Inspirasi Mitra

Terasmitra

Insipirasi mitra adalah sebuah lesson learn dari mitra GEF-SGP yang dibuat berupa podcast untuk menginsipirasi generasi selanjutnya.

Episodes

  1. Suara dari Teras - Seri Wakatobi | Menjaga Kehidupan Pulau dengan Budaya Tradisi - bagian 3

    11/06/2020

    Suara dari Teras - Seri Wakatobi | Menjaga Kehidupan Pulau dengan Budaya Tradisi - bagian 3

    Selain itu secara adat masyarakat Barata Kahedupa juga mengenal aturan yang disebut Galua yakni pohon kelapa ataupun pohon-pohon yang ditanam sepanjang kiri kanan jalan poros yang memiliki fungsi sosial bagi setiap orang yang membutuhkan untuk dapat memetik. Sementara di laut beberapa contoh aturan pemanfaatan sumber daya alam yang diatur secara adat antara lain : Nelayan yang ingin menangkap ikan (memasang bubu atau sero) di wilayah suatu limbo sementara mereka berasal dari limbo lainnya maka mereka harus meminta izin kepada kepala adat di wilayah limbo dimana mereka akan menangkap ikan. Mereka juga punya kewajiban untuk memberikan retribusi adat yang disebut Nggaeri dengan menyisihkan sebagian dari hasil tangkapan mereka dan meletakannya di tempat yang telah ditentukan di sekitar bantea atau pangkalan perahu di wilayah limbo tempat mereka menangkap ikan. Namo nu Sara adalah laguna yang merupakan kawasan perairan yang dilindungi oleh Sara Barata Kahedupa. Pemanfaatannya hanya digunakan untuk kepentingan umum. Namo nu Kamali adalah suatu wilayah perairan yang hasilnya diperuntukan selain untuk masyarakat adat juga untuk memnuhi kebutuhan keluarga para mantan kepala adat yang menghuni suatu Kamali atau istana. Banyak ritual adat yang hingga saat ini masih terus dilakukan oleh masyarakat adat Barata Kahedupa salah satunya Festival Adat Barate Kahedupa. Dalam acara ini ada beragam prosesi yang melibatkan semua masyarakat Kahedupa antara lain aqiqah massal, sunatan massal, pingitan bagi anak-anak gadis. Dibutuhkan waktu 40 hari dalam menggelar acara ini.

    27 min
  2. Suara dari Teras - Seri Wakatobi | Menjaga Kehidupan Pulau dengan Budaya Tradisi - bagian 1

    10/09/2020

    Suara dari Teras - Seri Wakatobi | Menjaga Kehidupan Pulau dengan Budaya Tradisi - bagian 1

    Kerajaan BARATA KAHEDUPA adalah bagian dari kerajaan Buton yang berumur lebih dari lima abad, berakhir pada masa pemerintahan sultan ke -38, La Ode Muhamamad Fahili (1938-1960). Barata Kahedupa dipimpin oleh Lakina Kahedupa yang biasa dipanggil Waopu. Setiap Limbo atau wilayah adat dipimpin oleh seorang Bonto. Sebelumnya,  jauh sebelum menjadi Kerajaan Kahedupa yang kemudian berubah menjadi Barata Kahedupa, di Pulau Kahedupa (Kaledupa) telah ada kerajaan-kerajaan kecil yang bermukim di bukit-bukit yang ada di pulau ini. Kerajaan-kerajaan ini dikenal dengan nama Sara-sara Fungka. Pada tahun 1056 H (1635 M) berdasarkan atas suatu kesepakatan bersama antara Raja Kahedupa XI bernama La Ode Asiwadi, La Ode Battini (Mia Dao), Sultan Buton VI bernama La Buke dan Sapati Balluwu yang bernama La Ode Arafani pada akhirnya Kerajaan Kahedupa bergabung dengan Kesultanan Buton. Kerajaan Kahedupa kemudian menjadi Barata Kahedupa dengan wilayah yang meliputi Kepulauan Tukang Besi (Wakatobi) yang berpusat di Keraton Bente Togo. Bergabungnya Kerajaan Kahedupa dengan Kesultanan Buton adalah untuk memperluas penyebaran agama islam dan sebagai bagian untuk membangun kekuatan pertahanan Wilaayah Timur Kesultanan Buton dari ancaman Kerajaan Ternate, Kerajaan Gowa dan ancaman Belanda (VOC). WILAYAH BARATA KAHEDUPA DI PULAU KALEDUPA Wilayah Barata Kahedupa di Pulau Kaledupa dibagi dalam 2 Kadie dan 7Limbo (wilayah adat) yang kemudian dibagi dalam 2 wilayah besar yakni ; 1. Wilayah Umbosa (Timur) yang meliputi: a. Limbo Tombuluruha b. Limbo Kiwolu c. Limbo Tapa’a d. KadieLangge e. Limbo Tampara 2. Wilayah Siofa (Barat) yang meliputi: a. Limbo Watole b. Lombo Ollo c. Kadie Laulua d. Limbo Lefuto

    29 min

About

Insipirasi mitra adalah sebuah lesson learn dari mitra GEF-SGP yang dibuat berupa podcast untuk menginsipirasi generasi selanjutnya.