Charlotte May/PexelsTahun 2026 belum genap berjalan dua bulan, lini masa media sosial sudah disesaki berbagai keriuhan. Mulai dari perdebatan sengit tentang investasi kripto yang anjlok, hingga silang pendapat mengenai program makan bergizi gratis (MBG). Di tengah riuhnya arus informasi, muncul fenomena yang mengkhawatirkan. Publik kini tampak lebih mempercayai pernyataan influencer bercentang biru ketimbang analisis ilmiah dari para pakar yang memiliki otoritas di bidangnya. Inilah yang dikenal sebagai “Death of Expertise” atau matinya kepakaran. Dalam episode SuarAkademia kali ini, The Conversation Indonesia berbincang dengan Redaktur Pelaksana dan Content Director, The Conversation Indonesia, Anggi M. Lubis dan Editor Politik dan Masyarakat, The Conversation Indonesia, Nurul Fitri Ramadhani (Fifi), untuk mengupas fenomena ini. Diskusi ini tidak sekadar menyoroti pergeseran otoritas informasi, tetapi juga membongkar akar masalah dari ketidakpercayaan publik terhadap institusi ilmiah dan pakar di Indonesia. Fenomena matinya kepakaran bukanlah fenomena tunggal. Menurut Fifi, ini adalah akumulasi dari krisis kepercayaan (crisis of confidence) publik terhadap lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi sumber rujukan utama, seperti universitas dan lembaga riset. Publik belakangan ini kerap dihadapkan pada realitas di mana kampus-kampus bereputasi tinggi tampaknya lebih sering terafiliasi dengan kekuasaan politik daripada menyuarakan kepentingan masyarakat. Ketika pakar yang bernaung di bawah institusi akademik mengeluarkan pernyataan, publik cenderung curiga, “Apakah ini murni analisis ilmiah, atau ada pesanan politik di baliknya?” Kemudian, kecurigaan ini semakin menguat seiring dengan minimnya literasi digital dan literasi sains di kalangan masyarakat umum. Di sisi lain, Anggi menyoroti masalah yang bersumber dari para pakar itu sendiri. Selama ini, banyak pakar yang terlalu nyaman berada di wilayah akademis. Mereka cenderung menggunakan bahasa yang terlalu teknis dan kaku (rigid), sehingga sulit dipahami oleh masyarakat awam. Ketika berbicara kepada publik, pesan mereka seringkali terasa berjarak dan kurang membumi. Kontras dengan hal tersebut, influencer atau content creator hadir dengan kemasan yang jauh lebih menarik. Mereka mahir mengolah narasi (storytelling), menggunakan bahasa populer, dan memanfaatkan algoritma media sosial dengan optimal. Alhasil, meskipun pesan mereka belum tentu berdasar pada fakta ilmiah, pesan ini jauh lebih mudah diterima dan dipercaya oleh publik karena terasa lebih dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Fifi juga menggarisbawahi peran krusial algoritma media sosial dalam memperparah fenomena ini. Algoritma platform seperti X (dahulu Twitter), Instagram, dan TikTok tidak dirancang untuk mempromosikan kebenaran atau fakta ilmiah, melainkan untuk mendulang tingkat interaksi (engagement). Narasi yang provokatif, emosional, dan kontroversial seringkali dilemparkan oleh akun-akun anonim atau influencer tanpa latar belakang kepakaran justru jauh lebih disukai oleh algoritma ketimbang penjelasan akademis yang mendalam namun dianggap membosankan. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai “ilusi kepakaran” (illusion of expertise). Seseorang dengan pengikut ratusan ribu bisa dengan mudah mengklaim dirinya sebagai ahli di suatu bidang, hanya bermodalkan kemampuan menyusun argumen yang meyakinkan tanpa bukti empiris. Hal ini sangat berbahaya, terutama pada isu-isu krusial seperti kesehatan masyarakat atau kebijakan ekonomi, di mana kesalahan informasi dapat berakibat fatal. Menghadapi tantangan ini, tidak ada jalan pintas. Edukasi publik mengenai literasi digital dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) harus terus digalakkan. Masyarakat perlu dibiasakan untuk tidak menelan mentah-mentah setiap informasi yang viral, melainkan selalu melakukan verifikasi ulang (cross-check) terhadap kredibilitas dan rekam jejak dari sumber informasi. Namun, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak masyarakat, melainkan para pakar dan institusi pendidikan juga dituntut untuk berbenah. Mereka harus berani turun dari zona nyaman-nya dan mempelajari cara berkomunikasi yang efektif sekaligus populer di era digital, tanpa harus mengorbankan substansi keilmuannya. Kampus dan lembaga riset juga perlu kembali menegaskan independensi mereka, agar kepercayaan publik terhadap sains dan kepakaran dapat kembali pulih. Di era di mana siapa saja bisa bicara, memastikan bahwa suara yang benar adalah suara yang didengar menjadi tugas kolektif kita bersama. Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi. Kamu bisa mendengarkan episode SuarAkademia lainnya yang terbit setiap pekan di Spotify, Youtube Music dan Apple Podcast.