Sobat Konseling

sobat konseling

Platform Curhat bersama Konselor dan Psikolog Sayangi Dirimu Sayangi Jiwamu Salam Sobat Konseling Wa: 0822-8612-6752 #SobatKonseling Ayo Kunjungi Sobat Konseling | https://rumahkonseling.id

Episodes

  1. KESEHATAN MENTAL - [KESEHATAN MENTAL TIDAK KALAH PENTING DENGAN KESEHATAN FISIK] mEntal atau MeNTAL #sobatkonseling

    TRAILER

    KESEHATAN MENTAL - [KESEHATAN MENTAL TIDAK KALAH PENTING DENGAN KESEHATAN FISIK] mEntal atau MeNTAL #sobatkonseling

    Kesehatan jiwa atau kesehatan mental adalah tingkatan kesejahteraan psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa. Kesehatan jiwa terdiri dari beberapa jenis kondisi yang secara umum dikategorikan dalam 'kondisi sehat', 'gangguan kecemasan', 'stres', dan 'depresi'. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kesehatan jiwa yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Apakah orang-orang ini dapat dikatakan sehat karena tidak mengeluh dan merasa dirinya baik-baik saja? Lalu, jika ada orang mengeluh bahwa pekerjaannya sekarang belum memberi kepuasan kepada dirinya, apakah orang ini tidak sehat mental? Begitu juga jika orang yang memiliki cita-cita yang tinggi dan mengeluh belum dapat mencapainya, apakah orang ini pun tidak sehat mental? Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental. Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya ia melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita menilainya? Sehatkah mentalnya? Atau sakit? Orang itu tidak dapat dinilai sebagai sehat mental dan tidak sehat mental sekaligus. Dengan contoh di atas dapat kita pahami bahwa tidak ada garis yang tegas dan universal yang membedakan orang sehat mental dari orang sakit mental. Oleh karenanya kita tidak dapat begitu saja memberikan cap ‘sehat mental’ atau ‘tidak sehat mental’ pada seseorang. Sehat atau sakit mental bukan dua hal yang secara tegas terpisah. Pandangan yang digunakan di sini adalah pendekatan yang menegaskan manusia pada umumnya adalah makhluk sehat mental jadi istilah yang digunakan untuk menilai sehat atau tidaknya mental seseorang adalah ‘kesehatan mental’.

    6 min
  2. PARENTING - ORANG TUA MASA KINI HARUS BELAJAR BAGAIMANA MEMAHAMI POLA ASUH ANAK [ #SOBATKONSELING ]

    TRAILER

    PARENTING - ORANG TUA MASA KINI HARUS BELAJAR BAGAIMANA MEMAHAMI POLA ASUH ANAK [ #SOBATKONSELING ]

    Parenting adalah cara mengasuh dan mendidik anak. Anda tentu sudah sangat sering mendengar istilah ini kehidupan sehari-hari. Namun, sudah tepatkah pemahaman Anda tentang konsep parenting itu sendiri? Berikut penjelasan singkat tentang pengertian parenting beserta jenis-jenisnya. Mengenal parenting Apa jawaban Anda jika ditanya tentang apa itu parenting? Anda mungkin akan menjawab parenting adalah cara mendidik anak. Jawaban tersebut memang tepat, namun cara mendidik seperti apakah yang dimaksud di sini? Jika mengutip definisi dari APA (American Psychological Association), parenting adalah suatu pola pengasuhan anak oleh orang dewasa (tidak terbatas dengan hubungan biologis) yang memiliki tiga tujuan utama: Memastikan anak-anak selalu dalam keadaan sehat dan aman. Mempersiapkan anak-anak agar tumbuh menjadi produktif. Menurunkan nilai-nilai budaya. Sedangkan jika mengikuti definisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, parenting dipahami sebagai sebuah interaksi yang terjadi antara orang tua dan anak dengan tujuan mendukung perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual, dan spiritual. Dalam definisi ini juga dijelaskan bahwa parenting terjadi sejak anak masih berada dalam kandungan hingga ia dewasa. Dari kedua definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa parenting adalah bagaimana cara mendidik anak agar ia siap menjadi dewasa dan berdiri pada kakinya sendiri. Parenting mencakup pola pengasuhan yang mendukung perkembangan emosi, fisik, sosial, intelektual, dan spiritual anak. Jenis-jenis parenting Setelah memahami tentang konsep parenting, Anda juga perlu tahu tentang jenis-jenisnya. Ya, parenting memang dibagi menjadi beberapa jenis, sesuai dengan bagaimana pola interaksi orang tua yang mengasuh anak. Ada 4 jenis parenting yang umum ditemukan prakteknya, berikut penjelasannya. Authoritarian parenting Jenis parenting yang pertama adalah authoritarian parenting. Dalam parenting model ini, ciri utamanya adalah orang tua yang berlaku otoriter (memerintah) kepada anak. Tipikal orang tua yang menganut authoritarian parenting adalah menganggap bahwa semua keinginannya harus dituruti oleh anak, merasa selalu benar, hingga terlalu membatasi ruang gerak anak. Anak yang tumbuh dalam parenting model ini dikhawatirkan akan menjadi pribadi yang cenderung pasif. Kebiasaan orang tua yang menekan pendapat akan membuat anak merasa bahwa pendapat dan pemikiran mereka tidak berarti. Authoritative parenting Authoritative parenting adalah tipe parenting yang bisa dibilang berkebalikan dengan authoritarian parenting. Jika dalam authoritarian parenting orang tua cenderung memaksakan kehendak, dalam authoritative parenting orang tua justru memberikan dukungan terhadap pilihan yang diambil anak. Model parenting seperti ini dianggap ideal karena akan membuat anak lebih percaya diri. Ia juga akan lebih mudah menyampaikan opininya sendiri karena tidak dihalang-halangi oleh paksaan orang tua. Indulgent parenting Jenis parenting berikutnya adalah indulgent parenting. Dalam model parenting ini, orang tua terlibat sepenuhnya dalam mengasuh anak. Mereka akan bertindak amat permisif terhadap pilihan atau pemikiran anak. Pola pengasuhan ini memang baik untuk membuat anak percaya diri, namun di sisi lain mereka justru bisa menjadi manja karena orang tua selalu permisif dan menuruti kehendak anak. Model parenting seperti ini bisa muncul jika di masa kecil orang tua selalu dibatasi pergerakannya. Menjadi indulgent dan permisif adalah cara mereka untuk “membalas” perlakukan orang tua di masa lalu. Neglectful parenting Terakhir adalah neglectful parenting. Tipe parenting seperti ini harus dihindari karena dapat menimbulkan jarak antara orang tua dengan anak. Dalam neglectful parenting, orang tua jarang atau bahkan tidak terlibat sama sekali dalam pengasuhan anak. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari kesibukan karena pekerjaan hingga keadaan lain yang memaksa orang tua untuk bertindak demikian.

    41 min

Trailers

About

Platform Curhat bersama Konselor dan Psikolog Sayangi Dirimu Sayangi Jiwamu Salam Sobat Konseling Wa: 0822-8612-6752 #SobatKonseling Ayo Kunjungi Sobat Konseling | https://rumahkonseling.id