Proxemics Podcast

White Wood

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu TerkiniMengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcast Instagram: @proxemics.podcast Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com

  1. FEB 9

    Anatomi Krisis: Gaya 'Koboy' Purbaya & Rahasia Branding Apple yang Kebal Kritik | 017

    Dari koridor kementerian hingga viral di media sosial, komunikasi adalah pedang bermata dua. Episode Proxemics kali ini membedah tiga spektrum komunikasi yang berbeda: gaya kepemimpinan politik, manajemen reputasi infrastruktur negara, dan penanganan krisis FMCG. Kami menganalisis gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya yang memicu perdebatan: apakah ketegasannya adalah "obat kuat" bagi birokrasi atau sekadar gimik tanpa akuntabilitas? Kami juga menyoroti proyek Kereta Cepat Whoosh—bukan dari sisi teknis, melainkan dari kacamata legacy sejarah (Dinasti Syailendra) vs realitas utang negara. Tak ketinggalan, bedah kasus krisis viral Aqua dan oleh-oleh ilmu Neuromarketing langsung dari SXSW Sydney. Berikut adalah rangkuman analisis strategis dari diskusi ini: Q: Apakah gaya komunikasi "Koboy" Menkeu Purbaya efektif untuk birokrasi Indonesia? A: Gaya komunikasi maskulin dan direct ala Purbaya memang efektif untuk memotong rantai birokrasi dan menciptakan persepsi "kerja cepat". Namun, dalam konteks budaya Indonesia yang cenderung high-context dan feminim (mengutamakan harmoni), gaya ini berisiko dianggap arogan jika tidak diimbangi dengan accountability yang transparan. Q: Bagaimana menyeimbangkan narasi "Legacy Peradaban" Whoosh dengan isu beban utang? A: Proyek Whoosh sering dibandingkan dengan pembangunan Borobudur oleh Dinasti Syailendra—sebuah legacy peradaban jangka panjang. Namun, untuk meredam isu utang, narasi PR harus bergeser ke solusi tata kelola konkret, seperti skema BOT (Build-Operate-Transfer) atau Transfer of Technology, agar proyek ini tidak menjadi beban APBN yang mencederai reputasi pemerintah. Q: Apa pelajaran PR utama dari kasus viral "Sidak Aqua"? A: Kasus ini adalah contoh klasik kegagalan PR Onsite. Dalam era digital, setiap karyawan lapangan adalah brand ambassador. Ketidaksiapan tim di lapangan menghadapi konfrontasi kamera menyebabkan framing negatif menyebar liar, merusak branding yang dibangun puluhan tahun. Q: Apa insight Neuromarketing dari SXSW Sydney untuk campaign yang sukses? A: Kuncinya adalah keseimbangan antara Novelty (kebaruan) dan Mere Exposure Effect (familiaritas). Otak manusia menyukai hal baru, tapi lebih mempercayai hal yang familiar. Campaign yang sukses harus memiliki unsur kejutan namun tetap terasa dekat dengan audiens. Timestamps Topik Penting: (00:00:52) Analisis Gaya "Koboy" Menkeu Purbaya & Budaya Komunikasi (00:13:35) Whoosh: Antara Simbol Peradaban & Jeratan Utang (00:22:18) Solusi Tata Kelola: BOT & Transfer Teknologi (00:29:42) Bedah Krisis Komunikasi Aqua: Pentingnya PR Onsite (00:39:01) Fenomena Apple: Ketika Brand Prestige Mengalahkan Kritik Produk (00:48:33) Laporan SXSW Sydney: Neuromarketing & AI Narasumber & Brand: Tokoh: Menkeu Purbaya, Sri Mulyani, Ridwan Kamil, Jeremy Thomas.Brand/Proyek: Kereta Cepat Whoosh, Aqua (Danone), Apple, SXSW Sydney.Simak analisis mendalam mengenai strategi komunikasi di balik headline nasional. #PublicAffairs #CrisisCommunication #PoliticalPR #Whoosh #MenkeuPurbaya #AquaDanone #SXSW #Neuromarketing #ProxemicsPodcast #CorporateAffairs

    57 min
  2. FEB 9

    Ngulik Strategi Marketing & Branding dari Boss Marketing Kopi Kenangan + Live Report dari SXSW | 016

    Bagaimana Kopi Kenangan bertransformasi dari kedai kopi lokal menjadi Unicorn F&B pertama di Asia Tenggara dengan valuasi miliaran dolar? Di pasar yang sangat price-sensitive dan penuh persaingan, strategi apa yang membuat mereka bertahan? Di episode ini, Proxemics berbincang dengan Ananditha Mayasari (Ditha), VP of Marketing Kenangan Brands. Dengan latar belakang unik (Lulusan Fisika UI yang banting setir ke Sales B2C), Ditha membedah realita industri kopi: dari menghadapi loyalitas ganda (dualism) Gen Z, hingga seni memimpin tim tanpa drama. Berikut adalah rangkuman insight strategis dari diskusi ini: Q: Bagaimana strategi Kopi Kenangan menghadapi kompetitor lokal dan loyalitas Gen Z yang tidak setia? A: Gen Z memiliki karakter "Dualism Loyalty" (setia pada beberapa brand sekaligus). Alih-alih memusuhi kompetitor seperti Tuku, Fore, atau Janji Jiwa, Kopi Kenangan justru merangkul mereka sebagai "Kolektif" melalui kampanye Indonesian Pride. Tujuannya adalah membesarkan market share kopi lokal melawan raksasa global, bukan saling mematikan. Q: Mengapa pengalaman Sales B2C dianggap fondasi terbaik untuk karier Marketing? A: Ditha menekankan bahwa Sales mengajarkan Resiliensi (ketahanan mental) dan Human Psychology (kemampuan membaca orang) yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Kemampuan menerima penolakan dan memahami kebutuhan konsumen secara langsung adalah skill paling mahal bagi seorang Marketer. Q: Apa "Red Flag" terbesar dalam kepemimpinan dan rekrutmen tim menurut Ditha? A: Kebohongan (Lack of Integrity). Dalam memimpin, Ditha mencari tiga kualitas non-teknis utama: Willingness to Learn, Humility (kerendahan hati), dan Integrity. Skill teknis bisa diajarkan, tetapi integritas adalah karakter harga mati. Q: Sejauh mana peran AI dalam industri F&B yang mengandalkan rasa? A: AI tidak bisa menggantikan taste (rasa) dan sentuhan manusia dalam hospitality. Namun, Kopi Kenangan menggunakan AI untuk mempercepat proses operasional, analisis data konsumen, dan efisiensi supply chain. Timestamps Topik Penting: (00:00) Intro & Profil Ananditha Mayasari (Fisika UI to Marketing) (02:17) Realita F&B: Profitabilitas vs Price-Sensitive Market (08:00) Strategi "Indonesian Pride": Merangkul Tuku, Fore, & Janji Jiwa (13:53) The Art of Sales: Membangun Mental Baja & Membaca Orang (25:14) Leadership Crisis: Mengelola Ego Tim vs Ekspektasi Stakeholder (30:05) Red Flag Rekrutmen: Mengapa Integritas Lebih Penting dari Skill (35:14) Batasan & Potensi AI di Industri F&B (52:21) Live Insight dari SXSW Sydney: Masa Depan Data & Branding Narasumber & Brand: Ananditha Mayasari (VP Marketing Kenangan Brands)Brands: Kopi Kenangan, Fore Coffee, Toko Kopi Tuku, Janji Jiwa, Starbucks, Danone, Traveloka.Event: SXSW SydneySimak strategi lengkap membangun brand Unicorn dari kacamata insider. #KopiKenangan #KenanganBrands #FnbBusiness #MarketingStrategy #GenZMarketing #SalesTips #Leadership #UnicornIndonesia #BisnisKopi #AnandithaMayasari #ProxemicsPodcast

    1h 4m
  3. FEB 9

    TKA Syarat Wajib SNBP 2026: Strategi Belajar Terbaru & Warning Buku Bimbel Palsu! | 015

    SNBP 2026 mengalami perubahan besar. Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini resmi menjadi syarat wajib, bukan lagi sekadar nilai rapor. Mengapa Kemendikdasmen mengambil langkah ini? Apakah ini bentuk lain dari Ujian Nasional (UN)? Di episode ini, Proxemics mengundang dua narasumber otoritatif: Dr. Handaru Catu Bagus (Pusmendik Kemendikdasmen) dan Psikolog Neliana Puspitasari (Yayasan Psikolog Masuk Sekolah) untuk menjawab keresahan siswa dan orang tua. Berikut adalah rangkuman jawaban atas pertanyaan paling sering dicari (FAQ) seputar TKA SNBP 2026 yang dibahas tuntas dalam episode ini: Q: Apa itu TKA dalam SNBP 2026 dan apa bedanya dengan UN? A: TKA bukan pengganti kelulusan seperti UN. TKA berfungsi sebagai validator eksternal untuk menstandarisasi nilai rapor siswa dari berbagai sekolah yang kualitasnya beragam. Ini adalah solusi pemerintah untuk menghapus praktik "sedekah nilai" (inflasi nilai rapor) agar seleksi SNBP lebih adil (fair). Q: Materi apa saja yang diujikan dalam TKA? A: Siswa akan menghadapi: 3 Mata Pelajaran Wajib: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris.2 Mata Pelajaran Pilihan: Sesuai mata pelajaran pendukung Program Studi (Prodi) yang dituju. (Contoh: Masuk Kedokteran wajib mengambil Biologi & Kimia).Q: Apakah buku latihan soal TKA di pasaran bisa dipercaya? A: Hati-hati. Dr. Handaru memperingatkan bahwa banyak buku "Latihan Soal TKA" yang beredar saat ini hanyalah kumpulan soal UN lama (recycled) yang tidak relevan dengan kerangka asesmen TKA baru. Gunakan simulator resmi "Ayo Coba TKA" dari Kemendikdasmen untuk latihan yang akurat. Q: Bagaimana strategi belajar TKA yang efektif menurut Psikolog? A: Hindari SKS (Sistem Kebut Semalam). Gunakan teknik Pomodoro (25 menit belajar, 5 menit istirahat) dan Spaced Repetition (pengulangan berkala). Tidur yang cukup adalah kunci agar memori jangka pendek tersimpan menjadi memori jangka panjang (konsolidasi memori). Q: Apakah nilai TKA hanya untuk SNBP? A: Tidak. Ke depannya, skor TKA diproyeksikan menjadi "mata uang" akademik yang bisa digunakan untuk mendaftar sekolah kedinasan (TNI/Polri), rekrutmen BUMN, hingga syarat masuk universitas luar negeri (menggantikan fungsi SAT). Timestamps Topik Penting: (00:00:21) Isu "Sedekah Nilai" & Mengapa TKA Diperlukan (00:07:47) Bocoran Materi Prioritas TKA & Mapel Pilihan (00:12:30) Awas Scam! Buku Bimbel TKA Palsu vs Simulator Resmi (00:15:57) Teknik Belajar: Pomodoro & Active Recall (00:20:35) Teknis Ujian: Pengawasan Zoom & Durasi (00:29:17) Cara Membaca Hasil TKA (Kurang, Baik, Istimewa) (00:37:18) Panduan Orang Tua: Menjadi Support System Anti-Toksik Narasumber & Referensi: Dr. Handaru Catu Bagus, S.T, M.M (Kabid Pengembangan Asesmen Pusmendik Kemendikdasmen)Neliana Puspitasari, S.Psi, M.Psi (Psikolog Pendidikan)Platform Resmi: Ayo Coba TKA, Erakini.idSimak diskusi lengkapnya untuk memahami peta jalan baru pendidikan Indonesia. #SNBP2026 #TKA2026 #TesKemampuanAkademik #TipsBelajar #Kemendikdasmen #Pusmendik #MasukPTN #PendidikanIndonesia #ParentingRemaja

    54 min
  4. JAN 28

    Analisis Krisis Komunikasi: Istana vs Pers, Drama Boikot Freeport & Masa Depan SEO | 014

    Ketika jurnalis dilarang bertanya dan musisi memboikot sponsor korporat, siapa yang salah secara strategi komunikasi? Dalam edisi "Full House" ini, Host Mercy Tahitoe dan co-host Stephanie Sicilia bergabung dengan Adwi Yudiansyah (Praxis) dan Sofyan Herbowo (Prajna) untuk membedah rentetan krisis komunikasi yang melanda Indonesia minggu ini. Dari insiden pencabutan kartu pers di Istana hingga polemik "Salah Jurusan" sponsorship Freeport di Pestapora, tim Proxemics memberikan analisis brutal namun strategis. Diskusi ditutup dengan perdebatan teknis tentang SEO vs GEO: Apakah Search Engine Optimization benar-benar mati di era AI, atau justru berevolusi menjadi "Meta Search"? 🎙️ Panelis (Full House Edition): Mercy Tahitoe (White Wood)Stephanie Sicilia (Praxis)Adwi Yudiansyah (Praxis)Sofyan Herbowo (Prajna)🔥 Topik Diskusi untuk Praktisi Komunikasi: Krisis Istana vs Pers: Analisis insiden "Doorstop" Presiden. Apakah ini ketidakpahaman protokol atau sinyal pembungkaman? Mengapa "Desakralisasi Pejabat" menjadi tuntutan publik saat ini.Sponsorship Gone Wrong (Pestapora vs Freeport): Bedah kasus mundurnya musisi (Sukatani, dll) karena sponsor tambang. Mengapa Brand sering menjadi korban miskomunikasi EO, dan bagaimana Due Diligence sponsorship harus diperketat.Kabinet "Couture" & Flexing Pejabat: Fenomena akun Instagram yang mengekspos kemewahan pejabat. Mengapa tone-deaf communication (pamer saat rakyat susah) adalah bom waktu reputasi.Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Kritik terhadap eksekusi yang "Bias Kota" dan risiko keracunan massal jika standar higienitas diabaikan demi budget cut.SEO is Dead? Debat LinkedIn tentang masa depan pencarian. Mengapa Generative Engine Optimization (GEO) tidak bisa hidup tanpa Citation dari media kredibel (SEO).💡 Strategic Takeaway: Bagi Brand dan Pejabat Publik, pelajaran minggu ini adalah "Anticipatory PR." Jangan menunggu krisis terjadi (musisi mundur atau jurnalis marah) baru bereaksi. Risk Assessment harus dilakukan sebelum kontrak sponsorship ditandatangani atau sebelum mikrofon pers dinyalakan. Timestamps: (00:00) Intro: Full House Edition (00:40) Krisis Istana: Insiden Kartu Pers Wartawan Dicabut (09:50) Drama Sponsorship: Musisi Boikot Freeport di Pestapora (21:30) Gaya Komunikasi Pejabat Baru: "Desakralisasi Jabatan" (37:50) Fenomena "Kabinet Couture": Flexing vs Empati Publik (46:50) Kritik Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Isu Higienitas (56:10) Analisis Pidato Presiden Prabowo di PBB (Isu Gaza) (01:09:30) Digital Trend: Apakah SEO Mati Digantikan AI (GEO)? Tentang Proxemics Podcast: Proxemics adalah podcast referensi utama bagi praktisi Komunikasi, Public Relations, dan Marketing di Indonesia. Kami menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan realitas lapangan yang kacau, memberikan wawasan yang bisa langsung diterapkan oleh C-Level dan strategis. Keywords: Krisis Komunikasi, Public Relations Indonesia, Manajemen Isu, Freeport Indonesia, Pestapora, Kebebasan Pers, Makan Bergizi Gratis, SEO vs GEO, Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo. Jangan lupa untuk Subscribe dan bagikan episode ini kepada tim komunikasi Anda! Our Agencies: PraxisPrajnaExplicarWhite Wood

    1h 18m
  5. JAN 21

    PR vs Public Affairs: Strategi Advokasi Kebijakan & Studi Kasus Cukai MBDK | 013

    Apakah Public Relations (PR) dan Public Affairs (PA) itu sama? Di episode Proxemics Podcast ini—podcast referensi utama bagi praktisi Komunikasi Korporat, Hubungan Pemerintah, dan Marketing di Indonesia—kami membedah perbedaan fundamental antara membangun reputasi (Citra) dan mengamankan regulasi (Izin Operasi). Host Mercy Tahitoe duduk bersama praktisi senior Corporate Affairs untuk membahas realitas di balik meja perundingan kebijakan. Diskusi ini mengupas tuntas bagaimana industri menavigasi regulasi sensitif seperti Cukai Minuman Berpemanis (MBDK), bukan dengan jargon marketing, melainkan dengan data ilmiah. 🎙️ Narasumber Eksklusif: Jeffrey Haribowo: Corporate Affairs Director, Mars.🔥 Topik Diskusi untuk Praktisi Komunikasi & Regulasi: PR vs. Public Affairs: Mengapa PR fokus pada Social License (Penerimaan Publik), sementara PA fokus pada Technical License (Izin Legal/Regulasi).Studi Kasus Cukai MBDK (Sugar Tax): Bedah strategi "Evidence-Based Advocacy". Bagaimana industri bernegosiasi dengan pemerintah untuk mencapai keseimbangan antara kesehatan publik dan keberlangsungan ekonomi petani tebu.Manajemen Risiko Regulasi: Mengapa pendekatan "Consumer Choice" ala marketing sering gagal di hadapan regulator, dan mengapa Anda membutuhkan data ekonomi makro.Resiliensi Mental: Sisi manusiawi dari profesi pelobi—bagaimana menghadapi "Professional Breakdown" ketika advokasi kebijakan berjalan lambat atau gagal.Seni Networking: Mengapa "siapa yang Anda kenal" bisa menyelamatkan perusahaan Anda saat krisis regulasi terjadi.💡 Strategic Takeaway: Bagi C-Level dan Direktur Komunikasi, episode ini menegaskan bahwa Anda tidak bisa melawan kebijakan hanya dengan kampanye viral. Anda memerlukan "Advokasi Berbasis Bukti" (Evidence-Based Advocacy). PR memenangkan hati publik, tetapi Public Affairs memenangkan kepastian hukum. Timestamps: (00:00) Intro: Mercy Tahitoe & Jeffrey Haribowo (14:55) Definisi Strategis: PR (Reputasi) vs PA (Regulasi) (19:00) Deep Dive: Negosiasi Cukai Minuman Berpemanis (MBDK) (29:35) Studi Kasus JUUL: Konsep "Risk-Proportionate Taxation" (46:40) Mental Health: Menghadapi Tekanan sebagai Pelobi (55:00) Closing: Fokus pada Apa yang Bisa Anda Kontrol Tentang Proxemics Podcast: Proxemics adalah podcast bisnis dan komunikasi terdepan yang menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan realitas lapangan. Kami membahas Manajemen Krisis, Corporate Affairs, Marketing Trends, dan Media Relations bersama para ahli industri. Keywords: Public Affairs Indonesia, Perbedaan PR dan PA, Corporate Affairs, Government Relations, Advokasi Kebijakan, Cukai MBDK, Jeffrey Haribowo, Strategi Komunikasi, Manajemen Krisis, Lobi Bisnis. Jangan lupa untuk Subscribe untuk wawasan strategis mingguan! Our Agencies: PraxisPrajnaExplicarWhite Wood

    57 min
  6. JAN 21

    Analisis Komunikasi Kebijakan: Mengapa TKA Wajib untuk SNBP 2026 & Krisis "Sedekah Nilai" | 012

    Apakah reputasi sekolah Anda terancam akibat isu "Inflasi Nilai"? Di episode Proxemics Podcast ini—sumber wawasan utama bagi praktisi Public Relations (Humas), Strategi Komunikasi, dan Public Affairs di Indonesia—kami membedah strategi komunikasi di balik kebijakan pendidikan terbaru yang berdampak nasional: Penerapan Tes Kompetensi Akademik (TKA) untuk SNBP 2026. Host Mercy Tahitoe dan co-host Stephanie Sicilia berdiskusi dengan dua narasumber kunci untuk menganalisis tantangan komunikasi dari transisi "Otonomi Sekolah" menuju "Standarisasi Nasional", serta manajemen krisis terkait isu "Sedekah Nilai". 🎙️ Narasumber Eksklusif: Rahmawati (Bu Wati): Plt. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen.Doni Koesoema Albertus: Pengamat Pendidikan & Pakar Komunikasi Strategis.🔥 Topik Diskusi untuk Praktisi Komunikasi & Kebijakan: Krisis Reputasi "Sedekah Nilai": Analisis bagaimana inflasi nilai rapor merusak kepercayaan universitas (trust deficit) dan memaksa intervensi kebijakan berupa "Audit Nasional".Strategi Komunikasi Kebijakan: Bagaimana Kemendikdasmen menavigasi narasi bahwa TKA adalah "Validator", bukan "Pembunuh" (seperti stigma Ujian Nasional/UN).Manajemen Isu Hoaks: Membedah fenomena buku bimbel palsu yang memanfaatkan kepanikan publik dan strategi kontra-narasi melalui platform resmi "Ayo Coba TKA".Validasi Eksternal: Mengapa ijazah dan rapor saja tidak lagi cukup sebagai mata uang kredibilitas siswa di mata PTN.💡 Strategic Takeaway: Bagi profesional Public Affairs, episode ini adalah studi kasus nyata tentang Evidence-Based Policy. Kami membahas mengapa "Komunikasi" saja tidak cukup untuk memperbaiki defisit kepercayaan sistemik—terkadang, Anda memerlukan instrumen audit yang kuat (TKA) untuk memulihkan integritas ekosistem. Timestamps: (00:00) Intro: Krisis Kepercayaan pada Nilai Rapor (07:29) Analogi "Koki": Mengapa Kita Butuh Validator Eksternal? (14:55) Landasan Hukum: TKA vs Ujian Nasional (UN) (33:00) Manajemen Risiko: Sekolah yang Memanipulasi Nilai akan Di-blacklist? (42:48) Counter-Hoax: Platform Resmi "Ayo Coba TKA" (54:30) Closing: TKA sebagai "Medical Checkup" Akademik Tentang Proxemics Podcast: Proxemics adalah podcast terdepan di Indonesia yang membahas irisan antara Ilmu Komunikasi, Public Relations, Marketing, dan Dinamika Sosial. Dipandu oleh para praktisi agensi berpengalaman, kami menghadirkan analisis mendalam untuk membantu Anda memahami "jarak" antara persepsi dan realitas. Keywords: Public Relations Indonesia, Strategi Komunikasi, Public Affairs, Manajemen Krisis, Kebijakan Pendidikan, Kemendikdasmen, TKA 2026, SNBP, Doni Koesoema, Reputasi Sekolah.

    56 min
  7. JAN 18

    Analisis Krisis: Kegagalan Komunikasi, Flexing, & Bayang-Bayang '98 | 011

    Di tengah gejolak sosial yang memanas, episode ini membedah akar masalah dari kacamata komunikasi dan public affairs. Kenapa para pengambil kebijakan dianggap tone deaf? Kita menganalisis gestur yang meremehkan, pernyataan offside, hingga kultur flexing pejabat yang menjadi bom waktu bagi kemarahan publik. Kami juga mengurai bagaimana akumulasi kekecewaan ekonomi (seperti fenomena PHK terselubung) berujung pada krisis kepercayaan yang masif. Apakah situasi ini bisa disamakan dengan 1998? Kita membandingkan perbedaan fundamental situasi saat ini dengan runtuhnya Orde Baru, serta menyoroti peran media sosial dalam gerakan "Tuntutan 17 + 8" dan ancaman misinformasi di era deepfake. Topik Bahasan: • Tone Deaf Government: Analisis verbal & non-verbal pejabat yang memicu amarah publik. • Flexing Culture: Bagaimana pamer kemewahan menjadi "bensin" di tengah krisis ekonomi. • Refleksi '98: Apa yang beda antara gejolak hari ini dengan krisis 1998? • Digital Unrest: Fenomena "Tuntutan 17 + 8", sensor TikTok, dan bahaya deepfake. • Brand Crisis: Langkah strategis korporasi (seperti Grab) menavigasi situasi sensitif. • Future of PR: Pergeseran ke Generative Engine Optimization (GEO) dan pentingnya earned media. Timestamps: 0:00 - Intro 0:40 - Starting on a Somber Note: The Recent Unrest 1:41 - A Communication Failure: Analyzing the Root Cause 2:55 - The Economic Reality: From Pseudo-Layoffs to Public Grievances 5:30 - Verbal & Non-Verbal Blunders: How Officials Alienated the Public 10:11 - The "Flexing Culture" as a Ticking Time Bomb 14:31 - Then vs. Now: Comparing the '98 Crisis with Today's Unrest 19:27 - Conspiracy Theories vs. Incompetence? 22:30 - The Danger of Misinformation & Deepfakes 23:38 - The TikTok Live Shutdown: Censorship or Necessary Precaution? 31:28 - Is Indonesia's Democracy Flawed by a Lack of Education? 33:46 - Three Core Problems: Financing, Regeneration, Decentralization 38:37 - "Taxation Without Representation": Anger Towards Sri Mulyani 40:37 - The Geopolitical PR Move: Prabowo with Putin & Kim Jong Un 50:25 - The Asset Confiscation Law: Long Overdue or Problematic? 57:31 - Dissecting the "17 + 8 Demands" Social Movement 1:02:41 - Brand Responses: Grab's Bold PR Move 1:14:42 - The Future of PR: AI, White Papers, and GEO 1:19:02 - Closing Thoughts: The Man in the Mirror Mentioned in this episode: • Brands/Media: Detik, Grab, Kompas, Kontan, Maverick Indonesia. • People: Prabowo Subianto, Sri Mulyani, Anthony Tan, Vladimir Putin, Kim Jong Un, Donald Trump. • Events/Issues: Tuntutan 17+8, UU Perampasan Aset, TikTok Live Shutdown. #ProxemicsPodcast #CrisisCommunication #PublicAffairs #SocialUnrest #Reformasi #PRStrategy #IndonesianPolitics #Deepfake

    1h 19m
  8. JAN 18

    Marketing View: Benarkah Orang Indonesia Malas, Orang Vietnam Rajin & Orang Singapura 'Kiasu'? | 010

    Episode spesial bareng tamu internasional pertama kita! 🌏 Di episode ini, Vanessa Tan (Razer) hadir untuk membedah pengalamannya bertahan dan bersinar di industri teknologi yang didominasi pria, termasuk cerita di balik kultur kerja super fast-paced di raksasa teknologi, Xiaomi. Kita juga masuk ke debat panas soal AI: Apakah ChatGPT bikin kita makin efisien, atau justru bikin otak kita "menciut" karena malas berpikir? Selain itu, kita mengupas tuntas stereotip bisnis lintas negara (Indonesia vs. Singapura), menjawab persepsi "apakah orang Indonesia malas?", serta dinamika abadi antara PR vs. Marketing. Vanessa juga berbagi kisah inspiratif di balik bisnis gown rental-nya, Ministry of Gowns. Topik Bahasan: * Kultur Kerja Tech Giant: Inside scoop kerja di Xiaomi—demanding tapi penuh pelajaran. * Debat AI: Alat bantu produktivitas atau ancaman bagi kecerdasan manusia? * Cross-Border Business: Membedah stereotip market & perilaku kerja Indonesia vs. Singapura. * PR vs. Marketing: Kenapa PR sering dianggap "anak tiri" atau sekadar cost center? * Ministry of Gowns: Bisnis yang lahir dari pain point pribadi. * Women in Tech: 3 kunci sukses bagi perempuan untuk stand out di industri teknologi. Timestamps: 0:00 - Intro & Welcoming Vanessa Tan! 2:15 - Nostalgia: The Early Days of Xiaomi in Indonesia 7:45 - Key Lessons from a Fast-Paced Work Culture 12:12 - The Importance of Cognitive Diversity in a Team 15:30 - The AI Debate: Helpful Tool vs. Brain Shrinker? 19:05 - The 95-Year-Old Grandma Story & Keeping Your Brain Sharp 25:22 - The Future of Marketing: From Sensory to Neuro-marketing 30:10 - Unique Marketing Case Studies in Japan (KFC & Nestle) 34:50 - Dissecting Perceptions & Stereotypes of the Indonesian Market 41:01 - Common Misconception: "Are Indonesians Lazy?" 46:30 - Comparing National Culture & PR: Indonesia vs. Singapore 52:45 - The Eternal Debate: Where Does PR Fit in Marketing Strategy? 57:10 - Biggest Misconception: PR & Marketing as a "Cost Center" 1:01:48 - The Origin Story of Ministry of Gowns 1:09:15 - "All Polish, No Substance?" - A Common Industry Myth 1:12:35 - 3 Keys to Success for Women in the Tech Industry Mentioned in this episode: * Brands: Xiaomi, Redmi, Cinema XXI, OpenAI, Google, KFC, Nestle, Ministry of Gowns. * People: Vanessa Tan, Hugo Barra, JKT48, Lawrence Wong. * Events/Tech: ChatGPT, South by Southwest (SXSW). #ProxemicsPodcast #WomenInTech #MarketingTrends #PR #DigitalMarketing #AI #Leadership #Xiaomi

    1h 22m

About

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu TerkiniMengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcast Instagram: @proxemics.podcast Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com