Cara menilai “kedudukan” kita di sisi Alloh: lihat apa yang paling sering menyibukkan kita. Jika disibukkan dengan dzikrullah, Al-Qur’an, sujud, perjuangan di jalan kebaikan, dan doa, itu tanda Alloh sedang mendekatkan dan menolong. Sebaliknya, jika disibukkan oleh kelalaian dan urusan dunia yang melalaikan, itu tanda hati makin jauh. Pokok tauhid yang ditekankan adalah makna ayat Az-Zumar: 62: Alloh pencipta segala sesuatu dan pemelihara segala sesuatu. Semua yang ada (besar sampai yang paling kecil) adalah ciptaan Alloh, milik Alloh, dan terjadi hanya dengan izin-Nya. Dari sini lahir latihan batin: mata memandang ciptaan, hati mengingat Pencipta, sehingga hidup menjadi zikir sepanjang waktu. Kesadaran bahwa tubuh kita ciptaan Alloh melahirkan adab: tidak komplain, tidak minder, tidak ujub, tidak iri, dan tidak menghina. Kekurangan maupun kelebihan adalah rencana dan ujian. Menua, berubah, berkurang, semuanya wajar karena kita bukan pemilik diri (kita hanya dititipi). Keyakinan tauhid juga membebaskan dari takut dan berharap kepada makhluk. Makhluk tidak bisa memberi manfaat atau mudarat tanpa izin Alloh. Karena itu, ketika menghadapi ancaman, kezaliman, masalah rumah tangga, rezeki, sakit, jodoh, atau ujian apa pun, jalan keluarnya adalah kembali kepada Alloh: memperbanyak zikir, istighfar, amal saleh, dan doa, sambil tetap menempuh sebab yang benar. Jangan putus asa. Alloh Maha tahu keadaan hamba-Nya, tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya. Ujian terjadi dengan izin-Nya, dan di baliknya ada hikmah serta peluang pahala bagi orang beriman. Maka kunci ketenangan adalah husnuzan, sabar, syukur, dan menjaga hati agar tidak “dicuri” oleh ketergantungan pada makhluk.