Endgame with Gita Wirjawan

Endgame Podcast

Join entrepreneur, educator, and proud Indonesian, Gita Wirjawan in exploring the ways forward for our society through stories and experiences by thought leaders, trailblazers, and opinion-makers from Indonesia and the region.

  1. 3d ago

    A. Setyo Wibowo: Plato, Negara Hancur dari Dalam, dan Otak yang Busuk Perlahan

    Ada masa ketika anak-anak adalah tanah yang masih basah, dan setiap tangan yang menyentuhnya meninggalkan bekas yang lama sekali memudar.Dari sebuah kampung di Ambarawa, Romo Augustinus Setyo Wibowo, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, menempuh jalan panjang lewat buku, seminari, hingga ruang kuliah di Roma dan Paris. Di sepanjang jalan itu, ia berkawan dengan para pemikir Yunani Klasik, dan dalam percakapan ini ia mengajak kita menyusuri jejak mereka.Kita kembali ke Athena, kota yang pandai berdebat dan pelan-pelan lupa untuk apa berdebat. Kita bertemu Sokrates yang memantik, bukan menggurui, lalu Platon yang percaya bahwa bangsa dibentuk sejak masa bermain. Kita mengikuti Aristoteles yang tinggal dua puluh tahun di Akademia, dan mendengar tafsir Romo tentang mengapa ia tak pernah memegang tongkat estafet itu.Dari Athena, percakapan bergerak ke hari ini: dialektika Hegel yang dipakai membaca perjalanan Indonesia, gua digital tempat kita duduk menatap bayang-bayang, dunia pascakebenaran, dan kecerdasan buatan yang membuat otak lebih nyaman tetapi belum tentu lebih hidup. Kita juga bicara tentang bakat yang perlu dirawat, tentang cinta tanah air sebagai modal, dan tentang penderitaan yang tak selalu bisa dihindari.Di ujung percakapan, ada harapan yang tidak bising, hanya tenang.Selamat menyimak.#Endgame #GitaWirjawan #SetyoWibowoLangsung ke bagian:0:00:00 - Intro0:02:00 - Guru-guru yang berjasa bagi Romo Setyo0:05:18 - Hobi membaca sejak kecil0:11:27 - Kuliah teologi di Roma dan Paris0:16:38 - Pengaruh Sokrates terhadap Platon0:18:21 - Filsafat politik di “The Republic”0:20:08 - Paideia: Filsafat pendidikan0:36:31 - Zeitgeist tumbuh kembang filsafat Yunani klasik0:42:49 - Bagaimana Platon mendidik Aristoteles0:56:14 - Alegori Gua Platon dan pascakebenaran1:08:27 - AI dan pembusukan otak (brain rot)1:31:17 - Penderitaan & Stoisisme------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:Goodreads------------------Episode lain yang mungkin Anda sukai:Tanah Jawa 300 Tahun yang Lalu - Peter Carey Pendidikan Adalah Lentera Kita di Kala Gelap Yuval Noah Harari & Mark Solms: Dawn of Future Consciousness

    A. Setyo Wibowo: Plato, Negara Hancur dari Dalam, dan Otak yang Busuk Perlahan
  2. 5d ago

    Namanya Diabadikan pada Benda Langit, Kosmolog Frontier Premana Premadi

    Dua setengah jam membahas sejarah alam semesta, tempat manusia di jagat raya, hingga peran pendidikan sains di masyarakat.Premana Wardayanti Premadi merupakan Guru Besar Astrofisika dan Kosmologi Institut Teknologi Bandung yang pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha ITB pada tahun 2018–2023. Satu almamater dengan Gita Wirjawan, Ibu Nana—panggilan akrab beliau—menempuh pendidikan doktoralnya di University of Texas, Austin.Topik selengkapnya:0:00:00 - Intro0:02:57 - Terpesona dengan bulan sejak kecil0:08:26 - Siapa sosok Sokrates di hidup Premana Premadi0:12:37 - Bangsa dititipkan di pundak guru0:18:37 - Algoritma dan pentingnya membaca0:23:33 - Mengapa sains harus dipopulerkan0:47:59 - Mengapa dari ITB ke UT Austin0:58:01 - Cahaya dan kurvatur alam semesta1:03:49 - 3 menit pertama terbentuknya alam semesta1:17:16 - Apa sebetulnya energi dan materi gelap?1:37:57 - Cerita di balik asteroid ‘12937 Premadi’1:46:49 - Manusia sendirian di jagat raya?2:06:31 - Kehidupan multiplanet2:12:41 - AI dan kosmologi#Endgame #GitaWirjawan #PremanaPremadi------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:Goodreads------------------Episode lain yang mungkin Anda sukai: Karlina Supelli: Cipta, Rasa, Karsa Manusia Indonesia Garry Nolan - Alien & UFO: The Critical Question Nobody's Asking "Gene Hunter" Prof. Herawati Sudoyo: Science Has No Borders

    Namanya Diabadikan pada Benda Langit, Kosmolog Frontier Premana Premadi
  3. 5d ago

    Kai-Fu Lee: The Future of Humanity in a World of AI

    “I didn’t imagine it would become this powerful.”If you’re looking for the world’s leading voices on AI, Kai-Fu Lee is among them. Former President of Google China, founding director of Microsoft Research Asia, and a pioneer in speech recognition at Apple, Kai-Fu Lee joins us to share his perspective on the rapid rise of artificial intelligence and what it means for our future.The conversation spans Taiwan’s transformation into a hub for scientific and technological talent, the forces behind AI’s remarkable rise, the future of China’s open-source AI ecosystem, and the economic and social changes AI could bring. We also explore a deeper question: as AI becomes increasingly capable, what remains uniquely human?#Endgame #GitaWirjawan #KaiFuLeeFull topics:00:04:33- What made Taiwan's great scientists00:10:16 - AI helps understand humanity better00:14:36 - Times in Apple and Microsoft Research China00:26:16 - Will China’s AI remain open source?00:44:16 - AI hallucination & critical thinking00:50:31 - Is STEM a structural challenge for AI development01:05:26 - AI, jobs, cost of labor01:24:06 - How tumor changed his life 01:31:16 - AI can’t take responsibility------------------Read Kai-Fu Lee's books:AI 2041: Ten Visions for Our Future - https://www.periplus.com/p/9780593238318AI Superpowers: China, Silicon Valley, and the New World Order - https://www.periplus.com/p/9780358105589 Get your copy of Gita Wirjawan’s book, “What It Takes: Southeast Asia”, NOW:https://books.endgame.id/Also available on Amazon:https://sgpp.me/amazon/Leave your review here:www.goodreads.com/book/show/241922036-what-it-takes

    Kai-Fu Lee: The Future of Humanity in a World of AI
  4. 6d ago

    Vedi Hadiz: Oligarki, Negara, dan Ketimpangan Sukarela

    Demokrasi akan kehilangan maknanya di mana pun ketimpangan menganga terlalu lebar—apalagi bila diperparah dengan ketimpangan sukarela (participative inequality). Mereka yang berbasis material kuat menulis ulang arti "kepentingan publik", lalu menyebarkannya lewat sekolah, lewat layar, hingga kita mengiranya kehendak bersama.Demokrasi bukan barang yang dipilih di etalase toko. Demokrasi harus tumbuh dari pergulatan, ditempa sejarah, bukan diberi cuma-cuma.Tentang bintang tamu:Professor Vedi Hadiz adalah Assistant Deputy Vice-Chancellor International (Indonesia) dari University of Melbourne, Australia yang juga menjabat sebagai Director dan Professor of Asian Studies di Asia Institute. Sebelumnya, beliau mengajar sebagai Professor of Asian Societies and Politics di Asia Research Centre, Murdoch University, serta Australian Research Council Future Fellow. Beliau juga pernah menjadi Associate Professor di Department of Sociology, National University of Singapore.Topik selengkapnya:0:00:00 - Intro0:01:32 - Formasi pengetahuan Vedi Hadiz0:04:59 - Demokrasi dan oligarki0:20:43 - Sejarah dan makna liberalisme0:31:17 - Di Cina, kapitalisme di bawah Partai Komunis?0:38:55 - Festivalisasi vs Intelektualisasi0:48:00 - Serikat guru mogok kerja0:50:59 - Rekayasa sosial: Manajemen talenta bangsa1:02:41 - Dansa kapitalisme dan politik1:26:29 - Ketimpangan sukarela (participative inequality)#Endgame #GitaWirjawan #VediHadiz------------------Buku yang saya tulis, ‘What It Takes: Southeast Asia’, sekarang sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Dapatkan di sini:https://books.endgame.idSudah baca? Tinggalkan review-mu di sini:Goodreads ------------------ Episode lain yang mungkin Anda sukai:Kimberly Hoang: Myth on Capitalism and Sex Industry Said Didu: Jangan Turunkan Layar di Kala Badai Sebuah Surat Cinta untuk Indonesia

    Vedi Hadiz: Oligarki, Negara, dan Ketimpangan Sukarela
  5. 6d ago

    Sujeev Shakya: Takeaway from the Nepal Gen Z Protest in 2025

    CEO (Chief Eternal Optimist) of Nepal, Sujeev Shakya, talks about what it means for Nepal being land-linked—not land-locked—between two great civilizations, China and India.Sujeev also discusses what really happened in the September 2025 youth protest and the lessons for leaders across the world.About the guest: Sujeev is the Founder and CEO of Beed Management. He’s also the author of “Unleashing Nepal” (2009) and the newly published “Nepal 2043” (2025).#GitaWirjawan #Endgame #SujeevShakyaChapters:0:00:00 - Intro0:02:06 - Formative year of Sujeev Shakya0:04:29 - How South Asians became great communicators0:08:52 - 2500+ history of Nepal: Buddhism, Trade, and Intellect0:14:06 - Borobudur’s architect was from Nepal?0:16:34 - Bringing out and writing down history0:23:54 - How Nepal embrace multipolarity0:27:09 - HATS (Hydro, Agriculture, Tourism, Services)0:36:45 - Nepali talent portfolio0:42:28 - 2025 Nepalese Gen Z Protests0:55:05 - Selection vs election0:59:10 - What does democracy actually mean1:08:50 - How to actually build the culture of democracy1:17:25 - Nepal geopolitical stance------------------Get your copy of Gita Wirjawan’s book, “What It Takes: Southeast Asia”, NOW:https://books.endgame.id/Also available on Amazon:https://sgpp.me/amazon/Leave your review here:www.goodreads.com/book/show/241922036-what-it-takes------------------Also read Gita Wirjawan's papers:https://aparc.fsi.stanford.edu/public... https://fsi.stanford.edu/publication/... https://aparc.fsi.stanford.edu/southe...

    Sujeev Shakya: Takeaway from the Nepal Gen Z Protest in 2025

About

Join entrepreneur, educator, and proud Indonesian, Gita Wirjawan in exploring the ways forward for our society through stories and experiences by thought leaders, trailblazers, and opinion-makers from Indonesia and the region.

You Might Also Like