187 episodes

Mari kita merenungkan betapa Allah begitu baik kepada setiap anak-anakNya, bahkan di masa pandemi yang sulit ini. Kiranya renungan pagi ini bisa menguatkan dan memberkati saudara sekalian. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Renungan Pagi GPdI Ujung Menteng

    • Religion & Spirituality

Mari kita merenungkan betapa Allah begitu baik kepada setiap anak-anakNya, bahkan di masa pandemi yang sulit ini. Kiranya renungan pagi ini bisa menguatkan dan memberkati saudara sekalian. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

    Orang Percaya adalah Manusia Biasa Saja (1)

    Orang Percaya adalah Manusia Biasa Saja (1)

    ORANG PERCAYA ADALAH MANUSIA BIASA SAJA  (bag.1)

    Mungkin pertanyaan mengapa orang percaya juga terpapar oleh covid 19, bahkan banyak di antaranya yang meninggal, sudah tidak terlalu bergaung dalam pembicaraan di antara kita. Bisa saja karena saking banyaknya orang percaya yang terdampak sehingga seolah-olah sudah menjadi biasa. 

    Tetapi bisa jadi di dalam hati pertanyaan itu masih sering muncul, seperti sebuah gugatan terhadap nilai keimanan yang dimiliki oleh orang percaya, dan di sisi lain sebuah gugatan kepada Tuhan, mengapa Dia tidak meluputkan orang-orang percaya tersebut? 



    Jika hal itu merupakan sebuah hukuman saya menaruh percaya bahwa Tuhan tidak akan menghukum orang benar bersama-sama dengan orang yang tidak benar, Kej.18:25-33. Jika itu sebuah peringatan bagi orang percaya, mengapa “kelihatannya” justru orang-orang percaya yang sungguh-sungguh mengabdi kepada Tuhanlah yang kerap terdengar mengalami  hal yang memilukan tersebut? 



    Suatu hari saya bertanya kepada Tuhan, dan Tuhan menaruh jawaban di hati saya. Mengapa orang percaya juga terpapar virus covid19 sampai meninggal? 



    1. Karena orang percaya adalah manusia biasa



    Mazmur 90:5-6, mengatakan,  Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.



    Ada prinsip-prinsip umum mengenai manusia dari ayat-ayat tersebut di atas. Ketika manusia lahir, maka ia langsung masuk ke dalam arus waktu yang menghanyutkan dirinya menuju kekekalan. Ya, begitu manusia lahir ke dalam dunia ini, ia masuk dalam proses menuju kekekalan, dan kematian fisik yang merupakan akibat dari dosa, sebagai sarananya. Arus waktu ini begitu kuat dan cepat sehingga manusia seperti mimpi saja di dunia ini. Belum selesai mengerjakan apa yang menjadi rencana hidupnya, tiba-tiba kematian datang. Waktu hidup manusia di dunia ini begitu singkat, seperti rumput yang pada waktu pagi berkembang dan bertumbuh, lalu di waktu petang lisut dan layu.



    Prinsip-prinsip ini berlaku bagi semua orang tidak terkecuali. Manusia yang seperti rumput sangat rentan dengan sakit penyakit. Dan memang, penyakit adalah salah satu penyebab terbesar kematian manusia, tanpa memandang dia orang percaya atau bukan. Jadi, jika orang yang tidak percaya bisa terkena virus c19, maka orang percayapun bisa.



    Di sinilah kita perlu belajar agar sebagai orang percaya kita tidak merasa lebih baik, lebih benar dari orang lain secara rohani, maupun merasa lebih kuat secara lahiriah. Sebagai orang percaya kita perlu menyadari bahwa kita adalah manusia biasa saja seperti manusia yang lain. Jika ada orang percaya yang tidak terdampak dengan virus ini dan masih sehat sampai sekarang, maka saya percaya itu bukan karena ia lebih baik dari orang percaya yang terpapar dan meninggal, tetapi semata-mata karena kemurahan Tuhan dalam hidupnya.

    Dilihat dari aspek lahiriah, Alkitab tidak memberikan jaminan bahwa orang percaya pasti dan mutlak akan terlindung dari sakit penyakit. Filipi 2:25-27; 2 Tim.4:20. Bahkan jika orang percaya terkena penyakit tidak ada jaminan yang mutlak bahwa jika didoakan ia pasti akan sembuh. 2 Raja-raja 13:14. Sebuah kabar yang nampaknya kurang baik, namun sangat perlu untuk kita renungkan dan pahami. Sebab kesadaran bahwa kita adalah manusia biasa akan mendorong setidaknya beberapa hal di bawah ini :



    1. Kita dihindarkan dari menilai diri sendiri lebih dari yang sesungguhnya atau menjadi sombong.

    2. Tidak mencobai Tuhan dengan hidup secara serampangan melainkan tetap menjaga protocol kesehatan dimasa pandemi ini.

    3. Melihat orang lain yang terpapar sebagai sesama manusia yang butuh untuk didoakan dan diberi pertolongan.

    4. Menaruh harapan kita sepenuhnya kepada Tuhan.

    • 5 min
    Baik dan Buruk di Mata Manusia dan di Mata Tuhan

    Baik dan Buruk di Mata Manusia dan di Mata Tuhan

    BAIK DAN BURUK DI MATA MANUSIA DAN DI MATA TUHAN



    Satu tahun sudah masa pandemi covid 19 kita lalui di Indonesia. Masih tersisa pertanyaan, “Mengapa banyak orang percaya ikut terdampak sama seperti orang yang tidak percaya? Bahkan tidak sedikit di antara mereka harus meninggal dunia? Bagaimana dengan janji penyertaan dan perlindungan Tuhan atas mereka? Mengapa nasib orang percaya sepertinya sama saja dengan orang yang tidak percaya?  



    Sebelum kita menjawabnya sesuai firman Tuhan, mari kita renungkan dua kenyataan di bawah ini :

    1. Apa yang kelihatan buruk di pemandangan manusia, belum tentu benar-benar buruk di pemandangan Allah.



    Kehidupan Ayub, orang saleh itu, sebagai contoh. Ayub mengalami peristiwa yang sangat-sangat buruk dalam kehidupan seorang anak manusia. Dalam satu hari dia kehilangan seluruh harta bendanya dan ke sepuluh anaknya, yang tewas bersamaan tertimpa rumah yang roboh ketika mereka sedang makan dan minum anggur. Dalam hal ini saja, adakah seseorang yang mengalami hal yang lebih buruk dari Ayub?



    Belum cukup dengan semua itu, atas ijin Tuhan, Iblis menimpa Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya. Untuk menggaruk barah yang menimbulkan gatal-gatal yang luar biasa itu Ayub harus memakai sekeping beling untuk melakukannya. 



    Sahabat-sahabatnya yang memandang dari jauh tidak dapat mengenali lagi sosok Ayub. Mereka menangis dengan suara nyaring, mengoyak jubahnya dan menaburkan debu di atas kepala mereka sebagai tanda berkabung. Mereka duduk di tanah bersama Ayub selama tujuh hari tujuh malam dan tidak seorangpun dari mereka yang berkata-kata kepada Ayub, karena mereka melihat betapa beratnya penderitaan Ayub. 



    Secara kasat mata, apa yang di alami oleh Ayub, orang benar itu, adalah hal yang sangat buruk di pemandangan manusia, tetapi apakah hal itu benar-benar buruk di hadapan Allah? Sama sekali tidak! Mengapa dan apa buktinya? Buktinya adalah, respon Ayub yang ditujukannya kepada istrinya yang meminta dia mengutuki Allahnya. 



    Ayub 2:20, Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" 



    Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. 



    Dalam penderitaan yang berat, Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Inilah yang justru Allah mau buktikan kepada Iblis, bahwa ada orang yang tetap mencintai Tuhan dan tetap hidup dalam kesalehan sekalipun hidupnya menderita. Hidup Ayub kelihatan buruk di hadapan manusia tetapi tidak di hadapan Allah, karena ia tetap percaya kepada Allah.   



    2. Apa yang kelihatan baik dan mengagumkan di hadapan manusia, belum tentu benar-benar baik di hadapan Allah.



    Kemujuran orang fasik adalah contohnya. 

    Mazmur 73:3-5, mengatakan : 

    Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.

    Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;

    mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.



    Sepertinya, orang-orang fasik tersebut tidak mengalami kesusahan manusia. Di pemandangan manusia keadaan mereka sangat baik. Tetapi bagaimana Allah memandang mereka? Mazmur 73:18-19,

    Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.

    Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!



    Orang fasik itu kelihatan baik di hadapan manusia tetapi di pemandangan Allah mereka sedang berjalan kepada kebinasaan.

    • 6 min
    Semua Diberikan Kepada Kita Tetapi Bukan Untuk Kita (4)

    Semua Diberikan Kepada Kita Tetapi Bukan Untuk Kita (4)

    SEMUA DIBERIKAN KEPADA KITA TETAPI BUKAN UNTUK KITA. (bag.4)



    Roma 11:36, mencatat : Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!



    Kisah Para Rasul 17:25b mengatakan : “Karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.



    Selanjutnya, 1 Korintus 8:6, menuliskan : namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.



    Dari ayat-ayat tadi kita diberitahu bahwa kita bukan hanya berasal dari Dia, dan hidup oleh karena Dia tetapi juga harus hidup bagi Dia yang telah memberikan hidup dan nafas kepada semua orang.  



    Saudaraku, semua yang baik telah diberikan-Nya kepada kita supaya segala sesuatu yang baik, yang ada pada kita dan semua yang kita kerjakan, kita persembahkan kepada Dia yang telah memberikan kehidupan itu kepada kita. 



    Jadi, hidup yang sesungguhnya adalah hidup sesuai dengan tujuan yang Allah berikan kepada kita, yakni hidup bagi Dia. Dimulai dari hidup dalam hubungan yang erat dengan Kristus, menjalankan misi-Nya di dunia ini dan bertumbuh menjadi serupa dengan diri-Nya.

    Allah tidak pernah merancang hidup kita terpisah dari diri-Nya dan rencana-Nya yang kekal. Karena itu ketika manusia jatuh ke dalam dosa Ia tetap menganggap manusia itu berharga, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal untuk datang ke dunia menebusa kita dengan darah-Nya yang mahal. 

     

    Namun seperti Salomo membenci hidup dan akhirnya putus asa terhadap segala sesuatu yang dia lakukan, itulah yang akan kita alami jika kita hidup terpisah dari diri-Nya. Sehebat apapun prestasi yang kita raih, sebesar apapun kekayaan yang kita miliki dan seberapapun kenikmatan hidup yang kita nikmati. Terpisah dari Allah menjadikan semuanya berhenti di lubang kubur. Kita tidak diciptakan untuk hal itu. 



    Semua diberikan kepada kita tetapi bukan untuk kita, mengapa? 

    1. Kematian memberi tahu kita bahwa semua yang ada pada kita bukanlah milik kita.  

    2. Kematian menunjukkan dengan jelas, bahwa hidup kita sendiri juga bukan milik kita.  

    3. Kematian mengajarkan, bahwa semua yang terbaik diberikan kepada kita tetapi tujuan utamanya bukan untuk kita melainkan untuk kemuliaan Dia, Kristus, Tuhan kita 

    4. *Nilai dari hidup dan pekerjaan yang kita lakukan terletak pada apakah kita ada dalam persekutuan dengan Dia. Apakah kita menjalankan misi-Nya dan terus bertumbuh ke arah Dia.  



    Roma 14:7-8 mengatakan :

    Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri.

    Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.



    Saudaraku, kita tidak perlu pusing dengan berapa banyak yang kita miliki di dunia ini, sebab kita telah dimiliki oleh Kristus. Itu jauh lebih bernilai dari memiliki apapun. Dimiliki oleh Kristus berarti memiliki semua yang ada di dalam Dia. Karena itu, kehormatan kita hanya satu, yakni hidup bagi Dia, dengan melayani Dia dalam pengabdian yang tulus, karena kita mengasihi Dia, yang telah terlebih dahulu mengasihi kita.

       

    Saya Theo Barahama, mari pancarkan Kerajaan Sorga mulai dari rumah kita.

    • 5 min
    Semua Diberikan Kepada Kita Tetapi Bukan Untuk Kita (3)

    Semua Diberikan Kepada Kita Tetapi Bukan Untuk Kita (3)

    SEMUA DIBERIKAN KEPADA KITA TETAPI BUKAN UNTUK KITA (bag.3)



    Masih dari Kitab Pengkhotbah pasal 2, kita membaca ayat 20 dan 21 :

    Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.



    Salomo merasa putus asa dengan segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari, sebab pada akhirnya harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak bersusah payah untuk itu. Salomo bukan saja berlelah-lelah untuk meraih semuanya, melainkan berjerih lelah disertai  hikmat, pengetahuan dan kecakapan, artinya dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Itu sebabnya ia menyebutnya sebagai kemalangan yang besar ketika harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak bersusah payah untuk itu.



    Saudaraku, pikirkanlah, seandainya kita ada di posisi Salomo, apakah kita juga akan berespons seperti dia? Bisa ya, bisa tidak, itu bergantung untuk siapa semua hal yang kita lakukan dan hasilkan di dalam dunia ini.



    Jika semua yang kita kerjakan dan hasilkan dimaksudkan untuk diri kita sendiri, maka kita pasti akan putus asa seperti Salomo, tetapi jika itu dilakukan sebagai sebuah pengabdian, baik kepada Tuhan, pertama-tama, lalu kepada sesama, saya yakin kita akan melihat kenyataan tersebut di atas sebagai sesuatu yang patut untuk tetap disyukuri. 



    Dari sinilah saya mau mengajak kita untuk berpikir dan mengetahui apakah sesungguhnya tujuan hidup kita di dunia ini. 

    Kejadian 1:26a, mengatakan, Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …”



    Manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah, secara sederhana hal itu menunjukkan tujuan Allah menjadikan kita. Karena Allah kita adalah Allah Tritunggal yang berada dalam hubungan penuh kasih di antara tiga Pribadi ilahi tersebut, maka kita dijadikan juga dengan suatu kemampuan untuk membangun hubungan penuh kasih pertama-tama dengan Allah sendiri. 

    Jadi, kita dijadikan untuk berada dalam hubungan yang intim dengan Dia supaya bertumbuh menjadi serupa dengan diri-Nya. Serupa dengan Dia di dalam pikiran, kehendak dan perasaan kita. Tolok ukur serupa dengan diri Allah adalah Kristus. Itu sebabnya sebagai orang tebusan Allah kita dirancang untuk menjadi serupa dengan Kristus.  

    Itulah tujuan hidup orang percaya, berada dalam hubungan yang erat dengan Kristus dan bertumbuh menjadi serupa Kristus.



    Jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, hidup dalam hubungan yang erat dengan Kristus berarti menjadikan Dia pusat kehidupan kita. Dan jika Dia adalah  pusat kehidupan kita, maka apa saja yang kita lakukan, kita lakukan seperti untuk Dia dan untuk kemuliaan-Nya. 

    Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. 



    Saudaraku, kita ada dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia seluruh jiwa raga kita diarahkan, sebab memang bagi Dialah hidup kita.



    Saya Theo Barahama, mari pancarkan Kerajaan Sorga mulai dari rumah kita.

    • 4 min
    Semua Diberikan Kepada Kita Tetapi Bukan Untuk Kita (2)

    Semua Diberikan Kepada Kita Tetapi Bukan Untuk Kita (2)

    SEMUA DIBERIKAN KEPADA KITA TETAPI BUKAN UNTUK KITA (Bag.2)



    Kemarin kita telah mendengar pernyataan Salomo di dalam Pengkhotbah 2:11,  “Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.



    Pernyataan di atas adalah kesimpulan dari Salomo setelah dia berusaha dengan segala jerih lelah untuk mengejar kesenangan indrawi. Semua sia-sia dan hanya usaha menjaring angin yang berakhir dengan kehampaan. Dia menandaskannya dengan kalimat, ”memang tak ada keuntungan di bawah matahari.”



    Perkataan “di bawah matahari” menunjuk kepada hal-hal duniawi yang berkaitan dengan bumi, kekayaan, kehormatan, dan kesenangan masa kini. Juga menunjukkan semua keadaan dan aktivitas kehidupan yang dilakukan di bumi tanpa adanya hubungan dengan Allah. 



    Setelah pengakuan tersebut, Salomo masih berusaha untuk meninjau kembali hikmat, kebodohan dan kebebalan. Namun ia kembali mendapati, sekalipun seseorang itu berhikmat, yang jauh lebih berguna dari kebodohan, tetapi nasibnya di dunia ini sama saja dengan orang bodoh. Orang yang berhikmat mati juga seperti orang bodoh. Dan tidak ada kenang-kenangan yang kekal tentang mereka. 



    Hal-hal ini menyebabkan Salomo merasakan tiga hal,



    1. DIA MEMBENCI HIDUP



    Pengkhotbah 2:17 Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.



    2. DIA MEMBENCI SEGALA USAHA YANG DILAKUKANNYA



    Pengkhotbah 2:18 Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.



    Dari ayat ini kita melihat bahwa apa yang dimiliki oleh Salomo sebagai hasil jerih payahnya akan ditinggalkannya kepada orang sesudah dia, atau yang akan menggantikannya sebagai raja. Dia menerima semua, tetapi semua  yang dimilikinya itu pada akhirnya bukan lagi menjadi miliknya, bahkan juga bukan untuk dia.



    3. DIA MULAI PUTUS ASA TERHADAP SEGALA YANG DILAKUKANNYA.



    Pengkhotbah 2:20, Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari.



    Saudaraku, semua yang kita usahakan, semua yang kita miliki, semua yang kita nikmati di bawah matahari ini dibatasi oleh waktu. Ada waktunya di mana kita tidak bisa mengusahakan apa-apa lagi, ada waktunya kita tidak bisa memiliki apa yang ada pada kita, dan ada waktunya semua yang ada pada kita tidak lagi berarti apa-apa karena semua itu akhirnya bukan untuk kita.



    Inilah yang saya maksudkan, jika hidup ini hanya untuk mencari apa yang kita ingini, untuk apa yang kita senangi, untuk apa yang mendatangkan kemuliaan dan kehormatan kita sendiri,  maka kita akan mengalami seperti yang di alami oleh Salomo. Kesia-siaan dan usaha menjaring angin. 



    Inilah juga yang saya maksudkan, apa yang dilakukan Salomo bukanlah tujuan hidup yang Tuhan rancang, baik bagi Salomo maupun kita. Jadi, betapa kita perlu mengerti apa sesungguhnya tujuan hidup kita, supaya kita tidak terjebak pada kesia-siaan seperti yang dilihat dan dialami oleh Salomo. 



    Saya Theo Barahama, mari pancarkan Kerajaan Sorga mulai dari rumah kita.

    • 5 min
    Semua Diberikan Kepada Kita Tetapi Bukan Untuk Kita (1)

    Semua Diberikan Kepada Kita Tetapi Bukan Untuk Kita (1)

    SEMUA DIBERIKAN KEPADA KITA TETAPI BUKAN UNTUK KITA (bag.1)



    Sesungguhnya Salomo tidak pernah menemukan kebahagiaan atau kepuasan sejati melalui apa yang dia perbuat bagi dirinya sendiri.

    Setidaknya ada 6 perkataan “bagiku”, yaitu, mendirikan bagiku, menanami bagiku, mengusahakan bagiku, menggali bagiku, mengumpulkan bagiku dan mencari bagiku.



    Belum cukup dengan itu, ia juga tidak merintangi matanya dari apa yang dikehendakinya, dan tidak menahan hatinya dari sukacita apa pun yang bisa dia terima melalui panca inderanya. 



    Apakah yang kemudian Salomo alami? Apakah dia merasakan kepuasan atau kebahagiaan melalui semua itu. Ia menulis dalam 

    Pengkhotbah 2:11,  Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.



    Apa yang dilakukan Salomo sesungguhnya bukanlah tujuan hidup yang Tuhan berikan untuk dituruti atau dikejar. Allah tidak menciptakan kita supaya kita puas dengan segala sesuatu dikerjakan oleh kita, untuk kita dan bagi diri kita sendiri pula segala kemuliaannya. 



    Tidak ada kebahagiaan dan kepuasan, jika hidup dijalani di luar maksud dan tujuan yang Allah tetapkan bagi kita. Dari sini kita bertanya apakah tujuan hidup kita sesungguhnya?



    Saya Theo Barahama, mari pancarkan Kerajaan Sorga, mulai dari rumah kita.

    • 5 min

Top Podcasts In Religion & Spirituality