Museum HAM Munir

Museum HAM Munir

Munir Said Thalib merupakan aktivis hak asasi manusia di Indonesia yang lahir pada 8 Desember 1965. Padanya, gagasan perihal HAM nampak lebih konkret tidak hanya di ranah pemikiran namun juga praktik di lapangan. Ini menjadi alasan kuat bagi-bagi rekan seperjuangan Munir yang kemudian meyakini bahwa dia adalah seorang human right thinker sekaligus human right defender. Memperingati #16TahunPembunuhanMunir #MelawanLupa, Museum HAM Munir menampilkan pembacaan Testamen Munir sebagai alih wahana dari kumpulan tulisan yang mengulas persinggungan para sahabat dengan Munir.

  1. 09/14/2020

    "Elegi untuk Munir" karya Bambang Widjojanto Dibacakan oleh Roy Murtadho

    “Kemampuannya untuk mengembangkan energi sosial yang dimilikinya telah mampu memberi spirit bagi gerakan hak asasi manusia di Indonesia. Keberaniannya untuk menghadapi berbagai risiko dari sikap dan pilihan politik yang diambil, banyak memberikan inspirasi kepada siapa pun untuk pantang surut menghadapi kelelahan dan kezaliman yang dilakukan secara sistematis...” Testamen Munir Episode 15 menampilkan obituari karya Bambang Widjojanto (Aktivis, Pengacara, Mantan Komisioner KPK) berjudul “Elegi untuk Munir”. Menceritakan persinggungan antara Bambang Widjojanto dengan Munir semasa hidup. Sebagai rekan sesama aktivis HAM, Bambang Widjojanto mengenal baik sosok Munir. Perjalanan karir Munir yang dikenal sebagai tokoh HAM internasional merupakan ikhtiar panjang. Di bangku kuliah, Munir aktif terlibat di berbagai organisasi, seperti Badan Perwakilan Mahasiswa, Senat Mahasiswa, lalu pasca-universitas Munir memilih Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk menjadi persinggahan selanjutnya. Kecintaan Munir pada keadilan dan hak asasi manusia menuntunnya sampai di puncak karir. “Pendeknya, kemampuannya untuk mengembangkan energi sosial yang dimilikinya telah mampu memberi spirit bagi gerakan hak asasi manusia di Indonesia.” kenang Bambang Widjojanto pada obituari yang dituliskannya untuk Munir. Memperingati #16TahunPembunuhanMunir, obituari karya Bambang Widjojanto dibacakan oleh Roy Murtadho (Pendiri Media Islam Progresif, Islam Bergerak dan Pesantren Ekologis Misykat Al-Anwar).

    "Elegi untuk Munir" karya Bambang Widjojanto Dibacakan oleh Roy Murtadho
  2. 09/13/2020

    "Munir: A True Human Rights Defender" karya Todung Mulya Lubis Dibacakan oleh Gede Robi

    “Kiprah Munir dalam kerja hak asasinya bukanlah kiprah yang anasionalistik. Dengan caranya sendiri, Munir mencintai negeri ini, memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia. Buat saya tak ada yang lebih nasionalistik ketimbang kesadaran bahwa demokrasi dan hak asasi manusia mesti ditegakkan dengan segala cara, berapapun ongkosnya, agar harkat dan martabat manusia (human dignity) tetap terjaga. Ketika orang seperti Munir tak terlalu galau dengan nasionalitas, ketika yang terpenting adalah manusia-human beings ketika itulah dia sampai pada puncak nasionalisme. Kesadaran inilah yang membuat Munir hadir di tengah kita sebagai ‘a true human rights defender’.” Testamen Munir Episode 14 menampilkan obituari karya Todung Mulya Lubis (Duta Besar RI untuk Norwegia Merangkap Islandia) dengan judul “Munir: A True Human Rights Defender”. Menceritakan persinggungan antara Todung Mulya Lubis dengan Munir semasa hidup. Keduanya pernah terlibat dalam Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Timor Timur (KPP HAM Timtim). Baginya, Munir merupakan sosok pejuang HAM yang pemberani. Munir tidak anti militer, seperti kata orang yang menuduhnya demikian. Justru, Munirlah yang memperjuangkan reformasi militer. “Militer, bagaimanapun, harus tunduk pada supremasi sipil. Penguatan supremasi sipil ini hanya bisa dicapai dengan secara tajam dan kritis terus menerus mempertanyakan bahaya militer dalam demokrasi dan hak asasi manusia…” tulis Todung Mulya Lubis dalam obituarinya. Memperingati #16TahunPembunuhanMunir, obituari karya Todung Mulya Lubis akan dibacakan oleh Gede Robi (musisi; vokalis & gitaris Navicula; aktivis)− menceritakan kesan Todung Mulya Lubis atas perjumpaannya dengan Alm. Munir semasa hidup.

    "Munir: A True Human Rights Defender" karya Todung Mulya Lubis Dibacakan oleh Gede Robi
  3. 09/12/2020

    "Cak Munir Di Antara GAM dan TNI" karya Dandhy Dwi Laksono Dibacakan oleh Farid Stevy

    Aku ini pernah diusir sama Abdullah Syafe'i," kata Cak Munir. "Yang benar, Cak? Walah, sudah dimusuhi tentara, masih juga gak diterima GAM. Kapan, Cak?" tanya saya. “Ya waktu itu. Sebelum Bondan masuk, kan aku masuk duluan," jawabnya. Bondan yang dimaksud Cak Munir adalah Bondan Gunawan, Sekretaris Negara pada masa Gus Dur yang pada 16 Maret 2000….. -- Cak Munir masuk ke sebuah wilayah untuk melakukan pendataan kasus-kasus kekerasan terhadap warga sipil. Kendati sebelum masuk kawasan itu dia sudah menjalin kontak dengan pentolan gerilyawan, tak urung rombongan Cak Munir sempat dicegat juga. "Aku ini ditodong pakai AK. Moncongnya ditaruh di depan dadaku gini, lo….” Testamen Munir episode 13 menampilkan obituari karya Dandhy Dwi Laksono (jurnalis dan aktivis) yang berjudul “Cak Munir di Antara GAM dan TNI”. Menceritakan persinggungan antara Dandhy Laksono dengan Munir semasa hidup. Keduanya pernah bertemu dan duduk semeja dalam momen evaluasi pelaksanaan darurat militer di Aceh. Momen itulah yang membuat Munir bercerita kepada Dandhy Laksono atas pengalamannya bertemu dengan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Teungku Abdullah Syafe’i pada tahun 2000. Munir yang konsisten atas perjuangan kemanusiaan juga tidak pelit ilmu untuk membantu siapapun yang terlibat dalam aksi kemanusiaan, termasuk Dandhy pada saat itu. “Pada akhir buka puasa November 2003, Cak Munir juga memberikan kiat bagaimana cara mendapatkan data-data valid tentang kasus-kasus kekerasan terhadap kemanusiaan.” kenang Dandhy dalam obituarinya untuk Munir. Memperingati #16TahunPembunuhanMunir, obituari karya Dandhy Dwi Laksono akan dibacakan oleh Farid Stevy (seniman musik), menceritakan pengalaman perjumpaan Dandhy Dwi Laksono dengan sosok Munir semasa hidup.

    "Cak Munir Di Antara GAM dan TNI" karya Dandhy Dwi Laksono Dibacakan oleh Farid Stevy
  4. 09/11/2020

    “Kepergian Munir: Aborsi Sebuah Perjalanan Karier yang Prospektif" karya Marcus Mietzner Dibacakan oleh Jason Ranti

    “Potensi pemikiran Munirlah yang membuat kematiannya terasa luar biasa tragis. Jika segalanya berjalan sesuai dengan rencana, dia akan kembali ke Indonesia pada 2008 atau 2009. Pada saat itu, perkembangan kemampuan analisisnya− yang sekarang pun sudah luar biasa− akan membuatnya mampu terlibat secara lebih intens dalam penciptaan kebijakan-kebijakan dan kondisi-kondisi institusional bagi sebuah sistem politik yang lebih demokratis. Testamen Munir episode 12 menampilkan obituari karya Marcus Mietzner (penulis dan dosen senior di Australian National University) yang berjudul “Kepergian Munir: Aborsi Sebuah Perjalanan Karier yang Prospektif”. Menceritakan persinggungan antara Marcus Mietzner dengan Munir semasa hidup. Baginya, Munir adalah sosok pejuang yang cerdas. Munir memberikan kesan yang mendalam bagi Marcus Mietzner, baik sebagai sahabat, pejuang hak asasi manusia maupun kepribadiannya yang tangguh. “Pada Agustus 2001, rumahnya di Malang dilempari bom, diikuti beberapa serangan ke kantornya yang menyebabkan hancurnya file-file komputer dan cederanya staf kantor. Meskipun dia tetap tegar….” tulis Marcus Mietzner dalam obituarinya. Memperingati #16TahunPembunuhanMunir, obituari karya Marcus Mietzner akan dibacakan oleh Jason Ranti (seniman musik) yang menceritakan pengalaman Marcus Mietzner bertemu dengan sosok Munir semasa hidup.

    “Kepergian Munir: Aborsi Sebuah Perjalanan Karier yang Prospektif" karya Marcus Mietzner Dibacakan oleh Jason Ranti
  5. 09/10/2020

    "Munir: Aktivis HAM yang Bersahaja" karya Ikrar Nusa Bhakti Dibacakan oleh Bagus Dwi Danto

    “Di mata saya, Munir adalah sahabat yang setia dan pemikir-pejuang yang tanpa pamrih dan selalu konsisten pada perjuangannya. Berbagai penghargaan internasional tidak mengubah tingkah laku kesehariannya yang bersahaja. Dalam berbagai tugas, seperti merancang Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertahanan Negara, RUU TNI, RUU Perbantuan TNI, rancangan berbagai Keppres yang terkait dengan pertahanan dan keamanan negara, Munir adalah seorang pemikir dan konseptor yang handal dan amat diandalkan oleh teman-teman yang sebagian besar adalah pengamat politik dan militer. Kemampuan akademiknya sangat tinggi, walaupun ia belum mengambil jenjang sarjana strata dua atau tiga.” Testamen Munir episode 11 menampilkan obituari karya Ikrar Nusa Bhakti (Duta Besar RI untuk Tunisia) yang berjudul “Munir: Aktivis HAM yang Bersahaja”. Menceritakan persahabatan Ikrar Nusa Bhakti dengan Munir semasa hidup. Keduanya kerapkali bertemu dalam seminar-seminar maupun Focus Group Discussion (FGD) yang merupakan bagian dari Reformasi Sektor Pertahanan. Ikrar Nusa Bhakti mengenal baik sosok Munir semasa hidup. Baginya, Munir adalah pejuang hak asasi yang konsisten, rela berkorban dan membantu siapapun tanpa membedakan. “Bagi mereka yang tidak kenal Munir dari dekat, pasti mereka mendapat kesan bahwa orang ini hanya membantu mereka yang menjadi korban kekerasan atau orang hilang akibat aparat TNI atau Polri. Kesan itu jauh dari kenyataan yang sebenarnya…” tulis Ikrar Nusa Bhakti dalam obituarinya mengenang Munir. Memperingati #16TahunPembunuhanMunir, obituari karya Ikrar Nusa Bhakti akan dibacakan oleh Bagus Dwi Danto (seniman musik) yang menceritakan kebersamaan Ikrar Nusa Bhakti dengan sosok Munir semasa hidup.

    "Munir: Aktivis HAM yang Bersahaja" karya Ikrar Nusa Bhakti Dibacakan oleh Bagus Dwi Danto

About

Munir Said Thalib merupakan aktivis hak asasi manusia di Indonesia yang lahir pada 8 Desember 1965. Padanya, gagasan perihal HAM nampak lebih konkret tidak hanya di ranah pemikiran namun juga praktik di lapangan. Ini menjadi alasan kuat bagi-bagi rekan seperjuangan Munir yang kemudian meyakini bahwa dia adalah seorang human right thinker sekaligus human right defender. Memperingati #16TahunPembunuhanMunir #MelawanLupa, Museum HAM Munir menampilkan pembacaan Testamen Munir sebagai alih wahana dari kumpulan tulisan yang mengulas persinggungan para sahabat dengan Munir.