Kencan Dengan Tuhan

Danang Kurniawan

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com

  1. 6h ago

    Edisi Hari Rabu, 7 Oktober 2026 - Mengembangkan Potensi Diri seturut kehendakNya

    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 7 Oktober 2026 Bacaan: Tetapi la berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan." (Markus 6:38) Renungan: Banyak orang gagal, karena tidak mampu menggali potensi yang ada di dalam dirinya maupun di luar dirinya. Louis Armstrong hidup sangat menderita dan serba kekurangan pada masa kecilnya. Sejak bayi, Louis sudah ditinggalkan oleh ayahnya. la baru bisa mengenyam pendidikan pada usia 12 tahun. Namun demikian, seorang guru musik Peter Davis menemukan potensi besar dalam diri Louis berupa kemampuan bermain terompet. Melihat potensi tersebut, Peter Davis mengasah bakatnya hingga Louis bisa sukses sebagai pemain terompet kelas dunia. Bacaan hari ini mengisahkan kesuksesan para murid Yesus dalam menjamu ribuan orang, yang dimulai dari potensi kecil dan situasi krisis. Dikatakan demikian, situasi pada saat itu ada lima ribu orang lebih yang mendengarkan khotbah Yesus, dan Yesus menyuruh para murid untuk memberi mereka makan, sementara di tempat tersebut tidak ada orang yang berjualan. Menanggapi perintah itu, murid-murid bertanya kepada-Nya, "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?" Kemudian Yesus berkata, "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Ternyata masih ada potensi lima roti dan dua ikan. Potensi yang ada itu dibawa kepada Yesus, lalu didoakan dan dipecah-pecahkan-Nya, kemudian diberikan kepada para murid untuk dibagikan kepada banyak orang itu (ay. 41). Akhirnya, semua orang bisa makan dan kenyang, bahkan masih ada sisa 12 bakul. Apakah saat ini kita sedang dalam kondisi krisis, atau sedang menghadapi masalah besar dan seolah kita tidak berdaya? Jangan putus asa! Cobalah kita periksa, cari dan temukan potensi yang ada dalam diri maupun di luar diri kita. Jika sudah menemukannya, bawalah kepada Tuhan Yesus dan kerjakan apa yang menjadi bagian kita. Tuhan Yesus pasti sanggup melipatgandakannya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kuserahkan keterbatasanku ke dalam tangan-Mu. Perbuatlah sekehendak-Mu atas diriku. Aku percaya jika aku berjalan bersama-Mu, maka hidupku akan menjadi berkat bagi banyak orang. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 7 Oktober 2026 - Mengembangkan Potensi Diri seturut kehendakNya
  2. 1d ago

    Edisi Hari Selasa, 6 Oktober 2026 - Iman yang teguh dan mengandalkan kekuatan Tuhan

    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 6 Oktober 2026 Bacaan: "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN yang menaruh harapannya pada Tuhan!" (Yeremia 17:7) Renungan: Seorang penebang pohon dari desa terpencil membeli gergaji mesin karena orang-orang berkata gergaji itu akan membuat pekerjaannya lebih cepat dan rapi. Tapi, beberapa hari kemudian ia kembali ke toko yang menjual gergaji itu dengan marah. "Gergaji apa ini! Pekerjaan saya malah tidak selesai-selesai dan hasilnya buruk!" Pemilik toko mengamati gergaji itu. Apakah rusak? Pikirnya. la menarik tuasnya dan gergaji itu menyala lancar. Penebang pohon itu tersentak. "Suara apa itu?" Rupanya, selama ini ia memakai gergaji mesin itu seperti gergaji manual, tanpa dinyalakan mesinnya! Banyak kita sama saja seperti penebang pohon di cerita tadi. Ini terjadi saat kita mencoba mengubah hidup kita dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Ini terjadi ketika kita menghadapi masalah dan berusaha mengatasinya dengan cara kita sendiri. Pada akhirnya kita hanya akan kelelahan dan hasilnya pun jauh dari apa yang kita harapkan. Padahal, ada cara yang jauh lebih baik yaitu dengan mengandalkan kekuatan Tuhan. Jika gergaji mesin dapat memotong kayu jauh lebih cepat dan rapi karena memakai teknologi mesin, maka mengandalkan kekuatan Tuhan juga akan membuat hidup kita berubah dengan lebih sempurna. Ketika Daud terjepit dan tak ada yang bisa menolongnya lagi, ia menguatkan kepercayaannya kepada Allah (1 Sam. 30:6). Ketika Simson sudah kehilangan kekuatan dan penglihatannya, bahkan menjadi bahan olok-olokan orang Filistin, ia berdoa minta kekuatan dari Tuhan dan di momen itulah ia berhasil menewaskan lebih banyak orang Filistin dibanding saat ia masih kuat (Hak. 16:28-30). Paulus pun memiliki apa yang ia sebut sebagai "duri dalam daging". Namun, ia justru bisa bermegah dalam kelemahannya itu, karena ia tahu kuasa Kristus turun atasnya. (2 Kor. 12:7-10). Contoh-contoh itu menunjukkan betapa bodohnya jika berpikir kita bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Kita hanya akan kelelahan, depresi, putus asa, dan tak puas. Andalkan dan berharaplah pada Tuhan, sebab dari Dialah berkat itu datang. Turuti petunjuk-Nya karena Dia saja yang tahu masa depan kita dan berkuasa atas hidup kita! Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, tambahkanlah imanku sehingga aku tetap mengandalkan Engkau dalam setiap permasalahan hidupku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 6 Oktober 2026 - Iman yang teguh dan mengandalkan kekuatan Tuhan
  3. 1d ago

    Edisi Hari Senin, 5 Oktober 2026 - Pasangan yang saling menghargai dan taat kepada Tuhan

    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 5 Oktober 2026 Bacaan: Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak." (Kejadian 21:12) Renungan: Suami takut istri adalah istilah populer dan tentu sering kita dengar di keseharian. Ini adalah istilah cemoohan terhadap suami. Para suami yang seharusnya menjadi kepala, yang mengambil keputusan untuk ditaati istri, justru takut pada istri-istri mereka. Akibatnya, istri mereka tampak lebih berkuasa. Relasi antara suami dan istri dalam sebuah pernikahan memang kadang bisa menjadi sesuatu yang rumit, khususnya dalam hal ini. Di Alkitab, kita bahkan sudah melihatnya sejak awal. Kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa berawal dari Hawa yang terbujuk rayuan ular untuk makan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Kenapa Adam tidak mengingatkan atau melarang istrinya? Di catatan Alkitab, Adam tidak berkata apa-apa, bahkan ikut makan buah itu meski amat mungkin ia ada di dekat Hawa. Demikian pula dengan Abraham dan Sara. Satu saat Sara meminta Abraham untuk menghampiri budaknya, Hagar agar memiliki anak darinya. Abraham menuruti ide Sara itu. Uniknya, saat Hagar mengandung dan memandang rendah Sara, Abraham dipersalahkan Sara (Kej. 16:5). Dua kasus di atas memang menunjukkan dampak negatif akibat suami membiarkan istri mengambil alih peran sebagai pengambil keputusan. Namun, di bacaan hari ini, kita juga membaca bagaimana Tuhan justru meminta Abraham mengikuti keinginan Sara yang kembali ingin mengusir Hagar (dan Ismael). Suami memang kepala keluarga tapi bukan berarti suami tidak usah menggubris apapun nasihat dan pendapat istrinya. Suami yang tak pernah mendengarkan istrinya tidak lebih baik dari suami takut istri yang selalu mengikuti apapun kata istrinya. Suami tak seharusnya takut pada istrinya sendiri karena di dalam kasih tak ada ketakutan. Tapi, jangan juga suami lalu tak peduli masukan istrinya. Suami harus menghormati istri, termasuk pendapatnya. Jika masukan istri memang benar dan selaras kehendak Tuhan, itu bukan hanya nasihat yang baik tapi harus kita ikuti. Bagi para suami, ingatlah hal ini. Bagi istri, ingat juga untuk tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. Pendapat suami tak selalu benar, maka bantulah dia dengan memberikan masukan dengan baik, bukan dengan cara memaksa dan menuntut suami melakukan kehendak istri. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, jadikanlah kami suami dan istri yang taat pada-Mu dan dapat saling menghargai satu dengan yang lain sehingga kami dapat menjadi teladan seperti keluarga kudus di Nazareth. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 5 Oktober 2026 - Pasangan yang saling menghargai dan taat kepada Tuhan
  4. 2d ago

    Edisi Hari Minggu, 4 Oktober 2026 - Bersandar pada hikmat Tuhan

    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 4 Oktober 2026 Bacaan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." (Amsal 3:5) Renungan: Di dalam sebuah buku yang berjudul "Mengatasi Persoalan Hidup", hadirnya masalah bukanlah satu-satunya penyebab depresi. Ada satu lagi aspek penting, yaitu persepsi atas masalah atau peristiwa itu. Kadang, persepsi itu lebih berpengaruh daripada peristiwanya sendiri. Seorang gadis tertarik pada seorang pemuda. Namun, tiap kali gadis itu mengirim chat, pemuda itu selalu lama membalas. la merasa pemuda itu kurang tertarik padanya. la berpikir itu pasti karena ia tidak cantik, tidak pintar, aneh, dsb. la lalu menjadi minder, tertekan, menutup diri dan takut menjalin hubungan dengan pria. Peristiwanya hanya chat yang lama dibalas, tapi persepsi gadis itulah yang membuatnya depresi. Dalam bahasa Inggris, orang yang sedih, tertekan, atau depresi disebut "feeling blue." Bukan karena tubuh mereka jadi berwarna biru, tapi mereka kini seolah melihat dunia dalam lensa biru (yang adalah simbol kehampaan dan kesendirian). Apa yang mereka lihat mungkin sama dengan orang lain, tapi persepsi mereka beda. Ini bukan meremehkan depresi atau menganggap mereka hanya membesar-besarkan masalah. Bukan juga berkata obat depresi cukup dengan berpikir positif. Depresi adalah hal serius yang sering kali muncul karena memang ada masalah yang serius. Namun, ketika kita mulai merasa tertekan, merasa hidup makin jauh dari kata indah, merasa diri begitu buruk dan orang lain begitu jahat, serta tak ada yang bisa diharapkan dalam hidup ini, coba periksa dulu persepsi kita. Yunus merasa dirinya orang baik yang diperlakukan tak adil, padahal ia sedang melawan Tuhan. Elia putus asa dan merasa sendiri, padahal ia baru mengalami kemenangan bersama Tuhan dan masih banyak orang mendukungnya. Bagaimana mereka bisa punya persepsi seperti itu? Ini terjadi saat mereka mulai mengandalkan pemikirannya sendiri. Karena itu, marilah kita senantiasa menyamakan persepsi kita dengan Tuhan. Lihat dari cara pandang-Nya. Cari tahu apa kehendak-Nya melalui segala peristiwa ini. Akuilah bahwa persepsi kita tidak selalu benar dan karenanya kita perlu belajar melihat dari persepsi lain. Dan karena tak ada persepsi yang lebih benar dari persepsi Tuhan, biarlah kita selalu mengecek dan membandingkan cara pandang kita dengan cara pandang-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kuduskanlah pikiranku agar apa yang kupikirkan sesuai dengan pikiran-Mu sendiri, sehingga hatiku tetap tenang. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 4 Oktober 2026 - Bersandar pada hikmat Tuhan
  5. 3d ago

    Edisi Hari Sabtu, 3 Oktober 2026 - Sadar akan tugas sebagai terang dan garam dunia

    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 3 Oktober 2026 Bacaan: "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang." (Matius 5:13) Renungan: Di film-film, sering kali digambarkan seseorang mengalami amnesia hingga ia tidak ingat akan masa lalunya bahkan identitasnya. Namun menurut ilmu medis, gambaran di film ini tidak selalu akurat. Orang bisa mengalami amnesia lalu tak ingat siapa dirinya atau kejadian yang menimpanya, tapi ingat keahlian yang ia kuasai. Seorang pengikut Yesus juga bisa mengalami amnesia rohani. Mereka bisa lupa identitas mereka, yaitu bahwa mereka adalah terang dan garam dunia. Ya, garam dan terang dunia adalah sebuah identitas, bukan tugas, Itulah sebabnya Yesus tidak berkata "kamu harus menjadi garam dunia/terang dunia" tapi la berkata "kamu adalah garam dunia (ay. 13) dan "kamu adalah terang dunia" (ay. 14). la tidak sedang memberikan perintah, tapi la mengingatkan siapa kita sebenarnya. Nah, kenapa seorang pengikut Yesus bisa lupa akan identitasnya? Penyebabnya bukan benturan atau kecelakaan, tapi sering kali karena mereka terlalu sibuk dengan diri/urusannya sendiri. Penyebab lain adalah karena mereka merasa sudah nyaman dengan kondisinya sekarang. Maka, mereka pun enggan menjalankan fungsinya. Garam baru akan berfungsi ketika ia ditaburkan di masakan yang hambar. Terang berfungsi ketika ia mendatangi kegelapan. Seorang pengikut Yesus pun baru akan bisa menerangi dan menggarami ketika mereka mau keluar dari kebiasaan dan kenyamanannya, untuk datang kepada mereka yang hidupnya masih hambar atau dalam kegelapan. Nah, seperti apakah kita? Apakah kita selalu ingat dengan jati diri kita ini? Atau kita justru sering lupa sehingga cara hidup kita sehari-hari tidak ada bedanya dengan orang dunia. Atau mungkinkah kita dengan sengaja tidak mau hidup sebagai garam dan terang ini? Kita diam saat terjadi penyimpangan di lingkungan kita, atau saat melihat orang lain mengalami kehampaan di dalam hidupnya. Kita kompromi dengan dosa karena takut dimusuhi. Jika itu yang terjadi, perhatikan peringatan Yesus ini. Garam yang tak asin akan dibuang, terang yang ditutupi adalah sia-sia. Jangan sampai hidup kita didapati Tuhan tawar dan sia-sia. Garami dan terangi sekitar kita! Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, sadarkanlah aku bahwa sebagai anak-Mu hidupku harus menjadi terang dan garam bagi orang -orang di sekitarku. Mampukan aku Tuhan sehingga melalui kehadiranku banyak orang kubawa untuk semakin mengenal-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 3 Oktober 2026 - Sadar akan tugas sebagai terang dan garam dunia
  6. 4d ago

    Edisi Hari Jumat, 2 Oktober 2026 - Orang tua yang selalu hadir untuk anak

    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 2 Oktober 2026 Bacaan: "Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:7) Renungan: Jika ada satu profesi yang paling jarang mendapat komentar miring, saya rasa pemadam kebakaran adalah salah satunya. Berbeda dengan polisi yang berpatroli atau dokter yang tak pernah kehabisan pasien, pemadam kebakaran memang hanya muncul saat terjadi kebakaran. Kebakaran tentu bukan peristiwa yang sering terjadi. Namun jika terjadi, dampaknya amat menghancurkan dan menakutkan. Tak heran, pemadam kebakaran benar-benar tampak seperti pahlawan. Apalagi belakangan petugas pemadam tak lagi khusus menangani kebakaran. Dari membersihkan sarang lebah, menangkap ular, sampai urusan tangan terjepit, banyak orang kini meminta tolong petugas pemadam yang dengan senang hati menolong. Pemadam kebakaran memang profesi mulia dan banyak menolong. Tapi, keberadaannya tidak selalu kita rasakan. Hanya ketika kita butuh bantuan, baru mereka datang. Dalam hal menjadi orang tua, kita tidak boleh bersikap seperti pemadam kebakaran. Kita hanya muncul di kehidupan anak saat mereka butuh bantuan atau dalam masalah. Atau malah sebaliknya, kita hanya muncul ketika anak meraih prestasi saja. Saat masalah terjadi, kita berikan teguran dan hukuman. Dan saat prestasi diraih, kita berikan hadiah kepada anak. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa membangun sebuah kedekatan dan relasi yang hangat serta saling percaya, jika interaksi kita hanya terjadi di dua jenis peristiwa saja? Anak membutuhkan orang tuanya bukan hanya saat mereka mengalami masalah. Maka, jangan setelah anak terlibat kasus, baru kita panik, marah, atau ingin memahami anak. Setelah anak jatuh sakit, baru kita memberi perhatian. Nyatanya, kadang itu sudah cukup terlambat. Bacaan hari ini memang biasanya ditujukan untuk mengingatkan pentingnya mengajarkan firman Tuhan kepada anak. Tapi, perhatikan juga kapan itu dilakukan; saat duduk, dalam perjalanan, berbaring atau bangun. Bisa dilihat, Alkitab mengajar bahwa mendidik dan membimbing anak itu harus dilakukan di segala situasi. Ya, jangan jadi orang tua tipe pemadam kebakaran. Jadilah orang tua yang selalu hadir, yang selalu membuka diri untuk anak, dan memberikan teladan serta pengajaran yang benar. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, penuhilah kami sebagai orang tua kuasa penuh untuk mendidik anak-anak kami, agar kelak mereka dapat bertumbuh menjadi pribadi yang membanggakan Engkau. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Jumat, 2 Oktober 2026 - Orang tua yang selalu hadir untuk anak
  7. 5d ago

    Edisi Hari Kamis, 1 Oktober 2026 - Tetap tenang dan rasakan kehadiranNya

    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 1 Oktober 2026 Bacaan: "Sikap yang tenang memanjangkan umur; iri hati memendekkannya." (Amsal 14:30) Renungan: Kesehatan tubuh kita memang sangat berkaitan dengan suasana hati kita. Ini bukan karena faktor makanan atau gaya hidup yang tidak sehat saja, melainkan lebih dari itu, yaitu tidak menjaga hati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres dan kondisi emosional yang tidak seimbang dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik seseorang. Hal ini disebabkan oleh adanya hubungan yang kompleks antara pikiran, emosi, dan tubuh manusia. Ketika seseorang mengalami stres atau ketidakseimbangan emosional, sistem kekebalan tubuhnya dapat terpengaruh, meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit. Hati yang tenang merupakan kondisi ketika ia tenang, damai, dan tenteram. Amsal 4:23 menyatakan "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan". Hati yang tenang dapat diartikan sebagai hati yang kudus, bebas dari dosa seperti kepahitan, dendam, iri hati, kesombongan. Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga hati karena hati yang bersih membawa ketenangan. Orang benar merasakan damai sejahtera, ketenangan, dan ketenteraman abadi karena "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yes. 32:17). Karena itu, menjaga hati agar tetap bersih dan penuh dengan kebenaran adalah kunci untuk mencapai ketenangan batin. Mari kita berusaha hidup benar sehingga hidup kita menjadi tenang dan tentram. Biarlah kita selalu menjaga hati kita agar tetap tenang dan serahkanlah segala kekhawatiran kita kepada Tuhan karena Tuhan yang lebih mengetahui segala isi hati kita. Sementara itu, kita juga berjalan di dalam kebenaran firman-Nya. Itulah yang akan menyegarkan tubuh, jiwa, dan hati kita. Hanya dekat Tuhan saja hati kita akan tenang karena hati yang tenang akan memperoleh kesegaran jiwa dan raga. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah ketenangan dalam hatiku, agar aku dapat merasakan kehadiran-Mu yang dapat memberiku kekuatan baru. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 1 Oktober 2026 - Tetap tenang dan rasakan kehadiranNya
  8. Sep 29

    Edisi Hari Rabu, 30 September 2026 - Selalu hidup dalam Firman Tuhan

    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 30 September 2026 Bacaan: "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu." (Mazmur 119:9) Renungan: Seorang pelayan Tuhan bercerita tentang kejatuhannya dengan seorang wanita dan kemudian menyadari kesalahannya dan memohonkan pengampunan Tuhan. Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu, dan sampai saat ini, rumah tangganya masih terpecah karena sang istri tidak dapat mengampuninya. Lalu temannya bertanya, "Berapa lama Anda telah menjalin hubungan dengan wanita tersebut?" Ia menjawab, "Empat bulan." Temannya terperanjat dengan situasi ini, dan sebuah pemahaman ilahi tebersit dalam hati tentang konsekuensi dosa di mana dosa yang hanya berusia empat bulan memberikan dampak yang menghancurkan dalam bilangan tahun. Kenikmatan dosa yang sementara memberikan kesusahan hidup yang panjang. Mzm 107:17 berkata, "Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka." Hal ini tentunya membuka cakrawala pikiran kita bahwa terlalu mahal harga yang harus kita bayar untuk sebuah dosa. Terlalu berisiko tinggi untuk setiap kenikmatan dosa yang kita jalani. Sebagai contoh, manusia lebih memilih hidup dalam kenikmatan dosa dalam jumlah bilangan 70-80 tahun masa hidup manusia, namun tidak menyadari bahwa akibat dari dosa yang akan membawanya pada kematian yang tidak lagi dapat diukur dengan jumlah bilangan tahun. Dosa yang membawa kepada kematian kekal. Dengan demikian, apa pun bentuk dosa yang ada tidak akan pernah seimbang dengan akibat yang akan kita terima. Jika demikian, mengapa kita masih bermain-main dengan dosa? Di sinilah kita belajar nilai konsekuensi sebuah dosa yang mendamparkan kita pada sebuah harga yang mahal, yang seharusnya tidak perlu kita bayar. Daud pun pernah mengalami hal yang sama. Ia mengalami duka kematian anaknya dari hasil perzinaannya dengan Batsyeba. Adam dan Hawa terusir dari kenyamanan dan keindahan Taman Eden hanya karena satu gigitan buah yang dilarang Tuhan. Besar maupun kecil dosa tetaplah dosa yang akan memberikan konsekuensi yang harus dibayar. Ingatlah kalimat bijak yang sering kita dengar, "Manisnya dosa akan berakhir dengan kepahitan." Hal ini membuat kita mengerti bahwa kita mudah jatuh ke dalam sebuah pesona dosa sehingga kita melalaikan konsekuensinya. Mari kita tertanam dalam kebenaran ini agar kita menjaga setiap langkah kehidupan kita, dan hidup dalam terang firman Tuhan, agar kita tidak mudah tertipu dalam berbagai bentuk pesona dosa. Daud berkata, "Dalam hatiku aku menyimpan janji Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau." Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, aku ingin selalu hidup dalam firman-Mu sehingga aku tidak mudah tergoda oleh pesona dosa yang akan menjatuhkanku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 30 September 2026 - Selalu hidup dalam Firman Tuhan

Ratings & Reviews

5
out of 5
2 Ratings

About

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com