Endgame with Gita Wirjawan

Endgame Podcast

Join entrepreneur, educator, and proud Indonesian, Gita Wirjawan in exploring the ways forward for our society through stories and experiences by thought leaders, trailblazers, and opinion-makers from Indonesia and the region.

  1. Oct 29

    Leila Chudori: Yang Fiksi Mampu Tangkap dan Nonfiksi Sukar

    Sejarah sering sampai kepada kita sebagai deretan tanggal, angka, dan nama. Alam batin yang dirasakan oleh orang-orang yang hidup pada peristiwa sejarah, seringkali tidak muncul ke permukaan atau bahkan dilupakan. Di sanalah fiksi bekerja. Episode ini menceritakan perjalanan kepenulisan Leila Salikha Chudori, yang mungkin kita kenal lewat karya-karyanya, termasuk “Pulang” dan “Laut Bercerita”. Leila dan Gita juga membahas amnesia sejarah bangsa yang lukanya masih dirasakan banyak orang hari ini.Topik selengkapnya:0:00:00 - Intro0:01:21 - Menulis sejak usia 11 tahun0:04:37 - Tren membaca dari masa ke masa0:13:16 - Guru dan ibu: aktor pengubah nasib bangsa0:33:25 - Gerakan klub buku0:49:38 - Peran fiksi dan nonfiksi0:56:13 - Kenapa menulis buku belatar sejarah1:03:21 - Fiksi sejarah pantik rasa ingin tahu1:12:44 - Proses riset untuk menulis fiksi1:23:26 - Metode dan gaya menulis Leila Chudori1:39:11 - Jika bisa tulis ulang Pulang dan Laut Bercerita1:42:46 - Membacalah! Agar 65 dan 98 tidak terulang1:50:34 - Media punya peran mendidik bangsa?#Endgame #GitaWirjawan #LeilaChudori------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:Goodreads------------------Episode lain yang mungkin Anda sukai:Reza Rahadian: Bangsa Kita Mesti Fokus ke Hasil atau Proses Slamet Rahardjo: Indonesia Sedang Kehilangan Mata Anginnya Vedi Hadiz: Oligarki, Negara, dan Ketimpangan Sukarela

    Leila Chudori: Yang Fiksi Mampu Tangkap dan Nonfiksi Sukar
  2. Oct 23

    Susilo Bambang Yudhoyono: Presiden Itu Lembaga, Bukan Orang

    Memimpin di kala damai tidak sama dengan memimpin di kala konflik. Tapi satu persamaannya, pemimpin tidak boleh berselingkuh dari konstitusi dan akal sehat.Bagi Presiden Keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, memimpin negara bukan tentang mendahulukan ego diri sendiri. Ada visi yang harus dibangun bersama. Ada sistem yang memagari tindak-tanduk. Ada pipa komunikasi antara warga dan pengelola negara yang tidak boleh mampat. “Presiden itu lembaga, bukan orang,” tegas SBY.Menjadi pemimpin negara butuh lebih dari sekadar hasrat. Butuh prinsip, sains, seni, dan kelihaian untuk memadupadankan ketiganya.Percakapan ini dipersembahkan untuk generasi penerus bangsa. Kelak, pimpinlah kami dengan kompetensi, integritas, dan intelektualitas.Direkam 19 September 2026 di Balai Kartini, Jakarta, di hadapan 2.000 pembelajar dan agen perubahan bangsa. Percakapan ini adalah bagian dari tahun ketiga konferensi intelektual anual kami, Endgame Town Hall. EGTH 2026 mengusung tema, “Sebuah Perjalanan Kosmis Menyelami Kemanusiaan dan Diri”. Dua belas jam konferensi dibagi menjadi tiga babak, yaitu (1) Semesta, (2) Kemanusiaan, dan (3) Self. Episode ini masuk dalam Babak II: Kemanusiaan pada Sesi Keenam, “Tata Kelola Negara: Seni Memimpin dan Kepemerintahan.”Lompat ke bagian:00:00 - Intro01:45 - Seni memimpin negara08:09 - Apa itu presiden?12:04 - Perbedaan memimpin masa damai vs konflik18:21 - Lima faktor jatuh-bangunnya peradaban26:04 - Tegaknya hukum buat rakyat tenang29:43 - Bagaimana jalur koordinasi ke presiden?36:23 - Apa artinya menjadi orang Indonesia?41:19 - Pascakebenaran44:19 - Kecerdasan artifisial#Endgame #GitaWirjawan #SBY---------------------Episode Endgame lainnya bersama Bapak SBY:Membahas Dwifungsi ABRI, Perang Dunia III, Gaza-Israel SBY Membaca Catur Politik Dunia Tanda Engkau Belum Siap Memimpin---------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:Goodreads

    Susilo Bambang Yudhoyono: Presiden Itu Lembaga, Bukan Orang
  3. Oct 21

    Uang, Intelek, Energi: Pemodal Pegang Kunci Majunya Negara

    Episode ini membahas ‘investasi’ lebih dari sekadar perspektif keuangan. Bagi sebuah negara yang bercita-cita berdaya tawar kuat, investasi di pendidikan dan energi juga sebuah keharusan.Lamtiurida Hutabarat (Principal Investment Officer Infrastructure Lead, Malaysia IFC, World Bank Group) dan Steffanus Ade Widjaja (Managing Director, Investment at Danantara Indonesia) bekerja di persimpangan modal, infrastruktur, dan talenta.Bersama Gita Wirjawan, mereka membahas peran guru dan cara ‘menghargainya’, kebutuhan energi bagi ekonomi yang ingin tumbuh lebih cepat, kepentingan menerjemahkan ketidakpastian menjadi risiko, serta cara sebuah bangsa mengelola talenta lewat brain gain, brain circulation, dan brain linkage.Percakapan ini adalah buah kolaborasi dengan Putera Sampoerna Foundation, pemberi beasiswa yang membuka banyak pintu untuk Tiur dan Stef hingga mereka ada di posisi saat ini di lembaga masing-masing.Topik Selengkapnya:0:00:00 - Intro0:01:30 - Latar Belakang Tiur dan Stef0:11:40 - Rombak persepsi tentang guru lewat insentif0:21:50 - Bisakah modal swasta membiayai pendidikan?0:27:33 - Energi: dari 5.000 MW ke 30.000 MW0:45:27 - Kendalanya modal atau proyek?0:57:23 - Tiongkok vs Asia Tenggara: empat atribut1:01:34 - Sektor apa yang bankable?1:03:24 - Pertumbuhan 8% dan lapangan kerja1:06:20 - Kuliah di AS vs di Indonesia1:08:45 - Sekolah unggulan dan ambisi siswa1:12:49 - Brain train, gain, circulation, linkage1:21:34 - Pelajaran dari pendidikan dokter spesialis1:25:20 - Kewirausahaan Tiongkok vs Amerika1:30:35 - Apakah MBA masih relevan?#Endgame #GitaWirjawan #Investasi------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:Goodreads------------------Episode lain yang mungkin Anda sukai:Ashby Monk: Indonesia’s Big Bet? An SWF Expert Breaks Down Danantara Claudia Kolonas: Baca Instabilitas Pasar Saham dan AI Hendri Saparini: Arah Ekonomi di Era Pemimpin Baru

    Uang, Intelek, Energi: Pemodal Pegang Kunci Majunya Negara
  4. Oct 14

    Claudia Kolonas: Baca Instabilitas Pasar Saham dan AI

    This episode is brought to you by ASUS ExpertBook Ultra.We explore the importance of data protection in the AI era, particularly how businesses can embrace technological advancements without compromising data security. Agentic AI, as in ASUS Zenni Claw, goes beyond answering questions and carries out a sequence of tasks, with you making the final call. Local AI, as in ASUS AI ExpertMeet, can run on the device itself rather than in the cloud. Learn more: https://www.asus.com/id/laptops/for-work/expertbook/asus-expertbook-ultra/Kali kedua hadir di Endgame, Claudia Kolonas (pendiri dan pimpinan Pluang) membahas bagaimana geopolitik, harga energi, dan suku bunga dunia menekan negara berkembang, dan apa artinya bagi Indonesia. Dari sana, Claudia masuk ke narasi AI dan kekhawatirannya soal pembiayaan sirkular di antara perusahaan AI dunia. Ia juga mengupas perbedaan antara open-source dan open-weight, serta mengapa kedaulatan data penting bagi negara dan bisnis. Topik selengkapnya:0:00:00 - Intro0:01:17 - Perang & inflasi, apa aset yang antifragil?0:17:50 - Kenapa investasi ke AI ada risikonya0:24:34 - Bahaya data yang masuk ke AI milik luar0:32:35 - Kekhawatiran kesenjangan akibat AI0:37:04 - Halusinasi dan tantangan pendidikan era AI0:47:33 - Mengapa investor luar penting1:09:49 - Bagaimana AI genjot bisnis#Endgame #GitaWirjawan #ASUSExpertBookUltra------------------Yang disebut di video ini: Fitur Agentic Trading by Pluang (pertama kali hadir di Indonesia) menghubungkan asisten AI pilihanmu (perlu akun di penyedia AI tersebut) ke akun Pluang kamu untuk berdiskusi soal pasar, menganalisis aset, dan mengevaluasi portofolio lewat percakapan. Order hanya diproses setelah kamu konfirmasi, dalam batas yang kamu tetapkan. Pelajari lebih lanjut: https://pluang.com/fitur/agentic-tradingNantikan kolaborasi selanjutnya antara Pluang x Asus Indonesia, hadir segera di channel YouTube brand masing-masingGrup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Investasi mengandung risiko dan kemungkinan kerugian nilai investasi. Bantuan trading AI memiliki risiko finansial. Analisis AI merupakan alat bantu, bukan saran investasi atau rekomendasi untuk membeli atau menjual aset. Keputusan investasi sepenuhnya di tangan kamu.------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:https://www.goodreads.com/book/show/241922036-what-it-takes------------------Episode lain yang mungkin Anda sukai:Claudia Kolonas: Investment Myths, Finfluencers, and the AI Economy  Mochamad Asri: Talenta Indonesia Jadi Lead Architect di NVIDIABagaimana Agar Indonesia Lebih Punya Daya Tawar?

    Claudia Kolonas: Baca Instabilitas Pasar Saham dan AI
  5. Oct 8

    A. Setyo Wibowo: Plato, Negara Hancur dari Dalam, dan Otak yang Busuk Perlahan

    Ada masa ketika anak-anak adalah tanah yang masih basah, dan setiap tangan yang menyentuhnya meninggalkan bekas yang lama sekali memudar.Dari sebuah kampung di Ambarawa, Romo Augustinus Setyo Wibowo, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, menempuh jalan panjang lewat buku, seminari, hingga ruang kuliah di Roma dan Paris. Di sepanjang jalan itu, ia berkawan dengan para pemikir Yunani Klasik, dan dalam percakapan ini ia mengajak kita menyusuri jejak mereka.Kita kembali ke Athena, kota yang pandai berdebat dan pelan-pelan lupa untuk apa berdebat. Kita bertemu Sokrates yang memantik, bukan menggurui, lalu Platon yang percaya bahwa bangsa dibentuk sejak masa bermain. Kita mengikuti Aristoteles yang tinggal dua puluh tahun di Akademia, dan mendengar tafsir Romo tentang mengapa ia tak pernah memegang tongkat estafet itu.Dari Athena, percakapan bergerak ke hari ini: dialektika Hegel yang dipakai membaca perjalanan Indonesia, gua digital tempat kita duduk menatap bayang-bayang, dunia pascakebenaran, dan kecerdasan buatan yang membuat otak lebih nyaman tetapi belum tentu lebih hidup. Kita juga bicara tentang bakat yang perlu dirawat, tentang cinta tanah air sebagai modal, dan tentang penderitaan yang tak selalu bisa dihindari.Di ujung percakapan, ada harapan yang tidak bising, hanya tenang.Selamat menyimak.#Endgame #GitaWirjawan #SetyoWibowoLangsung ke bagian:0:00:00 - Intro0:02:00 - Guru-guru yang berjasa bagi Romo Setyo0:05:18 - Hobi membaca sejak kecil0:11:27 - Kuliah teologi di Roma dan Paris0:16:38 - Pengaruh Sokrates terhadap Platon0:18:21 - Filsafat politik di “The Republic”0:20:08 - Paideia: Filsafat pendidikan0:36:31 - Zeitgeist tumbuh kembang filsafat Yunani klasik0:42:49 - Bagaimana Platon mendidik Aristoteles0:56:14 - Alegori Gua Platon dan pascakebenaran1:08:27 - AI dan pembusukan otak (brain rot)1:31:17 - Penderitaan & Stoisisme------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:Goodreads------------------Episode lain yang mungkin Anda sukai:Tanah Jawa 300 Tahun yang Lalu - Peter Carey Pendidikan Adalah Lentera Kita di Kala Gelap Yuval Noah Harari & Mark Solms: Dawn of Future Consciousness

    A. Setyo Wibowo: Plato, Negara Hancur dari Dalam, dan Otak yang Busuk Perlahan
  6. Oct 7

    Namanya Diabadikan pada Benda Langit, Kosmolog Frontier Premana Premadi

    Dua setengah jam membahas sejarah alam semesta, tempat manusia di jagat raya, hingga peran pendidikan sains di masyarakat.Premana Wardayanti Premadi merupakan Guru Besar Astrofisika dan Kosmologi Institut Teknologi Bandung yang pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha ITB pada tahun 2018–2023. Satu almamater dengan Gita Wirjawan, Ibu Nana—panggilan akrab beliau—menempuh pendidikan doktoralnya di University of Texas, Austin.Topik selengkapnya:0:00:00 - Intro0:02:57 - Terpesona dengan bulan sejak kecil0:08:26 - Siapa sosok Sokrates di hidup Premana Premadi0:12:37 - Bangsa dititipkan di pundak guru0:18:37 - Algoritma dan pentingnya membaca0:23:33 - Mengapa sains harus dipopulerkan0:47:59 - Mengapa dari ITB ke UT Austin0:58:01 - Cahaya dan kurvatur alam semesta1:03:49 - 3 menit pertama terbentuknya alam semesta1:17:16 - Apa sebetulnya energi dan materi gelap?1:37:57 - Cerita di balik asteroid ‘12937 Premadi’1:46:49 - Manusia sendirian di jagat raya?2:06:31 - Kehidupan multiplanet2:12:41 - AI dan kosmologi#Endgame #GitaWirjawan #PremanaPremadi------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:Goodreads------------------Episode lain yang mungkin Anda sukai: Karlina Supelli: Cipta, Rasa, Karsa Manusia Indonesia Garry Nolan - Alien & UFO: The Critical Question Nobody's Asking "Gene Hunter" Prof. Herawati Sudoyo: Science Has No Borders

    Namanya Diabadikan pada Benda Langit, Kosmolog Frontier Premana Premadi
  7. Oct 7

    Kai-Fu Lee: The Future of Humanity in a World of AI

    “I didn’t imagine it would become this powerful.”If you’re looking for the world’s leading voices on AI, Kai-Fu Lee is among them. Former President of Google China, founding director of Microsoft Research Asia, and a pioneer in speech recognition at Apple, Kai-Fu Lee joins us to share his perspective on the rapid rise of artificial intelligence and what it means for our future.The conversation spans Taiwan’s transformation into a hub for scientific and technological talent, the forces behind AI’s remarkable rise, the future of China’s open-source AI ecosystem, and the economic and social changes AI could bring. We also explore a deeper question: as AI becomes increasingly capable, what remains uniquely human?#Endgame #GitaWirjawan #KaiFuLeeFull topics:00:04:33- What made Taiwan's great scientists00:10:16 - AI helps understand humanity better00:14:36 - Times in Apple and Microsoft Research China00:26:16 - Will China’s AI remain open source?00:44:16 - AI hallucination & critical thinking00:50:31 - Is STEM a structural challenge for AI development01:05:26 - AI, jobs, cost of labor01:24:06 - How tumor changed his life 01:31:16 - AI can’t take responsibility------------------Read Kai-Fu Lee's books:AI 2041: Ten Visions for Our Future - https://www.periplus.com/p/9780593238318AI Superpowers: China, Silicon Valley, and the New World Order - https://www.periplus.com/p/9780358105589 Get your copy of Gita Wirjawan’s book, “What It Takes: Southeast Asia”, NOW:https://books.endgame.id/Also available on Amazon:https://sgpp.me/amazon/Leave your review here:www.goodreads.com/book/show/241922036-what-it-takes

    Kai-Fu Lee: The Future of Humanity in a World of AI

About

Join entrepreneur, educator, and proud Indonesian, Gita Wirjawan in exploring the ways forward for our society through stories and experiences by thought leaders, trailblazers, and opinion-makers from Indonesia and the region.

You Might Also Like