Proxemics Podcast

White Wood

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood Pod.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcast Instagram: @proxemics.podcast Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com

  1. 21h ago

    Rahasia Blue Bird Bertahan dari Disrupsi & Transformasi Komunikasi Korporat | 040

    Banyak brand raksasa tumbang karena disrupsi. Tamu kita hari ini membuktikan sebaliknya dengan strategi PR dan mobility yang merajai jalanan. Di episode Proxemics Podcast kali ini, kami ngobrol dengan Sekar Adisty — Communications & Community Lead di Blue Bird Group. Dengan pengalaman lintas industri mulai dari agency, airlines, financial institution, hingga e-commerce, Adis membedah bagaimana perusahaan transportasi legendaris ini mentransformasi strategi marketing dan PR-nya dari yang sangat konvensional menjadi sangat agile di era digital. Kami membedah tuntas dapur komunikasi Blue Bird: mulai dari strategi Crisis Management menghadapi 28.000 pengemudi, pentingnya mengejar "Sentimen" dibanding "Impressions", hingga obrolan tajam tentang disrupsi AI dan consumer behavior Gen Z yang kini lebih memilih Zero Commitment (malas beli mobil demi gaya hidup). Buat kamu para praktisi PR, marketer, anak agency, atau profesional yang ingin tahu realita keras di balik layar komunikasi korporat raksasa (dan menghancurkan mitos glamor ala Emily in Paris) — ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk. ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 💡 KEY INSIGHTS ▸ Krisis Komunikasi: Speed vs Accuracy Dalam menangani krisis PR, merespons dengan cepat (speed) seringkali lebih krusial di awal daripada menunggu akurasi sempurna (accuracy). Audiens dan netizen butuh validasi bahwa brand mendengar keluhan mereka dan tidak mendiamkan masalah (sit on the problem), sebelum narasi liar berkembang di media sosial. ▸ Metrik PR Modern: Sentimen di Atas Impressions Engagement dan impressions tinggi tidak selalu bagus jika isinya hujatan. Hari ini, Social Listening harus difokuskan pada "Sentimen". Mengklasifikasikan respons audiens (positif vs negatif) jauh lebih bernilai untuk mengetahui apakah suatu campaign relevan dan bagaimana audiens benar-benar peduli pada brand. ▸ Consumer Behavior: Tren "Zero Commitment" Gen Z Terjadi pergeseran consumer behavior di mana generasi muda menolak membeli kendaraan pribadi karena isu mental, biaya parkir, kemacetan, dan depresiasi aset. Mereka lebih memilih layanan mobilitas tepercaya untuk menghemat budget demi lifestyle lain (seperti nonton konser atau traveling ke luar negeri). Blue Bird menangkap ini dengan mengisi sweet spot lewat peluncuran "Blue Bird Prime". ▸ Internal Comms: Mengubah 28.000 Driver Menjadi Ahli Waris Brand Menjaga standar layanan ribuan driver tidak bisa hanya lewat edaran. Diperlukan komunikasi berlapis (Townhall, kunjungan pool, hingga serikat pekerja). Melalui program konsisten seperti beasiswa anak pengemudi sejak krisis 1998, brand berhasil membangun sense of belonging yang kuat, menjadikan pengemudi sebagai brand advocate yang tulus. ▸ Realita Dunia Comms & Syarat "Resilience" Dunia PR dan Komunikasi sering mendapat stigma glamor dari pop culture. Kenyataannya, praktisi PR berhadapan dengan kerja tak kenal waktu, panggilan tengah malam, dan manajemen krisis. Mentalitas "How do you scale your resilience?" dan keberanian menolak ide usang ("dulu biasanya begini") adalah nyawa bagi seorang corporate communicator. ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ ⏱️ TIMESTAMPS 00:00 - Intro 02:39 - Transformasi Tim Marketing & Layanan Mobility 07:46 - Peran Komunitas & Taktik New Media 11:14 - Strategi Internal Comms & Manajemen Pengemudi 24:17 - Peluncuran Layanan Prime & Tren Zero Commitment 39:51 - Tantangan AI di Fitur Customer Service 42:14 - Skala Crisis Management (Speed vs Accuracy) 46:59 - Mitos Dunia PR & Pengukuran Sentimen Brand 1:04:02 - Closing ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🏷️ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED Blue Bird Group • BB Kirim • Blue Bird Prime • Silver Bird • Big Bird • Uber • Dentsu • AC Milan • Chelsea • Emily in Paris • Sex and the City • Toyota Zenix • LLM (Large Language Models) • Artificial Intelligence • Crisis Management PR • Media Monitoring • Social Listening • Internal Communications • Corporate Communications • Brand Sentiment • B2C Marketing • Consumer Behavior ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🎙️ Produced by White Wood Host: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia ▸ www.whitewood.ai ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ #ProxemicsPodcast #BlueBirdGroup #PublicRelations #CrisisManagement #StrategiMarketing #ConsumerBehavior #InternalComms #BrandPositioning #DuniaAgency #CorporateCommunications Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  2. Sep 6

    Kenapa Brand "Cambridge" Jadi Magnet Parents? Bedah Psikologi Konsumen & Edukasi | 039

    Banyak institusi menjual nama besar. Tamu kita hari ini menjaga standar globalnya. Di episode Proxemics Podcast kali ini, kami ngobrol dengan Yusuf Seto — Head of Business Development Southeast Asia & Pacific di Cambridge International Education. Dengan pengalaman lintas industri, dari digembleng keras di dunia sales hingga kini mengawal standar pendidikan internasional di Asia Tenggara dan Pasifik. Kami membedah miskonsepsi publik tentang label "Sekolah Cambridge" yang sering hanya dijadikan buzzword marketing, membandingkan kualitas edukasi Indonesia dengan negara ASEAN lainnya, dan mendiskusikan fenomena Gen-Z yang ketakutan digantikan AI hingga banting setir mempelajari skill manual.  Buat kamu para praktisi PR, marketing, orang tua yang sedang mencari sekolah terbaik untuk anak, atau profesional yang ingin mengerti psikologi di balik sebuah penjualan — ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk. ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 💡 KEY INSIGHTS ▸ Label "Cambridge" sering jadi Buzzword Marketing Banyak sekolah mengklaim menggunakan sistem Cambridge padahal hanya meminjam resource atau bukunya saja, tanpa mengadopsi kurikulum penuh. Edukasi konsumen sangat penting agar parents tahu bedanya sekadar "gimik logo" dengan standar asesmen global yang sebenarnya. ▸ Mentalitas Sales: The Power of Desperation Sales sejati bukan sekadar bakat bawaan lahir. High achiever di dunia sales sering kali lahir dari rasa keputusasaan (desperation) yang mendorong mereka untuk melakukan repetisi hingga ribuan jam demi menguasai skill tersebut.  ▸ AI: Tongkat Ketiak vs Tangga Elevasi Di dunia pendidikan dan profesional, AI sering disalahgunakan sebagai "tongkat" yang membuat otak tumpul karena malas berpikir. Padahal, AI seharusnya digunakan sebagai "tangga" untuk menstrukturkan pemikiran dan mengeksekusi ide yang sudah ada. ▸ Consumer Behavior & Efek Reciprocity Sering kali konsumen membeli barang bukan karena butuh, melainkan karena efek psikologis "Reciprocity" (rasa tidak enak/berhutang budi setelah dilayani). Selain itu, customer journey pria dan wanita memiliki pola yang sangat berbeda saat berhadapan dengan tenaga penjual. ▸ Leadership Tanpa Ego: Inherit the Team Seorang leader jarang sekali bisa membentuk tim dari nol; seringnya mereka "mewarisi" (inherit) tim yang sudah ada. Tugas utama leader bukanlah untuk bersinar paling terang, melainkan menekan ego dan memastikan anggota timnya bisa bersinar lebih dari dirinya. ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ ⏱️ TIMESTAMPS 00:00 - Intro & Teaser: Mengenal Kiprah Yusuf Seto  04:39 - Bedah Bisnis Cambridge & Miskonsepsi Label "Sekolah Internasional"  13:36 - Analisis Komparasi Mutu Pendidikan: Indonesia vs ASEAN  23:49 - Mentalitas Sales Sukses: The Power of Desperation & Jam Terbang  31:19 - Disrupsi Teknologi: Tantangan Mendidik Gen Z di Era AI Native  50:51 - Komunikasi Persuasif: Teknik Ethos, Logos, Pathos dalam Penjualan  56:22 - Consumer Behavior: Efek Reciprocity & Pola Belanja Pria vs Wanita  1:02:08 - Filosofi Leadership: Strategi Inherit Team & Manajemen Ego  1:07:06 - Closing & Kesimpulan Episode ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🏷️ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED Cambridge International Education • Cambridge University Press and Assessment • Celebrity Fitness • Wall Street English • Outliers (Malcolm Gladwell) • Bill Gates • 10,000 Hours Rule • AI Native • ChatGPT • Gemini • Psychology of Influence • Reciprocity • Ethos, Logos, Pathos • B2B Sales • Consumer Behavior • SPG • Ojek Payung  ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🎙️ Produced by White Wood Host: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia Our Agencies: ▸ www.praxis.co.id ▸ www.prajna.co.id ▸ www.explicar.co.id ▸ www.whitewood.ai ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ #ProxemicsPodcast #CambridgeEducation #PublicRelations #StrategiMarketing #AIMarketing #DuniaSales #ConsumerBehavior #LeadershipTips #EdukasiAnak #AgencyLife Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  3. Aug 30

    Aturan Main Iklan : Batasan Antara Kreatif dan Melanggar Etika Pariwara | 038

    Some communicators distract the message. We dissect the message. Di episode Proxemics "Full House" kali ini, Mercy, Awi, Sofyan, dan Steph berkumpul untuk membedah berbagai studi kasus komunikasi publik, Public Relations (PR), dan marketing tanpa filter. Kami membedah kenapa merespons krisis dengan serangan personal (Ad Hominem) adalah mimpi buruk konsultan PR, bagaimana "stamina" campaign banyak praktisi PR masih sangat lemah, perdebatan etika content creator yang merekam diam-diam, hingga kontrasnya strategi marketing raksasa Spider-Man vs Christopher Nolan. Buat kamu yang kerja di corporate comms, agency, marketing, branding — atau first-jobber yang ingin tahu cara kerja industri media yang sebenarnya — ini adalah diskusi praktisi, bukan teori kelas. Real analysis, real ethics, real talk. ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 💡 KEY INSIGHTS ▸ Krisis PR & Message Destruction Ketika publik atau stakeholder meminta data, membalasnya dengan personal attack (Ad Hominem) adalah blunder terbesar. Ini menciptakan "message destruction" di mana substansi pesan utama yang baik justru hancur karena cara penyampaian yang reaktif. ▸ Penyakit Praktisi PR: Stamina Lemah & Transaksional Banyak praktisi PR hanya mengejar "one-off event" (seperti pemecahan rekor MURI) tanpa evaluasi jangka panjang (perception audit). Selain itu, memperlakukan media relations hanya sebagai transaksi belaka (hanya untuk naikin rilis) adalah kesalahan. Relasi itu harus berbasis irisan mutualisme antara publik, brand, dan media. ▸ Strategi Marketing Kontras: Marvel vs Nolan Bagaimana Spider-Man bisa mengintegrasikan 165 brands (senilai $300 Juta) secara smooth tanpa membuat filmnya terasa seperti iklan murahan? Sangat bertolak belakang dengan gaya idealis Christopher Nolan yang menolak gimmick marketing berlebihan dan mengandalkan organic word-of-mouth. ▸ Etika Content Creator & Ruang Publik Merekam orang di ruang publik menggunakan smart glasses untuk kepentingan komersialisasi konten tanpa consent adalah pelanggaran etika. Minta maaf di video tidak akan menyelesaikan akar masalah jika sang kreator tidak paham batas antara "kepentingan publik" dan "kepentingan komersial". ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ ⏱️ TIMESTAMPS 00:00 Intro Podcast 00:56 Pidato Londo Ireng 08:05 Serangan Ad Hominem 12:53 Kepercayaan Publik Turun 20:55 Evaluasi Praktisi PR 32:04 Strategi Marketing Film 40:09 Etika Content Creator 57:58 Isu Demo Agustus 1:04:35 Closing Podcast ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🏷️ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED SMRC • Ad Hominem • Message Destruction • Perception Audit • Spider-Man Marvel • Christopher Nolan • BMW vs Mercedes Ads • Burger King vs McDonald's • Etika Pariwara Indonesia (EPI) • Content Creator Ethics • Meta Glasses • BYD • Telkomsel • XL ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🎙️ Produced by White Wood Host: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia, Sofyan Herbowo, Adwi Yudiansyah Our Agencies: ▸ www.praxis.co.id ▸ www.prajna.co.id ▸ www.explicar.co.id ▸ www.whitewood.ai ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ #ProxemicsPodcast #PublicRelations #CorporateComms #StrategiMarketing #MediaRelations #KrisisKomunikasi #AgencyLife #DigitalMarketing #LiterasiMedia #EtikaKreator Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  4. Aug 17

    Mahar GOTO Nyangkut & Rugi 70%, Kok Yudha Keling Malah Lulus Sertifikasi OJK?! | 037

    Sebagian financial influencer jualan profit hijau. Tamu kita jualan kerugian sahamnya. Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Yudha Keling — stand-up comedian yang banting setir menjadi financial influencer bersertifikat resmi, dengan pendekatan konten yang mendobrak pakem industri keuangan. Ia membuktikan bahwa membuat orang tertawa dan percaya tidak selalu butuh jas rapi atau pamer kekayaan. Kami membedah bagaimana ia mengubah kerugian saham hingga 70% dan mahar saham GOTO yang nyangkut menjadi "Project Tidak Miskin" — sebuah masterclass dalam authentic branding. Kami juga membahas aturan ketat OJK (WPPE) bagi influencer keuangan, serta bagaimana Yudha menggunakan ChatGPT sebagai partner menulis materi komedi. Buat kamu yang kerja di marketing, PR, agensi, atau siapa pun yang ingin meningkatkan skill public speaking — ini adalah diskusi praktisi tentang strategi persuasi, meracik komedi lewat "rumus matematika", dan cara nyambung dengan audiens. Real examples, real frameworks, real laughs.  ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━  💡 KEY INSIGHTS  ▸ Authentic Branding: "Project Tidak Miskin" Di tengah tren flexing dan janji manis investasi, Yudha justru membangun brand-nya dengan menceritakan kesialannya di bursa saham. Ia memvalidasi keresahan audiens (investor ritel) bahwa 97% orang di market sering boncos, sehingga pendekatannya terasa jauh lebih relevan dan dipercaya.  ▸ Stand-up Comedy Punya "Rumus Matematika" Bikin jokes bukan soal wangsit. Ada formulanya: Argumen ➡️ Kenapa ini jadi masalah ➡️ Punchline[cite: 8]. Framework ini adalah senjata rahasia public speaker atau eksekutif untuk mencairkan suasana meeting yang tegang (addressing the elephant in the room).  ▸ Compliance Era Digital: Kenapa Influencer Butuh Sertifikasi (WPPE)? Berdasarkan aturan POJK, kreator yang menerima endorsement dari institusi keuangan kini dianggap sebagai "perpanjangan tangan" alias tim sales perusahaan. Sertifikasi wajib dimiliki untuk melindungi masyarakat dari misinformasi dan investasi bodong.  ▸ Disrupsi AI: ChatGPT sebagai "Writer's Room" Yudha menggunakan AI untuk brainstorming setup komedi ala Ronny Chieng. Namun ia menegaskan batasannya: AI bisa menstruktur kalimat dengan sempurna, tapi tidak bisa menggantikan delivery, emosi, dan relatability (kedekatan) dengan audiens manusia. ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━   🏷️ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED  Saham GOTO • OJK • POJK • WPPE (Wakil Perantara Pedagang Efek) • Bursa Efek Indonesia • ChatGPT / OpenAI • Raditya Dika • Pandji Pragiwaksono • Pras Teguh • Arif Brata • Taylor Tomlinson • Ronny Chieng • Dave Chappelle • Project Tidak Miskin • Gerakan Memutus Rantai (GMR) • David Wijaya • Felicia Putri Tjiasaka • Stand-up Comedy • Authentic Branding • Public Speaking  ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━  🎙️ Produced by White Wood  Host: Mercy Tahitoe & Jonathan Tenggara Our Agencies:  ▸ www.praxis.co.id  ▸ www.prajna.co.id  ▸ www.explicar.co.id ▸ www.whitewood.ai  ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━  #ProxemicsPodcast #YudhaKeling #MarketingIndonesia #PublicRelations #FinancialInfluencer #StandUpComedy #AuthenticBranding #LiterasiKeuangan #ChatGPT Proxemics Podcast is produced by White Wood.

    Mahar GOTO Nyangkut & Rugi 70%, Kok Yudha Keling Malah Lulus Sertifikasi OJK?! | 037
  5. Jul 17

    Akhir Era SEO Tradisional: Kenapa Praktisi B2B Wajib Paham GEO & Narrative Architecture? | 036

    Di era disrupsi, memenangkan persaingan bukan lagi soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang memiliki struktur fondasi paling solid. Di episode Proxemics Podcast kali ini FULLHOUSE duduk bersama untuk mendekonstruksi lanskap industri komunikasi, PR, dan marketing yang tengah diacak-acak oleh AI. Kami membongkar kerangka kerja (framework) level eksekutif yang menjadi pegangan top management saat ini. Mulai dari urgensi Public Affairs dan pentingnya mengamankan Social License to Operate (SLO) di luar izin legal, pergeseran paradigma dari CSR menuju Corporate Shared Value (CSV), hingga krisis eksistensial media massa akibat fenomena AI Crawler & "Zero-Click Search". Bagi Anda para C-Level, praktisi PR, Marketer, atau strategis B2B, episode ini juga membedah transisi krusial dari SEO konvensional menuju GEO (Generative Engine Optimization). Siapkan catatan, ini adalah "Executive Playbook" untuk mempertahankan relevansi brand Anda! ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 💡 KEY INSIGHTS ▸ Izin Legal Bukan Jaminan Tanpa SLO Bisnis raksasa sering terganjal konflik dengan masyarakat sipil karena perbedaan orientasi. Public Affairs bertugas mengelola "Externality Cost" agar perusahaan tidak hanya sah secara hukum (Technical License), tapi juga mengantongi restu sosial (Social License to Operate). ▸ Matinya CSR & Lahirnya CSV Korporasi cerdas tidak lagi membuang uang untuk donasi karikatif (CSR) yang tidak relevan dengan core bisnis. Mereka mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat ke dalam OPEX operasional (Creating Shared Value), memastikan ekosistem tumbuh bersamaan dengan laba perusahaan. ▸ Kematian Senyap Media Konvensional Perilaku pengguna bergeser ke arah "Zero-Click Search" di mana AI langsung merangkum jawaban di halaman pencarian. Kehilangan traffic berarti kehilangan nafas bagi media independen, berujung pada kolapsnya bisnis pers dan darurat literasi digital. ▸ SEO Bertransformasi Menjadi GEO Konten yang relevan bagi manusia saja sudah tidak cukup. Brand harus menguasai "Dual Legibility Tension" dan merancang "Narrative Architecture" agar informasi mereka dapat dipindai, dipahami, dan direferensikan oleh mesin Generative AI. ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ ⏱️ TIMESTAMPS 00:00 - Highlights 01:00 - Intro & Taktik Ambush Marketing 06:26 - Dinamika Bisnis Media 13:05 - Konsep Public Affairs 18:22 - Evolusi CSR ke CSV 24:30 - Etika & Regulasi Influencer 37:11 - Era Zero Click Search 46:27 - AI Sebagai Alat Bantu 57:34 - SEO Masa Depan (GEO) 59:08 - Kesimpulan dan Outro ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🏷️ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED Levi's • Coca-Cola • DBS • Nestle • Public Affairs • Social License to Operate (SLO) • Corporate Shared Value (CSV) • Generative Engine Optimization (GEO) • Narrative Architecture • Dual Legibility Tension • AI Crawler • Zero-Click Search • Externality Cost • Opex • Jim Collins (Good to Great) • Alvin Toffler • The Genius of AND ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 🎙️ Produced by White Wood Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ #ProxemicsPodcast #ExecutivePlaybook #PublicAffairs #GenerativeEngineOptimization #DisrupsiAI #PublicRelations #B2BMarketing #IndustriMedia #CorporateSharedValue #MarketingStrategy Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  6. Jul 13

    Strategi Asli Agency Live Commerce Tangani Brand Raksasa (Bukan Cuma Omset!) | 035

    Content is King itu udah basi. Di era digital yang hyper-accelerated sekarang, kalau lu cuma bikin konten yang cantik tanpa ngerti data, lu bakal tenggelam. Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Maria Ramona (Mona) — Head of Creative di SIRCLO. Dari anak agency tulen yang biasa ngurusin TVC dan guideline brand, sekarang dia nge-lead tim raksasa untuk ngurusin ribuan sesi live streaming dan social commerce harian. Topik besarnya: Creative Commerce, Anatomi Live Streaming yang sukses, bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara efektif dalam proses kreatif, dan cara mengelola tim kreatif dalam skala besar. Kami membedah kenapa host live stream nggak bisa cuma modal cantik/ganteng, kenapa desainer grafis sekarang wajib melototin data penjualan, dan bahayanya karyawan yang punya sindrom "Iya, ngerti bos" padahal zonk. Buat kamu yang punya brand, kerja di agency, tim kreatif, atau lagi pusing kenapa jualan di TikTok/Shopee mentok terus — ini ilmu daging dari dapurnya enabler e-commerce raksasa. Realita, bukan teori. 💡 KEY INSIGHTS ▸ Kreatif + Data = Creative Commerce Visual bagus aja nggak cukup. Desainer dan tim kreatif sekarang wajib paham matriks: Entrance Rate, Average View Duration (AVD), sampai GMV. Karya lu divalidasi oleh angka, bukan sekadar selera bos. ▸ Host Live Stream bukan sekadar "Talking Head" Mau jualan laku? Product knowledge yang mendalam adalah kunci. Host yang sukses adalah mereka yang ngerti pain points audiens dan bisa ngasih konteks psikologis secara spontan, bukan cuma baca script hafalan. ▸ AI bikin efisien, tapi bahaya bikin "Nyampah" AI memang dipakai untuk short video dan bikin desain massal. Tapi ingat, AI itu untuk volume. Kalau brand cuma bombardir tanpa master visual yang kuat dan QC manusia, lu bukan lagi marketing, lu cuma nyampah dan bikin audiens muak. ▸ Red Flag: Karyawan "The Yes Men" Dalam manajemen tim skala besar, penyakit paling bahaya adalah karyawan yang bilang "iya, ngerti" cuma buat impress atau takut kelihatan bodoh, tapi hasil akhirnya meleset. Meleset 1 milimeter di atas, bakal jadi ratusan meter di bawah. 🎧 Dengerin full episode-nya, dan subscribe buat diskusi praktisi marketing & PR lainnya. ⏱️ TIMESTAMPS 0:00 Intro: Era Creative Commerce 01:57 Dari Agency Ke Tech Company (SIRCLO) 06:49 Matriks Rahasia Live Streaming 13:36 Evolusi Tim Kreatif : Wajib Melek Data 22:58 Kunci Sukses Host : Product Knowledge & Konteks 31:21 Dibalik Layar Casting & Evaluasi Host 42:56 AI di E-commerce & Jebakan “Nyampah” 55:18 Red Flag Tim Besar: Bahaya Si “Sok Ngerti” 01:04:49 Outro: Cerita Bisnis Playdou Pizza & Closing 🎙️ Produced by White Wood Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  #ProxemicsPodcast #CreativeCommerce #LiveStreaming #MarketingIndonesia #SIRCLO #DigitalMarketing #ECommerceIndonesia #KecerdasanBuatan #AgencyLife #TikTokLive #ShopeeLive Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  7. Jun 19

    Marketing di Era AI: KYC, GEO, & Kenapa Karakter Lebih Penting dari Skill | 034

    Some people sell products. Our guest sells trust — dan dia ngelakuinnya di salah satu industri paling susah dipercaya: fintech. Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Yosua Tanuwiria — seasoned marketing professional, dengan 15 tahun pengalaman lintas industri dari hospitality sampai financial services. Topik besarnya: marketing di era AI, literasi keuangan, dan apakah AI beneran bakal menggantikan marketer & agency. Kami membedah apa yang berubah saat "democratized virality" bikin siapa pun bisa viral, kenapa financial literacy orang Indonesia masih ketinggalan, dan kenapa AI justru bikin jurang antara yang "intuit" dan yang gaptek makin lebar — bukan makin rata. Buat kamu yang kerja di marketing, PR, branding, atau agency — dan first-jobber yang lagi cari pijakan — ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk. 💡 KEY INSIGHTS ▸ KYC = fondasi marketing (bukan yang compliance itu) Bukan "Know Your Customer" versi verifikasi data — tapi seberapa beneran kamu paham siapa yang kamu ajak bicara. Brand sering bikin sesuatu yang nggak menjawab masalah siapa pun, dan itu kerja multi-divisi — bukan tugas marketing sendirian. ▸ "Knowledge bisa diajarin. Karakter nggak bisa dirubah." Tiga hal yang dicari Yos saat hiring: karakter, rasa kepemilikan (ownership), dan kemampuan untuk unlearn. Skill nomor sekian. ▸ AI tidak menggantikan — AI memperkuat (kalau kamu tahu caranya) Bedanya agency yang menang dan yang tergusur: yang menang pakai AI untuk jadi konsultan yang lebih baik, bukan untuk produksi barang yang klien juga bisa bikin sendiri. Relationship dengan media, regulator, dan stakeholder — itu yang nggak bisa di-prompt. ▸ Kenapa AI justru bikin lapangan makin timpang Kalau kamu sudah perform DAN melek AI, kamu seperti "Barry Bonds on steroids." Tapi kalau ketinggalan, jaraknya makin jauh. Era AI bukan pemerataan — ini amplifier. ▸ Trust di fintech: kamu harus go above and beyond Saat terjadi glitch harga forex, CEO mereka langsung live interview dan membiarkan customer menikmati keuntungan dari error itu — walau itu kesalahan partner, bukan internal. Walk the talk, atau kehilangan kepercayaan selamanya. 🎧 Dengerin full episode-nya, dan subscribe buat diskusi praktisi marketing & PR lainnya tiap minggu. ⏱️ TIMESTAMPS 0:00 Teaser & Bumper in 01:01 Intro: Bisnis Jualan Trust 02:16 Democratized Virality Era 06:11 Realita Know Your Customer 19:23 Jebakan Ilusi Cepat Kaya 28:59 The Ability To Unlearn 41:05 Adaptasi Agensi Era AI 53:13 Masterclass Crisis Management 58:07 Red Flag: Drama Queen 01:00:48 Outro: Closing Statement Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #AIMarketing #PublicRelations #FinancialLiteracy #LiterasiKeuangan #GEO #Branding #Fintech #DigitalMarketing #AgencyLife #FOMO #Investasi #KYC #PromptEngineering Proxemics Podcast is produced by White Wood.

  8. Jun 19

    Pencopotan Kepala BGN: Evaluasi Murni atau Sekadar "Dead Cat Theory"? | 033

    Isu tata kelola program pemerintah dan investasi *startup* sering kali diselimuti kontroversi dan perdebatan publik—mulai dari kekisruhan logistik Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga tuduhan korupsi yang menjerat *Venture Capital* BUMN akibat gagalnya investasi di *startup*. Namun, realita di balik layar menunjukkan adanya tantangan struktural yang kompleks, seperti birokrasi yang kaku dan lambatnya pemahaman hukum terhadap manajemen risiko investasi *high-risk*. Di tengah era di mana disrupsi AI terjadi sangat cepat, institusi publik dan swasta dituntut untuk memiliki strategi komunikasi krisis yang tangguh dan tidak reaktif. In this episode of Proxemics Podcast, kita membedah dinamika komunikasi politik dan krisis ekosistem bisnis digital. Anda akan mempelajari apa itu strategi *Dead Cat Theory* dalam lanskap komunikasi pemerintah, pelajaran *Public Relations* dari blunder viral promotor konser, serta ancaman di balik kriminalisasi kerugian investasi *Venture Capital* yang secara sistemik memaksa talenta *startup* lokal untuk eksodus dan berkarya di luar negeri. ### Key PR Insights & Analysis * **Q: Apakah evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) murni soal tata kelola atau sekadar pengalihan isu?** * **A:** Selain adanya evaluasi nyata terhadap tata kelola dan pencopotan kepala BGN, diskusi membedah spekulasi terkait penggunaan strategi "Dead Cat Theory" dalam komunikasi politik, yakni taktik melempar isu sensasional untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah yang lebih esensial. * **Q: Mengapa menyamakan kerugian Venture Capital BUMN di startup dengan tindak korupsi dianggap berbahaya?** * **A:** Secara natural, investasi *startup* adalah perjudian berisiko tinggi (*high risk, high reward*). Menjerat kegagalan investasi komersial dengan pidana kerugian negara dapat menciptakan preseden buruk, mematikan ekosistem inovasi, dan mendorong talenta lokal untuk mencari pendanaan di negara dengan birokrasi yang lebih adaptif. * **Q: Apa pelajaran PR yang bisa diambil dari krisis promotor konser yang viral baru-baru ini?** * **A:** Di era media sosial, respons yang reaktif dan emosional langsung dari *brand* adalah sebuah blunder PR. Pendekatan terbaik adalah menyelesaikan keluhan secara privat di belakang layar terlebih dahulu, kemudian menggunakan konsumen tersebut sebagai validator pihak ketiga untuk mengklarifikasi bahwa masalah telah terselesaikan. --- ### Timestamps 00:00 - Opening & Highlights 00:59 - Intro & Blunder PR Politik 16:18 - Evaluasi program makan bergizi (MBG) 23:02 - Apa itu Dead Cat Theory 25:57 - Krisis PR Konser F4 34:14 - Kasus TANI HUB & VC BUMN 40:18 - Risiko startup vs tindak korupsi 51:31 - Startup Lokal Terjegal Birokrasi 54:08 - Ancaman AI Prompting di 2026 55:35 - Outro & Closing --- Brands/People Mentioned: Dinopati Jalal, Tedy Indrawijaya, Ferry Irwandi, BGN, F4/FSE, TaniHub, BRI Ventures, MDI Ventures, Telkom Indonesia, Temasek, Google, OpenAI. Produced by White Wood Hosts: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara 🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id  #ProxemicsPodcast #DeadCatTheory #StartupIndonesia #TaniHub #VentureCapital #KrisisKomunikasi #Birokrasi #PublicRelations #MakanBergiziGratis #MarketingIndonesia Proxemics Podcast is produced by White Wood.

About

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood Pod.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcast Instagram: @proxemics.podcast Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com