Nats Alkitab : 1 Yohanes 4:19 Penulis : G.I. Yanni Zou Pernahkah kita merasa sulit untuk mengasihi? Lebih mudah menjelaskan teori tentang kasih daripada mempraktikkannya dalam kehidupan, bukan? Kesulitan itu sering muncul ketika kita mengalami perlakuan buruk dari orang lain, bahkan dari orang-orang terdekat. Mengapa mempraktikkan kasih begitu sulit? Karena sering kali kita mengandalkan kekuatan sendiri. Mengasihi menjadi beban ketika kita mencoba melakukannya dengan tenaga manusia. Saat hati lelah, emosi terkuras, dan pengertian habis, kasih pun berhenti. Lalu, apa yang membuat kita mampu mengasihi dalam keadaan apa pun? Jawabannya adalah hanya kasih Allah yang memampukan kita untuk mengasihi dalam segala keadaan. Kasih sejati tidak lahir dari usaha manusia, emosi sesaat, atau niat baik semata. Kasih sejati berasal dari Allah, karena Allah adalah sumber kasih itu sendiri. Tanpa mengalami kasih Allah, manusia hanya mampu mengasihi secara terbatas, bersyarat, dan mudah habis. Kasih sejati berasal dari Allah; kasih-Nya sempurna, bersifat pribadi, telah ada sebelum dunia dijadikan, dan begitu besar. Alkitab menyatakan bahwa karena kasih, Kristus yang tidak berdosa rela menjadi dosa ganti kita. Ia mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita supaya kita diselamatkan. Dari orang berdosa kita menjadi orang benar, dari kematian kekal kita memperoleh hidup kekal, dari musuh Allah kita diangkat menjadi anak Allah. Hanya dengan menerima kasih Allah, barulah kita dapat mengasihi dengan kasih sejati. Menerima kasih Kristus adalah keputusan terpenting dan paling serius dalam hidup. Ketika kita datang kepada Tuhan dan percaya kepada Kristus, kita dipersatukan dengan Dia dan diselamatkan. Hal ini membawa kita masuk ke dalam relasi yang diperbarui dengan Tuhan, sehingga kita mengasihi Tuhan, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri dengan cara yang baru. Karena Allah lebih dahulu mengasihi kita, maka kita memperoleh kekuatan untuk mengasihi. Tuhan memampukan kita untuk terus mengasihi bukan karena kita mampu, melainkan karena kasih Tuhan yang tidak pernah berhenti bekerja di dalam diri kita. Seperti kata Rasul Paulus, “…oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih … supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan” (Ef. 3:16–19). Amin. "Kita mengasihi bukan karena kita kuat, tetapi karena kita telah lebih dahulu dikasihi Allah" Pertanyaan untuk direnungkan 1. Apakah anda sedang mencoba mengasihi dengan kekuatan sendiri, ataukah anda sudah bersandar pada kasih Tuhan? 2. Bagaimana pengalaman menerima kasih Tuhan seharusnya mengubah cara anda memperlakukan orang lain?