La Porta Podcast, KOMUNIKASI MEMPERSATUKAN

Peter Tukan

Media podcast ini berisi refleksi-refleksi dan informasi tentang kehidupan untuk menemani kita dalam perjalanan menuju kebaikan dan kebahagiaan sebagai anak-anak Tuhan.

  1. 04/25/2020

    KESEIMBANGAN

    Kita mengerti tentang keseimbangan. Bahkan kita mengalami sendiri dan tidak ada kecuali bagi setiap manusia. Saat sebagai bayi, seperti kita semua tahu, orang tua atau orang lain membimbing kita dalam latihan duduk atau berjalan. Di dalam pengalaman latihan itu roh keseimbangan kita sebagai anugerah Allah belum berfungsi sesungguhnya karena ia sangat bergantung pada sistem tubuh yang belum matang. Maka wajar kalau kondisi seperti ini dapat dikatakan sebagai keseimbangan yang rapuh. Suatu keseimbagan yang masih rapuh tidak boleh dipaksakan. Ia harus diberi ruang dan tempat untuk latihan secara terus-menerus dengan selalu menghargai proses pertumbuhan yang natural. Karena setiap manusia dikaruniai roh keseimbangan yang dalam bahasa spiritualitas disebut keutamaan keseimbangan, setiap orang perlu menemukannya di dalam diri. Cara menemukan itu ialah dengan pengakuan secara tulus kelemahan atau kekurangan dan kelebihan atau kekuatan masing-masing. Setiap kali terjadi kekeliruan atau kesalahan orang mesti jelas menyadari bahwa di situ kekurangannya. Sebaliknya kalau datang keberhasilan atau pembaharuan orang jelas menyadarinya sebagai kekuatan atau kelebihannya. Dari pengakuan seperti ini, orang baru bisa mulai dengan latihan pembentukan keseimbangan dalam hidup pribadinya dan bersama dengan orang lain. Keutamaan keseimbangan dapat dianggap sebagai strategi jalan tengah. Fungsinya sangat penting yaitu membuat kita untuk tidak bersikap ekstrem baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Konkretnya ialah dengan keseimbangan nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan yang ada pada kita masing-masing dapat berfungsi dengan baik dan teratur. Contohnya, ketika Yesus berkunjung ke rumah Maria dan Marta, penyambutan terhadap Yesus menampilkan dua sikap yang bertentangan (Lukas 10, 38-42). Padahal keseimbangan sikap kita kepada Tuhan mesti tampak dalam bagaimana membuat kerja dan doa sebagai sarana untuk hidup di dalam rahmat Tuhan. Singkatnya, di dalam segala aspek kehidupan ini, kita mesti menggunakan keutamaan keseimbangan sebagai pengatur cara hidup dan tingkah laku kita supaya kenyamanan dan kedamaian tercipta di dalam kehidupan kita. Pola hidup yang sehat dan positif sangat memerlukan keutamaan keseimbangan. Dari bagaimana orang mengatur waktu untuk kegiatan-kegiatan hidupnya, mestinya terlihat bahwa baik kegiatan jasmani, rohani, sosial dan politik mendapatkan porsi waktu atau perhatian yang seimbang. Aturan main yang dipakai ialah dengan memberlakukan skala prioritas bagi setiap kegiatan hidup. Atau lebih konkrit ialah setiap orang mesti memiliki standar kesadaran dan tingkat kemampuan diri untuk berada dan bertindak pada saat, tempat dan kepentingan yang sesungguhnya. Atau dalam bahasa teknis pendidikan, dikatakan bahwa setiap orang perlu hidup dengan hak dan kewajibannya yang berlaku.

    7 min
  2. 04/24/2020

    MELAYANI DENGAN GEMBIRA

    Pelayanan yang menggembirakan itu bagaimana? Suatu pelayanan yang menggembirakan mesti berbuah dobel: baik pelayan maupun yang dilayani sama-sama merasa gembira. Pribadi atau kelompok yang melayani, tindakan melayani, motivasi pelayanan dan pihak yang dilayani merupakan aspek-aspek yang penting untuk diperhatikan kelayakannya sehingga suka cita yang tercipta mengarahkan semuanya untuk mengakui bahwa pelanyanan itu mulia, manusiawi dan menjawab kehendak Allah. Mungkin ilustrasi ini dapat berguna. Anto anak berusia 9 tahun, sebelum pergi mengikuti Misa hari Minggu, ibunya memberikan dia 5.000 rupiah. Ia pergi ke ayahnya lalu ia diberikan 2.000 rupiah. Kedua pemberian itu dimaksudkan untuk kolekte. Pada saat kantong kolekte sedang diedarkan, Anto ingat betul kotbah Pastor yang mengatakan bahwa kalau memberikan sesuatu harus ada rasa gembira di hati. Orang harus merasa gembira dengan sesuatu yang akan diberikan kepada orang lain dan perbuatan memberi harus dengan gembira pula. Pada waktu kantong kolekte sampai ke Anto ia mengambil 2.000 di saku kirinya dan memasukan ke kantong kolekte. Ketika ditanya oleh ibunya mengapa tidak memasukan 5.000 rupiah yang diberikan tadi, Anto dengan percaya diri berkata bahwa ia mengikuti saja kotbah Pastor. Ibunya bertanya: "Pastor katakan apa dalam kotbahnya?" Anto menjawab: "Kalau memberi harus ada rasa gembira. Maka saya merasa gembira untuk memberikan yang 2.000 rupiah, sedangkan yang 5.000 saya sama sekali tidak merasa gembira untuk diberikan." Demikian, sering terjadi bahwa kita memberikan pelayanan atau bantuan berdasarkan kegembiraan kita yang sepihak. Sementara kita tidak peka akan kegembiraan atau kepuasan oran yang akan menerima pemberian kita. Hal ini sebenarnya masih harus diperbaiki. Karena suatu pemberian bantuan atau pelayanan yang menggembirakan mesti memperhitungkan bahwa saya yang memberi merasa gembira demikian juga orang yang menerima mendapatkan kegembiraan. Pelayanan yang menggembiarakan selalu mengambil contoh dari Yesus sendiri, karena bukan tindakan pelayanan sendiri yang hendak ditonjolkan, tetapi demi kemuliaan Allah dan kebaikan manusia. Dua alasan inilah yang membuat suatu pelayanan menjadi mulia, indah dan menggembirakan. Secara konkret, bagaimana dapat kita lakukan dengan baik? Ada beberapa syarat yang dapat ditunjukkan di sini. Pelayanan itu harus diberikan dengan segera. “Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu” (Amsal 3,28). Pelayanan atau bantuan kepada sesama hendaknya dilakukan untuk tidak diketahui orang lain. “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mt 6,3). Pelayanan dan bantuan harus diberikan dengan gembira. “Hendaklah masing-masing  memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9,7). Pelayanan dan memberikan bantuan hendaknya mempertahankan aspek hormat atau respek orang-orang miskin dan bukan dengan semangat membodohkan atau membuat mereka sangat bergantung. Sikap tidak sabar terhadap orang miskin justru mengurangi nilai kemurahan hati itu sendiri. Pelayanan harus diberikan demi kasih kepada Allah. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mk 9,41). Kita juga harus melayani dengan tidak menuntut balasan.

    7 min
  3. 04/13/2020

    ORANG BAIK DAN ORANG KUDUS

    Ada seorang laki-laki dan seorang perempuan dewasa masuk ke sebuah restoran takeaway. Laki-laki itu memesan kepada pelayan supaya dibungkus untuk makan malam minggu berupa dua menu ayam goreng. Pada waktu menyerahkan makanan pesanan tersebut, gadis muda lumayan cantik di counter mungkin karena terpesona dengan ketampanan laki-laki tadi, membuat satu kesalahan fatal. Gadis itu dari pada memberikan dua bungkusan makanan yang dipesan, ia memberikan sebuah tas kulit berwarna hitam. Ternyata di dalam tas itu berisi uang hasil transaksi restoran itu sepanjang hari tadi. Jumlah uang dalam tas itu kira-kira sepuluh juta lebih. Laki-laki dan perempuan tersebut segera menuju ke pantai untuk menikmati malam minggu bersama. Saat mulai membuka pesanan makanan yang telah mereka bawa dari restoran, keduanya sangat kaget. Bukan menu ayam goreng yang ditemukan tetapi sejumlah uang di dalam tas berwarna hitam yang mereka bawa. Mereka sepakat untuk melupakan saja kebersamaan selanjutnya malam itu dan segera menuju ke restoran. Sesampai di sana, mereka meminta untuk bertemu dengan manager lalu menyerahkan semua uang yang ada di dalam tas hitam. Manager restoran sangat terpesona dan gembira, katanya: “Saudara orang baik, orang hebat di dunia. Sekarang ini dunia dan masyarakat kita sangat membutuhkan orang baik dan jujur seperti Anda.” “Itu sudah menjadi komitmen saya,” jawab laki-laki itu, “kalau saya tahu apakah sesuatu itu salah atau benar, kalah atau menang, milik saya atau orang lain, saya harus berbuat sesuai dengan kenyataan.” Manager restoran lalu meminta pegawainya untuk memanggil wartawan surat kabar harian supaya mengambil foto laki-laki dan perempuan tersebut, dan pada hari berikutnya agar menurunkan laporan tentang peristiwa dan sikap terpuji dari pasangan itu. Laki-laki itu diberi pengertian supaya ia membolehkan apa yang hendak dilakukan sehingga dapat menjadi informasi yang berguna dan contoh bagi publik. Tetapi laki-laki itu tidak ingin niat baik itu diwujudkan. Ia merapatkan mukanya ke telinga manager kemudian membisikkan sesuatu. “Tolong jangan lakukan itu,”bisik laki-laki itu, “saya tidak rela kalau hal itu terjadi.” “Memang ada apa?” “Wanita yang bersama saya itu bukan isteri saya. Ia adalah isteri orang lain.”

    8 min
  4. 04/13/2020

    MENGAPA RAGU UNTUK BERBUAT BAIK?

    Kita adalah orang-orang yang aneh. Kita menerima tanggung jawab-tanggung jawab untuk memperhatikan sesama kita. Tetapi kebanyakan perhatian itu hanya sebatas kebutuhan material. Sepertinya pribadi seseorang dan hidupnya hanya berurusan dengan materi dan jasmani. Asal ia diberi kemudahan dalam urusan makan minum, tinggal, bergaul, mengikuti zaman teknologi, belajar...cukup baginya untuk hidup. Sama seperti seorang isteri merasa hidup perkawinan dengan suaminya sudah semakin dingin dan kaku; meskipun kebutuhan materi cukup lumayan tapi afeksi, kedekatan, komunikasi batin dan saling menguatkan secara rohani semakin tidak terungkapkan. Atau seperti anak-anak yang kebutuhan makan, minum, pakai, sekolah cukup terjamin, namun pertumbuhan mental, karakter dan kerohanian sangat tidak diperhatikan karena orang tuannya sangat sibuk dengan pekerjaan. Kita sepertinya cepat bersedia dan dengan gembira memberi makan seorang anak miskin yang lapar, menyediakan pakaian bagi korban kebakaran atau bencana alam atau melakukan bakti sosial di panti asuhan. Tetapi apakah kita juga sama bersedia dan gembiranya menolong seorang sesama dalam kesulitan moral dan imannya? Seringkali tidak, karena yang itu-itu adalah masalah pribadi. Jangan sekali-kali masuk ke wilayah yang sangat pribadi. Siapa yang berani mendekati dan menolong seorang suami yang terlanjur selingkuh dan menyengsarakan keluarganya sendiri? Jangankan Pastor, ketua lingkungan atau wilayah pun merasa sulit karena masalah pribadi seperti itu selalu tersimpan rapat, hanya baunya yang selalu tercium. Mengapa kita menjadi begitu ragu dan kaku untuk masalah-masalah yang pribadi seperti itu? Bukankah justeru integritas rohani sama pentingnya dengan kesejahteraan jasmani? Maka Yesus mempertanyakan apa gunanya menyelamatkan atau membahagiakan hidup, jika hal itu justeru mengorbankan keselamatan jiwa! Mengapa kita begitu kaku dan segan untuk membantu orang-orang berdosa, yang keselamatan mereka dapat dicapai hanya dengan sedikit pertolongan yang kita berikan? Kita bukan para pengganggu ketika kita pergi melawat sesama yang meninggal dunia atau mengunjungi sesama yang sakit. Mengapa kita harus merasa bersalah untuk membuat pendekatan baru bila suatu hubungan persahabatan retak, jika seorang sesama tidak berdaya karena dosa-dosanya, seorang saudara yang berjuang mati-matian dengan kecenderungan jahatnya, yang tak kuasa mengontrol kebiasaan buruknya, yang seantiasa melakukan korupsi? Kain menolak untuk menjadi penjaga saudaranya. Seorang Kristen tidak boleh menolak orang berdosa. Ia tidak boleh menghalangi kemurahan hati dan berbelas kasih sehingga menghadirkan kerahiman Tuhan sendiri.

    6 min
  5. 04/11/2020

    MANUSIA SEPERTI BUNGA

    Kata orang bunga-bunga yang mekar-berkembang adalah senyuman Tuhan Allah. Bayangkan kalau kita melintasi jalan menuju Lembah Karmel yang melalui kawasan Kota Bunga di daerah Bogor, hati kita spontan berseri-seri. Setiap kali memandang aneka bunga di sebelah kiri dan kanan jalan, lalu terutama berada di dalam “Taman Bunga”, hati ini akan bertambah girangnya karena bunga-bunga yang dipandang seakan-akan serempak menyalami kita dengan senyuman. Itu adalah senyuman yang datang dari Tuhan Penciptanya. Bunga memang diciptakan Tuhan untuk menghadirkan senyuman kepada dunia, dan ia tersenyum tanpa henti. Ada tiga tahap kehidupan sepotong kembang bunga yang dapat memberikan kita suatu pelajaran berharga. Sepotong kembang bunga memulai hidupnya sebagai sebuah kuncup kecil yang tertutup rapat. Ini menjadi seperti masa bayi dari sepotong kembang bunga. Ia tidak berwarna dan tidak memiliki atau menyebarkan keharuman. Sinar matahari akan perlahan-lahan membuka kuncup itu supaya menampakkan keindahannya. Ini sangat simbolik. Ada orang-orang di antara kita atau mungkin kita sendiri pemalu, segan, kaku, bingung dan penakut. Mereka tidak membuka diri untuk mengungkapkan talenta dan keindahannya. Kita mungkin dapat membantu untuk membuka diri mereka dengan sinar matahari sebuah senyuman, sinar matahari yang berupa perhatian yang ditunjukkan kepada mereka. Sehingga mereka dapat terbuka perlahan-lahan dan dapat mekar menjadi orang-orang yang membanggakan. Pada saat kita merasa bahagia, gembira dan baik, kita adalah seperti sepotong kembang bunga dalam tahap kedua kehidupannya. Ia terbuka dan mekar sehingga keindahannya menghiasi segala sesuatu di sekitarnya. Maka kita selalu mengatakan bahwa orang muda pria dan wanita memang sedang mekar-berkembang. Lalu mereka sampai pada mekar-berkembang sepenuhnya dalam kepriaan dan kewanitaannya. Mereka tampak sangat menarik sehingga menggoda mata dan hati orang yang memandangnya. Senyuman dan tatapan mereka telah dijadikan Tuhan semenarik mungkin, apalagi godaan mereka pasti lebih dari itu. Tahap terakhir dari kehidupan sepotong kembang bunga ialah ketika ia mulai menunduk dan kehilangan warnanya dan harumnya. Tetapi coba perhatikan lebih dekat: mungkin mangga atau jambu yang telah gugur bunganya ternyata mulai nampak pertumbuhan baru setelah mekar dan harumnya berlalu. Saat ini adalah waktunya bagi sepotong bunga untuk berbuah dan menghasilkan. Seorang manusia juga seperti itu. Mungkin kini ia mempunyai lipatan-lipatan kulit wajah dan tidak sibuk lagi dengan tampak yang trendi dan berpakaian rapi karena ia lebih sibuk dengan memelihara dan memperhatikan keluarganya.

    6 min

About

Media podcast ini berisi refleksi-refleksi dan informasi tentang kehidupan untuk menemani kita dalam perjalanan menuju kebaikan dan kebahagiaan sebagai anak-anak Tuhan.