A Meditation Preparing Daily Mass

Father Robertus Bambang Rudianto SJ

This podcast is prepared by Father Robertus Bambang Rudianto SJ, who have been in Japan 16 years, and it aims to prepare the Indonesian, English and Japanese pepole to prepare the daily mass through audio meditation. The meditation is provided in three languages (English, Indonesian and Japanese). Please kindly choose the language your would like to meditate. Though the content of the three different language is the same, indeed it is still different depend on the horizon of the meaning and the context of the reader.

  1. May 31

    御聖体の祝日

    今日の黙想は、エマオへ向かう弟子たちの旅のように、戸惑いの中から始まります。けれども、主はその道の途中に、すでに歩み寄っておられるのです。見えなくても、わからなくても、主は共に歩いてくださる。 今日の第一朗読では、神がエジプトの頑なさのただ中に御手を伸ばされる姿が語られます。出エジプトの出来事は、単なる昔話ではありません。人間が自分の力で世界を支配できると思い込んだとき、その傲慢さがどれほど重いものになるかを、私たちに思い起こさせます。けれども同時に、神は民の叫びを見捨てない方だということも、そこに示されているのです。 詩編147編は、その神を讃えます。主はエルサレムを建て上げ、打ち砕かれた心を癒し、天の雲をまとい、御言葉を地に送ってくださる。しかも主は、私たちに最良の小麦を与え、平和を置いてくださる方です。飢えと渇きのただ中で、私たちが本当に必要としているものを、神はちゃんと知っておられるのですね。 そして使徒パウロは、コリントの教会に向けて、こう語ります。私たちが祝福の杯を祝福するとき、それはキリストの血にあずかること、裂かれたパンをいただくとき、それはキリストの体にあずかることだ、と。ひとつのパンを分かち合うことで、私たちは多くいても、ひとつの体になる。ここに、教会のいちばん深い神秘があります。 ヨハネ福音書では、主イエスがはっきりと言われます。『わたしは、天から降ってきた生けるパンである。』そして『わたしの肉を食べ、わたしの血を飲む者は永遠の命を得る』と。少し厳しく聞こえるかもしれません。けれども、これは脅しではなく、招きです。主は、ご自身を惜しまず与え尽くして、私たちに命をお与えになるのです。

  2. May 31

    Minggu Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

    Pada Minggu Tubuh dan Darah Kristus ini, Gereja menuntun kita bukan hanya untuk mengingat Yesus, tetapi untuk mengalami bahwa Ia sungguh hadir, sungguh memberi diri, dan sungguh menjadi hidup kita. Marilah kita mulai dengan doa pembukaan: Tuhan Yesus Kristus, Sang Roti Kehidupan. Kami datang ke hadirat-Mu dengan kesadaran akan kelemahan dan rasa lapar jiwa kami. Terangilah akal budi kami dan singkirkanlah segala keraguan kami yang sering tertipu oleh panca indera pada hari ini. Persiapkanlah batin kami melalui Sabda-Mu, agar di akhir permenungan ini, kami sungguh siap merobohkan keangkuhan kami dan menyerahkan seluruh hidup kami untuk menyatu secara penuh dengan Daging dan Darah-Mu yang kudus. Amin. Injil Harian Tahun A ini kita terima sebagai fondasi. Sabda Tuhan bukan hiasan rohani, bukan pelengkap kegiatan, melainkan tanah tempat kita berpijak. Kalau fondasinya goyah, seluruh bangunan batin mudah retak. Maka sebelum bicara banyak hal, kita perlu bertanya: sudahkah hati saya sungguh siap mendengar Tuhan? Bacaan dari Kitab Ulangan mengingatkan umat bahwa Tuhan membiarkan mereka lapar di padang gurun, lalu memberi manna, supaya mereka belajar bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah. Ada pendidikan iman di sana. Tuhan tidak sekadar mengisi perut; Ia membentuk hati agar tidak sombong ketika kenyang dan tidak putus asa ketika kekurangan. Dan perhatikan juga akhir dari bacaan itu: ketika umat tiba di tanah yang baik, di tanah yang penuh sungai, gandum, anggur, dan minyak, mereka dipanggil untuk tidak melupakan Tuhan. Saudara-saudari, kelimpahan justru sering lebih berbahaya daripada kekurangan, karena dalam kelimpahan kita mudah lupa sumber berkat. Maka Ekaristi hari ini seperti alarm kasih: jangan pernah lupakan Allah yang memberi hidup. Mazmur tanggapan lalu bernyanyi tentang Tuhan yang menguatkan pintu gerbang, memberkati anak-anak, memberi damai, dan mencukupkan kita dengan gandum terbaik. Jadi Allah itu bukan hanya Allah yang meminta, tetapi Allah yang memberi. Ia mengetahui kebutuhan kita bahkan sebelum kita mampu merangkainya dalam kata. Ia mengenal lapar tubuh kita, tetapi juga lapar jiwa kita. Di sini saya ingin membuka Jendela Ignasian. Santo Ignatius Loyola mengajarkan kita discernment, pembedaan roh, supaya kita tahu mana yang benar-benar berasal dari Tuhan dan mana yang cuma memanjakan ego. Dalam hidup modern, banyak suara berkata: kejar ini, simpan itu, lindungi citra, amankan diri. Tetapi Kristus mengajak kita menata afeksi, melepaskan lekatan tak teratur, dan memilih yang lebih besar demi kemuliaan Allah. Maka pertanyaan Ignasian hari ini sangat sederhana: apa yang selama ini saya gigit seperti roti, padahal tidak mengenyangkan? Apakah pujian manusia? Apakah kenyamanan? Apakah rasa aman palsu? Kalau saya jujur, sering kali hati kita kenyang oleh hal yang salah. Ekaristi datang untuk memurnikan selera batin kita, supaya yang paling kita rindukan adalah Tuhan sendiri. Lalu Rasul Paulus berkata bahwa roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan Tubuh Kristus, dan karena itu kita yang banyak menjadi satu tubuh. Ini sangat kuat, saudara-saudari. Komuni bukan pengalaman privat. Komuni membuat kita saling terhubung, saling menanggung, saling memaafkan, dan saling melengkapi. Kalau saya menerima Kristus tetapi masih memelihara permusuhan, berarti saya belum sungguh masuk ke dalam logika roti yang satu. Di sini Jendela Fransiskan menegur dan meneguhkan kita. Santo Fransiskus Asisi memandang dunia sebagai rumah bersama, dan semua makhluk sebagai saudara. Kalau Kristus rela memecah-bagikan tubuh-Nya, maka kita pun dipanggil memecah-bagikan hidup, waktu, perhatian, dan harta kita. Ekaristi harus melahirkan kesederhanaan, persaudaraan, dan pertobatan ekologis: menghormati bumi, menghormati orang kecil, dan tidak hidup serakah.

  3. May 31

    Solemnity of the Most Holy Trinity

    Today we celebrate the Solemnity of the Most Holy Trinity, and the Word given to us is a river of mercy: The Lord, a merciful and gracious God, slow to anger and rich in kindness; and again, For God so loved the world that he gave his only Son, so that everyone who believes in him might not perish but might have eternal life. Before we reflect, let us start we opening prayer: the Holy Triune God, the Father, the Son, and the Holy Spirit. We come into Your presence with hearts that long to enter into the fellowship of Your love. Enlighten our minds and put away all our worldly attachments today. Prepare our minds through Your Word, so that at the end of this meditation, we are truly ready to let go of our egos and put our whole lives into the hands of Your organization in its entirety. Amen. The mystery of the Trinity is not a puzzle for the mind alone. It is the revelation that God is communion: Father, Son, and Holy Spirit living in eternal love. Exodus gives us a beautiful name for God: merciful, gracious, slow to anger, rich in kindness and fidelity. Paul then blesses the community with the grace of Jesus Christ, the love of God, and the fellowship of the Holy Spirit. And the Gospel of John places all of this at the center of salvation: God loved the world so deeply that he gave his Son. So Trinity Sunday is not abstract. It tells us that the deepest truth about reality is love. God does not remain distant. He draws near, gives himself, and invites us into communion. John 3 reminds us that the Son is not sent to condemn the world, but to save it. That means we are not invited to live in fear, but in trust. Not in suspicion, but in faith. Not in isolation, but in loving relationship with the God who seeks us first.

  4. May 31

    三位一体の祝日

    今日は、聖霊降臨後の主日ではなく、三位一体の神秘を祝う日です。この神秘は、難しい理屈ではありません。むしろ、私たちを包む愛の深さそのものです。 出エジプト記では、モーセがシナイ山で主の名を聞きます。主はご自分をこう示されます。『憐れみ深く、恵みに富み、忍耐強く、慈しみとまことに満ちておられる。』これは、わたしたちがまず知るべき神の姿です。神は厳しい判決から入るのではなく、まずご自分の憐れみを明かされるのです。[pause] ですから、三位一体の神秘を考えるとき、私たちはまず愛に出会います。 聖書の神は、孤独な力ではありません。御父は愛し、御子はその愛を十字架の上で完全に示し、聖霊はその愛を私たちの心に注ぎます。三位一体とは、神の内部にある永遠の交わりです。そして驚くべきことに、その交わりに私たちが招かれているのです。神を『理解する』前に、神に『引き込まれる』。これが信仰の道です。 ダニエル書の賛歌は、すべての被造物が主をほめたたえるよう招きます。火よ、熱よ、雨よ、光よ、すべてのものが神をたたえよ、と。ここにはフランシスコ的なまなざしがあります。世界は支配するための対象ではなく、賛美するための贈り物です。[pause] 被造物を兄弟姉妹として見るとき、私たちの心はやわらぎます。自然を粗末に扱うとき、私たちは神への賛美も傷つけてしまうのです。 そして、第二コリントの最後で、パウロは美しい祝福を述べます。『主イエス・キリストの恵み、神の愛、聖霊の交わりが、あなたがた一同と共にあるように。』これは三位一体そのものを、教会の祈りとして歌っているようです。恵み、愛、交わり。兄弟姉妹の皆さん、ここに教会の姿があります。私たちは神を一人で抱えるのではなく、交わりの中で生きるのです。 ヨハネ福音書は、福音の心臓部を一言で示します。『神は世を愛された。独り子をお与えになったほどに。』神は世を裁くためではなく、救うために御子をお遣わしになりました。ですから、私たちが神の前で感じるべき第一の感情は恐れではなく、信頼です。もちろん、光に照らされるとき、私たちの影も見えてきます。しかしその光は、私たちを焼き尽くすためではなく、癒やし、立ち上がらせるための光です。

  5. May 31

    Minggu Hari Raya Tritunggal Mahakudus

    Hari Minggu Tritunggal Mahakudus pada hari Minggu 31 Mei 2026. Bacaan harian menuntun kita masuk ke dalam misteri yang sangat indah: Allah bukan Allah yang jauh, melainkan Allah yang mendekat, menyapa, mengasihi, dan tinggal bersama umat-Nya. Marilah kita awali dengan doa pembukaan: Allah Tritunggal yang Mahakudus, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kami datang ke hadirat-Mu dengan hati yang rindu untuk masuk ke dalam persekutuan cinta-Mu. Terangilah akal budi kami dan singkirkanlah segala kelekatan duniawi kami hari ini. Persiapkanlah batin kami melalui Sabda-Mu, agar di akhir permenungan ini, kami sungguh siap melepaskan ego kami dan menyerahkan seluruh hidup kami ke dalam tangan penyelenggaraan-Mu secara utuh. Amin Kita mendengar dari Kitab Keluaran, ketika Musa naik ke gunung dan menerima kembali hukum Tuhan. Yang menarik, Musa tidak mulai dengan prestasi, melainkan dengan permohonan belas kasih: 'Ya Tuhan, berjalanlah di tengah-tengah kami.' Lalu Tuhan menyingkapkan nama-Nya: Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kesetiaan. Jadi, fondasi iman kita bukan pertama-tama aturan, melainkan belas kasih. Lalu Mazmur Tanggapan mengangkat kita ke dalam pujian. Segala ciptaan diajak memuliakan Tuhan: matahari, bulan, bintang, orang-orang benar, orang-orang sederhana. Seolah-olah alam semesta sendiri berseru, 'Tuhan itu kudus, Tuhan itu baik.' Ketika hati kita sedang kusut, mazmur mengingatkan bahwa dunia ini tetap berada dalam pelukan Pencipta yang setia. Dan di surat kepada jemaat di Korintus, Paulus memberi salam yang sangat kita kenal, tetapi sering kita dengar tanpa benar-benar merenungkannya: kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. Ini bukan sekadar penutup liturgi. Ini adalah jantung iman kita: Allah itu persekutuan kasih, bukan kesendirian yang dingin. Lalu Injil Yohanes berkata sangat tegas: 'Begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal.' Perhatikan, dunia yang dikasihi Allah itu bukan dunia yang sempurna, melainkan dunia yang luka, gaduh, dan sering menolak terang. Justru di situlah kasih Allah bekerja. Yesus tidak datang untuk menghukum dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Saudara-saudari, di sinilah kita belajar melihat Tritunggal Mahakudus bukan sebagai rumus yang rumit, tetapi sebagai hidup Allah yang mengalir ke dalam hidup kita. Bapa mencipta dan mengasihi, Putra menebus dan menyelamatkan, Roh Kudus menghidupkan dan menguduskan. Kalau begitu, pertanyaannya sederhana: apakah hidup kita sudah menjadi ruang di mana kasih itu dapat tinggal?

About

This podcast is prepared by Father Robertus Bambang Rudianto SJ, who have been in Japan 16 years, and it aims to prepare the Indonesian, English and Japanese pepole to prepare the daily mass through audio meditation. The meditation is provided in three languages (English, Indonesian and Japanese). Please kindly choose the language your would like to meditate. Though the content of the three different language is the same, indeed it is still different depend on the horizon of the meaning and the context of the reader.