tuhan lebih mengenal daripada kita mengenal diri kita sendiri. Ketika seekor burung gereja jatuh dan mati, itu tidak lepas dari rencana Allah yang sempurna, dan ketika para murid mengalami penolakan, pencobaan, dan bahkan kematian, itu juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Seringkali penderiataan tidak bisa dimengerti. Mengapa kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai? Mengapa kita menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan? Kita tidak mengerti, tetapi bahkan hal-hal mengerikan dalam kehidupan ini juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Kita mungkin tidak melihatnya sekarang, tetapi mungkin kita melihatnya di lain waktu, atau mungkin, kita tidak pernah menemukan alasannya karena pikiran kita terlalu sempit. Namun, di mata Tuhan, hal-hal terlihat sebagai sebuah lukisan yang sempurna, walaupun ada warna-warna gelap di dalamnya. Kematian para martir yang mengerikan, misalnya, tidak masuk akal. Tetapi, Tertullianus, seorang apologis Katolik pada abad ke-3, melihatnya dalam perspektif yang lebih dalam dan menulis, “Semakin kamu menghancurkan kami, kami pertumbuh semakin banyak: darah para martir adalah benih Gereja.” Yesus tidak memanggil kita untuk menikmati kehidupan yang sukses tetapi untuk menjadi saksi-Nya. Meskipun segala sesuatu dapat berbalik melawan kita, Yesus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut dan khawatir karena, pada akhirnya, semua akan bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang indah karena Dia mengasihi kita.


    ---

    Send in a voice message: https://anchor.fm/aquinas-center/message

    • 19 min
    Katekese Katolik : Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

    Katekese Katolik : Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

    Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, atau yang sering disebut dalam bahasa Latin sebagai Corpus Christi, dimulai pada abad ke 13 untuk menghormati berdirinya sakramen Ekaristi. Jika perayaan ini hanya dimulai sejak abad ke 13, apakah umat Katolik sebelumnya tidak percaya bahwa Kristus sungguh hadir secara nyata di dalam bentuk roti dan anggur yang telah dikonsekrasi? Dan mengapa perayaan ini tidak digabung dengan perayaan Misa Perjamuan Tuhan pada Kamis Putih? . Dalam katekese singkat ini, Romo Bayu, OP  akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dari segi biblis dan teologis.


    ---

    Send in a voice message: https://anchor.fm/aquinas-center/message

    • 9 min

Top Podcasts In Religion & Spirituality