Kencan Dengan Tuhan

Danang Kurniawan

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com

  1. Edisi Hari Jumat, 19 Juni 2026 - Setia menjalani Proses sampai tuntas

    1d ago

    Edisi Hari Jumat, 19 Juni 2026 - Setia menjalani Proses sampai tuntas

    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 19 Juni 2026 Bacaan: Lalu kata malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." (Kejadian 16:9) Renungan: Bisakah kita membayangkan situasi ini? Di saat kita sedang menghadapi pergumulan besar, tiba-tiba Tuhan menjumpai kita melalui sebuah penglihatan. Apa yang kita harapkan dari perjumpaan itu? Tentu saja kita yang sakit, ingin Tuhan memberi mukjizat kesembuhan. Kita yang sedang kekurangan berharap Tuhan akan mencukupkan, bahkan memberikan kelimpahan. Kita yang tidak tahu jalan keluar, tentu berharap Tuhan akan memberikan petunjuk kepada kita. Perjumpaan dengan Tuhan sering dimaknai bahwa Tuhan pasti menjawab pergumulan umat-Nya. Sekarang kita beralih pada kisah Hagar yang pergi meninggalkan rumah Abraham dan Sara karena tidak tahan ditindas oleh nyonyanya itu. Ketika Hagar sampai di padang gurun, maka Malaikat Tuhan menjumpainya. Hagar mungkin membayangkan bahwa Tuhan akan memberikan tuan dan nyonya baru, yang lebih baik dari Sara. Hagar mungkin membayangkan bahwa Tuhan akan membawa ke tempat atau keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Nyatanya bukan seperti itu yang dikatakan oleh Tuhan. Tuhan berkata, "Kembalilah kepada nyonyamu...". Mendengar kalimat ini, Hagar mungkin berpikir kalau Tuhan menyuruh untuk kembali kepada nyonyanya, karena Tuhan akan melembutkan hati Sara supaya tidak menindas dia lagi. Tapi kalimat berikutnya sungguh mengejutkan, karena Tuhan berkata, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." (ay. 9). Bayangkan, disuruh kembali untuk ditindas lagi! Mengapa Tuhan menyuruh Hagar kembali kepada Sara? Karena prosesnya memang belum selesai! Tuhan memang mengizinkan Sara menindas Hagar, tapi pada saat yang sama Tuhan memberikan kekuatan kepada Hagar untuk kuat menanggung segala penindasan itu. Hal yang sama juga berlaku dalam hidup kita. Jika memang proses yang kita jalani belum selesai, jangan buru-buru keluar dari rencana Tuhan. Pastikan kita setia menjalani proses itu hingga tuntas. Percayalah kalau waktunya sudah tiba, Tuhan sendiri yang akan mengeluarkan kita dari semua proses itu dan karakter kita pun akan menjadi lebih indah dari sebelumnya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk masalah yang Kau izinkan terjadi dalam hidupku. Aku percaya melalui masalah tersebut, Engkau sedang membentuk aku menjadi pribadi yang kuat dan tahan uji. Amin. (Dod).

    5 min
  2. Edisi Hari Kamis, 18 Juni 2026 - Kita bersyukur maka kita Bahagia

    1d ago

    Edisi Hari Kamis, 18 Juni 2026 - Kita bersyukur maka kita Bahagia

    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 18 Juni 2026 Bacaan: Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." (Yesaya 26:3) Renungan: Hidup adalah sekumpulan pilihan. Banyak alasan untuk membuat kita tertawa, tapi banyak orang memilih untuk kecewa. Banyak hal yang seharusnya membuat kita tersenyum, tapi banyak orang justru memilih untuk bersedih. Banyak hal yang seharusnya kita abaikan, tapi banyak orang justru mempersoalkan. Banyak hal yang seharusnya mudah dan sederhana untuk dijalani, tapi banyak orang memilih untuk ribet dan mempersulitnya. Banyak hal yang seharusnya kita syukuri, tapi banyak orang memilih untuk mengeluhkan hal-hal yang tidak ia miliki. Jika kita mau merenungkan lebih dalam, sesungguhnya hidup kita penuh dengan kebahagiaan, sayangnya kita tidak menyadarinya. Sebagai gantinya, kita justru memandang bahwa hidup kita seolah-olah hanya berisi penderitaan dan masalah saja. Lupa bahwa di dalam penderitaan sekalipun, kita bisa menemukan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan. Pilihlah yang baik, bukan yang buruk. Pilihlah yang mendatangkan sukacita, bukan yang mengundang kecemasan. Pilihlah untuk berbahagia, bukan takut dan khawatir. Semuanya itu mungkin terjadi kalau kita bisa menguasai hati. Menguasai hati untuk terus bersyukur, dan bukan iri karena membandingkan diri dengan orang lain. Bukankah berkat tidak selalu urusan materi? Di saat jiwa kita tenang dan hati kita damai, bukankah itu kebahagiaan yang jauh lebih berharga daripada sekadar kekayaan dan materi saja? Itulah sebabnya untuk bahagia tidak selalu berarti harus memiliki segalanya, melainkan bersyukur untuk semuanya. Seperti halnya sebuah kalimat bijak berkata, "Bukan karena bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi karena kita bersyukur maka kita jadi bahagia." Jika kita mengerti rahasia kehidupan ini, tidak ada alasan untuk kita melupakan segala kebaikan dan kasih karunia Tuhan yang telah kita terima. Bahkan, di saat kita mengalami masa-masa yang paling sulit sekalipun, kita akan tetap merasakan ketenangan di dalam Tuhan. Di tengah badai kita merasakan damai! Apakah kita ketenangan jiwa seperti ini terjadi dalam hidup kita? Marilah kita ubah cara pandang kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku ketenangan, bahkan di masa-masa sulit pun aku rindu Engkau hadir untuk memberi ketenangan padaku. Amin. (Dod).

    5 min
  3. Edisi Hari Rabu, 17 Juni 2026 - Bijak dalam bergaul

    3d ago

    Edisi Hari Rabu, 17 Juni 2026 - Bijak dalam bergaul

    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 17 Juni 2026 Bacaan: "Sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yarig benar itu tersiksa." (2 Petrus 2:8) Renungan: Satu pepatah berkata, "Burung yang sejenis akan berkumpul bersama-sama. Burung yang sejenis akan hinggap di dahan yang sama." Pepatah ini sungguh benar adanya. Kalau kita amati sekumpulan burung yang berhenti di sebuah dahan pohon, ternyata memang adalah burung yang jenisnya sama. Burung yang terbang secara bersama-sama juga adalah burung dengan jenis yang sama. Bukankah kita tidak pernah menjumpai burung gereja, burung kakatua, burung walet, atau burung elang terbang secara bersama-sama dan berhenti di dahan yang sama? Manusia juga sama. Dalam sebuah kelompok pergaulan, kita juga sering menjumpai hal seperti itu. Manusia berkelompok menurut jenis yang sama. Memiliki tujuan yang sama. Memiliki niat yang sama. Memiliki hobi yang sama. Bahkan, kerap kali memiliki karakter dan tabiat yang sama. Itu sebabnya kalau mau sukses, tentukan seperti apa pergaulan dan komunitas yang tepat. Kita akan sulit sukses jika kita bergaul bersama para pengangguran, orang yang bermalas-malasan, atau kumpulan orang yang tidak punya tujuan hidup. Sebab suka tidak suka, kita akan terpengaruh dan menjadi sejenis dengan perkumpulan kita. Lot adalah orang benar. Firman Tuhan di dalam 2 Petrus 2:8 dengan jelas menyatakan hal itu. Sayang, Lot berada dalam kumpulan orang berdosa. Tak heran jika jiwanya tersiksa karena berada dalam perkumpulan orang-orang yang jahat. Tak hanya jiwa Lot yang tersiksa, tapi lama kelamaan tabiat Lot pun menjadi semakin mirip dengan orang-orang Sodom yang amoral! Hati-hati dengan pergaulan kita. Jangan remehkan hal ini. Jangan anggap bahwa kita bisa berjaga-jaga dan tidak akan menjadi sama dengan mereka. Sehebat apapun kita menjaga diri, sedikit banyak kita akan terpengaruh dengan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan semua hal yang terjadi di depan mata kita secara terus menerus. Pilihlah kumpulan orang yang baik dan benar, maka kita pun akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku hikmat agar aku dapat bijaksana memilih teman yang dapat memberkati kepribadianku, sehingga hidupku pun dapat menjadi berkat bagi orang lain. Amin. (Dod).

    5 min
  4. Edisi Hari Selasa, 16 Juni 2026 - Dia selalu peduli kepada kita

    4d ago

    Edisi Hari Selasa, 16 Juni 2026 - Dia selalu peduli kepada kita

    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 16 Juni 2026 Bacaan: Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" (Markus 4:38) Renungan: Ada satu pertanyaan, "Kapan seseorang dikatakan tidak peduli?" Jawabnya adalah, "Ketika ia tidak mau tahu dengan apa yang terjadi, la menolak memahami, ia acuh, dan menganggap orang lain tidak penting." Orang yang tak peduli juga egois dan memikirkan dirinya sendiri. Sikap seperti itu tentu sangat jauh dari karakter Yesus. Namun, Alkitab mencatat bahwa setidaknya dua kali Yesus dituduh sebagai pribadi yang tidak peduli. Mereka yang mengatakan demikian adalah orang-orang terdekat-Nya. Yang pertama adalah para murid-Nya sendiri. Ketika badai menerjang perahu mereka dan Yesus tidur di buritan, para murid membangunkan-Nya dan menyebut-Nya tidak peduli (Mrk. 4:38). Yang kedua adalah Marta. Meski tidak termasuk ke dalam 12 murid, Marta adalah salah satu sahabat terdekat Yesus. Saat itu, Marta kerepotan menjamu para murid dan ia merasa kesal karena melihat Maria, saudarinya, hanya duduk mendengarkan Yesus mengajar. la menyebut Yesus tidak peduli melihat dirinya repot sementara Maria tidak membantunya (Luk. 10:40). Mengapa mereka bisa berpikir Yesus tak peduli? Di mata para murid, mereka merasa Yesus hanya peduli diri-Nya sendiri karena tetap tidur saat semuanya sibuk menguras perahu yang kemasukan air. Di mata Marta, Yesus tidak menganggap penting susah payah Marta dalam menjamu para tamunya itu. Respons Yesus terhadap tuduhan itu memberi alasan sebenarnya. Kekhawatiran (Luk. 10:41) dan ketakutan (Mrk. 4:40) membuat mereka merasa Yesus seolah tidak peduli. Demikian juga ketika kita merasa Tuhan diam saja, ketika kita merasa Tuhan bahkan tidak peduli pada kita. Daripada menuduh Dia, periksalah diri kita. Bukankah kekhawatiran dan ketakutan kita yang bicara demikian? Kekhawatiran sering kali muncul karena kita tidak mengenal Tuhan dengan benar. Karena itulah, Yesus berkata, daripada khawatir, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat. 6:33). Orang yang tidak mengenal Allah akan sibuk dengan kekhawatirannya (Mat. 6:31-32). Namun, ketika kita benar-benar mengenal Allah, kita tahu bahwa la tidak akan membiarkan kita. Kita juga akan bisa melihat apa yang ada di hadapan kita dengan cara yang benar. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, lepaskanlah aku dari rasa ketakutan dan kekhawatiran yang menyebabkan aku meragukan kuasa-Mu. Tambahkan imanku sehingga aku percaya bahwa Engkau lebih besar dari ketakutan dan kekhawatiranku. Amin. (Dod).

    5 min
  5. Edisi Hari Senin, 15 Juni 2026 - Mohon dimampukan Tuhan untuk mendidik Anak

    4d ago

    Edisi Hari Senin, 15 Juni 2026 - Mohon dimampukan Tuhan untuk mendidik Anak

    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 15 Juni 2026 Bacaan: Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN." (1 Samuel 2:12) Renungan: Setiap anak memiliki karakter dan sifat yang khas. Itu betul. Namun sifat anak kita menjadi seperti apa, itu sangat tergantung bagaimana kita mendidik dan mengajarnya. Jangan berkata, "Anak saya memang bawaannya seperti itu." Sifat dan karakter anak kita tidak bertumbuh dengan sendirinya, kitalah yang menentukan seperti apa sifat dan karakter anak kita. Ibarat kertas kosong, kitalah yang mengisi atau melukis kehidupan anak-anak kita dengan nilai-nilai kehidupan yang kita tanamkan kepadanya sejak dini. Mengapa seorang anak minder dan tidak percaya diri? Apakah karena bawaan? Tidak! Karena orang tuanya tidak memberinya semangat dan penghargaan. Mengapa ada anak yang pelitnya luar biasa? Karena orang tuanya tidak pernah mengajar dan memberi contoh bagaimana memberi dan berbagi. Mengapa ada anak yang pengecut? Karena kita selalu membelanya, tidak peduli benar atau salah. Mengapa ada anak yang selalu berusaha cari perhatian? Karena kita tidak cukup memberi perhatian dan kasih sayang kepadanya. Mengapa ada anak yang selalu mengeluh? Karena kita tak mengajarnya untuk selalu bersyukur. Mengapa Hofni dan Pinehas yang adalah anak seorang imam justru menjadi anak-anak dursila? Karena imam Eli ayahnya tidak mendidiknya dengan benar. Imam Eli terlalu lembek, acuh, dan tak tegas dalam mendidik anak-anaknya. Bandingkan dengan Timotius yang hidup dalam didikan iman, baik oleh ibu dan neneknya. Bagaimana cara kita mendidik anak, itulah yang membuat perbedaan, akankah kita melahirkan anak-anak hebat dengan karakter yang kuat, ataukah kita akan melahirkan anak-anak gampang dengan karakter buruk? Jika anak kita bertumbuh dengan karakter yang buruk, pertama-tama yang patut disalahkan bukanlah anak kita tapi justru kita sebagai orang tua. Mengapa? Karena tanggung jawab dalam mendidik anak sepenuhnya ada di tangan kita. Kita tidak bisa membiarkan anak kita bertumbuh dengan sendirinya, lalu berharap bahwa anak kita bertumbuh menjadi anak hebat dengan karakter yang hebat pula. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku kuasa penuh untuk mendidik anak-anak yang Kau percayakan padaku, sehingga aku dapat mendidik mereka menjadi anak-anak yang memiliki karakter seperti Engkau. Amin. (Dod).

    5 min
  6. Edisi Hari Minggu, 14 JUni 2026 - Lepaskan Kekhawatiran hadirkan damai

    6d ago

    Edisi Hari Minggu, 14 JUni 2026 - Lepaskan Kekhawatiran hadirkan damai

    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 14 Juni 2026 Bacaan: Sikap yang tenang memanjangkan umur; iri hati memendekkannya." (Amsal 14:30) Renungan: Kesehatan tubuh kita memang sangat berkaitan dengan suasana hati kita. Ini bukan karena faktor makanan atau gaya hidup yang tidak sehat saja, melainkan lebih dari itu, yaitu tidak menjaga hati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres dan kondisi emosional yang tidak seimbang dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik seseorang. Hal ini disebabkan oleh adanya hubungan yang kompleks antara pikiran, emosi, dan tubuh manusia. Ketika seseorang mengalami stres atau ketidakseimbangan emosional, sistem kekebalan tubuhnya dapat terpengaruh, meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit. Hati yang tenang merupakan kondisi ketika ia tenang, damai, dan tenteram. Amsal 4:23 menyatakan "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan". Hati yang tenang dapat diartikan sebagai hati yang kudus, bebas dari dosa seperti kepahitan, dendam, iri hati, kesombongan. Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga hati karena hati yang bersih membawa ketenangan. Orang benar merasakan damai sejahtera, ketenangan, dan ketenteraman abadi karena "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yes. 32:17). Karena itu, menjaga hati agar tetap bersih dan penuh dengan kebenaran adalah kunci untuk mencapai ketenangan batin. Mari kita berusaha hidup benar sehingga hidup kita menjadi tenang dan tentram. Biarlah kita selalu menjaga hati kita agar tetap tenang dan serahkanlah segala kekhawatiran kita kepada Tuhan karena Tuhan yang lebih mengetahui segala isi hati kita. Sementara itu, kita juga berjalan di dalam kebenaran firman-Nya. Itulah yang akan menyegarkan tubuh, jiwa, dan hati kita. Hanya dekat Tuhan saja hati kita akan tenang karena hati yang tenang akan memperoleh kesegaran jiwa dan raga. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, lepaskanlah kepahitan dari dalam hatiku, agar damai sejahtera-Mu menguasai hatiku. Amin. (Dod).

    4 min
  7. Edisi Hari Sabtu, 13 Juni 2026 - Bertobat dan berubah

    Jun 12

    Edisi Hari Sabtu, 13 Juni 2026 - Bertobat dan berubah

    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 13 Juni 2026 Bacaan: "Beberapa hari kemudian orang Yahudi merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. " (Kisah Para Rasul 9:23) Renungan: Bukan hal mudah orang dapat menerima perubahan sesamanya dari tidak baik menjadi baik. Ibarat orang pernah punya "borok" (luka), sekalipun sudah sembuh, kebanyakan orang selalu melihat bekas lukanya daripada sembuhnya. Demikian juga, orang yang pernah berbuat salah dan sudah bertobat, kesalahan masa lalunya selalu dilihat dan diingat. Menjadi orang yang diragukan dan selalu dilihat kesalahan-kesalahan pada masa lalunya memang sangat tidak enak. Karena keadaan ini bisa mengganggu semangat yang bersangkutan dalam berkarya. Jangankan kita, pertobatan Saulus juga pernah diragukan. Pada masa lalu, Saulus memang penganiaya jemaat Tuhan, banyak merusak rumah ibadah dan membunuh orang-orang yang percaya kepada Kristus. Akan tetapi setelah Saulus bertemu Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik untuk menangkap para pengikut Kristus, Saulus bertobat. Kemudian, ia memberitakan bahwa Yesus adalah anak Allah. Akibatnya, orang-orang yang pernah melihat dan mengenal latar belakang Saulus heran, setengah tidak percaya alias ragu akan perbuatannya. Bahkan orang-orang Yahudi juga merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. Akan tetapi, sekalipun Saulus diragukan pertobatannya dan hendak dibunuh, ia tetap bekerja memberitakan Injil. Hasilnya, jemaat bertumbuh. Jemaat di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Oleh pertolongan Roh Kudus jumlahnya terus bertambah. Apakah pertobatan kita diragukan dan mereka selalu melihat kekurangan-kekurangan atau kesalahan-kesalahan yang kita perbuat pada masa lalu? Kalaupun demikian, janganlah situasi tersebut membuat diri sendiri kehilangan semangat untuk terus bekerja. Tunjukkan perubahan kita dengan tetap bekerja sepenuh hati dalam situasi apapun, dan percayalah Roh Kudus akan menolong kita untuk meraih keberhasilan. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kuduskanlah pikiranku, sehingga aku tetap melihat dan berpikir hal yang baik dari setiap pribadi yang sudah bertobat. Jadikanlah mataku seperti mata-Mu, mata yang selalu melihat hal yang baik dalam diri setiap orang. Amin. (Dod).

    4 min
  8. Edisi Hari Jumat, 12 Juni 2026 - Tetap gigih, semangat untuk bangkit

    Jun 11

    Edisi Hari Jumat, 12 Juni 2026 - Tetap gigih, semangat untuk bangkit

    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 12 Juni 2026 Bacaan: "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana." (Amsal 24:16) Renungan: Kita mungkin sering mendengar kisah Thomas Alva Edison yang konon mengalami 1000 kegagalan sebelum akhirnya berhasil menciptakan bola lampu. Kita juga mendengar tentang JK Rowling yang naskah Harry Potter karangannya ditolak banyak penerbit sebelum akhirnya diterbitkan satu penerbit kecil dan sukses menjadikannya penulis terkaya dalam sejarah. Kita juga mendengar kisah Soichiro Honda yang berkali-kali gagal, terkena bencana alam, perang, dsb, sebelum akhirnya bisa mendirikan perusahaan otomotif Honda. Jika bertanya kepada para tokoh sukses, hampir selalu mereka mengalami lebih banyak kegagalan daripada keberhasilan. Di sinilah uniknya. Mereka bisa mengalami banyak kegagalan (dan berusaha lagi), tapi hanya dibutuhkan satu keberhasilan untuk mereka dapat sukses membuat perubahan besar. Kegagalan juga sering kali menjadi pengalaman penting yang menjadi titik balik orang meraih keberhasilannya. Sayang, lebih banyak orang yang begitu takut dan berusaha menghindari kegagalan. Banyak orang takut melakukan sesuatu yang berpotensi membuat mereka dikritik. Banyak orang tidak berani mencoba hal yang belum pernah dilakukan orang lain, sehingga ada kemungkinan untuk gagal. Dan salah satu cara yang sering dilakukan orang untuk menghindari hal-hal tersebut adalah dengan tak mau mencoba, tak mau berusaha, dan memilih diam. Banyak orang merasa mengalami satu kegagalan akan membuat mereka gagal selamanya. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Kegagalan bukanlah kata akhir. Amsal berkata, orang benar pun bisa jatuh atau gagal. Tak hanya sekali, tapi tujuh kali. Dalam budaya Yahudi, tujuh kali menunjukkan jumlah tak terhingga. Artinya, sekalipun kita sudah hidup benar, meski kita sudah melakukan yang terbaik, kegagalan masih bisa terjadi. Tapi, poin pentingnya adalah kita masih bisa bangkit kembali. Berapa kali Yusuf diperlakukan tak adil? Berapa banyak Daud hampir mati terbunuh? Jumlah masalah mereka jauh lebih banyak dari jumlah kemenangan mereka! Tapi, karena mereka tetap bangkit, maka kita kini mengenang mereka sebagai pribadi yang berkemenangan. Kita pun bisa mengalaminya! Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku semangat untuk bangkit lagi saat aku jatuh terpuruk karena suatu masalah. Jangan biarkan masalah membuat aku meragukan kuasa-Mu. Yesus, Engkaulah andalanku. Amin. (Dod).

    6 min

Ratings & Reviews

5
out of 5
2 Ratings

About

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com