Sajak Kini

Sajak Kini

Podcast Sajak Kini adalah sebuah sajak tercipta yang selalu berangkat dari kegelisahan dan gelisah harus di sampaikan melalui akun @podcastdajakkini yang rutin tayang setiap hari Sabtu | Jika Ingin ceritamu di buatkan literasi, tapi tak ingin rahasianya diketahui, ingin sekedar curhat atau meluapkan kegelisahan, kirim segera cerita menarikmu. Email : Sajakkini09@gmail.com Instagram : @podcastsajakkini

  1. Di Balik Papan Tulis yang Sunyi

    MAY 2

    Di Balik Papan Tulis yang Sunyi

    ✨ Sajak Kini – “Di Balik Papan Tulis yang Sunyi”Tidak semua perjuangan datang dengan sorotan. Ada yang berlangsung diam-diam, setiap hari, di ruang kelas sederhana—di mana satu suara terus hadir, menjelaskan, mengulang, dan bertahan, meski tidak selalu didengar. Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tapi tentang memahami bahwa setiap anak datang dengan cara yang berbeda. Di situlah kesabaran bekerja, pelan-pelan, tanpa banyak suara. Ada lelah yang tidak selalu terlihat—tentang pulang dengan suara yang habis, tentang pikiran yang tetap tinggal di kelas bahkan setelah hari selesai. Namun di balik itu, ada harapan-harapan kecil yang terus dijaga: satu anak yang mulai mengerti, satu perubahan yang mungkin tampak biasa bagi orang lain, tapi berarti besar bagi mereka yang memilih untuk tetap percaya.Tidak semua usaha langsung terlihat hasilnya. Ada pelajaran yang baru dipahami bertahun-tahun kemudian, ada nasihat yang baru terasa ketika waktu sudah berjalan jauh. Dan mungkin, saat itu, guru tidak lagi ada di sana—tapi jejaknya tetap tinggal, dalam cara berpikir, dalam sikap, dalam keputusan-keputusan kecil yang membentuk hidup seseorang. Menjadi guru adalah tentang menanam tanpa tahu kapan akan tumbuh, memberi tanpa selalu menerima kembali. Namun mereka tetap datang, membuka buku, menyapa kelas, dan melanjutkan apa yang sudah dimulai. Karena bagi mereka, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekadar kalimat—melainkan sesuatu yang dijalani, perlahan, setiap hari.🎧 Sajak Kini – “Di Balik Papan Tulis yang Sunyi”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Miftah Alfiah Ulum

    5 min
  2. Tunggu Aku Sukses Nanti

    APR 18

    Tunggu Aku Sukses Nanti

    ✨ **Sajak Kini – “Tunggu Aku Sukses Nanti”** Ada fase dalam hidup ketika kita tidak banyak bicara—bukan karena kehilangan mimpi, tapi karena sedang sibuk mengejarnya. Semakin dewasa, kita mulai mengenal diam yang penuh arti: bekerja tanpa banyak pengakuan, jatuh tanpa banyak diketahui, dan bangkit tanpa perlu diumumkan. Dulu kita ingin dimengerti, didengar, dan diakui, tapi sekarang kita lebih memilih menyimpan banyak hal sendiri, karena tidak semua perjalanan butuh penonton. Menjadi dewasa ternyata bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang bertahan—tentang tetap bangun meski lelah belum selesai, tetap melangkah meski arah kadang terasa kabur. Ada hari-hari ketika kita merasa tertinggal, melihat orang lain sudah sampai lebih dulu, sementara kita masih berjalan di tempat yang sama. Tapi entah kenapa, langkah ini tetap bergerak—pelan, namun tidak berhenti. Di dalam diam itu, ada satu kalimat yang terus kita ulang: *“tunggu aku sukses nanti.”* Bukan untuk membalas siapa-siapa, melainkan sebagai janji kecil pada diri sendiri—bahwa semua lelah dan jatuh ini tidak sia-sia. Perjalanan ini memang tidak selalu indah; ada ragu, takut, dan malam-malam panjang yang hanya diisi oleh pikiran sendiri. Namun justru di situlah kita belajar bahwa kekuatan tidak selalu terlihat, dan orang yang tampak biasa saja bisa saja sedang membawa mimpi yang luar biasa. Jika hari ini kamu masih berjuang dan merasa jauh dari tujuan, ingatlah: kamu tidak tertinggal, kamu hanya sedang berada di jalurmu sendiri. Dan selama kamu masih bertahan, masih mencoba, dan masih percaya—itu sudah cukup. Suatu hari nanti, kamu akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa kamu tidak pernah benar-benar berhenti. 🎧 **Sajak Kini – “Tunggu Aku Sukses Nanti”** ✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari 🎙️ Pengisi Suara : Miftah Alfiah Ulum

    5 min
  3. Waktu yang Mengubah Cara Mencintai

    APR 3

    Waktu yang Mengubah Cara Mencintai

    ✨ Sajak Kini – Waktu yang Mengubah Cara Mencintai Semakin dewasa, kita mulai menyadari bahwa cinta tidak lagi datang dengan tergesa. Ada hati yang kini belajar berjalan pelan, bukan karena kurang rasa, tetapi karena sudah tahu betapa sakitnya jatuh terlalu cepat. Dulu kita mencintai dengan gegabah, memberi segalanya tanpa sempat bertanya apakah kita juga dijaga. Kita percaya bahwa rasa saja cukup, bahwa niat baik pasti berbalas baik—meski pada akhirnya tidak selalu demikian. Dari luka, dari janji yang tak sempat ditepati, dan dari perpisahan yang sunyi, kita mulai belajar menahan diri, bukan untuk menjauh, melainkan untuk melindungi. Kini, cara kita mencintai berubah menjadi lebih tenang dan sadar. Kita lebih hati-hati memilih, lebih pelan membuka diri, dan lebih selektif memberi ruang—bukan karena takut mencinta, tapi karena mengerti bahwa cinta yang baik tidak membuat kita kehilangan diri sendiri. Kita tidak lagi mencari yang paling menggebu, melainkan yang konsisten hadir, yang tetap tinggal bahkan saat keadaan tidak sempurna. Karena pada akhirnya, mencintai tidak harus melelahkan. Cinta bisa tumbuh pelan, tanpa drama, tanpa rasa cemas yang terus-menerus. Dan jika kita memilih mencintai lagi, itu bukan karena lupa pada luka, tetapi karena kita sudah berdamai dengannya—membiarkan waktu menjadikan cinta lebih jujur, dan lebih aman untuk ditinggali. 🎧 Sajak Kini – “Waktu yang Mengubah Cara Mencintai” ✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari 🎙️ Pengisi Suara: Rizqa Fajria

    4 min

About

Podcast Sajak Kini adalah sebuah sajak tercipta yang selalu berangkat dari kegelisahan dan gelisah harus di sampaikan melalui akun @podcastdajakkini yang rutin tayang setiap hari Sabtu | Jika Ingin ceritamu di buatkan literasi, tapi tak ingin rahasianya diketahui, ingin sekedar curhat atau meluapkan kegelisahan, kirim segera cerita menarikmu. Email : Sajakkini09@gmail.com Instagram : @podcastsajakkini