KAMIS 27 AGU 26 EDA YANG ASLINYA ADALAH GANGSTER YANG UDAH PENSIUN DAN MENJADI COACH TINJU JINAN YANG ASLINYA ADALAH PROSECUTOR TAPI HILANG INGATAN DAN PELAN PELAN PERCAYA BAHWA EDA ADALAH PACARNYA Jinan duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang. Ia mengenakan lingerie putih berbahan lace yang hampir transparan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal dan kulit putih susu yang kontras dengan kain tipis itu. Sebagai seorang Leo, auranya mendominasi ruangan, penuh percaya diri meski ingatannya tentang masa lalu masih berupa kepingan puzzle yang hilang. "Kalau memang kita sudah menikah dua tahun, kenapa kita nggak tidur sekamar bareng?" Suara Jinan rendah, sedikit serak, mengirimkan getaran listrik ke tulang belakang Eda. Eda berdeham, mengalihkan pandangan ke arah lantai kayu. "Kamu yakin nggak apa-apa? Dengan keadaan kamu yang lagi hilang ingatan gitu? Aku nggak mau kamu merasa terpaksa, atau... aku mengambil keuntungan dari situasi ini." Jinan tertawa kecil, sebuah bunyi yang menggoda. Ia berdiri, berjalan mendekati Eda dengan langkah perlahan, membiarkan kain lace itu bergesekan dengan paha dalamnya. Ia berhenti tepat di depan Eda, aroma parfum vanilla yang manis bercampur dengan aroma alami tubuhnya menyerang indra penciuman Eda. Jinan mendongak, jemarinya yang lentur menyentuh dada bidang Eda, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu cepat di balik kaos tipisnya. "Gapapa. Aku mau kamu, Eda. Sekarang." Eda tidak bisa menahan diri lagi. Ia menyambar pinggang Jinan, menarik tubuh wanita itu hingga menempel sempurna pada tubuh kekarnya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang kasar dan lapar. Lidah mereka saling bergelut, menghisap satu sama lain dengan rakus, pertukaran saliva yang panas dan basah memenuhi rongga mulut. Eda mengerang rendah, tangannya meremas bokong Jinan yang kenyal, mengangkatnya hingga kaki Jinan melingkar erat di pinggangnya. Eda membawa Jinan ke ranjang, menjatuhkannya dengan lembut namun tegas. Dengan satu gerakan cepat, Eda menyingkap lingerie putih itu, memperlihatkan payudara Jinan yang membusung dengan puting merah muda yang sudah mengeras. Eda membungkuk, melahap puting itu dengan mulutnya, menghisapnya kuat-kuat hingga Jinan melengkungkan punggungnya, mengerang keras. "Ahhh, Eda... lebih kuat lagi..." Tangan Eda turun ke bawah, menyibak celana dalam tipis Jinan yang sudah basah kuyup oleh cairan pelumas alami. Ia menemukan klitoris Jinan yang membengkak, menggeseknya dengan ibu jari yang kasar karena kapalan tinju. Jinan mendesah hebat, panggulnya bergerak gelisah, mencari tekanan lebih. Eda melepaskan pakaiannya sendiri dengan terburu-buru, memamerkan kejantanannya yang sudah tegak maksimal, urat-urat menonjol di sepanjang batang kokoh yang berdenyut, dengan pre-cum yang mengkilap di ujung kepalanya. Ia memposisikan dirinya di antara paha terbuka Jinan. Perlahan, Eda mendorong ujung c**k-nya ke lubang p***y Jinan yang sempit dan panas. Suara squelching terdengar saat daging bertemu daging, cairan vagina yang melimpah membuat penetrasi itu terasa licin namun mencekik. "Sshhh... kamu sempit sekali, Sayang," bisik Eda, suaranya berat oleh nafsu. Eda mulai menghujam, awalnya perlahan, lalu semakin cepat. Setiap thrust menciptakan suara shlicking yang basah dan menggema di kamar yang sunyi. Bokong Jinan membalul di atas kasur, payudaranya berguncang hebat mengikuti irama hentakan Eda. Ball Eda menghantam kulit paha Jinan dengan bunyi plakk-plakk yang ritmis. "Oh Tuhan, Eda! Terus... hantam aku lebih dalam!" Mereka terengah-engah, saling berpelukan dalam keheningan yang intim, kulit mereka yang basah oleh keringat saling menempel. Eda menciumi kening Jinan, menyembunyikan kegelisahan yang mulai merayap kembali ke hatinya.