La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy

Media La Porta

Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.

  1. 2H AGO

    Reading and meditation on the Word of God on Thursday after Ash Wednesday, February 19th, 2026

    Delivered by Samuel Ivan Gunarsa from the Parish of Mary of All Nations in the Diocese of Bogor, Indonesia. Deuteronomy 30: 15-20; Rs psalm 1: 1-2.3.4.6; Luke 9: 22-25. CHOOSE BLESSINGS   Our meditation today isentitled: Choose Blessings. After Ash Wednesday, the liturgy of the day thatfollows invites us to ponder on God's blessings. The Lenten observance is avery special opportunity in the discipline of faith with the demands forstronger effort and quality being trully Jesus' followers when compared withother liturgical seasons. Then the blessing of God is very necessary for therealization of this process of discipline as God pleases His blessings forevery believer who expects salvation.   By choosingblessings, what do we not choose? Or if God gives us His blessings, what doesGod not give? The book of Deuteronomy in the first reading confirms that cursesand sufferings for the sins committed are not our choices. In reality, somepeople choose curses or miseries because they are guided by their freedom ofwill. God created this life from the beginning has been good. However, due tothe fall of human nature, the presence and power of truth must face the curseof sin. So people can choose to sin. Believers are guided to choose blessings.   Choosing blessingsmeans choosing God. Whereas choosing curse means choosing God's enemy, Satan.In God there is life, love, and hope for an eternal life. Whereas the curse containsdeath, hatred, and eternal punishment. Jesus Christ was sent by the Father intothe world to establish a kingdom of life to rule and bring everyone toblessings. His teachings and example of life are the lamps and springs of waterthat guarantee the continuity of this blessing in the form of graces bestowedon every one who needs it.   Today Jesus Christpresents content of our choice to follow Him which is all His blessings flowfrom Him. In this Lent, we receive blessings through prayer, fasting, andcharity. All these three actions must be carried out in the spirit of the crosswe put on our shoulders and perseverance in self-denial. The cross always meanssacrifice and becomes burden that must be borne. We pray, fast or sacrifice,and do charity with certain quantity and quality that makes us able to bear theweight of the cross like Jesus did. These three righteous deeds must also leadus to focus on uniting our hearts with God, and not on ourselves and allinterests of the world. From there blessings will flow to us. Let's pray. In the name of the Father... O Lord Jesus Christ, may Your word strengthen our intention to carry thecross and deny ourselves in order to diligently follow You. Bless us so thatall the way following You we find our true self. Hail Mary, full of grace ...In the name of the Father ...

    6 min
  2. 2H AGO

    Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Kamis sesudah Rabu Abu, 19 Februari 2026

    Dibawakan oleh Sr Kresen MCFSM dan Sr Krista MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Fransiskus Catholic Center di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Ulangan 30: 15-20; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Lukas 9: 22-25. MEMILIH BERKAT   Tema renungan kita pada hari ini ialah: Memilih Berkat.Setelah Rabu Abu, liturgi hari pertama yang menyusulnya mengajak kita untukmerenungkan tentang berkat Allah. Masa Pra Paskah sangat spesial mengenaidisiplin beriman dengan tuntutan volume dan kualitas yang lebih kuat kalaudibandingkan dengan masa-masa liturgi lainnya. Maka berkat Tuhan sangat kitaperlukan demi terwujudnya proses pendisiplinan ini hanya karena Tuhan berkenandengan berkat-Nya bagi setiap orang yang mengharapkan keselamatan dirinya.   Dengan memilih berkat, lalu apakah yang tidak kita pilih?Atau jika Tuhan memberikan kita berkat-Nya, hal apakah yang tidak Tuhanberikan? Kitab Ulangan dalam bacaan pertama menegaskan kalau kutuk danpenyiksaan dosa bukan pilihan kita. Dalam kenyataan, ada orang memilih kutukatau sengsara karena dituntun oleh kebebasan kodratinya. Tuhan menyelenggarakanhidup ini pada awal adalah baik. Namun karena kejatuhan kodrati manusia, makakehadiran kebaikan itu harus berhadapan dengan kutukan dosa. Jadi orang bisamemilih untuk berdosa. Orang beriman dinasihatkan untuk memilih berkat.   Memilih berkat berarti memilih Tuhan. Sedangkan memilihkutuk berarti memilih musuh Tuhan, yaitu setan. Yang ada pada Tuhan ialahkehidupan, cinta, dan pengharapan akan suatu keberlangsungan yang abadi.Sedangkan yang ada pada kutuk ialah kematian, kebencian, dan kesengsaraanabadi. Yesus Kristus diutus oleh Bapa ke dunia untuk mendirikan sebuah kerajaankehidupan supaya memerintah dan membawa semua orang kepada berkat. Ajaran danteladan hidup-Nya menjadi pelita dan sumber air yang menjamin keberlangsunganberkat ini dalam bentuk rahmat karunia yang dicurahkan kepada setiap orang yangmemerlukan.   Hari ini Yesus Kristus memaparkan isi pilihan kita untukmengikuti Dia supaya daripada-Nya mengalir semua berkat yang kita perlukan. Didalam masa Pra Paskah berkat-berkat kita dapatkan melalui berdoa, berpuasa, danberamal kasih. Ketiga perbuatan ini mesti dapat dijalankan dalam semangat salibyang kita pikul dan ketekunan dalam penyangkalan diri. Salib selalu bermaknapengorbanan dan menghadirkan beban yang harus ditanggung. Kita berdoa, berpuasaatau bermati raga, dan beramal kasih dengan sebuah volume jumlah dan kualitassedemikian yang membuat kita menanggung beratnya seperti yang Yesus lakukan.Ketiga perbuatan saleh itu mesti juga membawa kita untuk fokus kepada penyatuanhati kita dengan Tuhan, dan bukan kepada diri sendiri dan semua kepentingan duniawi.Dari sana berkat-berkat akan mengalir kepada kita.   Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, firman-Mu menguatkan niat kami untuk memanggul salib dan menyangkaldiri kami untuk dengan tekun mengikuti-Mu. Berkatilah kami supaya sepanjangjalan mengikuti-Mu kami menemukan diri kami yang sebenarnya. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...

    9 min
  3. 1D AGO

    Reading and meditation on the Word of God on Ash Wednesday, February 18th, 2026

    Delivered by Kezia from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Joel 2: 12-18; Rs psalm 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; 2 Corinthians 5: 20 - 6: 2; Matthew 6: 1-6.16-18. STANDARD OF SPIRITUAL LIFE   Our meditation on the Ash Wednesday is entitled:Standard of Spiritual Life. There are a lot of lifestyle changes in ourfamilies due to technological and communication advancements. Stephen andMelania's family, along with their three children, who live in different placesdue to different works, maintain communication among them through the familywhatsapp group. Stephen once shared to his friends, saying that his family'sspiritual life has a true Christian standard, especially the regular time ofprayer together in the family. They use this media to pray together.   Judaism tradition and religion inherit a standard of spirituallife that later Jesus Christ taught us as well. This spirituality standard includesthree basic acts, namely fasting, praying, and doing charity. The Jews obligethis on every one in their religion. If all three were done in an orderly andgood manner, a person is said as a good believer and blessed by God. Jesus alsotaught His disciples to do same. They were obliged to pray, fast and docharity.   However, there is a distinctive element that definesthe different character between the spirituality model taught by Jesus and theone practiced by the Jews, especially according to the religious leaders andPharisees. The difference is related to motivation or intention. For Jesus and allof us who follow Him, the motivation for praying, fasting, and doing charity isto make a close and intimate relationship with God. It is truly a spiritualaffair, a matter of the heart, and an activity of faith in God. The book of theprophet Joel in the first reading emphasizes a renewal of the heart, and notoutward affairs such as torn clothes and other external attributes inherent inour bodies and environment.   This confirms that the Jewish spiritual life is verycontrary to what Jesus taught. Their spirituality is not for God but to earnthe praise of others that they are holy and good. They have already earnedtheir reward by what they did in front of people, while God has not given them dueblessings. Jesus makes it clear that we should not follow such externalstandard. Our standard is in the heart that has a direct relationship with God.Whenever these three acts of righteousness are done properly, it is when oneexperiences the act of salvation from God, says Saint Paul in today's secondreading.   This is the spirit of Ash Wednesday that we allcelebrate on this day to begin our Lenten season.   Let us pray. In the name of the Father... O Lord God, maythis Ash Wednesday celebration grant us new spirit to begin the journey of  our spiritual renewal in this Lent period. OurFather who art in heaven... In the name of the Father...

    7 min
  4. 1D AGO

    Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Rabu Abu, 18 Februari 2026

    Dibawakan oleh Sr Yolastri MCFSM dan Sr Francesca MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Yosef Ampa di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Yoel 2: 12-18; Mazmur tg 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; 2 Korintus 5: 20 - 6: 2; Matius 6: 1-6.16-18. KEHIDUPAN ROHANI STANDAR   Renungan kita pada hari Rabu Abu ini bertema: KehidupanRohani Standar. Ada banyak sekali perubahan gaya hidup dalam keluarga-keluargakita sebagai bagian darikemajuan teknologi dan komunikasi. Keluarga Stevanus dan Melania bersama tiga anak mereka yang sudah bekerja di tempat-tempat yangberbeda, memaksimalkan komunikasi di antara mereka melalui media wa groupkeluarga. Didalam sebuah pesan wa yang dibagikan ke teman-temannya, Stevanus berkata bahwakehidupan rohani keluarganya mempunyai standar Kristiani yang sesungguhnya, khususnya saat-saat rutin untuk berdoabersama dalam keluarga, informasidiberitahukan melalui wa group keluarga itu.   Tradisi dan agama Yahudi mewariskan suatu kehidupan rohanistandar yang kemudian Yesus juga mengajarkan itu kepada kita. Kerohanianstandar itu mencakup tiga perbuatan dasar yang diwajibkan, yaitu berpuasa,berdoa, dan beramal kasih. Orang Yahudi mewajibkan ini kepada setiap umatnya.Jika ketiganya dilakukan dengan teratur dan baik, seseorang dipandang beragamadengan baik dan diberkati Allah. Yesus juga membuat tiga unsur ini  menjadi kekhasan para pengikut-Nya. Merekawajib berdoa, berpuasa dan berbuat kasih.   Namun ada perbedaan mencolok antara kerohanian standaryang diajarkan oleh Yesus dan yang dijalankan oleh orang-orang Yahudi, terutamamenurut para pemuka agama dan kaum Farisi. Perbedaannya ialah terkait denganmotivasi atau maksud. Bagi Yesus dan yang selalu Ia tegaskan kepada kita,motivasi berdoa, berpuasa atau bermati raga, dan beramal kasih ialah untukmenjalin relasi dengan Allah. Ini benar-benar sebuah urusan rohani, urusanhati, dan kegiatan iman kepada Tuhan. Kitab nabi Yoel dalam bacaan pertama menekankansebuah pembaharuan hati, dan bukan urusan luar seperti pakaian yang dikoyakkandan aneka atribut luar lainnya yang melekat pada tubuh dan lingkungan hidupkita.   Hal ini menegaskan kalau hidup rohani Yahudi sangatbertentangan dengan yang diajarkan oleh Yesus. Kerohanian mereka bukan untukTuhan tetapi untuk mendapatkan pujian orang-orang lain bahwa mereka orang sucidan baik. Upahnya sudah mereka dapatkan dengan penampilan itu, sementara Tuhantidak memberikan berkat-Nya kepada mereka. Yesus menegaskan supaya kita tidakmengikuti standar luar seperti itu. Standar kita ialah di dalam hati yanglangsung mempunyai relasi dengan Tuhan. Setiap kali melakukan ketiga kesalehanini dengan benar, itu adalah saat seseorang mengalami tanda keselamatan dariTuhan, demikian kata Santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini.   Ini adalah semangat Rabu Abu yang kita semua rayakan padahari ini untuk mengawali masa Pra Paskah kita.   Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Allah,semoga dengan hari Rabu Abu ini kami dipenuhi semangat baru untuk memulaiproses pembaharuan diri di dalam masa Pra Paskah ini. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa...

    9 min
  5. 2D AGO

    Reading and meditation on the Word of God on Tuesday of the sixth week in ordinary time, February 17th, 2026

    Delivered by Evelyn from the Parish of Holy Spirit in the Archdiocese of Singapore. James 1: 12-18; Rs psalm 94: 12-13a.14-15.18-19; Mark 8: 14-21. STRONG IN FACINGTRIALS   The title for our meditation today is: Strong inFacing Trials. In the New Testament of the holy scriptures, Jesus Christteaches us to be strong in facing trials. The experience of facing a trial or testcan be seen similar to a judgement, which means to test someone whether he isable to pass the trial or not. For example, in the Gospel of Matthew 26:41,which is the same as Mark 14:38 and Luke 22:40, Jesus reminds us to always bestrong in prayer and vigilant against the danger of falling into temptation.Our flesh or body is weak, so it is easy to become target and tempted byenemies.   God Himself also reminded His people in the OldTestament to be strong against the temptations, trials and evil forces in life.When Moses faced Pharaoh in Egypt, he was truly in a severe trial. But he wasalso obedient to God's guidance and commands. By adhering to this principlethat God teaches and strengthens us, it is clear a  mere game or joke to assume that God alsotempts us. There is a presumption or preception among us that God disturbs andtempts us. This is just taken for granted as a kind of temptation that we humannormally face. But this is obviously impossible. How does the Lord strengthenus, however, He also tempts what He Himself ordains, strengthens and protects?   Therefore Saint James in the first reading affirmsthat it is impossible for God to tempt us his beloved children. God does nothave a system of operation like any other human and spirit beings who have evildesire to try, to tempt, or to deceive others. The prince of tempters and evilspirits is the devil. This satanic power prioritizes his work on human behaviorthat is against God's way. Naturally humans have freedom, therefore, anybodycan choose to follow the influence of Satan. So man is tried and tempted by hisor her own desire that has been controlled by the evil one.   When do we know that we meet a trial or temptation?The accounts in today's Gospel describe a common situation when someone fecestrials. When our minds and hearts begin to understand and consider that God isfar away or not with us. When we worry or presume that our fate will be indifficulty because there are so many challenges, difficulties, and threatsaround us. Moreover, we are deeply haunted by our inability to deal with all thechallenges and problems. So, temptations will reach us when there is only alittle faith, when there is assumption that there are many threats around us,and the view that God is far away. Therefore, this is the advice for us: that wemust be strong! Let us pray. In the name of the Father... O Almighty God,fill us with a brave and strong spirit of faith to face all the trials and temptationsin this life. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit... Inthe name of the Father ...

    8 min
  6. 2D AGO

    Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Selasa dalam pekan ke-6 masa biasa, 17 Februari 2026

    Dibawakan oleh Sr Modesta MCFSM dan Sr Yuliana MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Yosef Ampa di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Yakobus 1: 12-18; Mazmur tg 94: 12-13a.14-15.18-19; Markus 8: 14-21. KUAT MENGHADAPIUJIAN   Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kuat MenghadapiUjian. Di dalam kitab suci perjanjian baru, Yesus Kristus mengajarkan kitauntuk kuat dalam menghadapi ujian. Pengalaman ujian sering disamakan dengancobaan, yang maksudnya ialah untuk mencobai seseorang apakah mampu melewaticobaan atau tidak. Misalnya di dalam Injil Matius 26: 41 yang sama denganMarkus 14: 38, dan Lukas 22: 40, Yesus mengingatkan supaya kita selalu kuatdalam doa dan berwaspada supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Daging atau tubuhkita lemah sehingga gampang menjadi jalan masuk bagi musuh yang mencobai.   Tuhan sendiri juga mengingatkan umat-Nya di dalamperjanjian lama supaya mereka kuat terhadap godaan, cobaan dan ujian hidup.Ketika Musa berhadapan dengan Firaun di Mesir, ia benar-benar di dalam ujianberat. Tetapi ia juga patuh pada tuntunan dan perintah Tuhan. Dengan berpegangpada prinsip ini bahwa Tuhan mengajarkan dan menguatkan kita, jelas sebagaisebuah permainan atau lelucon kalau Tuhan juga yang mencobai kita. Ada anggapandan keyakinan di antara kita bahwa Tuhan mencobai dan menggodai kita sehinggaitu semua dianggap saja sebagai ujian dalam hidup. Ini jelas tidak mungkin.Bagaimana Ia menguatkan kita, Ia juga mencobai apa yang Ia sendiri tetapkan,kuatkan dan lindungi?   Oleh karena itu Santo Yakobus dalam bacaan pertamamenegaskan bahwa tidak mungkin Tuhan mencobai kita anak-anak kekasihnya. Tuhantidak punya sistem bermain seperti siapa pun makhluk manusia dan makhluk rohlainnya yang punya keinginan untuk mencoba-cobai, menggoda-godai, ataumemperdaya-dayai pihak lain. Pemimpin penggoda dan penyoba ialah setan.Pengaruh setan ini memprioritaskan kerjanya pada tingkah laku manusia yangbertentangan dengan jalan Tuhan. Karena manusia punya kebebasan, ia bisa jugamemilih untuk condong pada pengaruh setan. Jadi manusia dicobai dan digodaioleh keinginannya sendiri yang sudah dikuasai oleh si jahat.   Bilamana kita tahu bahwa kita berada di dalam cobaan?Peristiwa yang dikisahkan di dalam Injil hari ini menggambarkan suatu situasiumum orang-orang berada di dalam cobaan. Situasi itu ialah ketika pikiran danhati kita mulai mengerti dan menganggap bahwa Tuhan jauh atau tidak beradabersama kita. Kekawatiran atau keprihatinan bahwa nasib kita bakal di dalamkesulitan karena di sekeliling kita ada begitu banyak tantangan, kesulitan, danancaman. Bahkan kita sangat dihantui oleh ketidakmampuan kita untuk menghadapisemua itu. Rasa tak percaya pada diri, anggapan bahwa di sekeliling ada banyakancaman, dan pandangan bahwa Tuhan jauh, merupakan keadaan pencobaan yang kitahadapi di dalam hidup ini. Maka nasihatnya ialah: kita mesti kuat!   Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa,penuhilah diri kami dengan semangat iman yang berani dan kuat untuk menghadapisegala cobaan dan ujian hidup ini. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus ... Dalam nama Bapa ...

    9 min
  7. 3D AGO

    Reading and meditation on the Word of God on Monday of the sixth week in ordinary time, February 16th, 2026

    Delivered by Cendani from the Parish of Our Lady of the Assumption Mamajang in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. James 1: 1-11; Rs psalm 119: 67.68.71.72.75.76; Mark 8: 11-13. ENJOYING THETEST   The title for our meditation today is: Enjoying theTest. In all aspects of our lives, the test takes place in a process to prove aresult in both quantity and quality. Whatever the form and character of thetest, the basic condition that we knowledge is that the person who takes thetest is being tried or tested for a standard of qualification.   There is a common attitude or reaction seen in the onewho faces the test. This is about the state of the mind and body of the one whofaces the test, namely the negative or positive reaction. People can benervous, palpitating, scared, insecure, and complaining. People can also bebrave, concentrated, focused, confident, exited to face and finally pass thetest. The situation can be seen on their faces, but even more exciting is intheir souls. Both of these situations illustrate how one enjoys the test.   People behave negatively when facing tests due tovarious reasons. The most common one is because the person concerned hasinsufficient knowledge or basically unprepared. Mental or emotionalunpreparedness usually causes the human body nervous, shaking, sweaty, andweak. In such circumstances, surrender perhaps becomes impossible when forinstance the person concerned does not refuse to face and proceed to take itwith the risk of an outcome below expectation.   This proportionally contradicts with the positive andoptimistic behavior when someone facing tets, namely the person concerned isready in spirit and body. In fact, this readiness is expressed with anexcitement and longing to anticipate the test. This behavior can prove that theperson concerned is confident on the results to be achieved with satisfactionand meeting expectations. Hopefully this behavior also represents a mental characterin those who believe that good or bad results are not their concern, but anopportunity to learning and trainning to maturity.   These two positive behaviors are shown by our tworeadings today. Saint James in the first reading advises that the tests in lifemust be faced and passed that we may be able to remain in perseverance in thepath to perfection. Jesus was constantly tested by the Pharisees and thescribes. But usually Jesus silenced them. He is God, so there is no need for atest. But what He considers to be a setback is that those who tested Him hadproved to gain nothing. It means that Jesus is always ready, whereas they werenot prepared to face test. So the basic law is certain: before the actual test,you must first start with many warm-up exams, namely preparations andanticipation in all ways and forms. Let us pray. In the name of the Father... O Lord JesusChrist, teach us to put the right and appropriate words and actions in everyopportunity we face the various tests of life. Hail Mary, full of grace... Inthe name of the Father ...

    7 min
  8. 3D AGO

    Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Senin dalam pekan ke-6 masa biasa, 16 Februari 2026

    Dibawakan oleh Sr Skolastika MCFSM dan Sr Emiliana MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Palanga Sampit Palangkaraya di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Yakobus 1: 1-11; Mazmur tg 119: 67.68.71.72.75.76; Markus 8: 11-13. MENIKMATI UJIAN   Tema renungan kita pada hari ini ialah: Menikmati Ujian.Di dalam semua aspek kehidupan kita, ujian terjadi dalam suatu proses untukmembuktikan sesuatu hasil baik untuk jumlah maupun kualitas. Apa pun bentuk dankarakternya ujian itu, aspek dasarnya ialah orang yang mengalaminya berada didalam situasi dicoba atau diuji kemampuannya.   Sikap yang umum ialah keadaan jiwa dan raga orang yangmenghadapi ujian berada dalam suatu keadaan negatif atau positif. Orang bisagugup, berdebar, takut, kurang yakin, dan mengeluh. Orang bisa juga berani,konsentrasi, fokus, percaya diri, dan yakin untuk menghadapi lalu akhirnyamelewati ujian. Situasi bisa terlihat di wajah mereka, namun justru lebih seruialah di dalam jiwanya. Kedua situasi ini menggambarkan bagaimana seseorangmenikmati ujian itu.   Orang bersikap negatif ketika menghadapi ujian disebabkanoleh aneka alasan. Yang paling umum ialah karena yang bersangkutan kurang atautidak siap. Ketidaksiapan mental dan semangat biasanya langsung membuat tubuhmenjadi gugup, gemetar, keringatan, dan lemah. Dalam keadaan seperti ini, sikapmenyerah bukan mustahil di mana yang bersangkutan bisa menolak untuk menghadapiatau menghadapi saja tetapi dengan risiko pada hasil di bawah harapan.   Ini berbanding terbalik dengan sikap positif dan optimisdalam menghadapi ujian, yaitu orang yang siap jiwa dan raga. Bahkan kesiapanini diungkapkan dengan suatu kegirangan dan kerinduan untuk mengantisipasiujian. Sikap seperti ini bisa membuktikan bahwa yang bersangkutan yakin akanhasil yang bakal dicapai memuaskan dan memenuhi harapan. Atau sikap ini jugamerepresentasi sebuah sikap mental pada orang yang percaya bahwa hasil baikatau buruk bukanlah hal yang prioritas, tetapi  ini menjadi kesempatan untuk menempah danmelatih diri.   Dua sikap positif ini ditunjukkan oleh kedua bacaan kitahari ini. Santo Yakobus dalam bacaan pertama memberikan nasihat bahwa ujiandalam hidup memang mesti dilalui karena hasilnya adalah sebuah ketekunan yangmerupakan jalan menuju kesempurnaan. Yesus diuji terus menerus oleh kaum Farisidan para cendekia ahli Taurat. Tetapi biasanya Yesus membungkam mereka. Diaadalah Tuhan maka tak perlu ujian. Tetapi yang Ia anggap sebagai kemunduranialah mereka yang mengujinya tak mendapatkan keuntungan apa-apa. Itu berartibahwa Yesus yang siap, sedangkan mereka tidak siap dalam medan ujian. Jadihukumnya pasti: sebelum ujian utama, harus awali dulu dengan banyak ujianpemanasan alias persiapan-persiapan dan antisipasi dalam segala bentuknya.   Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, ajarilah kami selalu dengan meletakkan kata-kata dan tindakan yangbenar dan tepat dalam setiap kesempatan kami hadapi ujian hidup ini. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

    8 min

About

Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.