Kencan Dengan Tuhan

Danang Kurniawan

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com

  1. 19h ago

    Edisi Hari Kamis, 10 September 2026 - Hati yang berlimpah rasa syukur

    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 10 September 2026 Bacaan: "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." (Matius 6:11) Renungan: Salah satu faktor yang menjadi penyebab ketidak-bahagiaan seseorang adalah perasaan tidak puas atau tidak cukup. Setiap orang tentu menginginkan agar segala kebutuhannya tercukupi. Namun apakah dengan tercukupinya segala kebutuhan secara otomatis akan membuat seseorang merasa puas lalu menemukan kebahagiaan? Pengkhotbah mengatakan, "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia." (Pkh 5:9). Ketika seseorang mendapatkan gaji 2 juta rupiah/bulan, ia berpikir bahwa hidupnya akan lebih dari cukup dan bahagia bila gajinya 5 juta rupiah/bulan. Namun ketika ia mendapatkan gaji 5 juta rupiah/bulan, ia merasakan bahwa masih banyak hal yang tidak bisa dipenuhi dengan gajinya tersebut. Sering kali kita menganggap bahwa ada hubungan yang erat antara kepuasan dengan jumlah uang atau kekayaan yang dimiliki. Kita mengira jika orang mempunyai uang dalam jumlah besar ia akan merasa puas dan bahagia. Tetapi pengkhotbah mengatakan, orang yang mencintai uang dan kekayaan sampai kapan pun tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Karenanya yang harus menjadi pertanyaan besar bagi kita adalah, benarkah kebutuhan yang saat ini sedang kita cukupi, ataukah keinginan kita? Ketidakpuasan adalah salah satu sifat manusia, dan Tuhan tahu persis hal ini. Karenanya Ia mengajarkan kepada kita untuk berdoa demikian, "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." Ini tidak hanya mengingatkan kita pada kata cukup tetapi juga agar menggantungkan hidup sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan. Tuhan menginginkan agar kita hidup secukupnya, sewajarnya, tidak berlimpah-limpah menuruti ketamakan diri. Hal ini dimaksudkan bukan hanya agar kita mengucap syukur dengan apa yang ada, tetapi agar kita juga mengingat orang lain, berbagi berkat dengan sesama kita yang membutuhkan (2 Kor 8:15). Setiap harinya Tuhan pun ingin agar kita menggantungkan hidup hanya kepada-Nya. Dengan begitu kita tidak perlu menjadi khawatir atau berbangga diri. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, ampunilah aku yang kurang bersyukur ini. Terima kasih untuk firman-Mu. Bantulah aku agar hatiku selalu melimpah dengan syukur. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 10 September 2026 - Hati yang berlimpah rasa syukur
  2. 1d ago

    Edisi Hari Rabu, 9 September 2026 - Bertekun dalam doa

    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 9 September 2026 Bacaan: "Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. " (1 Samuel 1:15) Renungan: Kita mengenal cerita tentang Hana yang memikul beban berat dan kepedihan hati karena ia tidak memiliki anak. Bahkan tahun demi tahun, setiap kali Hana pergi ke rumah Tuhan, Penina menyakiti hatinya supaya ia gusar karena Tuhan telah menutup kandungannya. Di tengah tekanan dan beban yang berat ini, Hana tidak tinggal diam menerima nasib sebagai perempuan mandul, namun ia terus berseru di hadapan Tuhan sampai situasi dan keadaannya berubah. la tidak tahu pada tahun ke berapa Tuhan akan menjawab doanya, namun tahun demi tahun, ia terus melangkahkan kakinya, sampai ia mencapai tahun di mana ia melangkahkan kakinya ke Bait Suci dengan membawa seorang anak kecil dalam pelukannya, yang kelak menjadi nabi dan pemimpin besar bangsanya, Nabi Samuel. Kita melihat bahwa semakin besar dan beratnya tekanan yang menimpanya, semakin keras dan bersungguh-sungguh ia mencurahkan isi hatinya di hadapan Tuhan. Semakin kuat tekanan yang menghimpitnya, semakin dalam ia tertancap dalam hadirat Tuhan. Demikianlah seharusnya kita mengerti sebuah kebenaran dasar iman kekristenan, "My prayer is my foundation." Artinya, jika badai hidup datang menerpa, kita tidak hanya sibuk meminta doa sana-sini dari para hamba Tuhan ataupun rekan seiman, namun kita sendiri harus tahu bagaimana membangun sebuah altar bagi Tuhan dari serpihan-serpihan hati yang hancur. Para hamba Tuhan dan rekan seiman hanya mampu menopang dalam doa, karena mereka sendiri adalah manusia yang terbatas. Seperti imam Eli yang hanya mampu berkata, "Allah akan memberikan kepadamu apa yang kau minta daripadaNya." Karena hanya Tuhanlah Pembela kehidupan kita. Berapa banyak orang percaya yang lebih mengandalkan kuasa doa orang lain daripada dirinya sendiri. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh meminta dukungan doa dari saudara seiman kita. Namun lebih dari itu, kita sendiri harus siap berada di garis depan medan peperangan, dan mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa untuk mencari wajah Tuhan, serta mengambil seluruh perlengkapan senjata Tuhan untuk memenangkan peperangan. Janji kemenangan telah la berikan kepada setiap orang percaya, namun tidak setiap orang percaya tahu dan mengerti bagaimana menjadi seorang pemenang. Dengan demikian, kita harus belajar dari Hana yang memfokuskan setiap beban dan sakit hatinya menjadi persoalan antara dia dengan Tuhan. Dia tidak terfokus pada pelakunya, Penina, namun hanya pada Tuhan. Inilah yang menjadi kunci kemenangan kita melewati setiap pergumulan yang ada. Kita tidak peduli kepada mereka yang membuat kita menangis, yang membuat kita sengsara, yang selalu mencibirkan bibirnya menghina kita, namun kita hanya peduli kepada Dia yang mampu mengubah setiap ratapan menjadi tarian. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, hanya kepada-Mu aku serahkan segala persoalan hidupku. Aku percaya suatu hari kelak Engkau akan menjawab doaku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 9 September 2026 - Bertekun dalam doa
  3. 2d ago

    Edisi Hari Selasa, 8 September 2026 - Jalani Hidup dengan Penuh Syukur

    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 8 September 2026 Bacaan: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28) Renungan: Suatu kali saya membaca pengalaman para pengemudi online ketika menghantar penumpang. Kisah pertama, "Pernah saya kesal banget sama seorang pelanggan yang minta berhenti di tukang martabak. Saat berhenti dia bilang cuma sebentar tetapi sampai lima belas menit menunggu, dia masih belum selesai. Ternyata dia beli martabaknya nggak satu, pantesan lama. Sepanjang jalan saya menggerutu. Hati saya panas karena rasa jengkel. Hati saya benar-benar sebal sama pelanggan ini. Pas sampai di rumahnya, dia menyodorkan sekotak martabak sambil berkata, 'Ini buat mas, maaf ya nunggu lama tadi. Saya sengaja beli lebih buat mas. Jleb, saya langsung merasa bersalah. Sudah terlanjur sebal dan kesal sama pelanggan, ternyata dia baik banget." Yang kedua adalah kisah ojol yang mengantar GoFood malam hari. "Pelanggan pesan seafood tiga bungkus. Dan itu hampir jam sembilan malam, sebenarnya saya malas, apalagi rumahnya jauh. Tetapi karena seharian belum dapat banyak pelanggan, akhirnya saya ambil juga. Pesan seafood nggak bisa sebentar. Agak lama masaknya. Beberapa kali yang pesan sudah telepon. Ketika sudah selesai dan saya antar ke rumahnya, pelanggan ke luar rumah. lalu dia ambil satu bungkus dari tiga bungkus yang dipesan serta memberikan dua bungkus buat saya, sambil berkata, 'Buat mas saja, anak-anak saya sudah tidur.' Ya ampun ini rezeki, tadi sore istri saya yang lagi hamil kirim WA katanya ngidam kepengen makan seafood." Pelajaran menarik apa yang kita dapatkan ketika membaca kisah di atas? Kita langsung teringat kepada nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di kota Roma, "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia." Mari kita jalani hidup ini dengan penuh ucapan syukur. Jangan mudah menggerutu dan mengeluh ketika menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan. Mulai miliki kepercayaan bahwa Tuhan pegang kendali atas semuanya dan Dia bekerja bagi kebaikan anak-anak-Nya, walau terkadang kita tidak mengerti jalan-jalan-Nya. Tetaplah bersyukur! Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan, aku mau menjalani hidupku dengan penuh ucapan syukur dan tetap dalam iman bahwa Engkau masih pegang kendali atas semuanya. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 8 September 2026 - Jalani Hidup dengan Penuh Syukur
  4. 3d ago

    Edisi Hari Senin, 7 September 2026 - Mengekang lidah, bijak dalam berucap

    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 7 September 2026 Bacaan: "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Renungan: Siapakah di antara kita yang tidak pernah tersakiti oleh perkataan seseorang? Demikian pula sebaliknya, siapakah di antara kita yang tidak pernah menyakiti hati seseorang dengan perkataan kita? Tidak ada! Suatu hari saya sangat terkejut dengan perkataan seorang teman yang sangat menusuk hati. Berhari-hari perkataannya yang tajam terngiang-ngiang di telinga. la bersikap biasa saja tanpa menyadari bahwa perkataannya telah melukai hati orang lain. Peristiwa ini adalah contoh sederhana yang seringkali terjadi di dalam kehidupan kita. Dengan demikian, berhati-hatilah dengan lidah kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa lidah adalah anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara besar, baik perkara yang membangun kehidupan seseorang, ataukah perkara menaburkan kepahitan dan luka hati. Dengan demikian, jadilah bijak dalam berkata-kata. Jauhilah perkataan-perkataan yang tajam di dalam kosa kata kita, dan belajarlah untuk berkomunikasi dengan baik dan benar sehingga kita tidak melihat perlunya mempergunakan perkataan-perkataan yang tajam dan menusuk hati untuk melampiaskan kemarahan ataupun kekesalan hati kita. Memang tidaklah mudah untuk mengekang lidah, namun bukan berarti kita tidak mampu untuk melakukannya. Yakobus memberikan contoh tentang tali kekang pada kuda yang harus diatur dan dipegang oleh si penunggang, sehingga ia dapat mengendalikan seluruh tubuhnya. Pertanyaannya, siapakah si penunggang kuda yang mengontrol lidah kita? Apakah diri kita, ataukah firman Tuhan? Jika kita belajar untuk membiarkan Tuhan menjadi pemegang tali kekang perkataan kita, maka kita akan memiliki kepekaan yang lebih tajam ketika perkataan kita menyakiti seseorang. Demikian pula, ketika kita disakiti, kita lebih mampu untuk mengontrol rasa sakit hati kita dengan bereaksi lebih cepat untuk melepaskan pengampunan. Jika saat ini kita berada dalam situasi yang tersakiti dengan perkataan orang lain, ingatlah bahwa kita pun memiliki catatan sejarah kehidupan menyakiti orang lain. Jadi ampunilah karena betapa ruginya diri kita ketika menyimpan kesalahan orang lain. Jika saat ini kita di pihak yang menyakiti karena kita tidak dapat mengontrol emosi kita, perhatikanlah, dan belajarlah dari tugas seorang customer service di mana mereka dituntut oleh perusahaan untuk tetap memakai kata-kata yang baik dan sopan, sekalipun mereka diperhadapkan pada customer yang menyebalkan dan marah-marah kepadanya. Mereka bisa melakukannya karena sudah terlatih. Mengapakah kita tidak melatih diri kita menjadi Customer Service Kerajaan Sorga? Akhirnya, hikmat kesadaran kita yang tinggi akan jabatan kita sebagai anak-anak Tuhan akan memberikan kita kekuatan supranatural untuk mengontrol perkataan lidah. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku kemampuan untuk mengekang lidahku, sehingga aku tidak ceroboh di dalam berkata-kata yang bisa menyakitkan hati orang lain. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 7 September 2026 - Mengekang lidah, bijak dalam berucap
  5. 4d ago

    Edisi Hari Minggu, 6 September 2026 - Siap untuk dipakai Tuhan

    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 6 September 2026 Bacaan: "Saudara-saudaraku, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan." (Roma 10:1) Renungan: Pada tahun 1965, selama acara reuni keluarga di Florida, seorang nenek membangunkan semua orang dirumahnya pada pukul 02.00 pagi. Dia memberikan perintah-perintah untuk mengambilkan botol-botol coca cola kosong, penyumbah-penyumbat botol, dan kertas, ia berkata, "Aku telah menerima sebuah pesan dari Allah, orang-orang harus mendengar firman-Nya." la menulis ayat-ayat pada kertas tersebut, sementara cucu-cucunya memasukkannya ke dalam botol dan menutup botol-botol tersebut. Kemudian semua penghuni rumah melemparkan lebih dari dua ratus botol ke dalam gelombang pantai di Cocoa Beach. Setelah peristiwa pagi itu, selama bertahun-tahun kemudian, banyak orang menghubungi dan berterima kasih kepadanya atas ayat-ayat Alkitab yang mereka temukan di dalam botol-botol itu. Nenek itu meninggal pada bulan November 1974 dan satu bulan berikutnya surat terakhir tiba: Yth. Nyonya Gause, Saya sedang menulis surat ini di bawah nyala lilin. Kami tidak lagi mendapatkan listrik di tanah pertanian. Suami saya meninggal pada musim gugur saat traktornya terbalik. la meninggalkan 11 anak yang masih kecil-kecil dan saya. Bank akan segera menyita harta kami. Hanya ada satu bongkah roti yang tersisa, tanah bersalju, dan Hari Natal hanya dua minggu lagi. Saya berdoa untuk meminta pengampunan sebelum berniat pergi untuk menenggelamkan diri saya sendiri. Sungai telah beku selama beberapa minggu, jadi saya kira tidak diperlukan waktu lama untuk saya mati. Saat saya memecahkan esnya, sebuah botol coca cola terapung ke atas. Saya membukanya, dan dengan air mata berlinang serta tangan gemetar, saya membaca tentang harapan. Pengkotbah 9:4 "Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan." Saya lalu pulang ke rumah, membaca Alkitab saya, dan bersyukur kepada Allah. Tolong doakan kami, tetapi keadaan kami akan membaik sekarang. Kiranya Allah memberkati Anda dan keluarga Anda. -Sebuah tanah pertanian di Ohio Cara Tuhan untuk menyelamatkan anak-anak-Nya memang selalu luar biasa. Yang Dia inginkan hanyalah orang-orang yang mau dipakai-Nya dan mentaati perintah-Nya. Sebuah botol coca cola dari Cocoa Beach Florida dapat sampai ke sebuah sungai di Ohio sembilan tahun kemudian, pada waktu dan tempat yang tepat, sehingga dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Hal ini diikarenakan ada seorang nenek yang mau mentaati perintah Tuhan. Jadi mari mentaati perintah-Nya dan menjadi alat-Nya untuk menyelamatkan banyak jiwa bagi Kerajaan Allah. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, pakailah seluruh keberadaan diriku sebagai alat-Mu, sehingga melalui kehadiranku banyak jiwa kupersembahkan pada-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 6 September 2026 - Siap untuk dipakai Tuhan
  6. 5d ago

    Edisi Hari Sabtu, 5 September 2026 - Menerima kekurangan orang lain

    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 5 September 2026 Bacaan: "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu." (Yesaya 43:4) Renungan: Seorang penulis bernama Marry Ann Bird mengisahkan tentang masa kecilnya. Dia menulis, "Saya bertumbuh dengan keadaan sadar betul bahwa saya berbeda, dan saya membencinya. Saya lahir dengan keadaan langit-langit mulut tidak sempurna, dan ketika saya mulai sekolah, teman sekolah saya membuat saya sadar betul bagaimana mereka melihat saya: seorang gadis kecil dengan cacat di bibirnya, hidung yang bengkok, gigi miring, dan cara bicara yang aneh. Ketika teman sekelas saya bertanya, 'Apa yang terjadi dengan bibirmu?" Saya akan mengatakan kepada mereka bahwa saya jatuh dan sepotong kaca membuat bibir saya seperti ini. Bagaimanapun lebih mudah diterima cerita mengalami kecelakaan daripada saya dilahirkan dalam keadaan yang berbeda. Saya begitu yakin bahwa tidak ada yang bisa mengasihi saya selain keluarga saya. Hingga suatu saat, ada seorang guru di kelas dua yang begitu kami kagumi namanya Ibu Leonard. Dia pendek, bulat namun periang. Ia seorang wanita yang mempesona. Secara rutin, sekolah kami melakukan tes pendengaran. Bu Leonard memberikan tes pendengaran kepada setiap anak di kelas, dan akhirnya tiba giliran saya. Saya tahu bagaimana tes pendengaran dilakukan karena sudah pernah mengalaminya di kelas satu. Kami berdiri menghadap pintu dan menutup satu telinga, dan guru duduk dimejanya lalu membisikkan sesuatu dimana kami harus mengulanginya kembali seperti "langit berwarna biru" atau "Apakah Anda memiliki sepatu baru?" Saya menunggu kalimat apa yang Tuhan taruh di mulutnya. Kemudian dia mengucapkan tujuh kata yang mengubah hidup saya, "Saya harap kamu adalah gadis kecil saya." Seperti Mary Ann Bird, setiap orang dilahirkan dengan sebuah kekurangan. Namun mari kita belajar seperti Ibu guru Leonard, yaitu tidak melihat kekurangan dari hidup orang lain namun menyatakan kasihnya yang tulus kepada setiap orang melalui kata-kata dan tindakannya, sehingga melalui dirinya kehidupan seorang gadis cilik diubahkan. Jadi, keluarkanlah kata-kata yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik. Gunakan kata-kata kita untuk menghargai dan memberi semangat kepada setiap orang. karena setiap orang adalah berharga dan mulia di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk bisa menerima kekurangan orang lain sebagaimana Engkau mau menerima aku apa adanya dengan semua kekuranganku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 5 September 2026 - Menerima kekurangan orang lain
  7. 6d ago

    Edisi Hari Jumat, 4 September 2026 - Hidup berguna bagi sesama

    Kencan Dengan Tuhan -Jumat, 4 September 2026 Bacaan: "Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkau pun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya." (Ulangan 26:17) Renungan: Ada seekor burung elang berulang kali hinggap di dahan pohon yang sama karena tertarik mengamati kegiatan segerombolan tawon yang sibuk bekerja bersama membuat sarang yang berjuntai di sebuah dahan. Tampak seekor tawon sebentar terbang hinggap di antara bunga-bunga hutan yang mekar, mengisap sari madu, dan terbang kembali ke dahan memberikan sari madu ke sarangnya, dan begitu seterusnya. Burung elang dengan tidak sabar menegur seekor tawon yang sedang terbang di dekatnya, "Hai tawon kecil, kamu sibuk terbang dari satu bunga ke tempat sarangmu, memangnya apa yang sedang kamu kerjakan?" Tawon menjawab, "Aku dan kawan-kawan sedang membuat sarang." Elang berkata lagi, "Untuk apa kalian repot membuat sarang sebesar itu? Umur tawon kan sangat pendek. Sudahlah..., tidak perlu susah-susah bekerja! Santai-santai saja dan nikmati kehidupanmu yang singkat itu." Demikian burung elang menasihati si tawon. Tawon berkata, "Umurku memang tidak sepanjang umurmu burung elang. Tapi justru karena pendeknya waktu yang aku punya, aku tidak boleh menyia-nyiakan nya. Itulah arti keberadaan kami." Mendengar ucapan tawon kecil, si burung elang terdiam. la tidak mampu berkata-kata lagi dan bersombong diri. Seberapa pun panjang dan pendeknya sebuah kehidupan, itu adalah misteri alam Yang Maha Kuasa. Sebagai manusia, kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir. Tetapi jika di setiap penggal waktu yang kita punya, kita punya kesetiaan untuk melakukan yang terbaik serta mampu bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri juga bermanfaat bagi orang lain, maka tiap hari yang kita jalani adalah hari yang penuh gairah, gembira, optimis, produktif, dan dinamis! Jadi, jangan sekadar hidup, tapi buatlah kehidupan. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, aku bersyukur atas rahmat kehidupanku. Bantulah aku agar hidupku yang singkat ini berguna bagi sesamaku, sehingga melalui kehadiranku nama-Mu semakin dimuliakan. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Jumat, 4 September 2026 - Hidup berguna bagi sesama
  8. Sep 2

    Edisi Hari Kamis, 3 September 2026 - Bangkit dari kegagalan

    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 3 September 2026 Bacaan: "TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk. " (Mazmur 145:14) Renungan: George Frederick Handel adalah seorang komponis, walaupun namanya tidak setenar Beethoven atau Mozart. Namun kita semua pasti mengenal lagu "Halleluyah", atau lebih tepatnya opera "The Messiah". Lagu itu adalah masterpiece Handel. Seorang penulis biografi Handel menulis, "Karya tersebut akan tetap menjadi karya terbesar dalam sejarah penggubahan lagu/musik, bahkan mungkin untuk selamanya." Handel sebenarnya sudah mulai terkenal sejak usia 8 tahun. Sejak usia itu ia sudah mahir bermain organ dan pernah tampil di depan Pangeran Frederick III dari Berlin. Namun nama besar bukanlah jaminan. Karena situasi, Handel kehabisan uang, nyaris bangkrut dan penonton tidak lagi antusias menonton konsernya. la pun terkena stroke hingga tangan kanannya lumpuh. Meski akhirnya bisa disembuhkan, Handel memutuskan untuk pensiun dari dunia musik yang telah membesarkan namanya. Empat bulan setelah konser perpisahannya, seorang bernama Charles Jennings memberikan sebuah buku berdasarkan kehidupan Yesus kepada Handel. Tak disangka, buku itu mengubah hidup Handel, ia pun menulis karya-karyanya lagi. Kreatifitasnya kini mengalir terus menerus selama 21 hari tanpa henti dan ia berhasil merampungkan Messiah setebal 260 halaman, dengan bobot karya yang tak tertandingi. Kita tahu bahwa Handel pernah mengalami kegagalan, namun itu bukan penghambat untuk bangkit kembali dan meraih kesuksesan. Hal ini seperti yang dikatakan di Alkitab oleh Nabi Yoel, "Tempalah mata bajakmu menjadi pedang dan pisau-pisau pemangkasmu menjadi tombak; baiklah orang yang tidak berdaya berkata: "Aku ini pahlawan!" (Yoel 3:10) Gagal bukanlah aib, namun yang paling penting adalah bagaimana kita bisa bangkit lagi, berani memulai lagi dan siap menanggung risiko. Bukan mustahil saat ada dalam kegagalan, lalu kita bangkit kembali, maka kebangkitan kita ini akan menghasilkan karya masterpiece! Bagaimanapun "Terpuruk tidaklah buruk, berani bangkit akan melejit". Sebagaimana sebuah ungkapan yang berkata: " Orang bijaksana tidak pernah duduk meratapi kegagalannya, namun dengan gembira hati mencari jalan keluar bagaimana memulihkan kembali kerugian yang dideritanya." Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, saat aku mengalami kegagalan, yakinkan aku ketika aku mengandalkan Engkau maka aku dapat bangkit lagi untuk meraih kesuksesanku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 3 September 2026 - Bangkit dari kegagalan

Ratings & Reviews

5
out of 5
2 Ratings

About

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com