Fluent Fiction - Indonesian: Healing Hearts: A Chance Encounter in a Hospital Waiting Room Find the full episode transcript, vocabulary words, and more: fluentfiction.com/id/episode/2026-02-19-08-38-20-id Story Transcript: Id: Di tengah hujan lebat yang terus menyerbu jendela kaca rumah sakit, Budi duduk dengan gelisah di ruang tunggu. En: In the midst of the heavy rain that kept battering the hospital’s glass windows, Budi sat anxiously in the waiting room. Id: Aroma antiseptik menggantung di udara, dan cahaya lampu neon bergetar lembut. En: The aroma of antiseptic hung in the air, and the neon lights flickered gently. Id: Budi menundukkan kepala, berusaha menenangkan degup jantungnya yang memburu. En: Budi lowered his head, trying to calm his racing heart. Id: Rumah sakit selalu membuatnya cemas, mengingatkan pada kejadian traumatis di masa lalu. En: Hospitals always made him anxious, reminding him of traumatic events from the past. Id: Di sampingnya, Dewi, adik perempuannya yang penuh semangat, mengamati kakaknya dengan penuh perhatian. En: Beside him, Dewi, his spirited younger sister, watched her brother attentively. Id: "Mas Budi, kenapa nggak coba ngobrol sama orang lain? En: "Mas Budi, why don’t you try talking to someone else? Id: Jangan terlalu tegang," sarannya sambil memberi senyum. En: Don’t be too tense," she suggested with a smile. Id: Budi menghela nafas dalam-dalam, "Aku cuma khawatir sama Ibu. En: Budi took a deep breath, "I’m just worried about Mom. Id: Lagipula, aku nggak tahu harus mulai dari mana. En: Besides, I don’t know where to start." Id: "Dewi menggeleng, "Itu Intan, dia sering aku lihat di sini. En: Dewi shook her head, "That’s Intan, I often see her here. Id: Dia sepertinya baik. En: She seems nice." Id: "Di seberang ruangan, Intan duduk memegang buku di pangkuannya. En: Across the room, Intan sat with a book on her lap. Id: Rambutnya yang panjang tergerai, wajahnya mencerminkan ketenangan yang tenang meski hatinya juga terbebani. En: Her long hair hung loose, and her face reflected a calmness although her heart was burdened too. Id: Adik laki-lakinya sudah lama sakit, tapi Intan tak pernah kehilangan harapan. En: Her younger brother had been sick for a long time, but Intan never lost hope. Id: Setelah ragu beberapa saat, akhirnya Budi memberanikan diri mendekati Intan. En: After hesitating for a moment, Budi finally mustered the courage to approach Intan. Id: "Hai, kamu Intan, kan? En: "Hi, you're Intan, right?" Id: " tanya Budi mencoba ramah. En: asked Budi trying to be friendly. Id: Intan mengangkat wajah, tersenyum lembut. En: Intan looked up, smiling softly. Id: "Iya, dan kamu mungkin Budi? En: "Yes, and you’re probably Budi? Id: Aku pernah lihat kamu dengan adikmu. En: I’ve seen you with your sister." Id: ""Hmm, iya benar. En: "Hmm, yes, that’s right. Id: Ibu lagi dirawat. En: Mom is being treated. Id: Aku sebenarnya nggak terlalu nyaman di rumah sakit," kata Budi, sedikit canggung. En: I’m actually not very comfortable in hospitals," said Budi, a bit awkwardly. Id: Intan mengangguk mengerti. En: Intan nodded understandingly. Id: "Aku tahu rasanya. En: "I know the feeling. Id: Kadang, kita cuma butuh teman ngobrol. En: Sometimes, we just need someone to talk to." Id: "Seiring hujan yang masih mengguyur deras, obrolan mereka mengalir lancar. En: As the rain continued to pour heavily, their conversation flowed smoothly. Id: Mereka berbagi cerita, tentang kegigihan Ibu Budi dan semangat juang adik Intan. En: They shared stories about Budi’s mother’s perseverance and Intan’s brother’s fighting spirit. Id: Dalam percakapan itu, mereka menemukan kehangatan dan penghiburan, melupakan sejenak kekhawatiran yang membelenggu. En: In that conversation, they found warmth and solace, momentarily forgetting the worries that bound them. Id: Waktu berlalu, dan suara gemuruh hujan mulai mereda. En: Time passed, and the sound of the rumbling rain began to subside. Id: Sebelum pulang, Budi dan Intan bertukar nomor telepon. En: Before leaving, Budi and Intan exchanged phone numbers. Id: "Terima kasih, Intan. En: "Thank you, Intan. Id: Rasanya lebih baik bisa berbicara denganmu," kata Budi dengan tulus. En: It feels better being able to talk with you," said Budi sincerely. Id: Intan mengangguk, matanya bersinar lembut. En: Intan nodded, her eyes shining softly. Id: "Sama-sama, Budi. En: "You’re welcome, Budi. Id: Kita bisa saling mendukung. En: We can support each other. Id: Dunia ini nggak terlalu menakutkan kalau kita punya teman. En: The world isn’t so scary if we have a friend." Id: "Malam itu, saat Budi dan Dewi pulang, hujan masih menyisakan genangan di sepanjang jalan. En: That night, as Budi and Dewi went home, the rain left puddles along the street. Id: Tapi di dalam hatinya, Budi merasa lebih tenang. En: But inside his heart, Budi felt more at ease. Id: Dia mungkin masih takut pada rumah sakit, tapi sekarang tahu, bersahabat bisa menjadi pelipur lara yang manjur. En: He might still be afraid of hospitals, but now he knew that friendship could be a powerful comfort. Id: Melalui percakapan simpel di ruang tunggu rumah sakit, Budi menyadari betapa kekuatan hubungan manusia bisa menenangkan hati yang gundah. En: Through a simple conversation in the hospital waiting room, Budi realized how the strength of human connections could calm a troubled heart. Id: Jakarta yang basah setelah hujan menambah dingin malam, namun tak lagi membuatnya merasa sendiri. En: A wet Jakarta after the rain added chill to the night, but no longer made him feel alone. Vocabulary Words: amidst: di tengahbattering: menyerbuanxiously: dengan gelisaharoma: aromaantiseptic: antiseptikflickered: bergetarracing: memburutraumatic: traumatisspirited: penuh semangatattentively: penuh perhatianperseverance: kegigihansolace: penghiburansubside: meredasincerely: dengan tulusshining: bersinarpuddles: genanganease: tenangpowerful: manjurcomfort: pelipur laraconnections: hubungancalm: menenangkanburdened: terbebanimustered: memberanikanawkwardly: sedikit canggungsupport: mendukungchill: dinginforgotten: melupakanhesitating: raguspirit: semangatbound: membelenggu