Kata Pak Ahmad

Pak Ahmad

Ini obrolan Pak Ahmad seorang ilmuwan muslim tentang topik seputar kesehatan, pendidikan sekitar kita

  1. 06/19/2023

    Genome Sequencing di Indonesia Untuk Apa dan Siapa?

    Inisiatif Genome Sequencing di Indonesia sudah dirintis oleh para peneliti di Lembaga Eijkman, yang dipimpin oleh Prof Herawaty Sudoyo dkk. Tidak kurang dari 200 individu dari berbagai etnik di Indonesia telah dilakukan Whole Genome Sequencing (WGS) dengan mesin NGS NextGen Sequencing. Dari data NGS tersebut kita bisa belajar betapa kayanya variasi genetik di Indonesia dan ini bisa menjadi fondasi pengetahuan mengenai keragaman genetik serta sifat sifat yang relevan dengan kerentanan terhadap penyakit, baik yang menular (seperti tuberculosis) maupun yang tidak menular (kanker, diabetes, jantung, hipertensi, dll). Kelanjutannya, kolaborasi sesama ilmuwan genome di Indonesia terus berlangsung dan kini diperkuat dengan dibangunnya ekosistem inisiatif baru yaitu Biomedical Genome Science Initiative (BGSI). BGSI adalah lembaga dibawah Kemenkes RI dan memiliki misi mendayagunakan ilmu genom untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Ekosistem yang diciptakan BGSI akan melahirkan terobosan dan ilmu genom baru yang mengadaptasi dengan nilai dan norma yang diadopsi oleh bangsa Indonesia. Kalau Prof Herawaty Sudoyo fokus kepada individu sehat, BGSI akan melakukan Whole Genome Sequencing pada individu di Indonesia yang mengalami penyakit. Gabungan data genom yang dihasilkan dari Tim Eijkman dan juga dari Tim BGSI (yang tersebar di 9 hubs atau rumah sakit pemerintah dengan target 10K genome) akan menciptakan peta genom Indonesia yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Hanya saja untuk apa dan siapa kemanfaatan dari pemetaan genome ini? Simak kata pak ahmad dengan tamu Ibu Ines Atmosukarto (Technical Advisor BGSI Pusat)

  2. 03/07/2023

    Apa yang membuat orang berperilaku Brutal, apakah genetik atau epigenetik? Pola asupan atau asuhan?

    Penganiyaan brutal yang terekam oleh pelaku Mario mengundang banyak pertanyaan. Mengapa seseorang bisa sebrutal itu terhadap orang lain. Belum lagi perekaman oleh kawan pelaku juga mengundang motif apa yang mendorong mereka suatu perbuatan brutal seperti itu. Ada beberapa kemungkinan yang mendorong perilaku seseorang seperti pola asuhan, lingkar pertemanan, atau kontribusi genetik bawaan dan/atau epigenetik. Variasi gen MAO Monoamine Oxidase ditengarai dimiliki oleh mereka yang terbukti memiliki perangai brutal, agresif dan perilaku kriminal seperti serial killers. Namun studi lanjutan menunjukkan bahwa keberadaan variasi gen tersebut tidak otomatis melahirkan perangai brutal sebagaimana terjadi pada ilmuwan neurobiologi yang secara mengejutkan juga membawa gen tersebut. Di samping faktor genetik, ada juga faktor epigenetik yang bisa mendorong munculnya perilaku agresif. Studi epigenetik pada tikus menunjukkan pola asuh yang penuh kasih sayang bisa mempengaruhi perilaku tikus dewasa karena berkorelasi dengan tingkat metilasi pada promoter gen Glucocorticoid Receptor (GR). Semakin tinggi tingkat kasih sayang semakin rendah metilasi promoter sehingga protein GR bisa terekspresi lebih banyak. Banyaknya protein GR di otak bisa menyerap munculnya protein Cortisol sebagai penanda stress. Di lain, tikus yang tidak mendapatkan kasih sayang, pihak metilasi yang tinggi pada promoter gen GR mengakibatkan protein GR hanya sedikit yang terekspresi sehingga masih banyak Cortisol yang tidak terserap sehingga memberikan efek agresif. Kita mungkin tidak tahu persis apa yang terjadi di masa kecil Mario Dandy, namun mekanisme genetik, epigenetik, dan pola asuh tentu bukan menjadi justifikasi, karena Mario Dandy dkk tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.  Referensi: 1. Penemuan variasi gen MOA yang berasosiasi dengan individu yang agresif https://www.science.org/doi/10.1126/science.82111862. Penemuan metilasi promoter gen NR3C1 pada individu kriminal yang agresif  https://link.springer.com/article/10.1007/s00414-020-02328-7

  3. 03/07/2023

    Tips penulisan proposal penelitian

    Menulis proposal penelitian itu susah susah gampang. Susah karena banyak istilah dalam proposal yang menggunakan kata yang tidak lazim, seperti 'rumusan masalah' dan 'hipotesa'. Namun menjadi mudah kalau kita paham logika berpikir dalam penyusunan proposal. Sebenarnya sistematika proposal itu mengikut alur berpikir alami selama kita tahu konsepnya. Pertama, penelitian tentu diawali dengan mengenali atau mengidentifikasi masalah. Kedua, setelah masalah kita temukan, tentu sebagai peneliti kita mulai bertanya, kira2 kenapa masalah ini muncul? apakah karena terjadi di indonesia saja? atau berlaku umum? Kita tentu mulai bertanya apakah karena faktor ini dan itu. Nah pertanyaan karena faktor 'ini' adalah pertanyaannya. Lalu Ketiga, kita akan merumuskan hipotesa. Bunyi hipotesa penelitian itu selalu dalam bentuk pernyataan ya, bukan pertanyaan. Jadi bunyi hipotesa "adanya faktor ini memunculkan masalah". Nah tentu hipotesa adalah pernyataan atau jawaban sementara untuk menjelaskan kenapa masalah muncul kan. Jadi hipotesa tidak mungkin dalam bentuk kalimat tanya, ya namanya juga jawaban, tentu jawaban dalam bentuk pernyataan, bukan malah bertanya balik hehe. Nah setelah kita rumuskan hipotesanya (formulate hypothesis), baru kita merancang metode penelitian. Nah pastikan metode penelitian sesuai atau cocok dengan pertanyaan penelitian dan pas untuk menguji hipotesa kita. Terakhir, analisa dan pembahasan. nanti setelah data muncul, baru kita bahas. Nah dalam proposal tentu kita akan bahas potensi atau cara kita nanti membahas hasil penelitian dan membandingkannya dengan literatur yang lain.

About

Ini obrolan Pak Ahmad seorang ilmuwan muslim tentang topik seputar kesehatan, pendidikan sekitar kita