Kencan Dengan Tuhan

Danang Kurniawan

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com

  1. 19h ago

    Edisi Hari Minggu, 1 November 2026 - Tetap bertekun dalam pengharapan, Tuhan selalu menggenapi janjiNya

    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 1 November 2026 Bacaan: "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19) Renungan: Jeremiah Heaton berjanji kepada putrinya untuk menjadikannya seorang putri kerajaan yang sesungguhnya. Heaton menghabiskan waktunya selama enam bulan untuk melakukan pencarian di internet tentang tempat yang belum pernah didiami oleh siapa pun. la menemukan Bir Tawil seluas 800 hektar di pegunungan antara kekuasaan Sudan dan Mesir, dan memulai misinya. Akhirnya, ia melakukan penerbangan dari Virginia, USA, menuju ke Mesir. Melalui perjalanan yang melelahkan, ia berhasil mencapai daerah pegunungan tersebut setelah melewati padang gurun selama 14 jam. la menancapkan benderanya dan menamakan wilayah kekuasaannya "The Kingdom of North Sudan", serta menjadikan Emily, putrinya, sebagai putri kerajaan. Kegigihan Heaton di dalam mewujudkan janjinya kepada putrinya membuat kita lebih mudah mengerti tentang hati Bapa di dalam menggenapi semua janji-Nya kepada kita. Jika bapa secara jasmani memiliki kerinduan yang sedemikian, terlebih lagi kerinduan hati Bapa di Sorga. Ia tidak pernah lalai di dalam menggenapi janji-Nya, namun sebaliknya kitalah yang sering kedapatan tidak mampu memercayai kesungguhan hati-Nya. Seperti yang terjadi di dalam kehidupan bangsa Israel yang sering kali mengeluh tentang situasi yang mereka hadapi dan mempertanyakan janji-janji Tuhan. Bukankah kita pun sering kali mempertanyakan janji-janji Tuhan ketika kita mulai putus asa di dalam menghadapi situasi hidup dan doa-doa yang belum terjawab? Bilangan 23:19 berkata, "Allah bukanlah manusia, sehingga la berdusta... Masakan la berfirman... dan tidak menepatinya?" Hal yang pertama adalah memfokuskan diri kepada Tuhan sebagai Pemberi janji. Ketika Musa diutus Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, maka ia bertanya bagaimana ia dapat meyakinkan bangsa Israel tentang janji pelepasan tersebut. Tuhan berkata, "AKU ADALAH AKU. "Manusia bisa gagal dan berdusta, namun tidak demikian halnya dengan Tuhan, sebab perkataan Tuhan adalah wujud integritas diri-Nya. Tuhan sendirilah yang menjadi jaminan bagi penggenapan segala janji-Nya. Hal yang kedua adalah memfokuskan diri sebagai penerima janji dengan mengubah keraguan yang ada menjadi keyakinan. Inilah yang menjadi kendala terbesar bagi kita di dalam menikmati pemenuhan janji-Nya. Tanpa kita sadari keraguan membuat Tuhan terlihat seperti pendusta. Seringkali kita gagal di dalam memercayai Tuhan ketika menghadapi benturan awal. Namun Tuhan berkata kepada Musa, "Sekarang engkau akan melihat apa yang akan Kulakukan kepada Firaun... sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi." Dengan kata lain, jangan biarkan benturan awal melemahkan keyakinan kita, melainkan berjalanlah terus melewati benturan-benturan selanjutnya sampai kita melihat kekuatan tangan Tuhan mengantar kita kepada pemenuhan janji-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kepadaMu kutaruh pengharapan untuk masa depanku. Aku yakin Engkau setia kepada janji-janji yang Engkau ucapkan. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 1 November 2026 - Tetap bertekun dalam pengharapan, Tuhan selalu menggenapi janjiNya
  2. 1d ago

    Edisi Hari Sabtu, 31 Oktober 2026 - Fokus kepada Tuhan

    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 31 Oktober 2026 Bacaan: "Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." (Matius 15:32) Renungan: Firman Tuhan menceritakan bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan saat la melihat orang banyak itu. Untuk itu Yesus berinisiatif untuk memberi mereka makan, sehingga mereka tidak kelaparan! Kita dapat melihat di kisah ini, ternyata Yesus sangat acuh dengan keadaan orang-orang yang mengikuti-Nya. Yesus tahu persis kebutuhan utama orang-orang yang dengan setia mengikuti-Nya! Seandainya saja empat ribu orang lebih itu ada yang tidak setia, sehingga mereka meninggalkan Yesus sebelum hari ketiga, maka sangat mungkin mereka tidak melihat, merasakan, dan menikmati mujizat yang Yesus lakukan, yakni bagaimana Yesus memberi mereka makan hanya bermodalkan tujuh roti dan beberapa ikan! Jika kita setia mengikut Yesus seumur hidup kita, tentu kita akan melihat mujizat demi mujizat yang Yesus lakukan untuk kita. Namun ada hal yang harus diperhatikan dalam hal ini, jangan menganggap mujizat Yesus hanya sebatas harta benda! Banyak mujizat yang Yesus lakukan untuk kita, bahkan jauh lebih bernilai dari harta benda yang kita miliki, misalkan nafas kehidupan, kesehatan jasmani, kekuatan dalam beraktivitas sehari-hari, dll. Jadi, mujizat yang Yesus lakukan untuk kita tidak hanya sebatas uang, uang, dan uang! Bahkan sebenarnya ketika kita masih bisa beribadah dengan aman dan nyaman, itu juga merupakan mujizat yang luar biasa dari Tuhan. Memang terkadang dalam mengikut Yesus suka ada keraguan, terlebih lagi saat masalah kehidupan datang silih berganti. Jika iman kita sedang down, alangkah baiknya kita melihat kembali ke belakang, lalu hitung kembali berkat Tuhan. Bila kita masih hidup dengan kebutuhan yang tercukupi sampai saat ini, berarti kehidupan kita tidak pernah terlewatkan dari mujizat! Hal ini akan membuat kita fokus kepada Sang Pembuat Mujizat itu sendiri, yakni Tuhan Yesus Kristus. Mujizat selalu berkelanjutan di dalam kehidupan orang percaya. Bukan hanya Dia tidak akan membiarkan pengikut-Nya yang setia kelaparan, tetapi juga tidak akan membiarkan mereka terkapar ketika menghadapi masalah. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk lebih fokus kepada-Mu dan bukan fokus kepada masalah, karena aku tahu Engkau sanggup membuat mujizat bagiku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 31 Oktober 2026 - Fokus kepada Tuhan
  3. 3d ago

    Edisi Hari Jumat, 30 Oktober 2026 - Memberi perhatian untuk Tuhan

    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 30 Oktober 2026 Bacaan: "Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair." (Mazmur 63:2) Renungan: Seorang ayah pernah mengalami tekanan karena banyaknya urusan, janji, dan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Hal ini sangat memengaruhi cara bersikap terhadap anggota keluarganya. Ia membentak istri dan anak-anaknya, dan tidak jarang ia tersedak ketika sedang minum ataupun makan. Ia juga merasa jengkel jika ada orang yang mengganggu kesibukannya, walaupun orang tersebut hanya sekadar mengajaknya bicara. Lambat-laun sikapnya itu membuat anggota keluarganya takut. Mereka merasakan ketegangan jika berhadapan dengannya. Ia berkata, "Aku masih ingat malam itu, selesai makan anak bungsuku berkata bahwa ia mau menceritakan padaku sebuah kejadian penting yang dialaminya di sekolah hari itu. Ia berjanji akan menceritakan itu secara cepat agar tidak menggangguku. Menyadari sikapku yang membuat seisi rumah menjadi takut, aku kemudian berkata, 'Sayang, kau tidak perlu menceritakannya secara cepat. Ayah punya waktu untukmu, ceritakan saja perlahan-lahan.' Lalu anak bungsuku itu berkata, "Tapi Ayah juga harus mendengarkannya baik-baik, jangan terburu-buru." Baik atau tidaknya sikap yang kita tunjukkan terhadap seseorang atau sesuatu, ditentukan oleh seberapa besar perhatian yang kita berikan terhadap orang atau sesuatu tersebut. Jika perhatian yang kita berikan untuk pekerjaan lebih besar daripada suami, istri, atau anak-anak, maka kita akan merasa kesal ketika mereka meminta waktu kita. Atau, kita akan memberikan waktu dan perhatian kepada mereka, tetapi hanya dengan setengah hati. Hal yang sama juga berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Berapa sering kita merasa terganggu dengan jam-jam ibadah atau kegiatan kerohanian lainnya? Sebagian orang tidak sempat lagi untuk bersekutu dengan Tuhan dalam doa dan pembacaan firman, hanya karena lebih mementingkan pekerjaan atau usaha. Ada juga yang berdoa dengan terburu-buru sambil sesekali memerhatikan jam dan memikirkan kegiatan lainnya. Selama masih hidup di dunia ini, segala sesuatu memang penting. Kita perlu memberikan perhatian untuk pekerjaan, karena pekerjaan penting untuk kelangsungan hidup kita. Kita juga perlu memberikan perhatian untuk keluarga, karena kita merupakan bagian dari keluarga. Kita perlu memberikan perhatian untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya, karena Tuhan yang empunya hidup kita. Kuncinya terletak pada pengaturan kita, sehingga segala sesuatunya dapat berjalan dengan seimbang. Ketika bekerja, berikan perhatian penuh terhadap pekerjaan. Ketika bersama dengan keluarga dan ketika mereka meminta perhatian kita, berikan perhatian penuh kepada mereka. Ketika bersekutu dengan Tuhan, berikan perhatian penuh kepada Tuhan. Seperti halnya pemazmur yang datang kepada Tuhan dengan rasa haus dan kerinduan yang besar kepada-Nya. Mari lakukan segala sesuatunya dengan penuh perhatian. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku hikmat agar segala sesuatu yang aku lakukan semuanya bisa berjalan dengan seimbang. Ajarilah aku memberikan perhatian yang penuh untuk Engkau, keluarga, dan pekerjaan. Amin. (Dod)

    Edisi Hari Jumat, 30 Oktober 2026 - Memberi perhatian untuk Tuhan
  4. 3d ago

    Edisi Hari Kamis, 29 Oktober 2026 - Bersykur dan menerima diri apa adanya

    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 29 Oktober 2026 Bacaan: "Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan." (Amsal 12:9) Renungan: Seorang psikolog berkata, "Sejak manusia lahir ke dunia, ia sudah dalam keadaan tubuh yang lemah tak berdaya. Kondisi yang lemah tersebut bisa berupa kelemahan secara fisik atau cacat, pola hidup yang manja di dalam diri seorang anak yang berlanjut sampai dia dewasa, dan pengabaian terhadap sang anak oleh keluarga yang tidak pernah memedulikan anak, seperti misalnya sang anak sangat kurang menerima kasih sayang dan pujian dari orang tua. Hal-hal tersebut dapat mengakibatkan sang anak mengalami kompleks superior atau superiority complex, di mana ia selalu berusaha tampil menjadi orang yang sempurna dalam segala hal di hadapan orang banyak." Seseorang yang mengalami superiority complex, sesungguhnya menyembunyikan perasaan inferior atau rendah diri yang ada di dalam dirinya. Misalnya, orang tersebut selalu bersikap congkak atau sombong serta berusaha menguasai orang lain atau berusaha menjadi yang lebih dominan dalam segala hal, termasuk berusaha menguasai pembicaraan dalam sebuah diskusi. Namun, sesungguhnya orang itu justru tersiksa dengan kelemahan atau kekurangan yang ia miliki, baik kelemahan atau kekurangan secara fisik, maupun secara mental karena diabaikan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Sehingga, dengan cara-cara tertentu ia berusaha menarik perhatian orang lain supaya ia mendapat perhatian, pujian atau sanjungan dari mereka. Orang yang mengalami superiority complex, ingin sekali mendapat pengakuan dari orang di sekitarnya. Misalnya, seseorang yang berlagak kaya, pintar, cantik, dan lain sebagainya, padahal sebenarnya ia tidak seperti itu. Ini membuktikan bahwa ia sudah tidak jujur terhadap dirinya sendiri, tidak hanya kepada orang lain saja. Dengan kata lain, ia seperti memakai "topeng". Orang tersebut melakukan hal itu karena tidak ingin dipandang rendah oleh banyak orang, padahal sesungguhnya belum tentu orang lain merendahkannya. Tuhan tidak ingin kita menjadi pribadi yang rendah diri. la tidak meminta apa yang tidak kita miliki. la lebih tahu apa yang kita butuhkan, bahkan memberikan kita apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Bisa saja kita memandang kelemahan dan kekurangan kita sebagai sesuatu yang buruk, tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Bahkan, orang lain pun belum tentu memandangnya sebagai hal yang buruk. Oleh sebab itu, terimalah keadaan kita apa adanya. Jangan pernah membandingkan keberadaan kita dengan orang yang memiliki kelebihan dari kita! Maksimalkan apa yang kita miliki, dan tetaplah menerima apa pun atau bagaimanapun keadaan kita, yang sudah tidak bisa diubah lagi. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk bisa menerima diriku apa adanya, karena aku tahu bahwa Engkau selalu memandangku indah. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 29 Oktober 2026 - Bersykur dan menerima diri apa adanya
  5. 5d ago

    Edisi Hari Rabu, 28 Oktober 2026 - Menghargai jerih payah kerja tim

    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 28 Oktober 2026 Bacaan: "Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu." (Amsal 4:13) Renungan: Pada tahun 1777, pasukan Jenderal Washington mengalami kekalahan di Brandywine, Paoli dan Germantown. Pasukan Jendral Washington kalah oleh pasukan Inggris yang sangat tangguh, sehingga pasukan Inggris berhasil menduduki wilayah Philadelphia. Tahun itu Jenderal Washington dan sebelas ribu pasukannya sempat mundur ke Valley Forge. Pasukan yang dipimpinnya saat itu sempat kehilangan semangat, apalagi ditambah dengan datangnya musim dingin yang sangat menyiksa mereka. Di musim dingin itu mereka tidak memiliki perlengkapan dan persediaan makanan yang cukup. Melihat kesengsaraan yang diderita oleh pasukannya, maka Jenderal Washington mengirim surat kepada Continental Congress. "Para prajurit tidak siap untuk bertugas, sebab mereka bertelanjang kaki dan tidak mempunyai baju hangat dalam cuaca yang buruk ini. Segalanya berjalan sangat buruk, sehingga para prajurit harus berdiri di atas topi mereka untuk menghindari radang dingin pada kaki mereka." Surat yang telah dikirimnya itu tidak mendapat perhatian dari Continental Congress, sehingga pasukan Jenderal Washington harus menguatkan hati mereka untuk tetap bertahan, sambil mengawasi gerak-gerik pasukan Inggris yang dipimpin oleh Jenderal Howe. Situasi yang pelik itu akhirnya memunculkan semangat dan tekad di hati pasukan Jenderal Washington untuk tetap bertahan. Mereka menggunakan waktu yang ada untuk berlatih menjadi tentara yang lebih baik lagi. Kemudian Von Steuben, orang yang dipilih Jenderal Washington untuk mengorganisir pasukan, mulai membuat sanitasi yang baik di kemah-kemah. Ia juga menanamkan pentingnya kesatuan tim dan ketundukan kepada pemimpin. Akhirnya pasukan itu terbentuk menjadi pasukan yang handal. Hal itu terbukti dengan menangnya pasukan Jenderal Washington melawan pasukan Inggris, padahal jumlah pasukan Inggris lebih besar daripada pasukan Jenderal Washington. Pemimpin yang tidak baik akan menanggung bebannya sendiri, tanpa melibatkan tim kerja yang dipimpinnya. Tetapi pemimpin yang baik mempercayai dan mendorong anak buahnya untuk maju dan saling mendukung, sehingga akan terbentuk tim yang solid. Tim yang solid sadar bahwa pemimpinnya mengasihi dan mengharapkan agar mereka semakin maju. Tim yang solid memiliki loyalitas yang tinggi kepada pemimpinnya. Setiap anggota tim yang solid tentu menjaga keutuhan timnya. Anggota tim yang solid akan saling mendukung, sehingga tercipta suatu sistem kerja sama yang baik. Kegagalan seorang anggota tim dianggap sebagai kegagalan tim. Dalam tim yang solid tidak ada tindakan yang menjelek-jelekkan satu dengan yang lain. Jika setiap anggota tim sudah memegang prinsip "satu untuk semua dan semua untuk satu", maka tim itu pasti akan berjaya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk menghargai setiap jerih lelah tim kerjaku, dan ajarilah juga mereka untuk mempunyai loyalitas yang tinggi. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 28 Oktober 2026 - Menghargai jerih payah kerja tim
  6. 6d ago

    Edisi Hari Selasa, 27 Oktober 2026 - Datang kembali kepadaNya

    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 27 Oktober 2026 Bacaan: "Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" (Kejadian 3:9) Renungan: Adam dan isterinya telah memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang dilarang Allah untuk dimakan, ataupun diraba. Kini Adam dan Hawa menyadari bahwa mereka telanjang sehingga mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Mereka tahu bahwa mereka telah melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah, dan kini mereka takut bertemu Dia. "Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: Di manakah engkau?" (Kejadian 3:9). Apa yang ada di pikiran kita ketika membaca kejadian ini dan ketika Allah mencari-cari mereka serta bertanya, "Di manakah engkau?" Sekilas kita bisa saja menilai Allah seperti seorang polisi yang sedang mencari dan memanggil orang yang bersalah untuk diadili lalu dihukum. Tidak sedikit pengikut Yesus yang memandang Allah sebagai Pribadi yang datang dengan "alat pemukul" di tanganNya, siap menghukum dan menghalau kita dari hadapan-Nya ketika kita melakukan dosa atau pelanggaran terhadap ketetapan-ketetapan-Nya. Kita berkata bahwa kitalah orang paling berdosa di dunia dan Allah pasti tidak akan mengampuni lagi. Akhirnya, pemahaman yang keliru itu menyebabkan kita mengambil keputusan untuk tetap menjalani kehidupan yang jauh dari Allah. Jika selama ini kita telah jauh dari-Nya, hidup di dalam dosa dan kita merasa tidak layak lagi datang kepada-Nya, ketahuilah bahwa Allah yang maha kasih itu sedang mencari-cari. Dia ingin menemukan serta membawa kita kembali kepada-Nya. Dia sedang mencari kita dan bertanya, "Di manakah engkau anakku?" Pahamilah Dia sebagai seorang bapa yang hancur hati karena anak yang dikasihinya tersesat. Kisah di dalam Matius 18:12-14 menceritakan kepada kita tentang seorang gembala yang rela meninggalkan 99 ekor dombanya yang lain, hanya untuk mencari dan menyelamatkan satu ekor domba yang tersesat, karena dia tidak menghendaki satu pun yang hilang. Demikian juga Bapa di Sorga rindu untuk mencari anak-anak-Nya yang tersesat dan membawa mereka kembali. Saat ini ketika la mencari kita, jawablah, "Ya Bapa, ini aku, aku mau kembali kepadaMu." Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, aku mengucap syukur karena mengenal Engkau dan menjadi anak-Mu. Ampunilah aku jika aku pernah beranggapan bahwa Engkau membenciku dan tidak mempedulikan aku lagi karena dosaku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 27 Oktober 2026 - Datang kembali kepadaNya
  7. 6d ago

    Edisi Hari Senin, 26 Oktober 2026 - Kendalikan Emosi dan jaga hati dari rencana jahat

    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 26 Oktober 2026 Bacaan: "Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan." (Amsal 18:1) Renungan: Buaya merupakan salah satu dari sekian banyak binatang yang berpenampilan tenang, tetapi mematikan. Dia akan berenang dengan tenang, bahkan dia akan diam di suatu tempat dalam waktu yang lama. Tetapi, begitu mangsa mendekat, maka tidak ada ampun lagi bagi mangsa tersebut, langsung digigit dengan gigi-giginya yang panjang dan tajam itu. Tanpa bermaksud merendahkan martabat Kain, kalau diumpamakan, Kain seperti binatang yang satu ini, yang diam-diam tetapi mematikan. Banyak ahli Alkitab menafsirkan secara berbeda tentang alasan Kain membunuh Habel. Alkitab sendiri tidak memberikan penjelasan secara gamblang alasan Kain membunuh Habel. Hanya ada satu kalimat yang berkaitan dengan hal itu, yaitu, "Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." Kemarahan Kain kepada Habel didasari dengan rasa cemburu karena persembahannya tidak diperkenan Tuhan, sementara persembahan Habel diperkenan Tuhan. Tetapi, ada satu hal yang menarik untuk diperhatikan di sini, yaitu tentang penampilan Kain yang tidak buru-buru melampiaskan kemarahannya. Alkitab hanya mencatat bahwa "muka Kain muram". Keceriaan pergi dari wajahnya, dan dia tampak bersedih. Dia tidak mengangkat wajahnya, tetapi melihat ke bawah atau menunduk. Dia tampak cemberut karena di dalam dirinya terdapat sakit hati, kedengkian, dan keinginan untuk membalas dendam. Dia sedang mempelajari sebuah cara untuk melampiaskan kemarahannya. Jadi, dari pandangan Habel, nampaknya Kain diam, sekalipun tidak demikian menurut pandangan Tuhan, sebab Tuhan tahu isi hati Kain. Kisah selanjutnya membuktikan bahwa Kain yang nampak diam itu akhirnya membuktikan dirinya sebagai pribadi yang garang. Habel tertipu dengan sikap diam Kain, sehingga ia tidak menaruh rasa curiga sedikit pun saat Kain mengajaknya jalan-jalan ke padang. Diam adalah sikap yang baik, yang sering kali bisa menghalangi terjadinya pertengkaran atau percekcokan. Tetapi, diam menjadi sikap yang tidak baik ketika dilakukan dengan tidak tulus. Jika ada kemarahan, rasa cemburu, dan keinginan untuk membalas dendam, maka sikap diam itu sudah dibumbui. Apalagi jika ada rencana-rencana jahat, maka sikap diam itu sudah termasuk bagian dari tipu muslihat. Ada baiknya kalau kita mengungkapkan ketidaksenangan kita, atau bahkan kemarahan kita, daripada diam tetapi menyimpan hal-hal yang jahat di dalam diri kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, mampukan aku untuk mengalahkan kemarahan dan rasa cemburu, sehingga tidak muncul rencana jahat di dalam diriku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 26 Oktober 2026 - Kendalikan Emosi dan jaga hati dari rencana jahat
  8. Oct 24

    Edisi Hari Minggu, 25 Oktober 2026 - Tetap gigih berusaha, jangan menyerah pada nasib atau keadaan

    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 25 Oktober 2026 Bacaan: "Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu." (1 Tesalonika 2:9) Renungan: Seorang pemuda pengangguran, ketika ditanya tentang alasannya mengapa ia tidak bekerja, dengan enteng ia menjawab, "Ya, inilah nasib saya. Saya orang nggak punya, tidak ada uang untuk menyuap. Saya orang desa, tidak ada koneksi di tempat-tempat kerja. Ya, beginilah nasib orang miskin." Ada juga seorang pengamen yang melantunkan lagu karangannya sendiri, yang "senada" dengan jawaban pemuda di atas. Sebagian kalimatnya berbunyi demikian, "Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas-mas. Mbak-mbak, perhatikanlah nasib kami. Di sini kami hanya bisa menjual suara untuk mendapatkan sesuap nasi. Daripada menodong atau merampok, lebih baik cuap-cuap di sini. "Jawaban pemuda dan kalimat dari lagu pengamen tersebut mungkin juga benar, artinya bahwa mereka memang berasal dari keluarga tidak mampu. Hanya saja, muncul pertanyaan, "Apakah nasib mereka tidak bisa berubah? Apakah ungkapan-ungkapan itu hanya bermaksud menutupi ketidaktekunan mereka dalam berusaha? Atau mungkinkah mereka berpegang pada ajaran fatalisme?" Fatalisme adalah suatu doktrin yang mengajarkan bahwa keadaan atau perbuatan seseorang sudah dipastikan lebih dahulu oleh nasib. Manusia tidak dapat atau tidak akan berhasil mengubah jalannya keadaan atau perbuatannya, walaupun ia atau orang lain berusaha ke arah itu. Pertanyaan-pertanyaan di atas, kalau dilontarkan kepada mereka, hanya mereka yang tahu jawabannya, karena hanya mereka sendiri dan Tuhan yang mengetahui isi hati mereka. Kita tidak bisa menilai secara subyektif tentang sikap orang-orang seperti yang disebutkan di atas, tetapi sebagai orang percaya kita harus memperhatikan apa yang dikatakan Alkitab. Dalam Kejadian 27:40 dikatakan, "Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu." Ayat itu jelas berbicara tentang "nasib" yang akan dialami Esau, dan juga berbicara tentang perubahan "nasib" tersebut. Kata-kata kunci dari ayat di atas adalah "apabila engkau berusaha sungguh-sungguh". Itu berarti bahwa Esau tidak boleh menyerah pada "nasib". Orang yang menyerah pada "nasib" adalah orang yang tidak akan pernah berhasil dalam hidupnya! Mari kita memperhatikan hidup kita, mungkin kita memang berasal dari keluarga yang tidak mampu, mungkin kita berasal dari desa terpencil, mungkin kita bukan orang yang pandai, kemampuan kita hanya pas-pasan, tetapi hal itu janganlah kita jadikan alasan agar kita tidak berusaha. Kita tidak boleh menyerah pada "nasib", kita harus "melawan nasib" itu. Justru kalau latar belakang kita seperti itu dan karena kita berusaha lalu berhasil, maka orang akan melihat karya Tuhan sungguh nyata dalam hidup kita. Kita tidak menjadi batu sandungan, tetapi kita akan menjadi berkat. Berusahalah, jangan menyerah pada nasib. Tuhan Yesus memberkati. Hari ini Kencan Dengan Tuhan genap 16 tahun. Terima kasih untuk kesetiaannya selama 16 tahun ini membaca dan mendengarkan Kencan Dengan Tuhan. Semoga kehadiran Kencan Dengan Tuhan senantiasa memberkati hari-hari kita semua. Doa: Tuhan Yesus, aku bersyukur dilahirkan dalam keadaan apa pun dan di dalam keluargaku sekarang ini. Aku yakin bahwa di tangan-Mu ada masa depan yang cerah. Oleh sebab itu tolonglah aku dalam berusaha untuk mencapainya. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 25 Oktober 2026 - Tetap gigih berusaha, jangan menyerah pada nasib atau keadaan

Ratings & Reviews

5
out of 5
2 Ratings

About

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com