Mongabay Indonesia Podcast

Mongabay Indonesia

Bicara soal alam

  1. Oct 25

    Teluk Saleh, Surga Bahari di Pulau Sumbawa

    Teluk Saleh membentang di antara Kabupaten Sumbawa dan Dompu, Nusa Tenggara Barat. Perairan seluas lebih dari 2.000 kilometer persegi ini menjadi bagian dari Cagar Biosfer Samota sekaligus menyimpan kekayaan ekosistem pesisir yang lengkap, mulai dari terumbu karang, hutan mangrove, hingga padang lamun. Keindahan tersebut menjadikan Teluk Saleh memiliki daya tarik wisata yang kuat. Pulau-pulau kecil, pasir putih, laut jernih, dan kehidupan bawah air menawarkan beragam aktivitas, seperti menyelam, snorkeling, berkano, berkemah, memancing, hingga mengamati hiu paus. Di Dusun Prajak, Desa Batu Bangka, masyarakat bahkan membentuk kelompok pengelola ekowisata secara swadaya untuk menawarkan berbagai layanan wisata dan kuliner. Namun, potensi Teluk Saleh tidak berhenti pada pariwisata. Perairan ini juga menjadi ruang penghidupan bagi masyarakat melalui perikanan tangkap serta budidaya ikan kakap, kerapu, rumput laut, dan kerang mutiara. Di balik kekayaan tersebut, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Praktik penangkapan ikan yang merusak masih ditemukan, sebagian terumbu karang mengalami kerusakan, dan ikan yang belum mencapai ukuran layak tangkap masih didaratkan. Pengembangan wisata dan perikanan juga membutuhkan data yang berkelanjutan, sarana pendaratan ikan, fasilitas penyimpanan, pengawasan, serta keterlibatan masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, pemanfaatan berlebihan dapat menurunkan daya dukung ekosistem dan mengancam sumber penghidupan warga. Lalu, seberapa besar potensi perikanan, kelautan, dan pariwisata Teluk Saleh? Bagaimana kekayaan tersebut dapat dimanfaatkan tanpa mengorbankan kelestarian alam? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Dr. Soraya Gigentika, peneliti perikanan dan kelautan sekaligus dosen Universitas Mataram. Percakapan ini mengulas kondisi ekosistem pesisir, kegiatan perikanan, pengembangan ekowisata, serta pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga Teluk Saleh agar tetap lestari dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Foto utama: Seekor hiu paus di perairan Teluk Saleh. Foto : Konservasi Indonesia/Ismail Syakurachman

    Teluk Saleh, Surga Bahari di Pulau Sumbawa
  2. Oct 13

    Udang Purba yang Hidup dalam Gelapnya Gua

    Gua bukan sekadar lorong gelap di bawah permukaan bumi. Di balik batuan, aliran air, dan ruang yang nyaris tidak tersentuh cahaya, tersimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Salah satunya adalah "udang purba", hewan berukuran kurang dari satu sentimeter yang hidup di kolam-kolam kecil di lantai gua. Meski disebut udang, satwa ini sebenarnya termasuk kelompok isopoda. Salah satu jenisnya, Stenasellus javanicus, pertama kali ditemukan di Jawa pada 2004 melalui kegiatan penelusuran Gua Cikarai di kawasan karst Klapanunggal, Bogor. Dua individu yang ditemukan saat itu kemudian diteliti dan dideskripsikan sebagai spesies baru. Keunikan Stenasellus tidak hanya terlihat dari tubuhnya yang beruas dan berwarna merah muda. Kerabat jauhnya hidup di laut, tetapi kelompok yang ditemukan di Indonesia sejauh ini hanya dijumpai di perairan tawar dalam gua. Mereka menghuni kolam yang terbentuk dari tetesan air di atap dan dinding gua, bukan dari sungai permukaan. Peralihan dari laut menuju habitat air tawar diperkirakan berlangsung melalui proses evolusi yang sangat panjang. Sebarannya telah tercatat di sejumlah wilayah, dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, hingga Kalimantan. Namun, tiap populasi dapat terisolasi dalam kawasan karst yang berbeda. Kondisi ini membuka kemungkinan adanya jenis-jenis lain yang belum dikenali. Habitatnya yang sempit juga membuat udang purba rentan terhadap gangguan. Aktivitas wisata, penelusuran yang tidak bertanggung jawab, sampah, pencemaran, serta pertambangan dapat mengubah kualitas air dan merusak kolam tempat hidupnya. Bagaimana udang purba bertahan dalam kegelapan gua? Mengapa satwa yang leluhurnya berasal dari laut kini ditemukan jauh di daratan? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Dr. Cahyo Rahmadi, peneliti zoologi LIPI (sekarang BRIN) saat diskusi berlangsung. Percakapan ini menelusuri proses penemuan, adaptasi, persebaran, dan ancaman terhadap Stenasellus, sekaligus menunjukkan pentingnya penelusuran gua bagi ilmu pengetahuan dan konservasi kawasan karst.

  3. Oct 1

    Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu

    Jejak kehidupan manusia purba tidak hanya tersimpan dalam artefak batu atau lukisan gua. Tulang belulang yang terkubur selama ribuan tahun juga dapat menyimpan informasi genetik tentang asal-usul, migrasi, dan perjumpaan antarpopulasi manusia. Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, DNA purba sangat sulit bertahan karena suhu, kelembapan, air, dan mikroorganisme dapat mempercepat kerusakannya. Karena itu, temuan rangka perempuan muda di Leang Panninge, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memiliki arti penting. Rangka yang ditemukan pada 2015 tersebut diberi nama Bessé, sebutan yang umum digunakan untuk perempuan dalam masyarakat Bugis. Ia diperkirakan meninggal ketika berusia 17–18 tahun dan hidup sekitar 7.200–7.300 tahun lalu. Bessé hidup dalam lingkungan budaya Toalean, kelompok pemburu dan peramu yang berkembang di selatan Sulawesi sekitar 8.000 hingga 1.500 tahun lalu. Jejak kebudayaan mereka antara lain terlihat melalui mata panah bergerigi yang dikenal sebagai Maros Point, mikrolit, dan alat dari tulang. Kebudayaan ini sejauh ini hanya ditemukan di wilayah selatan Sulawesi. Analisis terhadap tulang telinga Bessé berhasil mengungkap DNA yang bertahan selama lebih dari tujuh milenium. Hasilnya memperlihatkan hubungan genetik dengan populasi Papua dan Aborigin Australia, sekaligus jejak percampuran dengan Denisovan, kelompok manusia purba yang pertama kali dikenali melalui temuan di Siberia. Temuan tersebut membuka pertanyaan baru tentang perjalanan manusia menuju Wallacea serta perjumpaan berbagai populasi pada masa lalu. Siapakah Bessé dan bagaimana DNA-nya dapat bertahan di lingkungan tropis? Apa hubungan perempuan Toalean ini dengan Denisovan dan manusia yang hidup di Indonesia sekarang? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Basran Burhan, arkeolog dan kandidat doktor Griffith University, Australia, saat diskusi berlangsung. Percakapan ini menelusuri penemuan Bessé, kebudayaan Toalean, migrasi manusia purba, serta pentingnya menjaga Leang Panninge sebagai situs ilmu pengetahuan yang tak ternilai.

  4. Sep 25

    Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan

    Hutan lindung tidak hanya berfungsi menjaga pepohonan dan satwa. Kawasan ini juga menjadi sistem penyangga kehidupan yang mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta mempertahankan kesuburan tanah. Namun, perlindungan hutan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dan memahami bentang alam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran itu terlihat di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kawasan seluas sekitar 10 ribu hektare ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi habitat orangutan kalimantan, termasuk lokasi pelepasliaran individu yang telah direhabilitasi. Hutan ini dapat dimasuki melalui beberapa kampung, salah satunya Desa Lesan Dayak yang dihuni masyarakat Dayak Ga'ay. Dalam kegiatan penelitian dan ekowisata, masyarakat tidak sekadar menjadi pelengkap. Mereka terlibat sejak persiapan, menyediakan rumah singgah dan kawasan perkemahan, menyambut pengunjung, serta bekerja sebagai pemandu lokal. Pengetahuan mereka mengenai jalur hutan dan lokasi perjumpaan satwa membantu penelitian burung, mamalia, kupu-kupu, herpetofauna, kelelawar, vegetasi, serta cadangan karbon. Penelitian selama hampir tiga bulan mencatat 55 jenis herpetofauna, 38 jenis mamalia darat, 112 jenis kupu-kupu, 187 jenis burung, dan 15 jenis kelelawar. Hasil tersebut memperlihatkan pentingnya Sungai Lesan bagi keanekaragaman hayati Kalimantan. Kegiatan ini juga menghasilkan buku panduan kupu-kupu yang dapat digunakan masyarakat untuk mengenalkan kekayaan hutan kepada pengunjung. Meski berstatus hutan lindung, Sungai Lesan menghadapi tekanan pembukaan lahan dan dikelilingi perkebunan sawit. Koridor yang menghubungkannya dengan kawasan hutan lebih luas juga berisiko dialihfungsikan. Dalam situasi ini, penelitian dan ekowisata berbasis masyarakat diharapkan memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat alasan untuk mempertahankan hutan. Bagaimana masyarakat dapat ditempatkan sebagai pelaku utama penelitian dan konservasi? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Nanda Indah Dian Lestari, peneliti dari Operation Wallacea. Percakapan ini mengulas kerja sama antara peneliti, masyarakat, pemerintah, dan organisasi konservasi dalam menjaga Hutan Lindung Sungai Lesan. Diskusi ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan sains berjalan bersama untuk melindungi hutan sekaligus memperkuat penghidupan masyarakat di sekitarnya.

  5. Sep 18

    Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak

    Bagi masyarakat Fakfak, Papua Barat, pala bukan sekadar tanaman perkebunan yang menghasilkan pendapatan. Pohon yang dapat hidup hingga puluhan bahkan seratus tahun ini melekat pada sejarah keluarga, identitas marga, praktik adat, dan hubungan masyarakat dengan alam. Pala bahkan menjadi ikon daerah yang tergambar dalam lambang Kabupaten Fakfak. Pala Fakfak (Myristica argentea), yang dalam bahasa lokal disebut hengi, memiliki ciri berbeda dari pala Banda. Buahnya cenderung lonjong dan berparuh, dengan aroma daging buah yang khas. Tanaman ini mulai produktif pada usia sekitar enam tahun. Kebun yang dipanen hari ini banyak diwariskan oleh generasi terdahulu, sehingga keberadaannya menjadi penghubung antara leluhur, masyarakat sekarang, dan generasi mendatang. Kedekatan tersebut terlihat dalam seluruh proses pengelolaannya. Pembukaan lahan dilakukan tanpa membakar dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pohon pala dirawat tanpa pupuk kimia, sementara tanaman betina tidak boleh ditebang karena dipandang sebagai personifikasi perempuan yang memberi penghidupan. Masyarakat juga mengenal sasi, yaitu larangan memanen dalam periode tertentu untuk menjaga kualitas pala. Waktu panen ditentukan melalui tanda-tanda alam, termasuk pasang surut air laut dan buah yang mulai jatuh. Panen umumnya dilakukan melalui masuhi atau gotong royong.  Namun, kebutuhan ekonomi, perubahan pasar, dan praktik panen terburu-buru dapat mengancam pengetahuan lokal tersebut. Lalu, bagaimana menjaga pala Fakfak sebagai komoditas sekaligus identitas adat? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Greg R. Daeng, Manajer Legal dan Tata Kelola Yayasan INOBU. Percakapan ini menelusuri sejarah, praktik budidaya, tradisi panen, tantangan pasar, serta pentingnya kolaborasi antara masyarakat adat, petani, pemerintah, pendamping, dan sektor swasta untuk menjaga pala Fakfak beserta nilai budaya yang menyertainya. Diskusi ini mengingatkan bahwa menjaga pala berarti merawat hutan, pengetahuan antargenerasi, dan kebanggaan masyarakat Fakfak terhadap tanahnya sendiri.

About

Bicara soal alam