Membaca bukan sekadar menambah informasi, tetapi melatih otak untuk berpikir lebih dalam, membayangkan, memahami, dan melahirkan gagasan yang lebih original. Saat seseorang membaca, otaknya bekerja mengenali huruf, merangkai makna, membangun bayangan, menangkap rasa, lalu mengolahnya menjadi pemahaman. Berbeda dengan hanya melihat tayangan, karena gambar, warna, suasana, dan alurnya sudah tersaji secara instan. Kebiasaan terlalu sering scrolling bisa membuat seseorang merasa sedang belajar, padahal yang sering terjadi hanya menerima sajian informasi. Akibatnya, kemampuan berpikir mandiri, menemukan ide baru, dan menyusun solusi bisa melemah. Pesan ini mengingatkan kembali pentingnya “iqro”: membaca, menelaah, dan memahami. Al-Qur’an, kitab-kitab ilmu, buku-buku bermanfaat, hingga ayat-ayat kauniah perlu dibaca dengan niat karena Alloh, agar kualitas berpikir, ide, solusi, dan kebermanfaatan hidup semakin kuat.