Proxemics Podcast

White Wood

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood Pod.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcast Instagram: @proxemics.podcast Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com

  1. 4d ago

    Akhir Era SEO Tradisional: Kenapa Praktisi B2B Wajib Paham GEO & Narrative Architecture? | 036

    Di era disrupsi, memenangkan persaingan bukan lagi soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang memiliki struktur fondasi paling solid. Di episode Proxemics Podcast kali ini FULLHOUSE duduk bersama untuk mendekonstruksi lanskap industri komunikasi, PR, dan marketing yang tengah diacak-acak oleh AI. Kami membongkar kerangka kerja (framework) level eksekutif yang menjadi pegangan top management saat ini. Mulai dari urgensi Public Affairs dan pentingnya mengamankan Social License to Operate (SLO) di luar izin legal, pergeseran paradigma dari CSR menuju Corporate Shared Value (CSV), hingga krisis eksistensial media massa akibat fenomena AI Crawler & "Zero-Click Search". Bagi Anda para C-Level, praktisi PR, Marketer, atau strategis B2B, episode ini juga membedah transisi krusial dari SEO konvensional menuju GEO (Generative Engine Optimization). Siapkan catatan, ini adalah "Executive Playbook" untuk mempertahankan relevansi brand Anda! ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 💡 KEY INSIGHTS ▸ Izin Legal Bukan Jaminan Tanpa SLO Bisnis raksasa sering terganjal konflik dengan masyarakat sipil karena perbedaan orientasi. Public Affairs bertugas mengelola "Externality Cost" agar perusahaan tidak hanya sah secara hukum (Technical License), tapi juga mengantongi restu sosial (Social License to Operate). ▸ Matinya CSR & Lahirnya CSV Korporasi cerdas tidak lagi membuang uang untuk donasi karikatif (CSR) yang tidak relevan dengan core bisnis. Mereka mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat ke dalam OPEX operasional (Creating Shared Value), memastikan ekosistem tumbuh bersamaan dengan laba perusahaan. ▸ Kematian Senyap Media Konvensional Perilaku pengguna bergeser ke arah "Zero-Click Search" di mana AI langsung merangkum jawaban di halaman pencarian. Kehilangan traffic berarti kehilangan nafas bagi media independen, berujung pada kolapsnya bisnis pers dan darurat literasi digital. ▸ SEO Bertransformasi Menjadi GEO Konten yang relevan bagi manusia saja sudah tidak cukup. Brand harus menguasai "Dual Legibility Tension" dan merancang "Narrative Architecture" agar informasi mereka dapat dipindai, dipahami, dan direferensikan oleh mesin Generative AI. ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ ⏱️ TIMESTAMPS 00:00 - Highlights 01:00 - Intro & Taktik Ambush Marketing 06:26 - Dinamika Bisnis Media 13:05 - Konsep Public Affairs 18:22 - Evolusi CSR ke CSV 24:30 - Etika & Regulasi Influencer 37:11 - Era Zero Click Search 46:27 - AI Sebagai Alat Bantu 57:34 - SEO Masa Depan (GEO) 59:08 - Kesimpulan dan Outro ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🏷️ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED Levi's • Coca-Cola • DBS • Nestle • Public Affairs • Social License to Operate (SLO) • Corporate Shared Value (CSV) • Generative Engine Optimization (GEO) • Narrative Architecture • Dual Legibility Tension • AI Crawler • Zero-Click Search • Externality Cost • Opex • Jim Collins (Good to Great) • Alvin Toffler • The Genius of AND ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🎙️ Produced by White Wood Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ #ProxemicsPodcast #ExecutivePlaybook #PublicAffairs #GenerativeEngineOptimization #DisrupsiAI #PublicRelations #B2BMarketing #IndustriMedia #CorporateSharedValue #MarketingStrategy Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  2. Jul 13

    Strategi Asli Agency Live Commerce Tangani Brand Raksasa (Bukan Cuma Omset!) | 035

    Content is King itu udah basi. Di era digital yang hyper-accelerated sekarang, kalau lu cuma bikin konten yang cantik tanpa ngerti data, lu bakal tenggelam. Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Maria Ramona (Mona) — Head of Creative di SIRCLO. Dari anak agency tulen yang biasa ngurusin TVC dan guideline brand, sekarang dia nge-lead tim raksasa untuk ngurusin ribuan sesi live streaming dan social commerce harian. Topik besarnya: Creative Commerce, Anatomi Live Streaming yang sukses, bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara efektif dalam proses kreatif, dan cara mengelola tim kreatif dalam skala besar. Kami membedah kenapa host live stream nggak bisa cuma modal cantik/ganteng, kenapa desainer grafis sekarang wajib melototin data penjualan, dan bahayanya karyawan yang punya sindrom "Iya, ngerti bos" padahal zonk. Buat kamu yang punya brand, kerja di agency, tim kreatif, atau lagi pusing kenapa jualan di TikTok/Shopee mentok terus — ini ilmu daging dari dapurnya enabler e-commerce raksasa. Realita, bukan teori. 💡 KEY INSIGHTS ▸ Kreatif + Data = Creative Commerce Visual bagus aja nggak cukup. Desainer dan tim kreatif sekarang wajib paham matriks: Entrance Rate, Average View Duration (AVD), sampai GMV. Karya lu divalidasi oleh angka, bukan sekadar selera bos. ▸ Host Live Stream bukan sekadar "Talking Head" Mau jualan laku? Product knowledge yang mendalam adalah kunci. Host yang sukses adalah mereka yang ngerti pain points audiens dan bisa ngasih konteks psikologis secara spontan, bukan cuma baca script hafalan. ▸ AI bikin efisien, tapi bahaya bikin "Nyampah" AI memang dipakai untuk short video dan bikin desain massal. Tapi ingat, AI itu untuk volume. Kalau brand cuma bombardir tanpa master visual yang kuat dan QC manusia, lu bukan lagi marketing, lu cuma nyampah dan bikin audiens muak. ▸ Red Flag: Karyawan "The Yes Men" Dalam manajemen tim skala besar, penyakit paling bahaya adalah karyawan yang bilang "iya, ngerti" cuma buat impress atau takut kelihatan bodoh, tapi hasil akhirnya meleset. Meleset 1 milimeter di atas, bakal jadi ratusan meter di bawah. 🎧 Dengerin full episode-nya, dan subscribe buat diskusi praktisi marketing & PR lainnya. ⏱️ TIMESTAMPS 0:00 Intro: Era Creative Commerce 01:57 Dari Agency Ke Tech Company (SIRCLO) 06:49 Matriks Rahasia Live Streaming 13:36 Evolusi Tim Kreatif : Wajib Melek Data 22:58 Kunci Sukses Host : Product Knowledge & Konteks 31:21 Dibalik Layar Casting & Evaluasi Host 42:56 AI di E-commerce & Jebakan “Nyampah” 55:18 Red Flag Tim Besar: Bahaya Si “Sok Ngerti” 01:04:49 Outro: Cerita Bisnis Playdou Pizza & Closing 🎙️ Produced by White Wood Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  #ProxemicsPodcast #CreativeCommerce #LiveStreaming #MarketingIndonesia #SIRCLO #DigitalMarketing #ECommerceIndonesia #KecerdasanBuatan #AgencyLife #TikTokLive #ShopeeLive Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  3. Jun 19

    Marketing di Era AI: KYC, GEO, & Kenapa Karakter Lebih Penting dari Skill | 034

    Some people sell products. Our guest sells trust — dan dia ngelakuinnya di salah satu industri paling susah dipercaya: fintech. Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Yosua Tanuwiria — seasoned marketing professional, dengan 15 tahun pengalaman lintas industri dari hospitality sampai financial services. Topik besarnya: marketing di era AI, literasi keuangan, dan apakah AI beneran bakal menggantikan marketer & agency. Kami membedah apa yang berubah saat "democratized virality" bikin siapa pun bisa viral, kenapa financial literacy orang Indonesia masih ketinggalan, dan kenapa AI justru bikin jurang antara yang "intuit" dan yang gaptek makin lebar — bukan makin rata. Buat kamu yang kerja di marketing, PR, branding, atau agency — dan first-jobber yang lagi cari pijakan — ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk. 💡 KEY INSIGHTS ▸ KYC = fondasi marketing (bukan yang compliance itu) Bukan "Know Your Customer" versi verifikasi data — tapi seberapa beneran kamu paham siapa yang kamu ajak bicara. Brand sering bikin sesuatu yang nggak menjawab masalah siapa pun, dan itu kerja multi-divisi — bukan tugas marketing sendirian. ▸ "Knowledge bisa diajarin. Karakter nggak bisa dirubah." Tiga hal yang dicari Yos saat hiring: karakter, rasa kepemilikan (ownership), dan kemampuan untuk unlearn. Skill nomor sekian. ▸ AI tidak menggantikan — AI memperkuat (kalau kamu tahu caranya) Bedanya agency yang menang dan yang tergusur: yang menang pakai AI untuk jadi konsultan yang lebih baik, bukan untuk produksi barang yang klien juga bisa bikin sendiri. Relationship dengan media, regulator, dan stakeholder — itu yang nggak bisa di-prompt. ▸ Kenapa AI justru bikin lapangan makin timpang Kalau kamu sudah perform DAN melek AI, kamu seperti "Barry Bonds on steroids." Tapi kalau ketinggalan, jaraknya makin jauh. Era AI bukan pemerataan — ini amplifier. ▸ Trust di fintech: kamu harus go above and beyond Saat terjadi glitch harga forex, CEO mereka langsung live interview dan membiarkan customer menikmati keuntungan dari error itu — walau itu kesalahan partner, bukan internal. Walk the talk, atau kehilangan kepercayaan selamanya. 🎧 Dengerin full episode-nya, dan subscribe buat diskusi praktisi marketing & PR lainnya tiap minggu. ⏱️ TIMESTAMPS 0:00 Teaser & Bumper in 01:01 Intro: Bisnis Jualan Trust 02:16 Democratized Virality Era 06:11 Realita Know Your Customer 19:23 Jebakan Ilusi Cepat Kaya 28:59 The Ability To Unlearn 41:05 Adaptasi Agensi Era AI 53:13 Masterclass Crisis Management 58:07 Red Flag: Drama Queen 01:00:48 Outro: Closing Statement Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #AIMarketing #PublicRelations #FinancialLiteracy #LiterasiKeuangan #GEO #Branding #Fintech #DigitalMarketing #AgencyLife #FOMO #Investasi #KYC #PromptEngineering Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  4. Jun 19

    Pencopotan Kepala BGN: Evaluasi Murni atau Sekadar "Dead Cat Theory"? | 033

    Isu tata kelola program pemerintah dan investasi *startup* sering kali diselimuti kontroversi dan perdebatan publik—mulai dari kekisruhan logistik Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga tuduhan korupsi yang menjerat *Venture Capital* BUMN akibat gagalnya investasi di *startup*. Namun, realita di balik layar menunjukkan adanya tantangan struktural yang kompleks, seperti birokrasi yang kaku dan lambatnya pemahaman hukum terhadap manajemen risiko investasi *high-risk*. Di tengah era di mana disrupsi AI terjadi sangat cepat, institusi publik dan swasta dituntut untuk memiliki strategi komunikasi krisis yang tangguh dan tidak reaktif. In this episode of Proxemics Podcast, kita membedah dinamika komunikasi politik dan krisis ekosistem bisnis digital. Anda akan mempelajari apa itu strategi *Dead Cat Theory* dalam lanskap komunikasi pemerintah, pelajaran *Public Relations* dari blunder viral promotor konser, serta ancaman di balik kriminalisasi kerugian investasi *Venture Capital* yang secara sistemik memaksa talenta *startup* lokal untuk eksodus dan berkarya di luar negeri. ### Key PR Insights & Analysis * **Q: Apakah evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) murni soal tata kelola atau sekadar pengalihan isu?** * **A:** Selain adanya evaluasi nyata terhadap tata kelola dan pencopotan kepala BGN, diskusi membedah spekulasi terkait penggunaan strategi "Dead Cat Theory" dalam komunikasi politik, yakni taktik melempar isu sensasional untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah yang lebih esensial. * **Q: Mengapa menyamakan kerugian Venture Capital BUMN di startup dengan tindak korupsi dianggap berbahaya?** * **A:** Secara natural, investasi *startup* adalah perjudian berisiko tinggi (*high risk, high reward*). Menjerat kegagalan investasi komersial dengan pidana kerugian negara dapat menciptakan preseden buruk, mematikan ekosistem inovasi, dan mendorong talenta lokal untuk mencari pendanaan di negara dengan birokrasi yang lebih adaptif. * **Q: Apa pelajaran PR yang bisa diambil dari krisis promotor konser yang viral baru-baru ini?** * **A:** Di era media sosial, respons yang reaktif dan emosional langsung dari *brand* adalah sebuah blunder PR. Pendekatan terbaik adalah menyelesaikan keluhan secara privat di belakang layar terlebih dahulu, kemudian menggunakan konsumen tersebut sebagai validator pihak ketiga untuk mengklarifikasi bahwa masalah telah terselesaikan. --- ### Timestamps 00:00 - Opening & Highlights 00:59 - Intro & Blunder PR Politik 16:18 - Evaluasi program makan bergizi (MBG) 23:02 - Apa itu Dead Cat Theory 25:57 - Krisis PR Konser F4 34:14 - Kasus TANI HUB & VC BUMN 40:18 - Risiko startup vs tindak korupsi 51:31 - Startup Lokal Terjegal Birokrasi 54:08 - Ancaman AI Prompting di 2026 55:35 - Outro & Closing --- Brands/People Mentioned: Dinopati Jalal, Tedy Indrawijaya, Ferry Irwandi, BGN, F4/FSE, TaniHub, BRI Ventures, MDI Ventures, Telkom Indonesia, Temasek, Google, OpenAI. Produced by White Wood Hosts: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  #ProxemicsPodcast #DeadCatTheory #StartupIndonesia #TaniHub #VentureCapital #KrisisKomunikasi #Birokrasi #PublicRelations #MakanBergiziGratis #MarketingIndonesia Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  5. Jun 18

    Realita Bisnis PR Hospitality & Sisi Gelap Ekosistem Agensi: Sekadar Mitos Glamor? | 032

    Bekerja di industri Public Relations (PR) hospitality dan lifestyle sering kali diselimuti ilusi kemewahan—fine dining, hotel bintang lima, dan kehidupan serba glamor. Namun, realita di balik layar menuntut kedisiplinan tingkat tinggi, manajemen klien yang kompleks, dan kerja keras yang sering kali tersembunyi dari publik. Di tengah era di mana AI mulai menggantikan peran tradisional dan fenomena "Conscious Unbossing" melanda talenta muda, agensi PR menghadapi tantangan regenerasi SDM dan tuntutan added value yang belum pernah terjadi sebelumnya. In this episode of Proxemics Podcast, Stef (Praxis) membedah dinamika bisnis agensi komunikasi bersama Viana Igah, Founder Prefinite dan Askara Group. Anda akan mempelajari bagaimana strategi membangun agensi PR berkaliber premium, pentingnya transisi ke Hybrid PR, dan bagaimana pemimpin agensi menavigasi krisis SDM ketika generasi muda secara sadar menolak promosi jabatan demi kesejahteraan mental. Key PR Insights & Analysis Q: Apakah industri PR benar-benar seglamor yang terlihat di media sosial? A: Sama sekali tidak. Mitos kemewahan di Instagram hanyalah hasil akhir dari "tangis dan air mata" di balik layar. Praktisi PR hospitality bekerja dengan jam kerja yang tidak menentu dan dituntut memiliki kedisiplinan operasional yang sangat tinggi, layaknya standar perhotelan bintang lima. Q: Mengapa strategi organik saja tidak lagi cukup, dan apa itu Hybrid PR? A: Di ekosistem media yang tersaturasi, strategi Hybrid PR—menggabungkan relasi organik dengan investasi berbayar (paid media/KOL)—menjadi sebuah keharusan. Brand dan klien harus diedukasi bahwa lanskap media dan kreator konten juga membutuhkan investasi (bukan hanya barter) agar ekosistem komunikasi tetap berjalan sehat. Q: Apa itu fenomena "Conscious Unbossing" dan dampaknya bagi agensi? A: Ini adalah fenomena di mana pekerja muda secara sadar menolak promosi ke tingkat manajerial. Mereka enggan memikul beban mental dan tanggung jawab lebih, dan lebih memilih menjaga work-life balance. Hal ini menciptakan tantangan retensi dan regenerasi SDM yang signifikan, memaksa agensi untuk terus mendefinisikan ulang corporate culture yang positif. Timestamps 00:00 - Intro: Realita Agensi PR & Mitos Kemewahan 02:23 - Awal Karier Viana Igah di Industri Perhotelan 07:55 - Turning Point: Memilih Keluarga & Awal Mula Berdirinya Prefinite 17:36 - Ekspektasi vs Realita: Sisi Gelap Dunia PR & Influencer 21:26 - Hybrid PR: Kenapa Media Organik Saja Tidak Cukup? 31:55 - Bedah Fenomena "Conscious Unbossing" di Agensi Komunikasi 39:23 - Ancaman AI & Tantangan Terbesar Regenerasi SDM 46:50 - Ekspansi Askara Group & Peluncuran TFL Paper 50:19 - Mengeksplorasi Ekosistem Seni Lewat Art Moments Jakarta Brands/People Mentioned Viana Igah, Prefinite, Askara Group, Praxis, Hotel Indonesia Kempinski, Raffles Jakarta, St. Regis Bali, Aman Group, Harumi, Art Moments Jakarta, TFL Paper, Zilo. Host: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  #PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #PRAgency #ManajemenReputasi #VianaIgah #ConsciousUnbossing #HybridPR #BisnisAgensi Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  6. May 14

    Blunder PR Taksi EV, Fenomena 'Viral Justice', & Pesan Tersembunyi Film Joko Anwar | 031

    Di episode kali ini, kita membedah berbagai isu panas dari kacamata Public Relations (PR) dan tata kelola krisis. Mulai dari tabrakan taksi EV yang memicu perdebatan komunikasi brand, hingga skandal proyek fiktif kementerian yang merugikan industri Event Organizer (EO) ratusan miliar rupiah! Jangan lewatkan juga diskusi mendalam tentang inkonsistensi kebijakan insentif kendaraan listrik dan fenomena meresahkan di mana publik harus viral dulu di podcast untuk mendapat keadilan. Dengarkan terus untuk mendapatkan wawasan tajam seputar strategi komunikasi dan public affairs! Jangan lupa Subscribe dan Like untuk mendukung diskusi kami. 🎧 Dengarkan juga di Spotify:https://open.spotify.com/show/5hj7EcLAUfoS5hvuBVhaaf?si=6b4a45bde6ea45b3 🎙️ Executive Summary (TL;DR) Episode Proxemics Podcast ini menyoroti analisis krisis komunikasi pada kasus kecelakaan taksi listrik (EV) di mana pernyataan resmi brand dinilai kurang empatis. Diskusi berlanjut pada polemik insentif EV, mempertanyakan apakah kebijakan ini stimulus industri atau sekadar subsidi bagi masyarakat menengah ke atas. Kami juga membedah kelemahan tata kelola pengawasan dalam kasus SPK fiktif oknum Kemenperin yang merugikan vendor EO hingga Rp124,8 miliar, ancaman krisis kepercayaan perbankan, serta pesan kritik sosial dalam film terbaru Joko Anwar. 💡 Key Takeaways Krisis Komunikasi Taksi EV: Standby statement perusahaan dinilai terburu-buru dan murni digerakkan oleh motif legal, mengabaikan unsur empati yang krusial dalam dunia PR.Inkonsistensi Kebijakan Mobil Listrik: Perdebatan mengenai pencabutan insentif pajak EV yang digeser ke daerah (Opsen) menunjukkan volatilitas iklim investasi di Indonesia yang bisa membuat investor asing ragu.Tragedi Vendor & Proyek Fiktif: Penyalahgunaan jabatan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menyoroti lemahnya sistem pengawasan proyek pemerintah, berujung pada kerugian masif bagi agensi.Fenomena 'No Viral, No Justice': Kasus penipuan nasabah bank Rp28 miliar membuktikan rapuhnya sistem check and balance, di mana keadilan seringkali baru ditegakkan setelah dibahas di podcast besar.❓ Q&A Strategis Apa yang salah dari komunikasi krisis brand taksi EV pasca kecelakaan? Pernyataan awal mereka dinilai hanya fokus pada perlindungan hukum dan factual update untuk meredam spekulasi, namun gagal menunjukkan empati dan simpati mendalam terhadap situasi korban. Mengapa kasus SPK fiktif di Kemenperin bisa terjadi dan sangat merugikan EO? Oknum pejabat memanfaatkan wewenangnya untuk membuat proyek tanpa dasar anggaran. EO yang percaya pada relasi atau proses formalitas terjebak mengeluarkan modal sendiri (menalangi) untuk acara yang secara resmi tidak terdaftar. Bagaimana tanggapan terkait kebijakan pajak EV saat ini? Terdapat dua pandangan: insentif EV krusial untuk menarik investasi asing (FDI), namun di sisi lain bisa dianggap tidak adil atau menjadi subsidi kelas menengah atas jika diterapkan tanpa batasan/kuota yang jelas. ⏱️ Timestamps 00:00 - Highlight & Pengantar Episode 01:42 - Kecelakaan Taksi EV: Analisis Statement Krisis & Empati 16:25 - Polemik Insentif EV: Stimulus Industri vs Subsidi Orang Kaya? 32:37 - Kasus SPK Fiktif Kemenperin 124 Miliar & Nasib Agensi 49:32 - Kasus Penipuan Bank & Bahaya Era "Viral Justice" 55:34 - Pesan Terselubung & Kritik Sosial di Film Joko Anwar 01:01:52 - Lelang Spektrum 700 MHz: Infrastruktur Penting untuk Era AI 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  7. May 7

    Dari SEO ke GEO: Evolusi Digital Marketing Beauty Brand Bersama Boss Paragon | 030

    Industri kecantikan Indonesia memiliki 7.500 brand yang bersaing ketat. Bagaimana Paragon Corp dengan 16 brand-nya seperti Wardah dan Emina memenangkan persaingan menggunakan AI dan Generative Engine Optimization (GEO)? Tonton episode ini sampai habis untuk mengetahui rahasia dapurnya, dan jangan lupa untuk Subscribe serta tinggalkan Like Anda! 🎙️ Executive Summary (TL;DR) Episode podcast Proxemics kali ini menghadirkan Tessi Fathia Adam, Senior Group Head Global Technology Business Accelerator di Paragon Corp. Diskusi strategis ini membedah transformasi digital dalam ekosistem beauty brand, mencakup peluncuran Wardah GPT, transisi dari SEO konvensional ke GEO, serta penerapan prinsip Ethical AI. 💡 Key Takeaways Hyper-Segmentation Strategy: Paragon menyusun strategi komunikasi untuk 16 brand berbeda dengan memetakan minat (passion point) spesifik dari konsumen.Sinergi Manusia & AI: Penerapan pedoman Ethical AI menempatkan talenta manusia sebagai mastermindpengambil keputusan, sementara AI difungsikan sebagai eksekutor berskala besar.Evolusi ke Generative Engine Optimization (GEO): Paragon mengadaptasi tren pencarian dengan merilis Wardah GPT dan memastikan informasi produk mereka ramah terhadap mesin AI (GEO).Manajemen Influencer Skala Besar: Membangun Paragon Creator Hub yang mengelola lebih dari 150.000 afiliator untuk menciptakan relevansi nano/micro, sambil tetap memanfaatkan Mega KOL untuk awareness.❓ Q&A Strategis Apa itu prinsip Ethical AI di Paragon Corp? Penggabungan strategis antara kecerdasan buatan dan kontrol manusia. Manusia bertindak sebagai konseptor, sedangkan AI difungsikan sebagai eksekutor agar pekerjaan operasional menjadi lebih terskala dan efisien tanpa kehilangan akurasi. Mengapa brand harus mulai beralih dari SEO ke GEO? Pergeseran perilaku konsumen adalah kunci utamanya. Audiens mulai beralih ke layanan konsultasi berbasis AI (seperti ChatGPT) untuk mencari produk. Marketer harus mengoptimalkan informasi produk (GEO) agar muncul dalam algoritma rekomendasi mesin generatif tersebut. ⏱️ Timestamps 00:00 - Persaingan Ketat 7.500 Brand Kecantikan di Indonesia 02:08 - Siapa Tessi Fathia Adam & Perannya di Paragon04:24 - Transformasi Digital Era COVID & Customer Care via WhatsApp 08:55 - Strategi Hyper-Segmentation untuk 16 Brand 16:16 - Mencegah Kanibalisasi Produk Antar Brand Paragon 24:47 - Prinsip Ethical AI: Kombinasi Ekspertis Manusia & Skalabilitas AI 33:04 - Peran Mega KOL vs Kebutuhan Nano/Micro Influencer 36:42 - Ekosistem Afiliator Paragon Creator Hub 40:19 - Komunikasi & Orkestrasi Antar Brand Manager 51:44 - Evolusi Tren Pencarian: Beralih dari SEO ke GEO 55:48 - Budaya Kerja Organisasi: Iterasi, Agility, & Standar Hiring 👥 Credits & Links Guest: Tessi Fathia AdamHosts: Mercy Tahitoe, Stephanie SiciliaRegulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan TenggaraProxemics Podcast is produced by White Wood Pod. 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  Tags: #PublicRelationsIndonesia #DigitalMarketingID #GenerativeEngineOptimization #StrategiBisnis #PodcastKomunikasi #BeautyIndustryID #MarketingStrategy #podcastpublicrelations #publicrelationspodcast Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  8. Apr 9

    Kenapa Agensi Kreatif Harus Waspada Ambil Proyek Pemerintah? | 029

    Di episode kali ini, kita membongkar berbagai isu hangat dari kacamata Public Relations dan Public Affairs, mulai dari kacaunya komunikasi pemerintah soal BBM hingga ancaman AI yang menurunkan trafik media massa hingga 50%. Jangan lewatkan diskusi mendalam tentang bagaimana krisis ini mempengaruhi masa depan industri kreatif dan kebebasan pers di Indonesia! Subscribe dan like untuk mendapatkan insights strategi komunikasi. Poin-Poin Penting Episode Ini: Krisis Komunikasi Pemerintah: Kurangnya transparansi, konsistensi, dan kejelasan arahan dari pembuat kebijakan terkait spekulasi kenaikan harga BBM menciptakan informasi yang berseliweran dan kebingungan masif di masyarakat. Disrupsi AI & Ancaman Pers: Penggunaan AI yang melakukan crawling pada portal berita menyebabkan penurunan trafik kunjungan media secara drastis. Di sisi lain, intervensi pemilik modal yang mem-bypass ruang redaksi menjadi ancaman serius bagi independensi dan demokrasi pers. Kriminalisasi Pelaku Kreatif: Kasus pekerja video Amsal Sitepu menyoroti minimnya pemahaman aparat terhadap proses bisnis production dan post-production. Tagihan biaya editing yang dianggap kerugian negara berpotensi membuat agensi swasta takut bermitra dengan instansi pemerintah. Hegemoni Wacana Geopolitik: Perang modern adalah perang opini di mana aktor negara rela membayar influencer jutaan dolar untuk menjaga citra dan memutarbalikkan etika komunikasi publik. Tanya Jawab Seputar Episode Ini: Q: Apa penyebab utama penurunan trafik media siber saat ini? A: Penyebab utamanya adalah pergeseran konsumsi audiens menuju AI. Mesin pencari berbasis AI secara otomatis merangkum berita dari berbagai media langsung ke layar pengguna, membuat audiens tidak perlu mengeklik atau mengunjungi situs asli media tersebut. Q: Mengapa kasus Amsal Sitepu sangat mengkhawatirkan bagi pekerja agensi dan industri kreatif? A: Kasus ini membuktikan bahwa aparat hukum tidak memahami wajar-tidaknya struktur biaya industri kreatif. Penagihan tahapan post-production seperti editing dan dubbing justru dikategorikan sebagai praktik yang merugikan negara, yang pada akhirnya dapat menghancurkan ekosistem bisnis dan menakuti vendor yang ingin membantu pemerintah. Q: Bagaimana pakar PR memandang informasi yang beredar terkait konflik Timur Tengah? A: Pakar PR melihatnya sebagai bentuk dominasi dan hegemoni wacana. Negara-negara yang berkonflik menggunakan taktik PR, media massa, hingga budaya pop (film) secara sistematis untuk menutupi realitas kejahatan dan merekayasa opini publik dunia. Timestamps: 00:00 - Highlight & Pengantar Episode 01:17 - Isu Spekulasi BBM & Bias Kelas Menengah 06:10 - Subsidi Salah Sasaran: Solar & Transisi LPG 11:27 - Evaluasi Kritis Terhadap Komunikasi Publik Pemerintah 19:15 - Bahaya AI: Trafik Media Anjlok 50% 25:39 - Jurnalisme Kepiting & Ancaman Intervensi Pemilik Media 29:26 - Kasus Amsal Sitepu: Aparat Gagal Pahami Industri Video 34:11 - Alasan Utama Swasta Menghindari Proyek Pemerintah 42:47 - Kacamata PR: Perang Media & Hegemoni Geopolitik 55:36 - Manajemen Isu Industri Otomotif: Kasus Mobil Hybrid Terbakar Entitas & Tokoh yang Disebut: AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia), Amsal Sitepu, ChatGPT, Antonio Gramsci, Chery Tiggo, Wuling, BYD, Toyota, PBB. Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  #PublicRelationsIndonesia #KomunikasiStrategis #PublicAffairs #IndustriKreatif #HegemoniMedia #PodcastIndonesia Proxemics Podcast is produced by White Wood.

About

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood Pod.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcast Instagram: @proxemics.podcast Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com