Mongabay Indonesia Podcast

Mongabay Indonesia

Bicara soal alam

  1. 2d ago

    Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan

    Hutan lindung tidak hanya berfungsi menjaga pepohonan dan satwa. Kawasan ini juga menjadi sistem penyangga kehidupan yang mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta mempertahankan kesuburan tanah. Namun, perlindungan hutan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dan memahami bentang alam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran itu terlihat di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kawasan seluas sekitar 10 ribu hektare ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi habitat orangutan kalimantan, termasuk lokasi pelepasliaran individu yang telah direhabilitasi. Hutan ini dapat dimasuki melalui beberapa kampung, salah satunya Desa Lesan Dayak yang dihuni masyarakat Dayak Ga'ay. Dalam kegiatan penelitian dan ekowisata, masyarakat tidak sekadar menjadi pelengkap. Mereka terlibat sejak persiapan, menyediakan rumah singgah dan kawasan perkemahan, menyambut pengunjung, serta bekerja sebagai pemandu lokal. Pengetahuan mereka mengenai jalur hutan dan lokasi perjumpaan satwa membantu penelitian burung, mamalia, kupu-kupu, herpetofauna, kelelawar, vegetasi, serta cadangan karbon. Penelitian selama hampir tiga bulan mencatat 55 jenis herpetofauna, 38 jenis mamalia darat, 112 jenis kupu-kupu, 187 jenis burung, dan 15 jenis kelelawar. Hasil tersebut memperlihatkan pentingnya Sungai Lesan bagi keanekaragaman hayati Kalimantan. Kegiatan ini juga menghasilkan buku panduan kupu-kupu yang dapat digunakan masyarakat untuk mengenalkan kekayaan hutan kepada pengunjung. Meski berstatus hutan lindung, Sungai Lesan menghadapi tekanan pembukaan lahan dan dikelilingi perkebunan sawit. Koridor yang menghubungkannya dengan kawasan hutan lebih luas juga berisiko dialihfungsikan. Dalam situasi ini, penelitian dan ekowisata berbasis masyarakat diharapkan memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat alasan untuk mempertahankan hutan. Bagaimana masyarakat dapat ditempatkan sebagai pelaku utama penelitian dan konservasi? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Nanda Indah Dian Lestari, peneliti dari Operation Wallacea. Percakapan ini mengulas kerja sama antara peneliti, masyarakat, pemerintah, dan organisasi konservasi dalam menjaga Hutan Lindung Sungai Lesan. Diskusi ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan sains berjalan bersama untuk melindungi hutan sekaligus memperkuat penghidupan masyarakat di sekitarnya.

  2. Sep 18

    Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak

    Bagi masyarakat Fakfak, Papua Barat, pala bukan sekadar tanaman perkebunan yang menghasilkan pendapatan. Pohon yang dapat hidup hingga puluhan bahkan seratus tahun ini melekat pada sejarah keluarga, identitas marga, praktik adat, dan hubungan masyarakat dengan alam. Pala bahkan menjadi ikon daerah yang tergambar dalam lambang Kabupaten Fakfak. Pala Fakfak (Myristica argentea), yang dalam bahasa lokal disebut hengi, memiliki ciri berbeda dari pala Banda. Buahnya cenderung lonjong dan berparuh, dengan aroma daging buah yang khas. Tanaman ini mulai produktif pada usia sekitar enam tahun. Kebun yang dipanen hari ini banyak diwariskan oleh generasi terdahulu, sehingga keberadaannya menjadi penghubung antara leluhur, masyarakat sekarang, dan generasi mendatang. Kedekatan tersebut terlihat dalam seluruh proses pengelolaannya. Pembukaan lahan dilakukan tanpa membakar dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pohon pala dirawat tanpa pupuk kimia, sementara tanaman betina tidak boleh ditebang karena dipandang sebagai personifikasi perempuan yang memberi penghidupan. Masyarakat juga mengenal sasi, yaitu larangan memanen dalam periode tertentu untuk menjaga kualitas pala. Waktu panen ditentukan melalui tanda-tanda alam, termasuk pasang surut air laut dan buah yang mulai jatuh. Panen umumnya dilakukan melalui masuhi atau gotong royong.  Namun, kebutuhan ekonomi, perubahan pasar, dan praktik panen terburu-buru dapat mengancam pengetahuan lokal tersebut. Lalu, bagaimana menjaga pala Fakfak sebagai komoditas sekaligus identitas adat? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Greg R. Daeng, Manajer Legal dan Tata Kelola Yayasan INOBU. Percakapan ini menelusuri sejarah, praktik budidaya, tradisi panen, tantangan pasar, serta pentingnya kolaborasi antara masyarakat adat, petani, pemerintah, pendamping, dan sektor swasta untuk menjaga pala Fakfak beserta nilai budaya yang menyertainya. Diskusi ini mengingatkan bahwa menjaga pala berarti merawat hutan, pengetahuan antargenerasi, dan kebanggaan masyarakat Fakfak terhadap tanahnya sendiri.

  3. Sep 10

    Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap?

    Industri dan bisnis membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Namun, ketika kebutuhan tersebut masih bergantung pada energi fosil, peningkatan konsumsi listrik turut menambah emisi karbon dioksida. Indonesia sebenarnya memiliki potensi tenaga surya yang besar karena memperoleh sinar matahari sepanjang tahun. Sayangnya, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya [PLTS] masih belum optimal. Industri dan sektor bisnis dapat berperan penting karena mengonsumsi sekitar separuh pasokan listrik nasional serta memiliki banyak bangunan beratap luas. Atap pabrik, pusat perbelanjaan, dan gedung perkantoran dapat dimanfaatkan untuk memasang panel surya. Selain menghasilkan listrik tanpa emisi saat beroperasi, PLTS atap tidak menimbulkan suara, membutuhkan perawatan relatif rendah, dan berpotensi mengurangi biaya listrik perusahaan. Meski demikian, pemasangannya memerlukan kajian mengenai kondisi atap, kebutuhan listrik, intensitas matahari, kualitas peralatan, serta ketepatan instalasi. Lalu, seberapa besar peran korporasi dalam mempercepat pemanfaatan energi surya? Apakah PLTS atap benar-benar menguntungkan secara ekonomi? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Philip Effendy, Vice President of Operations PT Xurya Daya Indonesia. Percakapan ini mengulas potensi tenaga surya Indonesia, manfaat atap gedung sebagai sumber energi, skema pemasangan, biaya investasi, serta peran dunia usaha dalam mengurangi emisi. Diskusi ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada keputusan industri dan korporasi dalam menentukan sumber listrik yang mereka gunakan.

  4. Sep 3

    Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa

    Laut dalam menyimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Ketika kekayaan laut Indonesia sering dikaitkan dengan terumbu karang, ikan, atau penyu, berbagai organisme di dasar perairan justru luput dari perhatian. Penemuan "kecoak laut raksasa" di perairan Selat Sunda dan selatan Jawa membuka jendela untuk memahami dunia yang tersembunyi tersebut. Meski disebut kecoak laut, satwa ini bukan serangga. Hewan dari marga Bathynomus tersebut merupakan isopoda, kelompok krustasea yang berkerabat dengan udang, kepiting, dan lobster. Tubuhnya yang pipih dan beruas membuatnya diasosiasikan dengan kecoak. Sebutan populer ini membantu masyarakat membayangkan penampilannya, tetapi juga dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami identitasnya. Spesies bernama Bathynomus raksasa ini ditemukan melalui South Java Deep-Sea Biodiversity Expedition pada 2018, penelitian bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI, atau sekarang BRIN] dan National University of Singapore. Ekspedisi tersebut mengumpulkan sekitar 12.000 spesimen yang diperkirakan mewakili 800 spesies. Temuan ini memperlihatkan bahwa perairan di sekitar Jawa masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terdokumentasi. Dengan panjang tubuh mencapai sekitar 36 sentimeter, Bathynomus raksasa menarik perhatian bukan hanya karena ukurannya. Sebagai pemakan bangkai, satwa ini memanfaatkan sisa ikan, sotong, dan organisme lain yang jatuh ke dasar laut. Perannya menunjukkan bahwa hewan yang asing bagi manusia tetap menjadi bagian penting dalam jejaring kehidupan. Namun, menemukan spesies baru bukan sekadar menjumpai hewan yang belum pernah terlihat. Peneliti perlu memeriksa karakter tubuh dan membandingkannya dengan spesies yang telah dikenal. Proses ini menegaskan pentingnya taksonomi sebagai dasar untuk memahami keanekaragaman hayati. Lalu, bagaimana peneliti memastikan identitas Bathynomus raksasa? Mengapa satwa ini jarang ditemukan nelayan, dan apa ancaman bagi kehidupannya? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Conni Margaretha Sidabalok, peneliti yang saat diskusi berlangsung bekerja di Pusat Penelitian Biologi LIPI. Percakapan ini menelusuri proses penemuan, peran ekologis, dan pentingnya penelitian laut dalam untuk mengenali sekaligus menjaga kekayaan hayati Indonesia. Diskusi ini juga mengingatkan bahwa perlindungan laut perlu mencakup kehidupan yang jauh dari pandangan manusia.

  5. Aug 27

    Ketika Ruang Hidup Kobra Beririsan dengan Manusia

    Kemunculan ular kobra di kawasan permukiman hampir selalu memicu kepanikan. Ketika seekor ular ditemukan di pekarangan, saluran air, gudang, atau bahkan di dalam rumah, satwa tersebut kerap dianggap sengaja memasuki ruang hidup manusia untuk mencari mangsa atau menyerang. Ketakutan semakin besar ketika beberapa anak kobra muncul dalam waktu berdekatan. Situasi ini kemudian melahirkan anggapan bahwa populasi kobra sedang meledak dan permukiman warga tengah menghadapi "serbuan" ular berbisa. Namun, kemunculan kobra di sekitar manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai serangan satwa liar. Ular telah menghuni bentang alam Indonesia jauh sebelum kawasan tersebut berubah menjadi persawahan, perkebunan, jalan, dan perumahan. Ketika habitat mengalami perubahan, ruang hidup manusia dan satwa semakin beririsan. Sebagian satwa tidak mampu bertahan, sementara jenis tertentu, termasuk kobra, dapat beradaptasi dengan lingkungan yang telah dimodifikasi manusia. Permukiman bahkan dapat menyediakan berbagai kebutuhan hidup ular. Tikus, katak, kadal, burung, dan ular lain menjadi sumber makanan. Sementara itu, semak yang tidak terawat, tumpukan kayu, sampah, saluran air, serta celah pada bangunan menawarkan tempat berlindung. Kehadiran kobra dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan perubahan habitat, tetapi juga kondisi lingkungan permukiman yang secara tidak langsung menyediakan makanan dan ruang persembunyian. Kemunculan anak kobra dalam jumlah banyak juga berhubungan dengan siklus reproduksi. Telur yang menetas pada awal musim hujan membuat anakan menyebar untuk mencari tempat aman dan mangsa. Pada saat bersamaan, berkurangnya predator alami, seperti biawak, garangan, dan elang ular bido, dapat mengganggu pengendalian populasi di alam. Perubahan pada satu bagian rantai makanan akhirnya memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Lalu, mengapa kobra dapat bertahan di tengah permukiman? Benarkah bentuk kepala dapat digunakan untuk membedakan ular berbisa dan tidak berbisa? Apakah garam efektif mengusir ular? Apa yang harus dilakukan ketika kobra masuk ke rumah, dan bagaimana manusia dapat mengurangi risiko perjumpaan tanpa harus memusnahkannya? Mongabay Indonesia membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut bersama Dr. Amir Hamidy, peneliti herpetologi dari Pusat Penelitian Biologi BRIN. Diskusi ini mengajak kita memahami kobra tidak semata-mata sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang keberadaannya berkaitan erat dengan perubahan bentang alam, ketersediaan mangsa, hilangnya predator alami, dan cara manusia mengelola lingkungan tempat tinggalnya.

About

Bicara soal alam