“Mengacuhkan nyeri di kakinya yang luka, pak tua itu membelainya, dan menangis tersedu oleh rasa malu, rasa tak berguna, nista, sama sekali bukan jawara dalam pertarungan.” . Adegan akhir Pak Tua dan si macan kumbang itu begitu mengharukan, sekaligus kompleks, dan memicu banyak percakapan. Sore tadi kami berbicara dengan Ronny Agustinus di #PostBookClubAtHome vol.2 tentang “Pak Tua yang membaca Kisah Cinta” , buku favorit kami bersama. Ia buku tipis yang sederhana tetapi memiliki banyak lapisan, ia mengajak kita berpikir tentang hubungan manusia, juga negara, dengan alam, tentang keterasingan, cinta, bagaimana kita memandang peradaban, dan banyak tema lainnya. . Banyak adegan yang kami sukai; dari bagaimana Pak Tua menemukan kecintaannya pada bacaan, pertemanannya dengan suku Shuar, hingga adegan di dokter gigi yang lucu itu. Kami berbicara tentang simbol-simbol yang dipakai dalam cerita ini, walikota atau Si Siput Lendir itu, misalnya. Kami juga berbicara tentang penulis Amerika Latin pasca generasi Boom, aktivisme dan pandangan politik Luis Sepulveda (sejak ia ditawan rezim Pinochet, diasingkan, hari-harinya bersama suku Shuar, hingga saat ia menjadi awak kapal Greenpeace). . Minggu lalu, Luis Sepulveda berpulang karena Covid-19. Hari ini kami mengucapkan selamat jalan padanya, semoga beliau bisa beristirahat dengan tenang di sana, dan terima kasih padanya karena sudah menghadirkan karya bagus ini, yang akan kami kenang untuk waktu yang lama. . Terima kasih Mas Ronny, untuk obrolan sore ini juga karena sudah menerjemahkan Pak Tua dan memperkenalkannya kepada pembaca di Indonesia. Terima kasih juga untuk teman-teman yang tadi berpartisipasi. Sampai jumpa di #PostBookClubAtHome berikutnya. . #LuisSepulveda #PakTuaYangMembacaKisahCinta