Kita lahir dan dibesarkan di atas tanah yang tak terhingga kekayaannya, namun ironisnya, kita sering kali tumbuh dengan mimpi yang dikurung dalam sangkar ketakutan. Sejak kecil, telinga kita terlalu akrab dengan pepatah yang bermaksud baik, namun diam-diam membelenggu: "Jangan bermimpi terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sakit." atau "Syukuri saja apa yang ada, tidak usah muluk-muluk." Tanpa sadar, narasi-narasi kompromistis ini membangun sebuah langit-langit kaca di kepala kita. Kita menjadi generasi yang ahli dalam merunduk, bermain aman, dan puas menjadi sekrup kecil dalam mesin raksasa ciptaan orang lain. Kita diajarkan untuk bertahan hidup, bukan untuk mengubah dunia. Namun, mari kita berhenti sejenak dan menatap cakrawala. Dunia sedang berlari dengan kecepatan eksponensial. Jika kaum muda Indonesia hari ini hanya berani bermimpi sebatas "mendapat pekerjaan yang aman" atau "lulus dengan IPK tinggi", lalu siapa yang akan memimpin bangsa ini menavigasi badai masa depan? Siapa yang akan menyelesaikan krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan membangun teknologi yang memanusiakan manusia di negeri ini? Inilah saatnya kita memeluk satu mentalitas radikal: Big Thinking, atau Berpikir Besar. Berpikir besar bukanlah tentang kesombongan, arogansi, atau ambisi buta untuk menumpuk harta pribadi. Bagi pemuda Indonesia, Big Thinking adalah sebuah bentuk tanggung jawab moral. Ini adalah keberanian untuk melihat masalah raksasa di sekitar kita—mulai dari petani yang terjebak tengkulak, sistem pendidikan yang tertinggal, hingga tumpukan sampah plastik di lautan kita—dan berkata dengan lantang, "Saya bisa menciptakan solusinya." Berpikir besar berarti menolak untuk mendaur ulang solusi masa lalu. Saat orang lain berpikir bagaimana membuat sesuatu 10% lebih baik, pemikir besar bertanya, "Bagaimana saya bisa membuatnya 10 kali lipat lebih berdampak?"Mereka tidak sekadar mencari perahu yang lebih baik untuk mengarungi lautan; mereka berpikir bagaimana cara membangun jembatan yang membelah samudra. Tentu saja, memilih jalan Big Thinking adalah memilih jalan yang sunyi dan penuh cibiran. Akan ada ribuan suara, mungkin dari orang-orang terdekat, yang menyuruhmu untuk kembali membumi dan realistis. Kamu akan dihadapkan pada ketakutan terbesarmu: kegagalan. Namun, ketahuilah ini: Kegagalan terbesar bukanlah ketika mimpimu yang setinggi langit itu meleset. Kegagalan paling tragis adalah ketika mimpimu terlalu rendah, dan kamu berhasil mencapainya. Kamu merayakan kemenangan kecil di zona nyaman, sementara potensimu yang sesungguhnya terkubur bersama waktu. Menjelang Visi Indonesia Emas 2045, bangsa ini tidak butuh pemuda yang manja dan penakut. Bangsa ini merindukan para pendobrak. Kita butuh anak-anak muda dari ujung Sumatera hingga Papua yang berani menantang gravitasi kemustahilan. Kita butuh seniman yang karyanya mengguncang dunia, insinyur yang membangun teknologi pelopor, dan wirausahawan yang solusinya mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan. Jangan tunggu sempurna untuk memulai. Jangan tunggu izin dari siapa pun untuk menjadi besar. Mulailah dari kamarmu, dari meja kosmu, dari diskusi di warung kopi. Pertanyakan segala hal yang dianggap "sudah dari sananya begitu". Bongkar asumsi, perluas wawasanmu melampaui batas negara, dan bertemanlah dengan ide-ide gila. Hari ini, kanvas sejarah sedang dibentangkan di hadapanmu. Kamu bisa memilih untuk melukisnya dengan coretan keraguan yang pudar dan aman. Atau, kamu bisa mengambil kuas paling berani, mencelupkannya dalam warna-warna terang inovasi dan keberanian, lalu melukiskan sebuah mahakarya yang akan diingat oleh generasi setelahmu. Langit-langit kaca itu sebenarnya tidak pernah ada. Ia hanya ilusi yang menunggu untuk dihancurkan oleh mereka yang berani berpikir besar. Pertanyaannya sekarang: Beranikan kamu menjadi salah satu dari mereka? Bangkitlah, Pemuda Indonesia. Dunia sedang menunggu gagasan besarmu.