Proxemics Podcast

White Wood

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu TerkiniMengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcast Instagram: @proxemics.podcast Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com

  1. 20H AGO

    Bencana Sumatera, Deforestasi & Fenomena #BatalKontrak: Negara Sedang "Sakit"? | 021

    Menutup tahun dengan diskusi berat tapi necessary, Mercy, Adwi, Sofyan, dan Steph kumpul di edisi Year End Wrap Up! Kita mulai dari apresiasi buat jurnalisme data Harian Kompas yang "menampar" kita—1,4 juta hektar hutan hilang di 2023. Episode ini juga membedah gaya komunikasi pemerintah soal bencana di Sumatera yang tone deaf dan penuh "Selected Reality", fenomena jurnalis menangis yang videonya di-take down, hingga debat filosofis: Apakah Social Contract antara rakyat dan negara udah batal? Ditambah bedah pidato Dedi Mulyadi, obrolan viral Roti O tolak uang tunai, kritik Dino Patti Djalal buat Menlu Sugiono, sampai insight daging buat agency owners hadapi tahun 2026! 🧠 Yang Kita Bedah: 🌲 Jurnalisme Data vs. Deforestasi: Fakta 1,4 juta hektar hutan hilang vs. narasi pemerintah (BNPB & Seskab) yang terkesan nutupin fakta.⚖️ Social Contract & "Dirty Vote": Proteksi negara yang nggak dirasakan rakyat, plus obrolan "Otot, Otak, dan Ongkos" dalam politik transaksional.💸 Viral Roti O & Hak Konstitusional: Efisiensi cashless society vs kewajiban negara nerima Rupiah fisik. Tolak uang tunai melanggar hukum nggak sih?🌏 Kritik Diplomasi Luar Negeri: Respons tajam Dino Patti Djalal untuk Menlu Sugiono soal rangkap jabatan & kehadiran di forum internasional.🚀 Agency Outlook 2026: Tips survive & growth buat agensi, pentingnya data crunching, dan rencana Praxis bikin lembaga riset.Lo tim cashless garis keras atau tim bawa uang tunai buat jaga-jaga? Drop komentar kalian! 👇 ⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: Apresiasi Jurnalisme Data Kompas 0:44 - Data Deforestasi: 1,4 Juta Hektar Hilang di 2023 2:48 - Komunikasi Bencana: "Selected Reality" Pejabat 19:05 - Jurnalis Menangis & Sensor Media 23:00 - Birokrasi Bantuan: Izin Kayu & Donasi 37:30 - Teori "Social Contract": #BatalKontrak? 41:46 - Bedah Pidato Dedi Mulyadi (KDM) 45:30 - Refleksi Dirty Vote: Otot, Otak, Ongkos 50:50 - SEA Games 2025: Skateboarder Emas Tanpa Sambutan 53:40 - Debat Viral: Roti O & Cashless Society 1:00:14 - Kritik Dino Patti Djalal ke Menlu Sugiono 1:05:40 - Agency Life: Tips & Outlook 2026 📌 Mentioned in this Episode: Dedi Mulyadi (KDM), Prabowo Subianto, Dino Patti Djalal, Sugiono, Mayor Teddy, Maruli Simanjuntak, Prof. Arif Satria. (Brand/Institusi: Harian Kompas, BNPB, Dirty Vote, Roti O, IPB University, Praxis). 🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id 🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru! #ProxemicsPodcast #Deforestasi #KompasData #SocialContract #CashlessSociety #AgencyLife #MenluSugiono #PolitikIndonesia

    1h 9m
  2. 1D AGO

    Hukum "Paket Hemat" di Negara Fiktif? Bahas Tuntas Bea Cukai & Krisis Empati Pejabat | 020

    Dari tragedi bencana alam di Sumatera yang minim empati pejabat, drama viral tumbler Tuku, hingga teori konspirasi "Negara Fiktif" di mana hukum bisa dibeli paketan, Mercy, Adwi, Sofyan, dan Steph kumpul bareng di edisi penghujung tahun ini! Episode ini membahas kontras yang tajam: kenapa publik lebih sibuk ngurusin tumbler ketinggalan di kereta dibanding chaos penanganan bencana? Kita juga bedah strategi PR buat brand yang terseret arus viral—apakah harus ride the waveatau silent is golden? Ditambah obrolan "ngeri-ngeri sedap" soal Bea Cukai dan peluncuran kembali media cetak. Buat lo praktisi komunikasi atau sekadar pengamat fenomena sosial, episode ini packed banget! 🧠 Yang Kita Bedah: 🚨 Bencana & Krisis Empati: Kritik keras untuk komunikasi pejabat publik yang tone deaf dan kebingungan informasi antar institusi saat krisis.☕ Drama Tumbler Tuku vs. KAI: Cancel culture kebablasan? Gimana seharusnya brand bersikap di tengah kegaduhan yang nggak perlu ini.📰 Kebangkitan Media Cetak: Insight peluncuran Bloomberg Businessweek & kenapa cetak masih relevan buat target niche di era digital.⚖️ Teori "Negara Fiktif": Diskusi satir soal penegakan hukum jalur "paket hemat" dan isu Bea Cukai.🎉 14 Tahun Bertahan: Refleksi agency life, dari kantor kecil sampai dapet retainer besar di ekonomi yang menantang.Kalian tim emosi soal tumbler atau pusing mikirin "Negara Fiktif"? Drop komentar kalian! 👇 ⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: Bencana Sumatera & Refleksi Akhir Tahun 2:48 - Kritik Komunikasi Krisis: Pejabat yang "Tone Deaf" 9:05 - Di Mana Brand Saat Bencana Terjadi? 14:33 - Drama Viral: Tumbler Tuku vs Petugas KAI 24:58 - PR Strategy: Haruskah Brand "Ride the Wave"? 28:30 - Event Bloomberg Businessweek & Masa Depan Media Cetak 33:33 - Isu Bea Cukai & Mafia Hukum 42:54 - Satir "Negara Fiktif": Hukum Paket Hemat 51:43 - Thanksgiving: 14 Tahun Perjalanan Agency 57:15 - Teaser PR & Public Affairs Outlook 📌 Mentioned in this Episode: Purbaya Yudhi Sadewa, Tom Lembong, Mario Dandy, Agung Laksamana. (Brand & Institusi: Tuku, KAI, BNPB, Bloomberg Businessweek, Bea Cukai, PAFI). 🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id 🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru! #ProxemicsPodcast #CrisisCommunication #PublicRelations #Tuku #BeaCukai #HukumIndonesia #BloombergBusinessweek #AgencyLife

    56 min
  3. 3D AGO

    Realita Pahit Mobil Listrik: "Charge Anxiety" & Drama SPKLU Indonesia | 019

    Dari debat panas EV vs. hybrid, gempuran brand China, hingga realita "Charge Anxiety" di Indonesia, Danang Aradian (Cak Dan) balik lagi ke Proxemics! Kita bedah tuntas industri otomotif: kenapa EV Rp250 juta bikin geger pasar dan gimana raksasa Jepang (Honda) merespons dengan strategi beda. Kita juga bahas kenapa iPhone tetap laku keras meski minim inovasi, plus ngobrolin AI kayak Gemini Live yang makin mirip film Her. Tech enthusiast atau yang lagi galau beli EV wajib dengerin! 🧠 Yang Kita Bedah: 🚗 GJAW & Perang Harga EV: Fenomena SUV listrik seharga LCGC (Rp250 juta) yang ngerusak harga pasar.🇯🇵 Jepang vs. China: Mentalitas fitur melimpah vs. fokus hybrid & bikin EV lebih "bernyawa" biar nggak membosankan.📱 Apple & Psychology of Prestige: Jualan experience & gengsi di tengah inovasi smartphone yang stagnan.🤖 AI is the New "Her": Pengalaman ngobrol sama Gemini Live yang udah kayak teman curhat di jalan.⚡ Realita Pahit EV: Bukan cuma range anxiety, tapi "Charge Anxiety" (drama SPKLU penuh, rusak, & antrean panjang).Lo tim EV China yang sat-set atau hybrid Jepang yang fun to drive? Drop komentar kalian! 👇 ⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: SUV Seharga 250 Juta 1:12 - Kembalinya Danang Aradian (Cak Dan) 2:54 - Sorotan GJAW: Serbuan Brand Baru 5:40 - Fenomena "J5": SUV Listrik Seharga LCGC 11:39 - Debat Insentif Pajak EV: Apakah Adil? 16:05 - Japan Mobility Show: Strategi Hybrid Honda 18:28 - Bikin EV Jadi Seru: Gigi Manual & Suara Palsu 21:55 - Jepang vs China: Kesempurnaan vs Dominasi 29:43 - Stagnasi Industri Smartphone & Dominasi Apple 42:20 - Revolusi AI: Ngobrol Bareng Gemini Live 47:25 - Masa Depan Media: Bertahan di Tengah Ekuilibrium 54:00 - Realita Punya EV: "Charge Anxiety" 1:07:40 - Kenapa PHEV Sebenarnya Ideal untuk Indonesia 📌 Mentioned in this Episode: Danang Aradian, Elon Musk, Honda, BYD, Wuling, Toyota, Apple, Google, PLN, Voltron, Sindo News, Instagram. (Film/Konsep: Her, Data is Beautiful, Charge Anxiety). 🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id 🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru! #ProxemicsPodcast #DanangAradian #Otomotif #EVIndonesia #AppleVsAndroid #ArtificialIntelligence Semuanya sudah rapi dan siap di-copy-paste ke Buzzsprout. Apakah lo mau gue buatin juga caption singkat untuk promosiin episode ini di Instagram atau LinkedIn?

    1h 16m
  4. 3D AGO

    ‘Si Paling Tahu’, Politik & Media: Kenapa Semua Merasa Paling Benar? | Prita Laura | 018

    Dari layar kaca sebagai news anchor hingga masuk ke jantung komunikasi istana, Prita Laura hadir di Proxemics membedah dunia Crisis Communication. Episode ini mengupas tuntas kenapa "memadamkan api" saja tidak cukup saat krisis brand melanda. Prita membagikan pengalamannya memakai "kacamata jurnalis" untuk melihat realita lapangan, bukan sekadar laporan di atas meja. Kita juga bahas The Psychology of Stupidity, bahaya Dunning-Kruger Effect, hingga analisis gaya komunikasi Presiden Jokowi vs. Prabowo. Ini adalah "kuliah" gratis soal strategi, mitigasi, dan critical thinking! 🧠 Yang Kita Bedah: 🕵️‍♀️ Jurnalisme ke PR Pemerintah: Insting investigasi untuk memetakan keresahan publik.🔥 Krisis Komunikasi: Kenapa padamkan api bukan berarti beres & pentingnya reputasi pasca-krisis.📉 Mitigasi: Analogi bangun gedung tanpa tangga darurat. Persiapan wajib sebelum krisis!🤯 Psychology of Stupidity & Dunning-Kruger Effect: Kenapa orang berpendidikan bisa sebar hoax & fenomena "Si Paling Tahu".📱 Negara Instagram & Toxic Positivity: Realita semu medsos vs. kerasnya dunia kerja Gen Z.🗣️ Jokowi vs. Prabowo: Analisis gaya komunikasi "merakyat" vs. "komando".Kalian tim gaya komunikasi yang mana? Kalem atau tegas to the point? Drop komentar kalian! 👇 ⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro & Highlight 0:51 - Prita Laura: From Anchor to Crisis Expert 2:34 - Switching Sides: Journalist to Gov PR 4:45 - Ground Reality vs. Reports 7:40 - The "X-Ray" Vision 13:12 - Biggest Mistake in Crisis Comms 17:52 - Skyscrapers without Fire Exits (Mitigation) 20:13 - Critical Thinking & Psychology of Stupidity 23:38 - Spiral of Silence & Social Pressure 27:33 - Dunning-Kruger Effect 32:15 - Gen Z in the Workplace 37:54 - Media Relations 101 41:39 - Jokowi vs. Prabowo: Comms Style Analysis 45:41 - 3 Traits for Success in Crisis Comms 📌 Mentioned in this Episode: Prita Laura, Joko Widodo, Prabowo Subianto, Sri Mulyani, Donald Trump, Jeffrey Rachmat, KSP, Metro TV, Taco Bell, Instagram. (Buku: The Psychology of Stupidity, Thinking, Fast and Slow). 🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id 🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi komunikasi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru! #ProxemicsPodcast #CrisisCommunication #PublicRelations #PritaLaura #CriticalThinking Apakah draf yang lebih padat ini sudah pas dengan style yang lo mau, atau ada link / sponsor tambahan yang mau diselipkan di bagian bawah?

    50 min
  5. FEB 9

    Anatomi Krisis: Gaya 'Koboy' Purbaya & Rahasia Branding Apple yang Kebal Kritik | 017

    Dari koridor kementerian hingga viral di media sosial, komunikasi adalah pedang bermata dua. Episode Proxemics kali ini membedah tiga spektrum komunikasi yang berbeda: gaya kepemimpinan politik, manajemen reputasi infrastruktur negara, dan penanganan krisis FMCG. Kami menganalisis gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya yang memicu perdebatan: apakah ketegasannya adalah "obat kuat" bagi birokrasi atau sekadar gimik tanpa akuntabilitas? Kami juga menyoroti proyek Kereta Cepat Whoosh—bukan dari sisi teknis, melainkan dari kacamata legacy sejarah (Dinasti Syailendra) vs realitas utang negara. Tak ketinggalan, bedah kasus krisis viral Aqua dan oleh-oleh ilmu Neuromarketing langsung dari SXSW Sydney. Berikut adalah rangkuman analisis strategis dari diskusi ini: Q: Apakah gaya komunikasi "Koboy" Menkeu Purbaya efektif untuk birokrasi Indonesia? A: Gaya komunikasi maskulin dan direct ala Purbaya memang efektif untuk memotong rantai birokrasi dan menciptakan persepsi "kerja cepat". Namun, dalam konteks budaya Indonesia yang cenderung high-context dan feminim (mengutamakan harmoni), gaya ini berisiko dianggap arogan jika tidak diimbangi dengan accountability yang transparan. Q: Bagaimana menyeimbangkan narasi "Legacy Peradaban" Whoosh dengan isu beban utang? A: Proyek Whoosh sering dibandingkan dengan pembangunan Borobudur oleh Dinasti Syailendra—sebuah legacy peradaban jangka panjang. Namun, untuk meredam isu utang, narasi PR harus bergeser ke solusi tata kelola konkret, seperti skema BOT (Build-Operate-Transfer) atau Transfer of Technology, agar proyek ini tidak menjadi beban APBN yang mencederai reputasi pemerintah. Q: Apa pelajaran PR utama dari kasus viral "Sidak Aqua"? A: Kasus ini adalah contoh klasik kegagalan PR Onsite. Dalam era digital, setiap karyawan lapangan adalah brand ambassador. Ketidaksiapan tim di lapangan menghadapi konfrontasi kamera menyebabkan framing negatif menyebar liar, merusak branding yang dibangun puluhan tahun. Q: Apa insight Neuromarketing dari SXSW Sydney untuk campaign yang sukses? A: Kuncinya adalah keseimbangan antara Novelty (kebaruan) dan Mere Exposure Effect (familiaritas). Otak manusia menyukai hal baru, tapi lebih mempercayai hal yang familiar. Campaign yang sukses harus memiliki unsur kejutan namun tetap terasa dekat dengan audiens. Timestamps Topik Penting: (00:00:52) Analisis Gaya "Koboy" Menkeu Purbaya & Budaya Komunikasi (00:13:35) Whoosh: Antara Simbol Peradaban & Jeratan Utang (00:22:18) Solusi Tata Kelola: BOT & Transfer Teknologi (00:29:42) Bedah Krisis Komunikasi Aqua: Pentingnya PR Onsite (00:39:01) Fenomena Apple: Ketika Brand Prestige Mengalahkan Kritik Produk (00:48:33) Laporan SXSW Sydney: Neuromarketing & AI Narasumber & Brand: Tokoh: Menkeu Purbaya, Sri Mulyani, Ridwan Kamil, Jeremy Thomas.Brand/Proyek: Kereta Cepat Whoosh, Aqua (Danone), Apple, SXSW Sydney.Simak analisis mendalam mengenai strategi komunikasi di balik headline nasional. #PublicAffairs #CrisisCommunication #PoliticalPR #Whoosh #MenkeuPurbaya #AquaDanone #SXSW #Neuromarketing #ProxemicsPodcast #CorporateAffairs

    57 min
  6. FEB 9

    Ngulik Strategi Marketing & Branding dari Boss Marketing Kopi Kenangan + Live Report dari SXSW | 016

    Bagaimana Kopi Kenangan bertransformasi dari kedai kopi lokal menjadi Unicorn F&B pertama di Asia Tenggara dengan valuasi miliaran dolar? Di pasar yang sangat price-sensitive dan penuh persaingan, strategi apa yang membuat mereka bertahan? Di episode ini, Proxemics berbincang dengan Ananditha Mayasari (Ditha), VP of Marketing Kenangan Brands. Dengan latar belakang unik (Lulusan Fisika UI yang banting setir ke Sales B2C), Ditha membedah realita industri kopi: dari menghadapi loyalitas ganda (dualism) Gen Z, hingga seni memimpin tim tanpa drama. Berikut adalah rangkuman insight strategis dari diskusi ini: Q: Bagaimana strategi Kopi Kenangan menghadapi kompetitor lokal dan loyalitas Gen Z yang tidak setia? A: Gen Z memiliki karakter "Dualism Loyalty" (setia pada beberapa brand sekaligus). Alih-alih memusuhi kompetitor seperti Tuku, Fore, atau Janji Jiwa, Kopi Kenangan justru merangkul mereka sebagai "Kolektif" melalui kampanye Indonesian Pride. Tujuannya adalah membesarkan market share kopi lokal melawan raksasa global, bukan saling mematikan. Q: Mengapa pengalaman Sales B2C dianggap fondasi terbaik untuk karier Marketing? A: Ditha menekankan bahwa Sales mengajarkan Resiliensi (ketahanan mental) dan Human Psychology (kemampuan membaca orang) yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Kemampuan menerima penolakan dan memahami kebutuhan konsumen secara langsung adalah skill paling mahal bagi seorang Marketer. Q: Apa "Red Flag" terbesar dalam kepemimpinan dan rekrutmen tim menurut Ditha? A: Kebohongan (Lack of Integrity). Dalam memimpin, Ditha mencari tiga kualitas non-teknis utama: Willingness to Learn, Humility (kerendahan hati), dan Integrity. Skill teknis bisa diajarkan, tetapi integritas adalah karakter harga mati. Q: Sejauh mana peran AI dalam industri F&B yang mengandalkan rasa? A: AI tidak bisa menggantikan taste (rasa) dan sentuhan manusia dalam hospitality. Namun, Kopi Kenangan menggunakan AI untuk mempercepat proses operasional, analisis data konsumen, dan efisiensi supply chain. Timestamps Topik Penting: (00:00) Intro & Profil Ananditha Mayasari (Fisika UI to Marketing) (02:17) Realita F&B: Profitabilitas vs Price-Sensitive Market (08:00) Strategi "Indonesian Pride": Merangkul Tuku, Fore, & Janji Jiwa (13:53) The Art of Sales: Membangun Mental Baja & Membaca Orang (25:14) Leadership Crisis: Mengelola Ego Tim vs Ekspektasi Stakeholder (30:05) Red Flag Rekrutmen: Mengapa Integritas Lebih Penting dari Skill (35:14) Batasan & Potensi AI di Industri F&B (52:21) Live Insight dari SXSW Sydney: Masa Depan Data & Branding Narasumber & Brand: Ananditha Mayasari (VP Marketing Kenangan Brands)Brands: Kopi Kenangan, Fore Coffee, Toko Kopi Tuku, Janji Jiwa, Starbucks, Danone, Traveloka.Event: SXSW SydneySimak strategi lengkap membangun brand Unicorn dari kacamata insider. #KopiKenangan #KenanganBrands #FnbBusiness #MarketingStrategy #GenZMarketing #SalesTips #Leadership #UnicornIndonesia #BisnisKopi #AnandithaMayasari #ProxemicsPodcast

    1h 4m
  7. FEB 9

    TKA Syarat Wajib SNBP 2026: Strategi Belajar Terbaru & Warning Buku Bimbel Palsu! | 015

    SNBP 2026 mengalami perubahan besar. Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini resmi menjadi syarat wajib, bukan lagi sekadar nilai rapor. Mengapa Kemendikdasmen mengambil langkah ini? Apakah ini bentuk lain dari Ujian Nasional (UN)? Di episode ini, Proxemics mengundang dua narasumber otoritatif: Dr. Handaru Catu Bagus (Pusmendik Kemendikdasmen) dan Psikolog Neliana Puspitasari (Yayasan Psikolog Masuk Sekolah) untuk menjawab keresahan siswa dan orang tua. Berikut adalah rangkuman jawaban atas pertanyaan paling sering dicari (FAQ) seputar TKA SNBP 2026 yang dibahas tuntas dalam episode ini: Q: Apa itu TKA dalam SNBP 2026 dan apa bedanya dengan UN? A: TKA bukan pengganti kelulusan seperti UN. TKA berfungsi sebagai validator eksternal untuk menstandarisasi nilai rapor siswa dari berbagai sekolah yang kualitasnya beragam. Ini adalah solusi pemerintah untuk menghapus praktik "sedekah nilai" (inflasi nilai rapor) agar seleksi SNBP lebih adil (fair). Q: Materi apa saja yang diujikan dalam TKA? A: Siswa akan menghadapi: 3 Mata Pelajaran Wajib: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris.2 Mata Pelajaran Pilihan: Sesuai mata pelajaran pendukung Program Studi (Prodi) yang dituju. (Contoh: Masuk Kedokteran wajib mengambil Biologi & Kimia).Q: Apakah buku latihan soal TKA di pasaran bisa dipercaya? A: Hati-hati. Dr. Handaru memperingatkan bahwa banyak buku "Latihan Soal TKA" yang beredar saat ini hanyalah kumpulan soal UN lama (recycled) yang tidak relevan dengan kerangka asesmen TKA baru. Gunakan simulator resmi "Ayo Coba TKA" dari Kemendikdasmen untuk latihan yang akurat. Q: Bagaimana strategi belajar TKA yang efektif menurut Psikolog? A: Hindari SKS (Sistem Kebut Semalam). Gunakan teknik Pomodoro (25 menit belajar, 5 menit istirahat) dan Spaced Repetition (pengulangan berkala). Tidur yang cukup adalah kunci agar memori jangka pendek tersimpan menjadi memori jangka panjang (konsolidasi memori). Q: Apakah nilai TKA hanya untuk SNBP? A: Tidak. Ke depannya, skor TKA diproyeksikan menjadi "mata uang" akademik yang bisa digunakan untuk mendaftar sekolah kedinasan (TNI/Polri), rekrutmen BUMN, hingga syarat masuk universitas luar negeri (menggantikan fungsi SAT). Timestamps Topik Penting: (00:00:21) Isu "Sedekah Nilai" & Mengapa TKA Diperlukan (00:07:47) Bocoran Materi Prioritas TKA & Mapel Pilihan (00:12:30) Awas Scam! Buku Bimbel TKA Palsu vs Simulator Resmi (00:15:57) Teknik Belajar: Pomodoro & Active Recall (00:20:35) Teknis Ujian: Pengawasan Zoom & Durasi (00:29:17) Cara Membaca Hasil TKA (Kurang, Baik, Istimewa) (00:37:18) Panduan Orang Tua: Menjadi Support System Anti-Toksik Narasumber & Referensi: Dr. Handaru Catu Bagus, S.T, M.M (Kabid Pengembangan Asesmen Pusmendik Kemendikdasmen)Neliana Puspitasari, S.Psi, M.Psi (Psikolog Pendidikan)Platform Resmi: Ayo Coba TKA, Erakini.idSimak diskusi lengkapnya untuk memahami peta jalan baru pendidikan Indonesia. #SNBP2026 #TKA2026 #TesKemampuanAkademik #TipsBelajar #Kemendikdasmen #Pusmendik #MasukPTN #PendidikanIndonesia #ParentingRemaja

    54 min
  8. JAN 28

    Analisis Krisis Komunikasi: Istana vs Pers, Drama Boikot Freeport & Masa Depan SEO | 014

    Ketika jurnalis dilarang bertanya dan musisi memboikot sponsor korporat, siapa yang salah secara strategi komunikasi? Dalam edisi "Full House" ini, Host Mercy Tahitoe dan co-host Stephanie Sicilia bergabung dengan Adwi Yudiansyah (Praxis) dan Sofyan Herbowo (Prajna) untuk membedah rentetan krisis komunikasi yang melanda Indonesia minggu ini. Dari insiden pencabutan kartu pers di Istana hingga polemik "Salah Jurusan" sponsorship Freeport di Pestapora, tim Proxemics memberikan analisis brutal namun strategis. Diskusi ditutup dengan perdebatan teknis tentang SEO vs GEO: Apakah Search Engine Optimization benar-benar mati di era AI, atau justru berevolusi menjadi "Meta Search"? 🎙️ Panelis (Full House Edition): Mercy Tahitoe (White Wood)Stephanie Sicilia (Praxis)Adwi Yudiansyah (Praxis)Sofyan Herbowo (Prajna)🔥 Topik Diskusi untuk Praktisi Komunikasi: Krisis Istana vs Pers: Analisis insiden "Doorstop" Presiden. Apakah ini ketidakpahaman protokol atau sinyal pembungkaman? Mengapa "Desakralisasi Pejabat" menjadi tuntutan publik saat ini.Sponsorship Gone Wrong (Pestapora vs Freeport): Bedah kasus mundurnya musisi (Sukatani, dll) karena sponsor tambang. Mengapa Brand sering menjadi korban miskomunikasi EO, dan bagaimana Due Diligence sponsorship harus diperketat.Kabinet "Couture" & Flexing Pejabat: Fenomena akun Instagram yang mengekspos kemewahan pejabat. Mengapa tone-deaf communication (pamer saat rakyat susah) adalah bom waktu reputasi.Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Kritik terhadap eksekusi yang "Bias Kota" dan risiko keracunan massal jika standar higienitas diabaikan demi budget cut.SEO is Dead? Debat LinkedIn tentang masa depan pencarian. Mengapa Generative Engine Optimization (GEO) tidak bisa hidup tanpa Citation dari media kredibel (SEO).💡 Strategic Takeaway: Bagi Brand dan Pejabat Publik, pelajaran minggu ini adalah "Anticipatory PR." Jangan menunggu krisis terjadi (musisi mundur atau jurnalis marah) baru bereaksi. Risk Assessment harus dilakukan sebelum kontrak sponsorship ditandatangani atau sebelum mikrofon pers dinyalakan. Timestamps: (00:00) Intro: Full House Edition (00:40) Krisis Istana: Insiden Kartu Pers Wartawan Dicabut (09:50) Drama Sponsorship: Musisi Boikot Freeport di Pestapora (21:30) Gaya Komunikasi Pejabat Baru: "Desakralisasi Jabatan" (37:50) Fenomena "Kabinet Couture": Flexing vs Empati Publik (46:50) Kritik Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Isu Higienitas (56:10) Analisis Pidato Presiden Prabowo di PBB (Isu Gaza) (01:09:30) Digital Trend: Apakah SEO Mati Digantikan AI (GEO)? Tentang Proxemics Podcast: Proxemics adalah podcast referensi utama bagi praktisi Komunikasi, Public Relations, dan Marketing di Indonesia. Kami menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan realitas lapangan yang kacau, memberikan wawasan yang bisa langsung diterapkan oleh C-Level dan strategis. Keywords: Krisis Komunikasi, Public Relations Indonesia, Manajemen Isu, Freeport Indonesia, Pestapora, Kebebasan Pers, Makan Bergizi Gratis, SEO vs GEO, Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo. Jangan lupa untuk Subscribe dan bagikan episode ini kepada tim komunikasi Anda! Our Agencies: PraxisPrajnaExplicarWhite Wood

    1h 18m

About

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu TerkiniMengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcast Instagram: @proxemics.podcast Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com