Kunci diterimanya amal di sisi Alloh adalah niat yang ikhlas. Setiap ibadah—salat, puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, hingga perjuangan besar—harus dilakukan semata-mata mengharap ridha Alloh, bukan pujian atau pengakuan manusia. Ada orang yang amalnya besar, tetapi niatnya salah. Pejuang yang ingin kedudukan, pengajar yang ingin disebut alim, atau dermawan yang ingin dipuji—semuanya terancam gagal meski amalnya banyak. Amal tanpa keikhlasan bukan hanya sia-sia, bahkan bisa menjadi sebab kebinasaan. Rasulullah juga mengingatkan tentang orang yang bangkrut di hari kiamat: ia membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi karena lisannya menyakiti, menuduh, mengambil hak orang lain, atau berbuat zalim, maka pahalanya habis diberikan kepada yang dizalimi. Jika pahalanya habis, dosa orang lain ditimpakan kepadanya. Karena itu, menjaga lisan dan perbuatan sangat penting. Hindari ghibah, fitnah, kebohongan, dan sikap berlebihan. Latih kesabaran, bahkan dalam hal kecil. Balas keburukan dengan kebaikan. Ramadan adalah momentum terbaik untuk memeriksa ulang niat. Setiap ibadah harus ditata ulang tujuannya. Alloh Maha Melihat dan Maha Mengetahui, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Semoga kita diberi keikhlasan dalam setiap amal, dijauhkan dari riya dan kemungkaran, serta diterima seluruh ibadahnya oleh Alloh.