Suara GKJ Kotagede

GKJ Kotagede

Pelayanan Majelis GKJ Kotagede dalam bentuk audio, yang berisi: Ibadah Minggu dalam bentuk Audio, renungan harian, gembala menyapa, Motivasi imani dan puji pujian

  1. 04/01/2023

    BERBAHAGIALAH KARENA MATAMU MELIHAT DAN TELINGAMU MENDENGAR

    GEMBALA MENYAPA Minggu, 02 April 2023 BERBAHAGIALAH KARENA MATAMU MELIHAT DAN TELINGAMU MENDENGAR Bacaan: Mateus 13: 16 “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan teli-ngamu karena mendengar” Jemaat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan. Manusia diciptakan Tuhan dengan berbagai macam bagian tubuh yang ada. Bagian-bagian tubuh yang ada tersebut mempunyai peranan, fungsi dan manfaatnya masing-masing, seperti misalnya mata untuk melihat, telinga un-tuk mendengar, hidung untuk bernafas, mulut untuk berkata dan lain-lain sebagainya. Semuanya itu anugerah Tuhan sehingga manusia yang merupakan gambar Tuhan Allah itu merupakan ciptaan yang baik bahkan sempurna. Dalam bacaan saat ini, Mateus 13:16 Tuhan Yesus mengajarkan kepada para muridNya “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” Sabda tersebut merupakan jawaban Tuhan Yesus kepada para muridNya atas pertanyaan mereka mengapa Tuhan Yesus mengajarkan kepada orang banyak dengan perumpamaan, khusunya yaitu ajaran tentang Perumpamaan seorang penabur. Dengan sabda tersebut nampaknya Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa pada waktu itu orang banyak tidak atau belum mampu mendengarkan ajaran Tuhan Yesus yang berupa Perumpamaan seorang Penabur tersebut dengan baik dan sungguh-sungguh. Tuhan Yesus menghendaki agar orang banyak dan juga para muridNya mau menggunakan telinga dan matanya, lebih-lebih telinga dan mata rohani mereka untuk mendengar, melihat, serta memahami ajaran Tuhan Yesus. Jangan sampai orang hanya ikut-ikutan, “anut grubyuk” saja. Telinga dan mata, khususnya telinga dan mata rohani hendaknya digunakan dengan benar dan sebaik-baiknya untuk mendengar, melihat serta memahami karyaNya dan ajaranNya. Selanjutnya kalau Tuhan Yesus bersabda kepada para muridNya dalam Mateus 13:16 “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan teli-ngamu karena mendengar” tersebut, hal itu merupakan ajaran yang sangat bermakna yang berisi penghiburan serta penguatan bagi para muridNya. Siapa yang selalu menggunakan mata untuk melihat akan kasih, karya dan ajar-anNya dengan sungguh-sungguh, baik dan benar, demikian juga siapa yang selalu menggunakan telinga untuk mendengar dengan sungguh-sungguh, baik dan benar akan kasih, karya dan ajaranNya, mereka itulah yang disebut sebagai orang yang berbahagia. Apabila kita tidak mau menggunakan mata untuk melihat kehendak Tuhan yang baik, dan kalau kita tidak mau menggunakan telinga untuk mendengar kehendak Tuhan yang baik serta tidak mau melakukannya, jangan harap kita dapat memperoleh kebahagiaan dan damai sejahtera Tuhan Tidak hanya dalam hubungan dan relasi kita dengan Tuhan, tetapi dalam hubungan dengan sesama, baik dalam kehidupan keluarga, jemaat, masyarakat, bangsa dan Negara, kalau kita mau menggunakan mata dan telinga untuk hal-hal yang baik, kapanpun, di manapun, kepada siapapun dan dalam keadaan apapun, maka kebahagiaan dan damai sejahtera dari Tuhan pasti akan dikaruniakanNya bagi kita. Tuhan memberkati kita semua sejemaat. Amin. [PR]

    6 min
  2. 03/31/2023

    SEMAYA

    Gembala Menyapa 1 April 2023 SEMAYA Wahyu 10:1-11 Semaya punika tegesipun tumindak nunda-nunda tugas, pedamelan, lan tanggel jawab ingkang kedahipun saged dipun rampungaken sacara cepet. Semaya punika pakulinan ingkang mboten sae, ateges tiyang punika mboten saged nata wekdal, jadwal, lan relasi, satemah ingkang dipun tindakaken inggih namung semaya ing kathah prekawis. Contohipun: mangsa jawah, wancinipun ngabekti dhateng greja malah semaya “halah minggu ngarep ae.” Tiyang ingkang mekaten punika rumaos bilih wekdalipun taksih kathah, dhateng greja saged dipun lampahi kapan-kapan kemawon. Babagan medaraken Sabda-Nipun Gusti, sejatinipun mboten wonten istilah semaya. Via Dolorosa/ margi kasangsaran punika awujud lelampahanipun Gusti Yesus ingkang sipatipun mboten semaya. Gusti Yesus wantun nglampahi gesang ingkang pait lan legi. Kados waosan kita, Yokanan pikantuk paningal gulungan kitab ingkang tinarbuka/ kawudharan saking malaekating Allah. Lajeng Yokanan nampi dhawuh: “Tampanana lan panganen, iki bakal marakake wetengmu pait, nanging ana ing cangkemmu rasane legi kaya madu.” (Ay. 9). Ayat punika nggadhahi teges: 1. Lumantar Kitab Suci kita saged sumerep bilih tindak tanduk kita lepat lan dosa, lajeng kita badhe pikantuk paukuman lan kedah mratobat (asipat pait). 2. Lumantar Kitab Suci kita saged ngraosaken katresnan-Ipun Gusti, sarta nampi kawilujengan wonten ing salebething gesang kita (asipat legi). Yokanan ingkang dados utusan-Ipun Allah kaparingan tugas medaraken Injil Suci, bilih Gusti Yesus bakal rawuh ingkang kaping kalih ing alam donya punika. Tiyang Kristen ingkang taksih semaya lan tebih saking Gusti Yesus, kaajak sami pamratobat. Pepujen Kidung Ria 145, ngengetaken kita sami tansah gumregah lan aja semaya nglampahi Sabdanipun Gusti: Uwes awan ayo kanca padha tangi, digatekke uripe ana ing ngendhi. Pratandane wes cetha donyane arep sirna, mulane kanca padha tangia. O tangia, O tangia, Gusti Yesus meh rawuh, O tangia Mula kanca elinga, urip e diprayitna, Mulane kanca padha tangia Berkah kajasmanen lan karohanen, kesehatan, lan brayat ingkang sampun kita tampi punika wujud Gusti mboten semaya dhateng kita. Mila kita ingkang katitahaken dening Gusti Allah, punapa kita wantun semaya dhumateng Gusti?

    7 min
  3. 03/30/2023

    BELAJAR MEMPERCAYAI-NYA

    Gembala Menyapa 31 Maret 2023 BELAJAR MEMPERCAYAI-NYA Yohanes 11:1-44 Seorang anak belajar mempercayakan dirinya kepada ibunya atau ayahnya ketika ia belajar berjalan. Pertama-tama dititah, lama-kelamaan anak tersebut akan bisa berjalan sendiri. Untuk anak tersebut, ada proses jatuh bangun yang dia dilewati, dan untuk orang tua juga harus ada kerelaan dari dalam diri mereka, melihat anaknya sesekali jatuh, menangis, kemudian berupaya bangkit kembali, dan akhirnya si anak bisa jalan dengan baik. Yesus sudah mendengarkan kabar bahwa Lazarus sedang sakit. Tetapi, Yesus tidak segera mengunjungi Lazarus. Mengapa Yesus menunda kunjungan-Nya? Sekilas muncul kesan bahwa Yesus tidak peduli, Dia tidak sayang pada Lazarus dan keluarganya. Waktu berlalu dan Lazarus pun akhirnya meninggal dunia. Empat hari pasca kematian Lazarus, barulah Yesus datang mengunjungi mereka. Ketika Yesus tiba di rumah keluarga duka, kita bisa melihat sikap dan ungkapan Marta pada ayat 21, “Tuhan, sekiranya Engkau ada disini, saudaraku pasti tidak mati.” Rasa-rasanya ungkapan Marta ini hendak mengatakan, “Ah, sudah terlambat Tuhan, ia sudah mati.” Mungkin ini juga mewakili sikap kita pada umumnya, dalam situasi yang terdesak, kita menginginkan supaya Tuhan menyelesaikan masalah kita dengan secepatnya. Tuhan Yesus menunda kunjungan-Nya dengan tujuan supaya mereka belajar percaya. Ketika melihat kenyataan bahwa segalanya sudah terlambat bagi kita, apakah sikap kita lantas kecewa, menyalahkan, “mutung”, ataukah diri kita masih tetap berharap dan percaya kepada-Nya? Justru di situasi terdesak dan menurut kita terlambat, di saat itulah sebenarnya Tuhan sedang menguji iman kita, kepercayaan kita. Kemudian Lazarus pun dibangkitkan-Nya. Pada akhirnya peristiwa ini menumbuhkan sikap percaya yang kuat pada diri keluarga besar Lazarus. Selamat membangun iman yang kuat kepada Tuhan. Belajarlah terus untuk mempercayakan hidup kita seutuhnya kepada Kristus. Karena imanlah yang menuntun kita untuk terus bisa menjalani kehidupan dengan penuh pengharapan kepada Tuhan.

    5 min
  4. 03/29/2023

    PENJAGA IMAN

    Gembala Menyapa 30 Maret 2023 PENJAGA IMAN Yehezkiel 33:10-16 Ketika mendengar kata “penjaga” apa yang terlintas dalam benak anda? Apakah penjaga perlintasan kereta, penjaga sekolah, penjaga gawang atau mungkin ada yang lain? Tentu kita sering mendengar tentang kata penjaga. Menurut KBBI arti kata penjaga adalah orang yang bertugas menjaga dari suatu bahaya, kerugian atau kerusakan, dsb. Setiap manusia memiliki tanggung jawab menjadi penjaga bagi diri sendirinya dan sesamanya. Seperti Yehezkiel yang ditunjuk Tuhan sebagai penjaga Israel, ia memiliki tugas menjaga Israel agar tidak jatuh dalam dosa. Yehezkiel juga memperingatkan para pemimpin Israel, agar mereka berbalik dari dosa-dosa mereka, sebab Tuhan berkenan akan pertobatan. Tugas Yehezkiel yang lainnnya adalah mengingatkan para pemimpin Israel, agar tidak menyesatkan umat Israel untuk membuat dan menyembah ilah-ilah lain, seperti yang dilakukan nenek moyang mereka di Bait Allah. Untuk itu, Yehezkiel mengingatkan generasi bangsa Israel, bahwa gembala sejati mereka adalah Tuhan yang memberikan kehidupan baru kepada mereka dan mengampuni setiap orang yang mau bertobat dari dosanya. Untuk itu, mereka harus waspada dan segera bertobat supaya jangan tergiur dan mengikuti ajaran salah yang diberikan oleh para pemimpin Israel. Yehezkiel telah berhasil menjadi penjaga bagi Israel hingga membuat bangsa ini bertobat dan mendapatkan pengampunan dari Tuhan, selanjutnya bagaimana dengan kita? Bila setiap kita sudah tahu tentang ajaran Kristus untuk hidup kudus, saling mengasihi dan mengampuni, bukankah seharusnya kita menjadi penjaga bagi laku hidup kita agar selalu hidup kudus dan takut akan Tuhan? Bahkan bukan hanya diri kita saja, kita juga harus menjadi penjaga bagi sesama kita dengan menjadi teladan, memberi teguran, nasihat, dsb agar mereka tidak jatuh dalam dosa.

    5 min
  5. 03/28/2023

    TERANG YANG TERUS MENYALA

    Gembala Menyapa 29 Maret 2023 TERANG YANG TERUS MENYALA Yesaya 60:17-22 Di lorong gelap tanpa cahaya, kita tidak bisa melihat apapun. Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa terantuk dan jatuh. Cahaya sangat dibutuhkan untuk bisa melaluinya. Tanpa cahaya, kita tidak akan tahu bahaya yang ada di depan kita. Manusia yang hidupnya dikuasai dosa ibarat seseorang yang berjalan di lorong gelap. Ia tidak mampu melihat bahaya yang terbentang dan ia kesulitan memilih jalan yang benar, maka itu diperlukan cahaya untuk keluar dari kegelapan itu, supaya ia dapat hidup dalam terang. Sejarah kehidupan umat percaya menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan umat-Nya terus hidup dikuasai kegelapan, di bawah bayang-bayang maut, oleh karena dosanya. Allah memanggil umat untuk bertobat dan mengingatkan mereka melalui berbagai peristiwa. Kitab Yesaya menggambarkan hukuman Allah atas bangsa Israel yang memberontak. Hukuman Allah itu terjadi dalam berbagai bentuk, seperti bencana alam, kekalahan militer dalam peperangan, dan penyakit. Namun demikian, Allah juga digambarkan sebagai pribadi yang pemurah dan penuh belas kasih. Hukuman-Nya semata-mata sebagai bentuk peringatan, agar umat bertobat dari pemberontakannya dan kembali kepada-Nya. Allah yang membiarkan umat-Nya mengalami bencana dan pembuangan adalah Allah yang juga memulihkan dan membebaskan. Demikianlah nubuat pemulihan Sion dalam Yesaya 60 menjadi pengharapan akan pulihnya kehidupan umat Allah. Secara ideal, umat digambarkan akan dituntun oleh terang sejati. Nubuat yang diimani tergenapi dalam diri Yesus. Tuhan adalah Penerang yang membuat kita berjalan dalam terang, yakni kehidupan yang dituntun oleh sabda-Nya, sehingga hidup kita tidak lagi dikuasai kegelapan. Terang sejati itu, kita imani dalam Kristus yang menuntun pada kehidupan kekal. Dalam Kristus, kita mengenal terang yang tak pernah padam, yang akan terus menopang untuk menerangi kegelapan agar kita hidup dalam kebenaran. Cahaya Kristus menolong kita untuk melihat jalan yang terbentang di depan, sehingga kita dapat melihat jalan yang menuju kekekalan. Berpegang teguh pada terang yang tak pernah padam adalah pilihan terbaik yang menghantarkan kita pada kegenapan rahmat keselamatan yang Tuhan sediakan bagi semua ciptaan.

    5 min
  6. 03/27/2023

    SUPERIORITY COMPLEX

    Gembala Menyapa 28 Maret 2023 SUPERIORITY COMPLEX Yesaya 59:9-19 Superiority complex pertama kali dideskripsikan oleh psikolog bernama Alfred Adler pada awal abad ke-21. Superiority complex adalah perilaku seseorang, dimana ia percaya bahwa ia lebih baik dan hebat daripada orang lain. Orang-orang dengan sifat ini sering memiliki opini berlebih mengenai diri dan juga kerap melontarkan pengakuan diri yang sarat arogansi, namun tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka memiliki penghargaan akan diri yang berlebihan, serta enggan mendengarkan apa yang orang lain katakan, meskipun itu demi kebaikan mereka. Bacaan kita pada hari ini, berkisah tentang akibat yang ditanggung oleh bangsa Israel karena perilaku superiority complex yang mereka miliki. Bangsa Israel meyakini bila mereka adalah bangsa terpilih, bangsa yang dikasihi Tuhan melebihi bangsa-bangsa lain. Mereka merasa sebagai bangsa yang paling unggul dan istimewa. Keyakinan ini ternyata justru menjebak mereka dalam sikap sombong disertai tindakan yang sembrono, bahkan mereka mengabaikan apa yang diserukan oleh Nabi Yesaya terkait pertobatan. Keyakinan mereka tentang keunggulan diri itu, justru membawa mereka jauh dari Tuhan, bahkan menuai penderitaan. Superioritas diri bangsa Israel membuat mereka jatuh dalam kesengsaraan, namun superioritas kasih Tuhan terhadap ciptaan-Nya telah disiapkan untuk menyelamatkan. Belajar dari kisah bangsa Israel ini, marilah kita memeriksa diri dan hati kita secara rutin. Apakah kita masih menjumpai keyakinan maupun pemikiran yang mengandung superiority complex di sana? Kiranya, kita selalu meneladan Tuhan di dalam kelimpahan kasih-Nya. Yang superior atau unggul, yang berlebih, yang istimewa, yang utama, seharusnya bukanlah cara kita memandang diri sendiri, melainkan cara kita menghayati dan mengamalkan kasih Tuhan, yang kita terima di dalam kehidupan. Selamat memeriksa diri dan menghayati betapa superior atau unggulnya kasih Tuhan yang merahmati kita.

    4 min
  7. 03/26/2023

    Dia Gembalaku

    Gembala Menyapa 27 Maret 2023 DIA GEMBALAKU Mazmur 23:1-6 Kata gembala identik dengan orang yang bekerja menjaga, memelihara, dan menuntun kawanan domba ke tempat yang luas, misalnya padang rumput. Biasanya padang rumput tersebut sangat luas, sehingga tugas sang gembala tidaklah mudah. Penglihatannya harus lebih tajam, telinganya harus lebih peka, fisiknya harus lebih prima. Dia harus bisa diandalkan, memiliki mental yang kuat, dan memiliki perhatian yang besar pada kawanan dombanya, agar jika kawanan dombanya mengalami kesulitan, dia bisa segera menolongnya. Seorang gembala haruslah memiliki jiwa sosial dan empati yang tinggi kepada gembala yang lain, karena bisa jadi mereka berada di tempat yang sama, dalam waktu yang lama. Seorang gembala juga harus memiliki hati yang tulus dan rendah hati, karena dia menggembalakan domba milik orang lain, jika tidak punya hati seperti itu, maka dia hanya menjadi gembala upahan yang tidak peduli dengan keadaan domba gembalaannya, tidak peduli dengan keinginan sang pemilik. Bacaan hari ini mengisahkan gambaran Daud yang pernah menjadi seorang gembala (1 Sam 16:11) tentang sosok gembala yang baik. Bagi Daud, Tuhan adalah gembala yang baik. Dia mengatakan bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhannya, bukan hanya secara jasmani, tetapi juga rohani. Ini menunjukkan bahwa Tuhan peduli dan bertanggungjawab atas kehidupan Daud. Tuhan juga digambarkan sebagai penolong, penuntun, dan penjaga dalam situasi yang paling kelam sekalipun dalam hidup Daud. Daud meyakini bahwa selama ada Tuhan Sang Gembala, maka dia akan tetap aman, sekalipun hidupnya sedang tidak baik-baik saja. Tuhan tidak akan membiarkan dia merasa malu di depan orang lain, terlebih dihadapan para musuhnya. Daud ingin menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkannya berjalan sendiri. Daud adalah anak-Nya, milik-Nya, biji mata-Nya, bagaimana mungkin dia dibiarkan menghadapi kesulitannya sendirian? Sang Gembala yang senantiasa memberkati Daud di sepanjang hidupnya, mengajarkan pada kita bahwa Dialah Sang Sumber Berkat yang sejati. Dengan segala berkat yang telah kita terima, maka yang harus kita lakukan adalah terus mendekat dan memberi yang terbaik kepada Tuhan. Mari senantiasa bersyukur kepada Tuhan, sebab Dialah gembala kita, Dialah Sang Pemelihara hidup kita.

    5 min
  8. 03/25/2023

    BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MENJADI KECEWA DAN MENOLAK AKU

    GEMBALA MENYAPA Minggu, 26 Maret 2023 BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MENJADI KECEWA DAN MENOLAK AKU Bacaan: Mateus 11: 6 “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” Jemaat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan. Dalam Mateus 5: 1-12 Tuhan Yesus telah mengawali khotbah di bukit dengan ajaran-ajaran tentang bagaimana umatNya, yaitu orang percaya dapat memperoleh kebahagiaan hidup, baik secara lahiriah/jasmani maupun rohani/ kejiwaan. Hal itu semua sudah kita bahas bersama melalui renungan-renungan Gembala Menyapa sebelumnya. Kalau kita telusuri dan kita cermati, dalam Kitab Suci ternyata masih banyak ajaran Tuhan Yesus tentang bagaimanakah umatNya dapat memper-oleh kebahagiaan dalam hidupnya. Karena itu dalam renungan Gembala Menyapa saat ini dan seterusnya, kita akan mencoba merenungkan berbagai hal yang diajarkan Tuhan Yesus tentang bagaimana umatNya/orang percaya dapat memperoleh kebahagiaan itu. Dalam Mateus 11: 6 Tuhan Yesus bersabda :”Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” Sabda tersebut merupakan jawaban yang fundamental, yang sangat mendasar dari Tuhan Yesus yang disampaikan kepada Yohanes Pembaptis. Pada waktu itu Yohanes Pembaptis dipenjarakan oleh raja Herodes karena ia menegur Herodes yang mengambil Herodias isteri Filipus, saudaranya untuk dijadikan isterinya, dengan mengatakan:”Tidak layak engkau mengambil Herodias” (Mateus 14: 4). Penjara merupakan tempat yang tidak menyenangkan dan tentu membuat orang terbebani dan menderita lahir batin. Seperti pada umumnya orang yang dipenjara pasti menginginkan kebebasan dari belenggu penjara. Yohanes Pembaptis yang pada waktu itu mendengar apa yang sudah dilakukan oleh Tuhan Yesus, ia begitu mengharapkan uluran tangan dan pertolongan dari TuhanYesus agar terbebas dari pengapnya penjara dan deritanya. Oleh karena itu Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya (dalam Lukas 7:19 disebutkan dua orang), untuk menanyakan kepada Tuhan Yesus: ”Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? Pertanyaan tersebut menunjukkan kekecewaan hati Yohanes Pembaptis kepada Tuhan Yesus karena sekalipun ia telah juga mendengar apa yang sudah dilakukan Tuhan Yesus, namun demikian mengapa Tuhan Yesus tidak meno-longnya ketika terbebas dari derita dan belenggu penjara. Atas pertanyaan tersebut, Tuhan Yesus menyuruh murid-murid Yohanes Pem-baptis itu kembali kepada Yohanes Pembaptis dan memberitahukan apa yang sudah dilakukan Tuhan Yesus yaitu: orang buta melihat, orang lumpuh berja-lan, orang kusta ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, orang miskin diberi kabar baik. Dengan jawaban itu Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia benar-benar Juru Selamat yang telah dijanjikan Tuhan Allah. Di samping itu Tuhan Yesus juga memberikan jawaban yang fundamental, yang mendasar agar Yohanes tidak kecewa, apalagi menolakNya, sabda-Nya:”Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak aku”. Tidak menjadi kecewa dan menolakNya itu yang Tuhan Yesus kehendaki dari diri Yohanes Pembaptis, sekalipun tantangan dan beban hidup yang dialami sungguh berat dan tidak ringan. Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa hanya orang yang demikian itulah yang akan “berbahagia”, yang akan memperoleh damai sejahtera, ketenteraman lahir batin, juga keselamatan di dalam Tuhan. Marilah sabda dan jawaban fundamental dari Tuhan Yesus kepada Yohanes Pembaptis tersebut, kita jadikan perenungan yang mendalam dan sungguh-sungguh di sepanjang kehidupan kita. Sekalipun terhimpit beban berat yang menimpa hidup kita hendaknya kita umatNya, orang percaya tidak menjadi kecewa apalagi menolak, tidak lagi mau menerima Tuhan Yesus se- bagai Juru Selamat. Kita harus tetap dan selalu menyadari dan meyakini bahwa Tuhan Yesus itu Juru Selamat kita. KasihNya begitu besar untuk kita. PengorbananNya melalui sengsara dan kematianNya adalah bukti kesung-guhanNya untuk menolong dan menyelamatkan kita orang berdosa. Jangan menjadi kecewa dan jangan menolakNya. Itulah sumber kebahagiaan sejati bagi kita umatNya/orang yang percaya, apabila kita percaya kepadaNya kapanpun, di manapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Tuhan beserta dan memberkati kita se jemaat. Selamat ber hari Minggu Prapaskah V 2023 saat ini. Amin. [PR]

    8 min

About

Pelayanan Majelis GKJ Kotagede dalam bentuk audio, yang berisi: Ibadah Minggu dalam bentuk Audio, renungan harian, gembala menyapa, Motivasi imani dan puji pujian