Mongabay Indonesia Podcast

Mongabay Indonesia

Bicara soal alam

  1. Politik Tata Kelola Bencana: Bercermin Dari Banjir di Indonesia

    MAR 2

    Politik Tata Kelola Bencana: Bercermin Dari Banjir di Indonesia

    Banjir datang, menggenangi permukiman, melumpuhkan aktivitas ekonomi, dan memaksa ribuan orang mengungsi. Namun setiap kali air surut, penjelasan yang mengemuka hampir selalu sama: hujan ekstrem, perubahan iklim, atau kapasitas sungai yang tak lagi memadai. Narasi ini seolah menempatkan banjir sebagai takdir alamiah yang tak terhindarkan. Padahal, di balik luapan air itu, terdapat rangkaian keputusan politik, tata ruang, dan kepentingan ekonomi yang membentuk siapa yang paling terdampak dan siapa yang diuntungkan dari pembangunan yang terus berlangsung. Di banyak kota di Indonesia, alih fungsi lahan, ekspansi kawasan properti, serta proyek infrastruktur skala besar berjalan beriringan dengan melemahnya daya dukung lingkungan. Kawasan resapan menyusut, bantaran sungai dipadati bangunan, dan izin pembangunan kerap terbit tanpa pengawasan memadai. Dalam konteks ini, banjir bukan lagi sekadar persoalan hidrologi, melainkan cerminan bagaimana ruang dikelola dan untuk kepentingan siapa kebijakan disusun. Risiko bencana lahir dari interaksi antara faktor alam dan pilihan-pilihan struktural yang dibuat manusia. Diskusi antara Mongabay Indonesia dan Dr. Yogi Setya Permana yang merupaka Peneliti Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti bahwa tata kelola bencana di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari ekonomi politik kuasa. Relasi antara politisi, pengusaha, dan birokrasi sering kali menentukan arah perencanaan kota, termasuk dalam hal pengendalian banjir. Ketika kepentingan jangka pendek dan kalkulasi elektoral lebih dominan dibanding perlindungan lingkungan dan keselamatan warga, regulasi tata ruang menjadi mudah dinegosiasikan, bahkan diabaikan. Diskusi ini membaca banjir sebagai persoalan politik dan tata kelola membuka ruang refleksi yang lebih mendalam tentang solusi yang dibutuhkan.

    1h 9m
  2. 12/15/2025

    Habitat yang Tak Pernah Tercatat: Mengungkap Populasi Orangutan di Tempat Tak Terduga

    Hutan Lumut selama ini hanya dipandang sebagai hamparan gambut biasa di pinggiran lanskap besar Sumatra, jauh dari pusat perhatian konservasi. Namun sebuah penemuan lapangan mengubah cara pandang itu: orangutan Tapanuli ternyata hidup dan bertahan di sana, di luar kawasan utama Batang Toru yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya rumah mereka. Di tengah pepohonan gambut yang lembap dan sunyi di Desa Lumut Maju, jejak kehadiran orangutan Tapanuli menyingkap kemampuan adaptasi yang tak banyak diketahui. Mereka tidak hanya hidup di hutan pegunungan yang rapat dan sejuk, tetapi juga mampu bertahan di ekosistem yang sangat berbeda, dengan struktur vegetasi, ketersediaan pakan, dan tantangan ekologis yang lain sama sekali. Cerita ini menggugurkan anggapan lama bahwa spesies ini memiliki toleransi habitat yang sempit, sekaligus memperlihatkan betapa pengetahuan manusia tentang alam masih penuh celah. Namun kisah ini bukan hanya tentang penemuan, melainkan juga tentang kerentanan. Berbeda dengan Batang Toru yang memiliki status konservasi lebih jelas, Hutan Lumut berada di ruang abu-abu: kawasan tanpa perlindungan formal, rawan pembukaan lahan, tumpang tindih kepentingan, dan minim pengawasan. Di sinilah orangutan harus berbagi ruang dengan aktivitas manusia, menghadapi risiko perburuan, konflik, dan fragmentasi habitat yang bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Temuan ini menjadi titik awal diskusi mendalam melalui program Bincang Alam yang digelar Mongabay Indonesia bersama Syafrizaldi Jpang, Direktur Eksekutif Orangutan Information Centre (OIC), yang membuka kisah tentang habitat yang luput dari peta, data, dan kebijakan.

    1h 11m

About

Bicara soal alam