Mongabay Indonesia Podcast

Mongabay Indonesia

Bicara soal alam

  1. 2 days ago

    Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa

    Laut dalam menyimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Ketika kekayaan laut Indonesia sering dikaitkan dengan terumbu karang, ikan, atau penyu, berbagai organisme di dasar perairan justru luput dari perhatian. Penemuan "kecoak laut raksasa" di perairan Selat Sunda dan selatan Jawa membuka jendela untuk memahami dunia yang tersembunyi tersebut. Meski disebut kecoak laut, satwa ini bukan serangga. Hewan dari marga Bathynomus tersebut merupakan isopoda, kelompok krustasea yang berkerabat dengan udang, kepiting, dan lobster. Tubuhnya yang pipih dan beruas membuatnya diasosiasikan dengan kecoak. Sebutan populer ini membantu masyarakat membayangkan penampilannya, tetapi juga dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami identitasnya. Spesies bernama Bathynomus raksasa ini ditemukan melalui South Java Deep-Sea Biodiversity Expedition pada 2018, penelitian bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI, atau sekarang BRIN] dan National University of Singapore. Ekspedisi tersebut mengumpulkan sekitar 12.000 spesimen yang diperkirakan mewakili 800 spesies. Temuan ini memperlihatkan bahwa perairan di sekitar Jawa masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terdokumentasi. Dengan panjang tubuh mencapai sekitar 36 sentimeter, Bathynomus raksasa menarik perhatian bukan hanya karena ukurannya. Sebagai pemakan bangkai, satwa ini memanfaatkan sisa ikan, sotong, dan organisme lain yang jatuh ke dasar laut. Perannya menunjukkan bahwa hewan yang asing bagi manusia tetap menjadi bagian penting dalam jejaring kehidupan. Namun, menemukan spesies baru bukan sekadar menjumpai hewan yang belum pernah terlihat. Peneliti perlu memeriksa karakter tubuh dan membandingkannya dengan spesies yang telah dikenal. Proses ini menegaskan pentingnya taksonomi sebagai dasar untuk memahami keanekaragaman hayati. Lalu, bagaimana peneliti memastikan identitas Bathynomus raksasa? Mengapa satwa ini jarang ditemukan nelayan, dan apa ancaman bagi kehidupannya? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Conni Margaretha Sidabalok, peneliti yang saat diskusi berlangsung bekerja di Pusat Penelitian Biologi LIPI. Percakapan ini menelusuri proses penemuan, peran ekologis, dan pentingnya penelitian laut dalam untuk mengenali sekaligus menjaga kekayaan hayati Indonesia. Diskusi ini juga mengingatkan bahwa perlindungan laut perlu mencakup kehidupan yang jauh dari pandangan manusia.

  2. 27 Aug

    Ketika Ruang Hidup Kobra Beririsan dengan Manusia

    Kemunculan ular kobra di kawasan permukiman hampir selalu memicu kepanikan. Ketika seekor ular ditemukan di pekarangan, saluran air, gudang, atau bahkan di dalam rumah, satwa tersebut kerap dianggap sengaja memasuki ruang hidup manusia untuk mencari mangsa atau menyerang. Ketakutan semakin besar ketika beberapa anak kobra muncul dalam waktu berdekatan. Situasi ini kemudian melahirkan anggapan bahwa populasi kobra sedang meledak dan permukiman warga tengah menghadapi "serbuan" ular berbisa. Namun, kemunculan kobra di sekitar manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai serangan satwa liar. Ular telah menghuni bentang alam Indonesia jauh sebelum kawasan tersebut berubah menjadi persawahan, perkebunan, jalan, dan perumahan. Ketika habitat mengalami perubahan, ruang hidup manusia dan satwa semakin beririsan. Sebagian satwa tidak mampu bertahan, sementara jenis tertentu, termasuk kobra, dapat beradaptasi dengan lingkungan yang telah dimodifikasi manusia. Permukiman bahkan dapat menyediakan berbagai kebutuhan hidup ular. Tikus, katak, kadal, burung, dan ular lain menjadi sumber makanan. Sementara itu, semak yang tidak terawat, tumpukan kayu, sampah, saluran air, serta celah pada bangunan menawarkan tempat berlindung. Kehadiran kobra dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan perubahan habitat, tetapi juga kondisi lingkungan permukiman yang secara tidak langsung menyediakan makanan dan ruang persembunyian. Kemunculan anak kobra dalam jumlah banyak juga berhubungan dengan siklus reproduksi. Telur yang menetas pada awal musim hujan membuat anakan menyebar untuk mencari tempat aman dan mangsa. Pada saat bersamaan, berkurangnya predator alami, seperti biawak, garangan, dan elang ular bido, dapat mengganggu pengendalian populasi di alam. Perubahan pada satu bagian rantai makanan akhirnya memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Lalu, mengapa kobra dapat bertahan di tengah permukiman? Benarkah bentuk kepala dapat digunakan untuk membedakan ular berbisa dan tidak berbisa? Apakah garam efektif mengusir ular? Apa yang harus dilakukan ketika kobra masuk ke rumah, dan bagaimana manusia dapat mengurangi risiko perjumpaan tanpa harus memusnahkannya? Mongabay Indonesia membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut bersama Dr. Amir Hamidy, peneliti herpetologi dari Pusat Penelitian Biologi BRIN. Diskusi ini mengajak kita memahami kobra tidak semata-mata sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang keberadaannya berkaitan erat dengan perubahan bentang alam, ketersediaan mangsa, hilangnya predator alami, dan cara manusia mengelola lingkungan tempat tinggalnya.

About

Bicara soal alam